
Setelah menunggu antrian, Zia menemani ayahnya masuk ke dalam ruangan David. Arga yang tidak mau Zia bertemu David, ikut masuk ke dalam ruangan David.
Setelah menyapa ayah Adhi, Zia, dan Arga, David langsung memeriksa ayah Adhi. "Saya rasa Om sudah jauh lebih baik."
Adhi yang mendengar ucapan David, merasa tenang denagn kondisinya sendiri. "Baik terimakasih, dok," ucap Adhi pada David.
Zia pun langsung membawa ayahnya keluar dari ruangan David, setelah pemeriksaan ayahnya selesai.
"Bisa kah aku bicara sebentar ar," ucap David pada Arga.
Arga yang mendengar ucapan David, akhirnya menunggu di ruang David. Dan meminta Zia untuk menunggunya di luar. "Ada apa?"
"Apa anak yang Jesica kandung, adalah anak loe?"
"Loe tahu?" Tanya Arga tenang.
"Iya, gue tahu waktu Jesica memeriksakan kandungan."
Arga mengangguk mengerti darimana David tahu. "Semua udah selesai. Anak Jesica bukan anak gue. Dan sekarang Jesica sudah pergi ke London bersama ayah dari bayi yang di kandunganya."
David yang mendengar mengerti. David mengartikan bahwa masalah Arga sudah selesai. "Oke, gue harap loe nggak bakal sakitin Zia lagi ar."
"Zia istri gue, jadi loe tenang aja."
David hanya bisa menerima bahwa dirinya tidak bisa mencampuri urusan Arga terlalu dalam.
**
Zia yang mengantar Ayahnya menunggu Arga sekaligus menunggu obat di apotek rumah sakit.
"Apa Jesica menemui ayah?" Zia teringat dengan Jesica yang datang menemuinya kemarin, bertanya pada Ayahnya.
__ADS_1
"Iya, dia menemui ayah. Dan meminta izin untuk ke luar negeri."
Zia merasa lega, saat Jesica sudah mau datang dan menemui ayahnya, sesuai sarannya. "Apa Tante Lidia sudah tahu kalau Jecia ke luar negeri?"
Saat Zia mengatakan tentang Lidia, Adhi hanya diam saja. Rasanya Adhi malas sekali membahas tentang Lidia.
Zia yang memperhatikan raut wajah ayahnya, menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi. "Ada apa yah?"
"Ayah sudah menyuruh Lidia untuk pergi dari rumah, dan ayah akan mengurus perceraian kami."
Kedua bola mata Zia langsung membulat sempurna saat mendengar bahwa ayahnya akan menceraikan Lidia. "Apa ayah yakin? Lalu bagaimana dengan Kaisar?"
"Perlahan Kaisar akan mengerti, bahwa mamanya sudah membuat ayah kecewa."
Zia tahu mungkin jauh di lubuk hatinya, ada rasa kesal dengan apa yang di lakukan oleh Lidia padanya. Tapi mengingat Kaisar akan jadi korban dari keputusan ayahnya, rasanya Zia tidak bisa menerima. "Yah, aku rasa aku tidak masalah dengan apa yang di lakukan oleh Tante Lidia padaku. Aku sudah memaafkan dia. Dia berusaha memisahkan aku dengan Arga, tapi buktinya aku dan Arga baik-baik saja. Aku harap ayah pertimbangkan lagi. Aku merasa semua ini tidak adil untuk Kaisar."
Adhi menatap kedua bola mata putrinya. Entah dari apa hati Zia hingga dengan mudah memaafkan Lidia. Adhi tahu betul bagaimana perlakuan Lidia pada Zia selama ini. "Ayah belum bisa menerima saranmu. Keputusan ayah tetap sama."
Dia ingat betul bagaimana Kaisar merindukan mamanya sewaktu Lidia tinggal di apartemen. Dan sekarang Lidia harus pergi selamanya dan berpisah dengan ayahnya, apa Kaisar akan menerimanya.
Setelah selesai mengantri obat, Zia dan Arga berpamitan dengan ayahnya. Arga mengantarkan Zia untuk ke butik terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan menuju butik Arga melihat Zia hanya diam saja.
"Kamu kenapa, zi?" Arga menoleh sejenak pada Zia, sebelum fokus pada jalanan yang berada di depannya.
"Ayah akan menceraikan Tante Lidia," ucap Zia dengan tatapan kosong.
Arga memahami, bahwa tidak mudah bagi ayah mertuanya melihat anaknya di sakiti. Dan menurut Arga itu adalah keputusan yang bagus, mengingat apa yang di lakukan Lidia melebihi batas. "Bukankah itu bagus?"
Zia langsung membulatkan kedua bola matanya. Rasanya dia tidak menyangka tanggapan Arga akan seperti itu. "Kalian para pria hanya mementingkan keegoisan saja," ucap Zia kesal.
Arga tersentak saat mendengar ucapan Zia. "Kenapa kamu mengatakan seperti itu?"
__ADS_1
"Lalu aku harus mengatakan apa?" Tanyanya balik pada Arga. "Saat kami para perempuan salah, kalian memilih jalan perceraian, tanpa memaafkan kesalahan kami. Sedangkan saat kalian salah, kalian meminta maaf berharap kami memaafkan," ucap Zia kesal.
"Bukan begitu maksudku, zi." Arga tidak tahu kenapa Zia malah memperlebar pembahasannya.
Zia hanya melirik tajam pada Arga. "Andai aku memilih jalan perceraian dari pada memaafkan mu, apa kamu mau?" Tanya Zia dengan tetap menatap ke arah jalanan.
Seketika Arga menepikan mobilnya, dan memutar balik tubuhnya. "Kenapa kamu mengatakan hal itu, zi?" Arga menatap Zia penuh kekawatiran, bahwa Zia akan melakukan hal yang dia ucapkan.
"Kamu tahu, mungkin memaafkan akan sulit di lakukan saat kita mendapati pasangan kita bersalah. Tapi apa jalan perceraian adalah solusi." Zia menoleh menatap Arga. "Aku memang tidak mudah untuk memaafkan dirimu, maka dari itu, aku akan memberimu kesempatan terakhir untuk membuktikan bahwa dirimu layak untuk di maafkan."
"Zi.."
"Aku pun ingin ayah melakukan hal itu juga, ar. Mengingat Kaisar yang akan jadi korban, jika ayah bercerai." Zia menangis merasakan kebingungan dalam hatinya. Dirinya tidak bisa mencampuri keputusan ayahnya. Tapi saat memikirkan Kaisar, rasanya sulit sekali.
"Zi..." Arga menangkup wajah Zia, dan menhapus air mata Zia. "Kalau kita tidak bisa mengubah keputusan ayah."
Zia membenarkan ucapan Arga. Zia mengingat dirinya yang tadi membujuk ayahnya, tapi sayangnya ayahnya tidak mau mengubah keputusannya.
"Tapi kita bisa memberikan kebahagiaan untuk Kaisar." Arga melanjutkan ucapannya.
Zia langsung menatap Arga, saat mendengar ucapan Arga.
"Kita akan tinggal di rumah ayah. Kamu bisa mengurus Kaisar dan memberikan kasih sayangmu, walaupun mungkin akan berbeda bagi Kaisar, tapi paling tidak dia punya kamu yang bisa mengantikan mamanya." Arga memberikan saran, untuk menyelesaikan masalah yang membuat bingung hati Zia.
Zia berpikir, mungkin benar kata Arga. Saat dirinya bersama Kaisar, paling tidak dirinya bisa mengantikan Lidia. "Apa kamu tidak keberatan?"
"Tidak." Arga menjawab dengan yakin. "Sekarang berhentilah menangis, dan berikan aku senyummu," ucap Arga. "Kamu jelek sekali saat menangis." Arga melepaskan tangannya yang menangkup wajah Zia, dan kembali pada kemudinya.
Rasanya baru saja Zia merasa senang dengan Arga yang mulai perhatian. Tapi seketika Arga kembali, seperti Arga yang dingin, dan seenaknya saja. Tapi bagi Zia itulah Arga, dengan segala sifatnya.
Zia langsung menarik tarik senyum di ujung bibirnya, melihat Arga.
__ADS_1
Arga yang melirik ke arah Zia, melihat senyum di wajah Zia. Rasanya, Arga bersyukur, Zia bisa tersenyum kembali. Arga langsung melajukan kembali mobilnya, dan mengantar Zia ke butiknya.