
Sepanjang perjalanan di mobil Zia menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Sesampainya di apartemen, Zia langsung berlalu menuju kamar tamu yang terdapat di apartemennya. Dia benar-benar tidak mau berada satu kamar bersama Arga.
Arga yang melihat Zia masuk di kamar tamu, hanya mengusap wajahnya kasar. Dirinya tahu, Zia berusaha menghindarinya.
**
Saat sudah selesai bersiap, Arga keluar dari kamarnya menuju meja makan. Di meja makan, Arga melihat sudah ada sarapan di atas meja meja makan.
Arga mengedarkan pandangan, mencari Zia di sekitar meja makan. Tapi tidak menemukannya disana. Dia pun melangkah menuju kamar tamu. Saat melihat kamar tamu tidak terkunci, Arga pun masuk.
Saat sampai di dalam kamar, Arga tidak menemukan Zia di dalam. Arga mencoba mencari ke kamar mandi tapi juga tidak menemukan Zia disana. Arga melangkah keluar menuju ruang tamu. Matanya langsung tertuju pada laci tempat penyimpanan kunci mobil. Arga membuka, dan benar saja dugaanya, bahwa Zia sudah pergi mengendarai mobilnya.
Arga mengambil kunci mobilnya dan menuju parkiran melajukan mobilnya ke butik Zia. Perasaanya begitu tida keruan. Dia tahu Zia masih sangat kecewa dengannya. Tapi dia tidak menyangka Zia akan mendiaminya begitu.
Sesampainya di butik. Arga melihat mobil Zia terparkir di depan ruko. Sebenarnya dia ingin masuk, tapi mengingat Zia yang sedang menghindarinya, Arga mengurungkan niatnya. Dan melajukan kembali mobilnya menuju kantor.
Setelah sampai di kantor, Arga melangkah menuju ruangannya. Saat di depan ruangannya Arga melihat Dave di depan ruangannya.
"Loe kenapa telat datangnya kemarin?" Tanya Arga kesal seraya membuka pintu ruangannya.
"Sorry, gue ada perlu kemarin," ucap Dave. "Tapi gue nggak telat-telat banget lah," elak Dave. Dave yang mendapat tugas menjemput Erik, ternyata datang tidak sesuai dengen rencana Arga.
"Nggak telat gimana. Loe nggak lihat kemarin udah nggak kondusif."
"Tapi kan seru ar, perang dulu. Baru gue datang bak penyelamat bawa Erik."
"Sial loe.." ucap Arga seraya melempar kertas yang dia remas ke arah Dave.
"Tapi asli gue pengen ketawa. Nggak ada yang menyadari kedatangan gue sama Erik kemarin," Dave menceritakan bagaimana kejadian kemarin.
"Semua lagi fokus sama Lidia sama Jesica aja."
"Terus gimana Zia. Dia udah tahu semuanya kan. Dia nggak marah kan sama loe?"
"Dia diemin gue. Semalam dia tidur di kamar tamu. Dan tadi pagi juga dia pergi ke butik naik mobil sendiri," jelas Arga. Rasanya Arga benar-benar tersiksa dengan sikap Zia yang mendiaminya.
"Wah, tenyata usaha loe sia-sia dong. Buktinya dia tetap marah."
"Nggak ada yang sia-sia. Lagi pula gue juga udah bisa bongkar semua secara bersamaan."
Dave pun mengangguk. "Benar juga sih. Kalau loe bongkar satu-satu, yang ada jadi berkali-kali masalahnya."
"Ya udah sana kerja," usir Arga pada Dave.
Melihat Arga, Dave hanya acuh dan keluar dari ruangan Arga. Tapi baru saja Dave keluar dari ruangan Arga. Dave masuk lagi.
"Ada apa lagi?" Tanya Arga menatap tajam.
"Ada yang mau ketemu loe," ucap Dave seraya melebarkan pintu dan mempersilakan seseorang masuk.
"Hai rik," sapa Arga.
"Hai ar," sapa balik Erik seraya melangkah menghampiri Arga menuju meja kerjanya.
"Silakan duduk."
Erik yang di persilakan duduk pun langsung menarik kursi, dan duduk tepat di hadapan Arga. "Aku mau berterimakasih karena sudah mengajakku kemari," ucap Erik.
"Sama-sama." Arga pun merasa lega saat dirinya bisa membawa Erik, dan membebaskan dirinya dari jebakan Lidia.
"Rencananya aku akan membawa Jesica hari ini untuk tinggal di London."
Arga merasa senang saat Jesica bisa bersatu dengan pria yang menjadi ayah bayi dalam kandungannya. "Jagalah dia baik-baik. Aku berdoa kalian selalu bahagia."
"Terimakasih." Erik pun pergi meninggalkan ruangan Arga.
Arga yang melihat Erik pergi, mengingat bagaimana dirinya berusaha mengajak Erik ke Indonesia.
Sesampainya di London, Arga di jemput oleh mantan asistennya di kantor pamannya.
__ADS_1
"Kamu sudah cari tahu dimana pria itu."
"Sudah Pak."
"Kalau begitu kita langsung kesana."
Arga dan asistennya sampai di sebuah kantor. Disana Arga menemui pria yang selama ini menjadi kekasih Jesica selain dirinya. Pria itu adalah Erik, teman kuliah Jesica, sekaligus pemilik perusahaan Digital di London.
Setelah sekertaris Erik mempersilakan Arga masuk. Arga pun masuk ke ruangan Erik.
"Kamu," ucap Erik. Erik ingat betul, jika pria di depannya ini adalah orang yang memukul wajahnya, saat memergoki dirinya dan Jesica sedang bercinta.
"Iya ini aku," ucap Arga. "Arga." Arga mengulurkan tangannya.
"Erik." Erik menerima uluran tangan Arga.
"Untuk apa kamu kesini?" Tanya Erik tidak suka pada kedatangan Arga.
"Aku mau mengajakmu untuk bertemu Jesica ke Indonesia."
Erik tertawa saat mendengar ucapan Arga. "Untuk apa aku menemui, wanita yang meninggalkan aku," cibir Erik, yang masih sangat terluka karena keputusan Jesica yang memilih kembali ke Indonesia
"Berarti kamu mengizinkan dia menikah denganku?" Tanya Arga dengan senyum licik.
Erik menatap tajam pada Arga. "Dia tidak pernah mencintaimu. Dan mendekatimu adalah keinginan mamanya," jawabnya pada Arga.
"Aku pun tidak mencintainya, jadi tidak ada salahnya aku menikahinya."
Erik menarik membungkukkan tubuhnya, mendekat pada Arga, dan menarik kerah baju Arga. "Jangan coba-coba untuk menyakitinya," ancamnya pada Arga.
Arga hanya tertawa menjawab ucapan Erik. "Jika dua orang menikah, dan jadikan satu dalam ikatan pernikahan tanpa cinta. Bukankah mereka akan saling menyakiti," ucap Arga.
"Pergi kamu dari sini," ucap Erik kesal, dan menghempas tubuh Arga.
Arga hanya tersenyum licik dan berdiri. "Aku tinggal di hotel park plaza. Jika kamu berubah pikiran, kamu bisa menghubungiku." Arga meletakkan kartu namanya di meja Erik. Dan berlalu meninggalkan Erik.
Arga memutuskan untuk kembali ke hotel. Dan sesampainya di hotel, dia membersihkan dirinya.
Setelah rutinitasnnya mandi selesai. Arga merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia mencoba menghubungi Zia. Tapi berkali-kali Arga menghubungi, Zia tidak mengangkat sambungan teleponnya. Akhirnya dia memilih untuk tidur, karena sudah malas menghubungi Zia yang sulit sekali.
Setelah selesai menghubungi Zia. Arga melanjutkan tidurnya. Rasanya Arga benar-benar lega saat mendengar suara istrinya. Apa lagi mendapat kecupan jarak jauh dari Zia.
Pagi harinya, setelah sarapan di hotel. Arga melihat ponselnya bergetar. Saat melihat layar ponselnya, ternyata ada pesan singkat masuk ke dalam poselnya.
Setelah membaca pesan singakatz di ponselnya, Arga langsung bergegas keluar dari hotel, dan menuju restoran yang terdapat di pesan singkat di ponselnya.
"Hai rik," sapa Arga seraya menarik kursi restoran.
"Hai," ucap Erik. "Aku mau ikut dengan mu ke Indonesia," ucap Erik pada Arga.
Arga sudah menebak, bahwa pria di hadapannya akan menerima tawarannya, setelah dia membohongi bahwa dia akan menikahi Jesica. "Baiklah, kapan kamu bisa berangkat?" Tanya Arga.
"Mungkin lusa aku akan berangkat."
"Baiklah. Aku akan menunggumu di Indonesia." Arga menjabat tangan Erik. "Terimakasih," ucapnya.
Arga merasa sangat lega. Paling tidak satu solusi masalah sudah dia dapat. Membawa Erik, akan mempermudah dirinya menjauhkan Jesica dari dirinya.
Setelah bertemu dengan Erik, Arga kembali ke hotelnya. Sesampainya di hotel, Arga menghubungi Zia. Melepas rindunya, dengan mendengar suara Zia..
Arga tidak mengatakan dirinya akan pulang besok pada Zia, karena dia ingin memberi kejutan pada Zia.
**
Sesampainya di butik, Zia tidak sama sekali mengerjakan perkerjaanya. Pikirannya masih melayang pada Arga yang begitu membuatnya kecewa.
Semalam Zia memutuskan untuk tidur di kamar tamu, untuk menghindari Arga. Rasanya dia tidak sanggup harus berada satu ranjang dengan Arga.
Saat Zia sibuk dengan pikirannya, Zia mendengar pintu ruanganya di ketuk. Zia mempersilakan masuk, dan ternyata Nia lah yang mengetuk. Nia memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin menemui Zia. Zia hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa dia mengizinkan.
"Hai zi," sapa Jesica pada Zia.
__ADS_1
Zia yang melihat Jesica, sangat terkejut. Rasanya dirinya masih belum sanggup untuk bertemu dengan Jesica.
"Duduklah," Zia mempersilakan Jesica untuk duduk.
"Aku ingin berpamitan karena besok aku akan ke London," ucap Jesica sesaat setelah dia duduk.
Zia begitu kaget mendengar keputusan Jesica. Tapi mengingat pria yang menjadi ayah bayi Jesica adalah pria keturunan London, Zia mengerti.
"Aku juga ingin meminta maaf atas semua yang aku lakukan padamu zi," ucap Jesica. "Aku menyesal selalu menuruti keinginan mama, dan membuat hidup menjadi berantakkan. Terusir dari rumah dan nyaris batal menikah dengan orang yang di jodohkan dengan mu." Jesica yang mengingat kesalahannya pun menangis.
Zia yang melihat Jesica menangis memberikan tisu padanya. "Aku sudah memaafkan mu," ucap Zia.
"Terimakasih zi," ucap Jesica. "Zi, aku tahu mungkin kamu kecewa karena Arga dan aku pernah melakukan hal buruk. Tapi itu semua salahku zi. Aku yang merencanakan semua. Sebagai laki-laki, wajar jika Arga terbawa suasana."
Rasanya masih terasa sakit saat mengingat hal itu kembali. "Lupakan itu."
"Perlu kamu tahu zi. Aku tidak pernah melihat sorot mata Arga yang begitu penuh cinta untukmu. Dan aku yakin bahwa dia begitu mencintaimu. Aku harap masa lalunya tidak akan merusak hubunganmu."
Zia hanya memilih diam. Dan tidak menjawab pertanyaan Jesica. "Kapan kamu berangkat?" Zia pun memilih menggalihkan pembicaraan.
"Besok."
"Titipkan salamku untuk Erik. Dan semoga kalian bahagia disana," ucap Zia tersenyum. Bagi Zia, Jesica adalah adiknya, dan tidak ada yang mengantikan rasa sayangnya sebagai seorang kakak.
"Erik ada di bawah, kamu bisa berkenalan nanti," ucap Jesica. "Aku akan menunggumu bersama Arga untuk berlibur kesana," lanjut Jesica dan Zia mengangguk.
Zia berdiri menghampiri Jesica dan memeluk Jesica. "Jagalah kehamilan mu. Kabari aku jika bayi ini sudah lahir," ucap Zia seraya membelai perut rata Jesica.
"Baiklah. Kamu akan jadi orang pertama yang akan aku kabari saat aku melahirkan." Jesica dan Zia pun saling tersenyum.
"Apa kamu sudah menemui ayah?" Tanya Zia pada Jesica.
Raut wajah Jesica seketika berubah saat mendengar ayahnya di sebut. "Apa papa akan memaafkan aku, karena sudah membuat malu?"
"Tidak ada orang tua yang tidak memaafkan anaknya. Pergilah dan temui dia. Aku yakin dia akan merentangkan tangannya dan memelukmu."
"Terimaskasih zi." Rasanya Jesica merasa beruntung mempunyai kakak seperti Zia, yang mendukungnya dan memberinya semangat.
"Sudah jangan menangis. Tidak baik, ibu hamil menangis."
Akhirnya Jesica berpamitan pada Zia. Zia pun mengantarkan Jesica ke lantai bawah. Di lantai bawah, Zia melihat Erik setia menunggu Jesica. Ada terbesit rasa senang, saat Jesica mendapatkan pria yang begitu mencintanya. Zia juga berkenalan sebelum Erik dan Jesica pergi, untuk melanjutkan pergi ke kantor Adhi.
**
Sesampainya di kantor Adhi. Jesica memberanikan diri bersama Erik masuk ke ruangan Adhi.
"Pa," sapa Jesica.
Adhi yang melihat Jesica datang bersama seorang pria tersenyum. Dia berdiri dan merentangkan tangannya untuk Jesica.
Jesica yang melihat Adhi merentangkan tangan, berhambur ke pelukan Adhi. Benar yang di katakan Zia, bahwa Adi akan menerimanya dengan lapang dada.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Adhi membelai rambut Jesica.
"Aku baik pa," jawab Jesica.
"Apa kamu tidak mengenalkan ayah bayimu?" Tanya Adhi tertawa.
Jesica tersenyum dan melepaskan pelukkannya. Jesica pun langsung mengenalkan Erik pada Adhi.
"Aku titip putriku padamu. Jagalah dia, karena selama ini aku tidak bisa menjaganya." Adhi yang merasa, dirinya juga bersalah karena membuat anak-anaknya menderita.
"Saya akan menjaga Jesica Pak. Karena saya mencintainya."
Adhi merasa lega saat mendengar ucapan pria di hadapannya.
Jesica mengatakan niatnya untuk berpamitan pada Adhi, bahwa dia dan Erik akan ke London besok.
Adhi pun memberikan izin, dan berdoa untuk putrinya.
"Titipkan salam ku untuk mama, pa," lirih Jesica. Rasanya dia masih sangat takut untuk bertemu dengan mamanya.
__ADS_1
"Aku akan menyampaikannya. Jagalah dirimu dan bayimu. Kabari ayah jika kamu butuh apa-apa."
Jesica pun mengangguk. Dan berpamitan untuk pulang.