
"Ikut ayah ke ruang kerja," ucap Adhi saat Zia sudah pergi meninggalkan meja makan untuk mengantar Kaisar.
Arga pun mengikuti Adhi ke dalam ruang kerja Adhi. Dalam hati Arga memikirkan apa yang akan Adhi katakan. Dia benar-benar merasa takut.
"Duduk!"
Arga yang di minta duduk pun memilih duduk di sofa.
"Bagaimana kamu bisa mengenal Jesica?" Pertanyaan pertama yang di lontarkan oleh Adhi.
Arga sudah bisa menebak Adhi akan membahas hal ini. "Kami bertemu di pesta, waktu ayah Surya mengadakan pesta. Waktu itu dia mengatakan akan kuliah di London, dan meminta bantuan padaku. Kami bertemu di sana, dan menjalin hubungan setahun kemudian."
Adhi mencerna baik-baik ucapan Arga. "Lalu sejauh apa hubunganmu dengan Jesica?"
Arga tersentak saat Adhi menanyakan hal itu. Arga menimbang apa yang akan dia katakan pada Adhi. "Aku sudah pernah tidur dengan Jesica yah," ucap Arga ragu-ragu. Arga sudah memikirkan baik-baik, lebih baik dia mengatakan ini pada Adhi, dari pada Adhi harus tahu dari orang lain.
Adhi tidak menyangka, dia mendengar kalau Arga akan seburuk itu. Rasanya hati Adhi begitu sakit, ternyata menikahkan putrinya denga pria kurang ajar seperti Arga. Rasanya Adhi merutuki dirinya, sebagai ayah yang begitu kejam, dia melempar putrinya sendiri ke kandang buaya seperti Arga. "Apa Zia tahu?"
"Tidak yah."
"Tinggalkan Zia."
Arga yang mendengar kata-kata Adhi benar-benar tidak percaya. Dirinya yang sudah begitu mencintai Zia, berat untuk meninggalkan Zia. "Yah aku mohon yah, aku benar-benar mencintai Zia. Itu terjadi sebelum aku bertemu dengan Zia yah," Arga benar-benar memohon pada Adhi.
"Pergilah, dan tinggalkan Zia di rumah ini, aku akan menjaganya sendiri."
**
"Ar," panggil Zia saat melihat Arga masuk ke dalam kamarnya. Zia memperhatikan raut wajah Arga begitu terlihat sedih.
Arga yang masuk berjalan menuju ranjang tempat tidur, menghampiri Zia yang di tempat tidur, dia duduk di pinggir tempat tidur, dan memandang lekat pada Zia.
"Ar, kamu kenapa?" tanya Zia pada
__ADS_1
Arga seraya mendekat, "Apa ayah memarahimu?" Zia pun membelai rahang tegas Arga.
"Tidak," jawabnya membelai tangan Zia yang membelai pipinya, Arga lalu mencium tangan Zia, "Apa kamu mencintaiku?" tanya Arga menatap dalam pada kedua bola mata Zia.
Zia tersentak dengan pertanyaan Arga, "Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Aku hanya ingin tahu, agar aku punya alasan untuk selalu bersamamu," Arga merasakan sesaknya, saat harus memilih seperti apa yang di katakan oleh Ayah Adhi.
"Apa kamu tidak bisa merasakan cintaku?" Zia mencebikan bibirnya kesal dengan pertanyaan Arga.
Arga membelai bibir Zia dengan jemarinya, "Aku hanya ingin mendengarnya dari bibirmu."
Zia langsung memeluk Arga, "Aku tidak pandai memainkan kata ar, tapi aku hanya bisa bilang, bahwa aku begitu mencintaimu," Zia mengertakan pelukannya, menyalurkan rasa cinta dalam hatinya. Dengan pelukan ini, dia ingin Arga tahu, bahwa dia begitu mencintainya.
Mendapatkan pelukan hangat dari Zia, dia tahu, bahwa wanita yang sekarang menjadi istrinya itu sangat mencintainya, "Berjanjilah, apa pun yang terjadi pada kita, kamu tidak akan berhenti mencintaiku?"
Zia langsung melepaskan pelukannya, dan memandang wajah Arga, " Memangnya apa yang akan terjadi?" Zia menatap kedua bola mata Zia, dia merasakan seoalah ada yang sesuatu yang di sembunyikan Arga padanya.
Arga menautkan jemarinya pada jemari Zia, "Berjanjilah," Arga memohon dengan penuh pengharapan.
"Bolehkah aku memelukmu lagi?"
Zia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Arga, " Sejak kapan kamu bertanya seperti itu terlebih dahulu?, bukannya biasannya kamu melakukan tanpa bertanya?"
Arga tersenyum, " Apa aku begitu dimatamu?"
"Bukan begitu maksudku em..maksudku," Zia benar-benar merasa tidak enak mengatakan bagaimana Arga di matanya.
"Aku akan berjanji meminta izinmu terlebih dahulu, kalau kamu tidak suka." Ada rasanya penyesalan di dalam hati Arga, ternyata seegois itu dirinya pada Zia.
"Bukan begitu, aku ..aku lebih suka kamu yang tidak pernah bertanya, apa lagi kalau sedang.." ucapan Zia seketika berhenti, dia seolah malu melanjutkan ucapannya.
"Berarti kamu lebih suka aku yang tidak bertanya," ucap Arga seraya merebahkan tubuh Zia. Mendapat pertanyaan Arga, Zia mengangguk. Entah kenapa di begitu lebih senang saat Arga melaukan tanpa bertanya terlebih dahulu, karena saat dia bertanya, rasanya Zia begitu malu untuk menjawab.
__ADS_1
Arga membelai wajah Zia, memandang wajah istrinya lekat, rasanya dia tidak akan sanggup melepas wanita yang ada dihadapannya itu. Arga mulai membenamkan bibirnya pada bibir Zia. Mencium hangat bibir yang selalu dia rindukan, dan akan selalu dia rindukan
Zia selalu tahu kemana akan berakhir ciuman itu. Dan dia selalu suka dengan Arga yang tidak banyak bicara.
***
Setelah pergumulan panjang antara Zia dan Arga. Arga masih terjaga, dia begitu sangat menikmati malam ini. Entah karena mungkin ini malam terakhir, atau mungkin karena dia tidak akan melakukan lagi dengan Zia. Rasanya dia tidak bisa membayangkan lebih jauh. Tapi paling tidak, sebelum dia pergi, dia memberi kenangan indah pada Zia.
"Kamu belum tidur?" Zia yang berada di pelukan Arga menengadah.
"Belum." Arga membelai lembut rambut Zia.
"Ar, sebenarnya ada apa?, dari tadi aku melihatmu seperti ada sesuatu." Zia yang dari tadi tahu, ada sesuatu hal yang di sembunyikan Arga darinya.
"Baiklah akan aku katakan, dan dengarkan baik-baik." ucap Arga, dia masih memikirkan bagaimana dia akan mengatakan pada Zia. Rasanya dia tidak tega menyakiti Zia. Dia sangat berat, membayangkan dirinya jauh dari Zia. Tapi permintaan Adhi, tidak bisa dia tolak. Dirinya sudah menyakiti Zia, dan harus mempertangung jawabkan semua.
Zia yang mendengar Arga ingin mengatakan sesuatu pun mengangguk.
Arga menghela nafasnya, yang terasa berat, untuk memulai berbicara, "Aku akan ke London besok."
Zia langsung membulatkan mata, dia langsung menengadah, menatap seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar, "Apa ada perkerjaan mendadak yang membuatmu kesana?" Zia benar-benar tidak bisa menebak kenapa Arga harus ke luar negeri.
"Aku sendiri tidak tahu, alasan yang tepat aku berikan padamu."
"Iya," jawab Arga menyimpan keraguan dalam hatinya.
"Lalu aku?" Zia merasa berat harus berjauhan dengan Arga, rasanya hari-harinya sudah tergambar dengan hiasan wajah Arga, dan tidsk bisa dia bayangkan, saat Arga tidak ada.
"Sementara kamu disini terlebih dahulu," ucapnya membelai lembut rambut Zia.
"Apa kamu akan menjemputku?"
"Aku harap begitu zi"
__ADS_1
"Iya, jika urusanku sudah selesai."
"Sebenarnya aku merasa berat ar, tapi aku akan melepaskanmu untuk pergi, karena aku yakin kamu akan kembali." Zia mengeratkan pelukannya pada Arga.