
"Kenapa mama nggak bilang sih kalau Zia adalah istri Arga" tanya Jesica kesal pada Lidia.
"Mama mana tahu" Lidia memang sama sekali tidak tahu. Selama ini Adhi tidak pernah bercerita tentang Zia sama sekali. Dan dia juga tidak pernah tahu kapan Adhi menikahkan Zia dengan Arga.
"Mama kan disini kenapa bisa nggak tahu" Jesica yang menyetir hanya melirik sedikit ke arah mamanya saat berucap.
"Harusnya mama yang tanya sama kamu, apa saja yang kamu kerjakan di London sampai Arga pulang, dan kamu tidak tahu!" seru Lidia tak kalah kesal dengan sang putri, yang bisa membiarkan Arga kembali ke Indonesia tanpa dia tahu sama sekali.
Jesica seketika langsung menutup rapat mulutnya, dirinya tidak akan bisa mengatakan yang sebenarnya, kalau dirinya selingkuh dari Arga, dan Arga lah yang memergokinya sedang berdua dengan pria lain, dan memutuskan hubungan dengan dirinya.
"Sudah lupakan" Lidia sudah malas untuk berdebat dan saling menyalahkan, "Sekarang kita pikirkan bagaimana caranya Arga mau menikahi kamu."
"Aku sudah menyusun rencana ma, mama tenang saja" Jesica mengingat bagaimana dirinya mengancam Arga dengan foto-foto hubungan intim mereka.
"Jika Zia melihat semua foto itu, aku bisa pastikan dia akan melepas Arga dengan mudah"
"Mama harap rencanamu akan berhasil, bila tidak jangan harap kamu akan menikmati semua yang sudah mama beri padamu" Lidia menatap tajam pada jesica, dan berkata penuh ancaman.
"Mama selalu saja mengancam" Jesica hanya bisa menahan kesalnya pada mamanya suka sekali mengancamnya.
**
Zia yang semalam tidak pulang karena menunggu ayahnya, memilih untuk tidur di sofa yang tersedia di kamar rawat ayahnya. Sofa ukuran kecil itupun harus di baginya dengan Arga, karena Arga tidak mau pulang, dan meninggalkan Zia sendiri.
"Hem" suara deheman membangunkan mereka berdua.
Zia yang tidur di pelukan Arga pun membuka matanya saat mendengar suara asing yang dia dengar saat tidur.
"David" ucap Zia yang kaget melihat David lah yang berdehem. Zia tidak hanya melihat David saja, tapi juga dua orang suster yang ada di kamar rawat ayahnya.
"Ar" Zia mencoba membangunkan Arga seraya melepaskan diri dari pelukan Arga.
Arga yang mendengar Zia membangunkannya, mencoba membuka matanya. Arga langsung melepas pelukannya dan membebaskan Zia dari dekapannya.
Zia yang terlepas dari pelukan Arga pun bangun dan merapikan rambut dan bajunya.
"Sepertinya sofa itu terlalu sempit untuk kalian berdua" cibir David yang melihat Arga dan Zia tidur berhimpitan.
"Aku rasa tidak, semakin sempit tempatnya, Zia akan semakin mendekat padaku" ucap Arga datar seraya bangun dari tidurnya.
Suster yang mendengar ucapan Arga pun tertawa kecil, saat mendengar ucapan Arga.
__ADS_1
Zia yang mendengarkan ucapan Arga hanya membulatkan matanya hingga nyaris keluar. Rasanya Zia ingin bersembunyi, menghilang dari hadapan orang-orang di dalam ruangan kamar rawat ayahnya, karena malu.
"Selalu sesukanya saat berbicara"
Begitupun David, David yang mendengar ucapan Arga sudah paham betul watak sesuka hati Arga. Dia hanya menatap sinis pada Arga.
"Apa Dokter ingin memeriksa ayahku" tanya Zia membuyarkan kecangunggannya.
"Iya"
Zia berdiri menghampiri ayahnya yang masih berbaring tak sadarkan diri dengan beberapa alat bantu.
David pun memeriksa Adhi, dibantu oleh dua orang suster.
"Sepertinya kondisinya mulai stabil, hanya menunggu beliau sadar saja" ucap David setelah memeriksa.
"Apa ayahku akan lama untuk sadar?"
"Tergantung kemauan dari ayahmu, berikanlah dukungan dan semangat terus"
Zia hanya mengangguk mengerti penjelasan David.
David dan suster pun keluar dari ruang rawat, dan melanjutkan memerika pasien lain.
"Yah, cepatlah bangun, Zia merindukan ayah" ucap Zia menangis menunggu ayahnya sadar.
"Jangan menangis, ayah tidak akan suka melihatmu menangis" Arga mencoba menenangkan Zia, dengan membelai bahu Zia.
Zia pun langsung menghapus air matanya, membenarkan yang di katakan Arga, bahwa ayahnya tidak akan suka dia menangis.
Saat Arga dan Zia sedang menunggu ayahnya, mereka menoleh saat pintu kamar terbuka, mereka berdua mendapati Lidia lah yang masuk ke dalam ruang rawat.
"Kalian belum pulang" tanya Lidia yang melihat Arga dan Zia masih berada di rumah sakit.
"Belum tante" ucap Zia menjawab pertanyaan Lidia.
"Aku akan menunggu ayahmu, pulanglah"
Zia yang mendengar Lidia akan menjaga ayahnya, memutuskan untuk pulang.
"Ayah aku pualng dulu, nanti aku akan kembali" Zia mencoba berpamitan dengan ayahnya, walapun ayahnya tidak menjawab.
__ADS_1
Zia dan Arga pun berlalu meninggalkan ruang rawat. Mereka berdua berjalan menuju parkiran, tapi belum sempat sampai di parkiran Zia mengatakan kalau dia melupakan ponselnya yang di taruh di nakas, karena tadi dia sedang mengisi daya.
Zia pun kembali ke ruangan ayahnya, sedangkan Arga menunggunya di parkiran.
Setelah mengambil ponselnya, Zia kembali menuju parkiran, dan masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Zia hanya diam dan melihat ke arah luar kaca mobil. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
Arga yang menyadari Zia yang diam saja, di buat heran, "Kenapa kamu diam?" tanya Arga pada Zia.
Zia yang sadar Arga mengajaknya berbicara sontak langsung menoleh, "Apa?" tanya Zia yang tidak dengar Arga mengatakan apa.
"Aku tanya kenapa kamu diam?" Arga mengulang pertanyaannya.
"Tidak, aku hanya memikirkan ayah saja" jelas Zia, dan Arga memahami hal itu.
"Ayah akan sembuh, jangan khawatir" Arga menenangkan Zia, dan Zia membalas dengan anggukan.
"Ar"
Arga yang di panggil pun langsung menoleh, "Apa?" Arga menatap sebentar pada Zia sebelum kembali menatap jalanan.
"Andai aku membohongimu, apa kamu akan membenciku, dan tidak akan memaafkan ku."
Arga mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan yang Zia ajukan, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?."
"Aku hanya bertanya ar"
"Apa kamu sedang membohongiku?" tanya Arga dengan nada meninggi, dan curiga dengan Zia.
"Aku sudah bilang aku sedang bertanya, bukan sedang berbohong!" seru Zia yang mendengar Arga meninggikan suaranya. Seketika Zia pun membuang mukanya ke arah luar kaca mobil, dan tidak melanjutkan pertanyaanya lagi.
Sepanjang perjalan pulang, Zia tak membuka mulutnya lagi. Sesampainya di apartemen pun, Zia langsung berlalu ke kamar mandi, tanoa mengajak Arga berbicara.
Arga yang melihat sikap diam Zia, merasa benar-benar tersiksa.
"Maafkan aku" ucap Arga memeluk dari belakang tubuh Zia, dan membenamkan kepalanya diceruk leher Zia.
Zia hanya menghela nafasnya, "Lupakan ar, tadi aku hanya bertanya dan tak ada niatan apapun" jelas Zia
Arga membalikkan tubuh Zia, "Kalau aku yang berbohong, apa kamu akan membenci ku?" Arga membalikan pertanyaan Zia pada Zia sendiri.
__ADS_1
"Aku akan membencimu ar."
Jantung Arga serass di tusuk dalam mendengar ucapan Zia. Dia tidak menyangka Zia akan menjawab seperti itu padanya.