
Setelah menyelesaikan perkerjaannya, Arga melajukan mobilnya ke boutique untuk menjemput Zia.
"Ar aku mau mampir ke supermarket lebih dulu, untuk membeli stok untuk di apartemen"
"Iya"
Arga berbelok melajukan mobilnya menuju supermaket terdekat, sesuai permintaan Zia.
"Tuliskan apa yang ingin kamu beli" Arga menyerahkan selembar kertas dan pulpen pada Zia.
Zia menerimanya dan menulis beberapa bahan untuk di beli.
"Ini " Zia menyerahkan kembali daftar belanjaan yang dia akan beli.
"Kenapa sebanyak ini?" Arga mergerutkan dahinya melihat daftar belanjaan yang di tulis Zia begitu banyak.
"Memang itu stok yang habis ar"
"Tunggulah di mobil aku akan masuk" Arga pasrah menerima daftar belanjaan yang baginya terlalu banyak.
"Bolehkan aku ikut ar, aku akan menunggu di kursi depan kasir" Zia memohon pada Arga, agar bisa masuk kedalam supermarket.
"Tidak!!" Seru Arga.
"Menyebalkan sekali dia"
__ADS_1
"Diamlah disini di mobil dan aku akan membelinya" Arga berlalu masuk ke dalam supermarket.
Sepanjang berbelanja Arga mengrutu karena harus membeli begitu banyak barang belanjaan yang di tulis oleh Zia. Dengan mendorong troli Arga menyusuri lorong demi lorong, mencari setiap barang yang terdapat di catatan.
Saat sedang asik mendorong trolinya, tanpa sengaja dia mendorong troli orang yang hendak berbelok ke lorong yang Arga lalui.
"Maaf nyonya" Arga meminta maaf pada seorang wanita paruh baya yang di tabraknya.
Wanita itu memandang lekat Arga, dan nampak terkejut melihat orang yang ada di depannya "Tidak apa-apa" ucapnya sedikit terbata.
Setelah Arga meminta maaf, dia melanjutkan berbelanja. Cukup lama Arga menghabiskan waktu untuk berbelanja.
"Apa kamu sedang ingin membuka restoran" kesal Arga seraya memasukan barang belanjaan kedalam mobilnya.
"Apa kamu tidak lihat sebegitu banyaknya barang belanjaanmu, kamu pikir kamu mau buka restoran di apartemen" Arga meluapkan kekesalannya.
Zia hanya memutar bola mata malas mendengar Arga marah karena harus berbelanja, yang menurut Arga sangat banyak.
"Memang itu yang kita butuhkan" gumam Zia kesal.
Arga melajukan mobilnya ke apartemen. Sepanjang perjalanan dia masih mengrutu mengingat barang belanjaan yang begitu banyak. Zia yang mendengar hanya diam saja tak menanggapi.
Sesampainnya di apartemen, Arga harus mengantar Zia ke dalam apartemen terlebih dahulu, dan kembali lagi ke parkiran mobil, untuk mengambil barang belanjaanya.
"Cepatlah sembuh, aku malas sekali harus merapikan isi lemari pendingin seperti ini" ucap Arga seraya masukan barang belanjaan ke dalam lemari pendingin.
__ADS_1
"Iya, aku akan cepat sembuh" Zia yang sedang duduk di meja makan sebenarnya malas sekali menanggapi Arga yang tak henti marah-marah.
Zia mencoba berdiri berjalan kearah dapur. Zia berniat untuk memasak untuk makan malam.
"Mau apa kamu?" tanya Arga yang melihat Zia berjalan ke arah dapur.
"Memasak"
"Diam, dan duduklah di meja makan, aku yang akan memasak?"
"Benarkah?" Zia tak percaya bahwa Arga akan memasak.
"Iya, apa kamu tidak ingat bahwa mama bilang aku bisa memasak"
Zia sejenak teringat dengan kata-kata mertuanya, yang mengatakan Arga bisa memasak.
Arga pun memakai apron dan mulai memasak. Zia yang melihat Arga memasak hanya tersenyum, melihat Arga yang di mata Zia cukup mahir dalam memasak membuatnya sedikit iri.
"Em..enak sekali" saat merasakan masakan Arga yang tersaji di atas meja.
"Kamu hebat sekali ar memasak, tahu kalau kamu lebih hebat dari aku, sebaiknya kamu saja yang memasak" ucap Zia yang terlalu senang mendapati masak Arga yang enak.
Arga hanya menajamkan matanya. "Aku akan mengajarimu, dan nanti kamu yang akan memasak" seragai licik dari Arga. Dia tidak mau harus memasak di apartemen sesuai keinginan Zia.
"Licik sekali dia, memakai alasan mengajariku, kenapa tidak bilang saja tidak mau"
__ADS_1