Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Dapat bekas


__ADS_3

Tok..tok..


"Masuk!" seru Arga dari dalam ruangannya.


Suara pintu di buka, dan nampak Dave dari balik pintu. Dave melangkahkan menghampiri Arga yang sedang duduk di kursi.


Setelah kemarin memutuskan kembali ke Jakarta, Arga sudah memulai aktifitasnya hari ini. Seperti biasa Arga akan mengantar Zia ke boutique terlebih dahulu sebelum ke kantor.


"Ini berkas yang loe minta" Dave menyodorkan sebuah map di atas meja Arga.


Arga yang sedang duduk, langsung melihat ke arah map yang di bawa oleh Dave, "Terimkasih Dave"


"Loe kenapa minta data wanita itu?" tanya Dave yang ingin tahu.


Dave yang semalam di hubungi oleh Arga, langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Arga, untuk mencari data seorang wanita.


"Dia mantan gue di London"


"Wanita yang waktu itu datang kesini? " Dave mengingat beberapa waktu lalu, ada wanita yang datang ke kantor untuk menemui Arga.


"Iya"


"Lalu kenapa loe masih mau cari tau tentang dia?, loe mau balik lagi sama dia?" tanya Dave yang memang bingung dengan permintaan Arga.


"Ya nggak lah, loe pikir gue gila" elak Arga pada Dave, dan menatap tajam pada Dave.


"Trus apa alasan loe?"


"Dia ngancem gue mau nyebarin foto gue"


Dave menautkan kedua alisnya bingung dengan yang di maksud oleh Arga, "Foto apa?"


Arga menghela nafasnya, "Foto hubungan intim" ucap Arga pada Dave.


Dave yang mendengar ucapan Arga, langsung membulatkan matanya, " Gila loe, loe melakukan hal itu juga sama mantan loe?" Dave benar-benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, dia yang merasa kenal baik dengan Arga pun, di buat tidak percaya kalau Arga akan melakukannya sebelum menikah.


Arga hanya mengusap wajahnya dengan kasar, dirinya benar-benar di penuhi rasa penyesalan.


"Waktu itu gue mabuk" ucap Arga menjelaskan, "Dan dia ada di depan mata gue, dan kejadian itu begitu aja terjadi" Arga menjelaskan awal mula kejadian yang terjadi dulu antara dirinya dan mantannya.


"Tapi loe nikmatin juga kan" cibir Dave pada Arga.


Arga yang mendengar Dave mengatakan, kalau dia menikmati, tidak bisa mengelak. Walaupun dia dalam pengaruh minuman, tapi dia masih sadar saat melakukannya.

__ADS_1


"Iya" ucap Arga pasrah, "Tapi ternyata gue bukan yang pertama, dan setelahnya gue lihat dia sama pria lain" ucap Arga mengingat terakhir kali dia bertemu sang mantan, saat memergokinya sedang melakukan hubungan dengan pria lain.


"Kasihan banget loe dapat bekas" Dave meledek Arga.


Arga hanya menatap sinis pada Dave, saat Dave meledeknya.


"Nggak masalah buat gue" ucap Arga santai, "Tapi gue dapatin Zia yang pertama" senyum licik mengembang sempurna di wajah Arga saat dia mengingat, dialah yang pertama untuk Zia.


"Zia sial banget dapat loe yang bekas" cibir Dave.


"Kayak loe nggak aja" Arga berucap seraya melempar pulpen ke arah Dave.


Dave yang melihat Arga melempar pulpen padanya, langsung berusaha menghindar.


"Ya kalau gue kan dah biasa ar, loe juga tahu" jelas Dave, "Tapi pas gue dengar loe juga sama, gue agak kaget aja" sebenarnya Dave masih tidak percaya bahwa Arga yang terkenal dingin, bisa berbuat sama dengan dirinya.


"Kalau gue nggak mabuk, guea juga nggak akan ngelakuin" elak Arga lagi.


Dave hanya mengangguk mendengar penjelasan Arga.


"Terus apa tujuan dia ngancem loe?" Dave kembali pada pembahasan awal dengan Arga tadi.


"Tadinya dia mau balik sama gue, tapi pas gue bilang gue dah nikah, dia minta buat jadiin dia yang kedua"


"Terus loe mau?"


"Ya nggak lah, makanya gue cari banyak info buat gue buktiin, kalau dia memang dengan sengaja melakukannya"


"Zia belum tahu ar?"


"Gue mau masalah ini selesai, dan nggak perlu Zia tahu" Dave benar-benar tidak mau Zia tahu masa kelamnya, dan keinginan sang mantan.


"Gue bakal bantu sebisa gue ar" ucap Dave, dan Arga mengangguk.


Dave pun keluar dari ruangan Arga dan melanjutkan perkerjaanya.


Arga yang melihat map di depannya, langsung membuka untuk melihat data yang sudah di dapat oleh Dave.


"Alamat ini" ucap Arga saat melihat data alamat yang di tertera dalam lembaran kertas di dalam map, yang di berikan Dave.


Arga mengingat-ingat alamat siapa ini, tapi dia seolah lupa dimana dia pernah melihat alamat yang sama dengan yang tertera di lembaran yang di berikan Dave.


**

__ADS_1


Saat jam pulang kerja Arga menghubungi Zia, kalau dia tidak bisa menjemput Zia, karena masih banyak perkerjaan yang harus di selesaikan.


Zia pun yang mendapat kabar dari Arga, memutuskan untuk pulang dengan menaiki taxy.


Sesampainya di apartemen, Zia membersihkan diri, dan hendak bersiap untuk memasak makan malam.


Tapi belum sempat dia memasak, dia mendengar ponselnya berdering. Zia pun melihat ponselnya, dan ternyata Arga lah yang menghubunginya.


"Halo ar" ucap Zia dengan senang saat suaminya lah yang menghubunginya.


Tapi bukan sapaan balik yang di dengar oleh Zia, melainkan kabar bahwa ayahnya di rumah sakit. Arga yang hubungi Zia berniat untuk memberi tahu bahwa ayah Zia sedang di rawat di rumah sakit.


Zia begitu kaget saat mendengar berita bahwa ayahnya di rumah sakit, dia langsung memutuskan untuk ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Zia melewati koridor rumah sakit dan mencari ruang UGD dimana ayah tangani. Saat tiba di depan ruangan ayahnya di rawat, Zia melihat Arga, Lidia dan Jesica disana.


Zia berjalan menghampiri Arga yang duduk diam di ruang UGD menunggu dokter yang sedang memeriksa ayahnya.


"Ar, apa yang terjadi dengan ayah" ucap Zia yang panik seraya mengoyangkan lengan Arga. Air matanya yang sudah tak terbendung, mengalir di pipi putih Zia.


Arga yang melihat istrinya menghampirnya, di buat kaget saat melihat istrinya menangis, Arga benar-benar merasa tidak tega. Rasa hatinya begitu sakit, melihat Zia sedih.


"Ayah kena serangan jantung zi" jelasnya pada Zia.


Zia hanya bisa menangis, dia memang tahu ayahnya memiliki penyakit jantung, dan itu lah yang membuatnya selalu menjaga perasaan ayahnya.


Dari dulu dia tidak pernah membebani ayahnya sama sekali. Dia selalu menyimpan lukanya sendiri, termasuk saat istri dari ayahnya melukainya. Zia memilik diam karena dia tidak mau ayahnya sakit. Zia memilih meninggalkan rumah untuk menjaga ketenangan rumah sang ayah dan menjaga agar sang ayah tidak sakit.


"Zi" ucap Arga memeluk Zia, mencoba menenangkan Zia yang begitu rapuh menerima kenyataan ayahnya sakit. Ada rasa bersalah yang menghantui Arga saat melihat Zia yang rapuh.


Pemandangan Arga sedang memeluk Zia tak lepas dari penglihatan Lidia dan Jesica. Mereka menatap tajam pada sepasang suami istri itu.


Selang beberapa saat pintu UGD terbuka, dan seorang dokter keluar. Zia yang melihat dokter keluar pun, langsung menghampiri.


"Bagaimana keadaan ayah saya dok?" tanya Zia pada dokter.


"Masa kritisnya sudah berlalu, keadaanya sudah lebih baik" jelas dokter pada Zia.


Zia yang mendengar penjelasan dokter merasa lega, karena ayahnya baik-baik saja.


"Tapi saya harap, tolong jaga perasaannya, jangan memberi beban, yang akan membuatnya terbebani" ucap dokter.


Zia pun menganggu mendengar ucapan dokter.

__ADS_1


__ADS_2