Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Kamu akan memukulnya?


__ADS_3

"Apa kamu sudah lama menikah dengan Arga?" tanya Jesica.


Setelah mengikuti jesica untuk ke cafe. Zia dan Jesica duduk di cafe dan mengobrol. Mereka berdua memesan minuman dan cake, untuk menemani mereka bercerita.


"Belum lama" jawab Zia seraya mengaduk-aduk minumannya.


"Apa kalian berpacaran sebelumnya?" tanya jesica, "Maksud ku, apa pernikahan kalian di awali dengan berpacaran begitu?" Jesica mencoba menjabarkan maksud pertanyaanya.


"Ayah yang menjodohkan ku"


"Tepat dugaanku, memang papa Adhi yang menjodohkan mereka"


"Wah sayang sekali, kalian di jodohkan"


Zia yang mendengar ucapan Jesica mengerutkan keningnya, "Maksudmu?"


"Ya maksudku, saat kita di jodohkan kita tidak tahu banyak bagaimana pasangan kita sebelumnya, beda jika kita sudah berpacaran bukan?, kita akan sangat mengenal pasangan kita"


Zia menatap Jesica yang berbicara padanya, dan merasa sedikit tidak suka dengan ucapan Jesica.


"Arga dulu teman SMA ku, jadi aku mengenalnya" ucap Zia ketus.


"Oh dia teman sekolah mu, jadi kamu sudah mengenalnya" Jesica mengangguk-angguk mengerti penjelasan Zia.


"Tapi saat dia kuliah, atau saat dia berkerja di London, apa kamu tahu bagaimana dia?" lanjut Jesica bertanya pada Zia.


Zia hanya menatap tajam pada Jesica, sejenak Zia berfikir bagaimana Jesica tahu, Arga pernah kuliah, dan berkerja di London.


Pikiran Zia menyimpan banyak pertanyaan, dan dia tidak tahu jawabannya. Akhirnya Zia mencoba untuk menanyakannya, "Bagai..."


Belum selesai Zia menanyakan pertanyaan yang berada di pikirannya , ucapannya harus terhenti saat dia mendengar ada yang memanggil namanya. Zia pun menoleh, dan mendapati David lah yang memanggilnya.


David berjalan menghampiri Zia yang sedang duduk bersama wanita.


"Hai zi" sapa David.


"Hai vid" Zia membalas sapaan David seraya tersenyum


Jesica yang melihat David menghampiri Zia dan dirinya, mengingat bahwa dia adalah pria yang dia temui tadi, saat dia bertengkar bersama Arga. Jesica pikir, dia hanya dokter yang tidak sengaja lewat saja. Tapi ternyata Zia mengenalnya.


David juga menatap wanita yang duduk bersama Zia. Dia tahu, wanita di depannya ini adalah wanita yang bertengkar dengan Arga tadi. David tidak menyangka kalau Zia juga mengenalnya.


"David, kenalkan ini Jesica anak dari tante Lidia, istri ayahku" ucap Zia mengenalkan Jesica pada David.

__ADS_1


"Jadi dia saudara tiri Zia"


"Hai, aku Jesica" ucap Jesica mengulurkan tangannya.


David pun menerima uluran tangan dari David, " David" ucapnya menyebutkan namanya.


"Duduk vid" Zia mempersilahkan David untuk duduk di sebelahnya.


Tapi David masih berdiri di samping Zia, dan tak bergerak untuk duduk.


"Bisakah aku bicara dengan mu zi?" tanya David yang masih berdiri menunggu jawab dari Zia.


Zia yang ke cafe bersama Jesica, merasa tidak enak dengan Jesica. Zia pun menatap Jesica sejenak.


"Aku akan pergi, kalian bisa lanjutkan bicara" Jesica yang menyadari saat Zia menatapnya memilih untuk pergi, dan berfikir bahwa mereka berdua ingin membicarakan tanpa dirinya.


"Maaf jes" Zia merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, mungkin David ingin membicarakan hal penting" Jesica berucap tersenyum, seraya melirik ke arah David.


Jesica hanya menebak-nebak apa yang akan di bicarakan David pada Zia, "Apa dia akan mengatakan tentang foto yang di lihatnya tadi pada Zia, kalau iya, aku tidak akan susah payah memberi tahu Zia" batin Jesica tersenyum.


David yang mendengar ucapan Jesica tadi, tahu maksud wanita itu. David merasa bahwa Jesica memiliki maksud lain mengatakan hal itu.


"Sudah lama tidak bertemu zi" David memulai obrolannya dengan Zia.


Zia yang mendengar ucapan David mengingat terakhir kali mereka bertemu, adalah saat David datang ke apartemennya. Di sana David marah, karena mengetahui Arga sudah menikah denga Zia. Dan waktu David memeriksa Ayah Zia, David hanya mengobrol sebatas dokter dan keluarga pasien.


"Iya" ucap Zia tersenyum.


"Bagaimana hubunganmu denga Arga?" David menatap sejanak wajah Zia.


"Kami baik"


"Jadi Zia belum tahu masalah antara Arga dan saudara tirinya"


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja, aku hanya bisa berharap kamu bahagia" ucap David berat.


Zia menatap David sejenak, dia masih melihat David masih memiliki rasa padanya. Dan dari ucapan David, Zia merasakan bahwa David masih mencintainya.


"Terimakasih vid, semoga kamu juga bisa bahagia"


"Aku akan bahagia, saat melihat mu sudah bahagia zi" David menatap ke dua bola mata Zia. Tidak di pungkiri David masih sangat mencintai Zia, tapi semua sudah tidak mungkin saat tahu Zia sudah menikah. Dan dia hanya bisa berharap untuk kebahagiaan Zia.

__ADS_1


"Maksudnya?" Zia bingung dengan kata-kata yang di ungkapkan oleh David.


"Maksud ku, aku akan bahagia jika kamu bahagia, dan aku akan sedih jika kamu terluka"


David teringat dengan foto yang di lihatnya tadi, dan itu akan membuat Zia terluka. Tapi dia tidak mau memberi tahu Zia, karena Arga yang lebih berhak memberi tahunya.


"Dan aku tidak akan terluka" jawab Zia tegas.


"Aku harap begitu zi, kalau sampai Arga membuatmu terluka, aku adalah orang pertama yang akan menghajarnya" David berucap seraya tertawa.


"Kamu akan memukulnya?" Zia menatap tajam pada David, tidak suka dengan jawab David.


"Tenanglah hal itu sudah biasa" ucapnya menenangkan Zia, " Kamu tahu sejak kecil kami sering bertengkar, dan dia sering sekali memukulku, tidak ada salahnya jika sekarang aku memukulnya bukan?"


Zia hanya mengangkat bahunya, menanggapi ucapan David.


***


Setelah mengobrol dengan David, Zia kembali ke ruang rawat ayahnya. Saat membuka pintu ruang rawat ayahya, Zia melihat Adrian berada di sana menemani ayahnya.


Zia beralih melihat ranjang rawat sang ayah, dan mata Zia langsung berbinar mendapati ayahnya sudah sadar.


"Ayah" ucap Zia melihat ayahnya sudah sadar, dan melangkahkan kaki menghampiri sang ayah.


"Zi" Adhi merentangkan tanganya untuk memeluk anaknya.


Zia langsung memeluk ayahnya, dan menangis. Zia benar-benar merasa senang melihat ayahnya sudah sadar.


"Kenapa menangis, ayah baik-baik saja" Adhi membelai rambut Zia, menenagkan putrinya.


"Aku rindu dengan Ayah" ucap Zia masih terisak dalam pelukan ayahnya.


"Kamu sudah menikah, tapi masih saja manja seperti anak kecil" Adhi tersenyum melihat tingkah putrinya.


Zia langsung mencebikan bibirnya, saat ayahnya mengoda.


"Sebesar apa putri ayah ini, dia tetap putri ayah yang manja" ucap Adhi mencubit hidung Zia.


Zia senang bisa melihat ayahnya sudah tersenyum, dan terlihat sangat bahagia.


Sejenak Zia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang rawat, tapi tidak mendapati Lidia dan Jesica di kamar, hanya ada Adrian di sana.


"Kemana tante Lidia yah?"

__ADS_1


Adhi menatap Adrian seolah meminta jawaban, kenapa Lidia tidak ada di ruang rawatnya.


__ADS_2