Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Melewatkan kesempatan


__ADS_3

Zia yang di antar oleh Dave pulang, langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Zia." Panggil Marya saat melihat Zia masuk ke dalam rumah.


"Bun." Zia melangkah mendekat pada mertuanya, dan langsung menautkan pipinya di pipi Marya. Zia selanjutnya menyalami Ayah Surya dan Ayah Adhi yang berada di samping Marya. "Apa ayah dan bunda sudah lama disini?" Tanya Zia seraya duduk di samping mertuanya.


"Belum," ucap Marya pada Zia. "Kenapa kamu tidak menghubungi bunda, kalau ayah kamu sakit?" Protes Marya pada Zia.


Zia yang mendengar ucapan mertuanya, merasa tidak enak. Dirinya yang begitu panik, benar-benar lupa mengabari mertuanya. "Maaf Bunda, Zia lupa untuk memberitahu."


"Sudahlah Bunda, yang penting kita sudah disini." Surya mencoba menenangkan istrinya.


"Iya. Tapi kalau kita tidak ada niatan untuk memberi undangan pada Adhi, kita tidak akan tahu." Marya masih begitu kesal.


"Sekali lagi Zia minta maaf Bunda." Zia yang merasa tidak enak hanya bisa terus meminta maaf.


Marya yang melihat Zia begitu menyesal menghela nafasnya. "Ya sudah. Yang penting ayah dan bunda sudah tahu."


Zia merasa lega saat mertuanya, tidak marah karena dia tidak mengabari perihal ayahnya yang sakit.


Surya dan Marya melanjutkan mengobrol membahas acara undangan pernikahan anak teman mereka waktu SMA.


Setelah beberapa saat Adhi minta izin ke dalam kamar. Untuk mengambil obat, sebelum mereka bersama-sama makan malam.


Saat sudah menjelang malam, Marya tidak melihat Arga datang. Dia pun menanyakannya pada Zia. "Arga mana zi, apa dia belum pulang?" Tanya Marya pada Zia.


"Arga sedang ke London bun, ada urusan perkerjaan." Zia menjelas


kan kemana Arga.

__ADS_1


Marya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Zia. "Perekerjaan apa?" Tanyanya bingung dan ingin tahu.


"Zia kurang tahu bun perkerjaan apa?" Zia sendiri memang tidak tahu perkerjaan apa yang di kerjakan oleh Arga.


"Apa ayah tahu, Arga ada perkerjaan apa?" Marya beralih pada Surya.


"Ayah juga tidak tahu, tapi setahu ayah, kita tidak punya rekan bisnis di London," jawab Surya. "Biar nanti ayah tanya saja sama Dave saja."


Zia yang mendengar kalau Arga tidak ada rekan bisnis di London pun kaget. Dalam hatinya bertanya, lalu untuk apa Arga ke London kalau ayahnya berkata mereka tidak punya rekan bisnis disana. Perasaan Zia menjadi bertambah tidak enak lagi, karena sampai malam ini, Arga belum mengabarinya. Rasanya hati Zia benar-benar bergejolak. Menerka-nerka apa yang terjadi.


Tapi Zia mencoba tenang saat di hadapan mertuanya. Dia tidak mau mereka merasa khwatir akan kepergian Arga.


Setelah Adhi selesai mengambil obat. Mereka semua menuju ke meja makan, untuk melanjutkan makan malam. Sesekali mereka menyelipkan obrolan di sela-sela makan.


Surya dan Marya yang sudah tahu kalau Lidia tidak ada karena sedang di luar kota pun, tidak menanyakan lagi.


Setelah selesai makan malam. Surya dan Marya pamit untuk pulang. Zia dan ayahnya mengantarkan Surya dan Marya sampai ke depan.


"Iya bun, nanti kalau ayah sudah sembuh Zia akan menginap di rumah."


Akhirnya Surya dan Marya melajukan mobilnya setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Yah, nanti jangan lupa tanyakan pada Dave, kenapa Arga ke London." Marya yang mengingat cerita Zia pun meminta suaminya. Rasanya sebagai seorang ibu, dia merasa khawatir.


"Iya." Surya yang sedang menyetir hanya bisa menjawab singkat.


"Bunda benar-benae kesal kenapa Arga tidak mengatakan pada kita kalau dia ke London. Dia masih saja seenaknya saja saat melakukan tindakan." Marya yang kesal hanya bisa mengrutu, melampiaskan semuanya.


"Apa Bunda sudah lupa, kalau Arga sudah menikah. Yang terpenting adalah Arga sudah memberitahu Zia. Karena dia adalah istrinya." Surya mencoba menenangkan istrinya.

__ADS_1


Marya yang tadinya kesal langsung mereda, saat mendengar ucapan suaminya. Marya membenarkan ucapan suaminya. Zia adalah orang yang pertama harus tahu suaminya pergi.


***


Setelah mengantar mertuanya pulang. Zia membantu ayahnya masuk ke dalam kamar.


"Yah, apa ayah sedang berbohong padaku?" Tanya Zia saat ayahnya sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Adhi yang mendengar ucapan Zia membulatkan matanya. Dia benar-benar merasa kaget. Dia menatap lekat bola mata Zia yang penuh rasa curiga. Dalam hatinya berkata, apa Zia sudah tahu kalau dirinya lah yang menyuruh Arga pergi. "Apa maksudmu?" Tanya Adhi yang ingin tahu.


"Ayah bilang Tante Lidia pergi ke rumah orang tuanya, tapi Kaisar bilang, dia sudah tidak memiliki kakek dan nenek." Zia yang dari kemarin ingin menanyakan hal ini pada Adhi, baru sempat mengatakannya sekarang.


Adhi yang mendengar Zia membahas tentang Lidia pun merasa lega. Dirinya yang dari tadi berpikir Zia akan membahas tentang Arga. Sudah menyiapkan mentalnya andai Zia tahu, dirinyalah penyebab Arga pergi.


"Iya, dia memang tidak ke tempat orang tuanya. Tapi ayah yang meminta untuk pergi dari rumah untuk sementara waktu."


Zia hanya bisa menebak. Ayahnya tidak akan meminta Tante Lidia sampai pergi, jika masalahnya tidak besar. "Zia tidak tahu alasan Ayah meminta Tante Lidia pergi. Tapi Kaisar merindukan ibunya. Jadi Zia mohon biarkan Tante Lidia pulang." Zia ingat betul bagaimana Kaisar menanyakan kapan mamanya pulang. Zia tahu bahwa adiknya itu sangat merindukan ibunya . Dan dia tidak ingin adiknya sedih.


Mendengar permintan Adhi, rasanya dia benar-benar berat. Dirinya tahu betul Kaisar merindukan Lidia. Tapi meminta Lidia kembali rasanya dia belum bisa. "Ayah akan pikirkan, setelah ayah sembuh."


"Baiklah." Zia tidak punya pilihan lain. Mungkin ayahnya ingin memulihkan kesehatannya tanpa adanya Lidia. "Sekarang ayah istirahatlah."


Setelah memastikan ayahnya istirahat. Zia kembali ke kamarnya. Dia berlalu ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Saat rutinitasnya di kamar mandi selesai. Zia mengambil ponselnya dan melangkah menunju tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya seraya membuka ponselnya.


Kedua bola mata Zia membulat, saat melihat panggilan vidio dari Arga di layar ponselnya mencapai dua puluh kali. Zia pun langsung mengusap layar ponselnya, menghubungi Arga kembali.


Cukup lama Zia menghubungi Arga. Tapi tidak ada respon dari Arga. Zia langsung melihat jam di ponselnya, dan jam menunjukan pukul delapan. Zia berpikir mungkin di sana sekarang pukul dua dini hari. Dan di pastikan Arga pasti sudah tertidur.

__ADS_1


Akhirnya Zia memilih untuk meletakkan ponselnya di nakas. Ada rasa sedih saat dirinya begitu mengharap telepon dari Arga, tapi dia melewatkan kesempatan itu. Dia benar-benar menyesali kesalahanya sendiri. Dirinya yang begitu merinduka Arga pun tidak bisa mendengar suara Arga.


__ADS_2