
Arga langsung berbalik saat mendengar ucapan David. Sorot matanya tajam dia layangkan pada David seketika itu. "Apa maksud loe?" tanyanya seraya melangkahkan kaki mendekat pada David.
"Dia tanya tentang gimana loe di London," seulas senyum tipis mengembang di wajah David, saat dia memperjelas ucapannya.
Kedua bola mata Arga membulat, mendengar pertanyaan yang di ajukan Zia untuk David, "Apa loe kasih tahu Zia?" satu pertanyaan lolos dari bibirnya.
"Gue nggak sekejam itu, tapi lambat laun dia akan tahu," ucapnya dengan senyum licik seolah sedang meledeknya
"Dia nggak akan tahu kalau loe tutup mulut," sergah Arga pada David.
David langsung tergelak, "Gue?," David menunjuk dirinya sendiri, "Harusnya loe bukan berhati-hati sama gue," cibir David.
Arga membatin dalam hatinya, yang di katakan David benar, dia tidak harus takut pada David, melainkan pada Jesica sendiri. Tapi rasanya, dia belum bisa melangkah jauh, selain menunggu terlebih dahulu.
"Kalau gue tahu loe bakal sakitin Zia, gue nggak akan lepasin Zia sama loe ar," David menahan semua penyesalaannya.
Mendengar ucapan David, Arga masih diam mencerna baik-baik. Rasanya ingin membalas ucapan David, tapi yang di ucapkan David benar. Arga memikirkan bagaimana jadinya Zia melihat Foto itu. Dan akan sesakit apa Zia.
"Dan jika nanti Zia terluka karena loe, gue pastiin, gue bakal bawa Zia pergi dari loe," senyum licik mengembang sempurna pada wajah David.
Arga yang mendengar David memanfaatkan keadaan ini, untuk merembut Zia menjadi kesal. Darahnya mendidih, tidak terima yang di ucapkan David.
Arga langsung menarik kerah baju David, "Dan gue pastin juga, loe nggak akan bisa ngambil keuntungan dari masalah gue, buat bawa Zia pergi dari gue."
David ingin rasanya tertawa, memanfaatkan keadaan, mungkin kata-kata itu benar adanya. "Berdoalah, Zia nggak akan pernah tahu foto itu,"
"Loe," Arga yang tidak kuat menahan emosinya langsung melayangkangan satu pukulan pada David.
Tapi belum sampai pukulan itu mampir di wajah David, dia berhenti saat mendengar teriakkan dari seseorang yang dia hafal betul suaranya.
"Ar," teriak Zia seketika saat melihat Arga hendak memukul David.
Zia yang saat itu sudah menyelesaikan administrasi kepulangan ayahnya, harus melihat pemandangan Arga yang hendak memukul David, di depan ruang rawat ayahnya.
Zia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Arga dan David, "Kamu apa-apan sih," sergahnya seraya menarik tangan Arga dari kerah baju David.
Arga yang melihat Zia tiba-tiba datang, hanya berfikir apa Zia mendengar ucapan David tentang foto tadi.
"Kalian apa-apa sih," ucap Zia kesal akan melihat adegan pemukulan, "Apa kalian tidak tahu ini rumah sakit."
"Kita sudah biasa zi, jadi jangan kaget gitu," ucap David menenangkan Zia.
__ADS_1
Zia mengingat cerita David, yang menceritakan bagaimana waktu kecil mereka sering bertengkar, dan berujung pemukulan.
"Ya tapi kalian bukan anak kecil lagi yang harus main pukul," ucapnya dengan nada tinggi, "Sebenarnya apa sih masalah kalian?" tanya Zia yang geram.
"Berarti dia nggak dengar," batin Arga.
"Nggak apa-apa sayang, hanya salah faham saja," Arga menatap Zia santai.
"Apa administrasinya sudah selesai zi," tanya David dengan tenang.
"Mereka bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa"
"Sudah vid."
"Ya sudah, semoga ayahmu cepat sembuh, dan pastikan tidak ada yang membuatnya menjadi beban pikiran, karena itu tidak baik untuk kesehatan ayahmu," ucap David pada Zia.
"Ya aku akan pastikan, ayah tidak akan memikirkan masalah apa pun," Zia meyakini bahwa dia akan menjaga ayahnya dengan baik.
"Semoga," ucapanya sedikit melirik ke Arga.
Arga yang melihat David meliriknya, tahu bahwa David segaja menyindirnya.
"Ya sudah aku pamit dulu," David pun berlalu meninggalkan Zia dan Arga.
Arga yang melihat Zia meninggalkanya, tahu bahwa wanita itu pasti marah dengannya.
**
Setelah mengurus kepulangan ayahnya dari rumah sakit. Zia membawa pulang ayahnya, dengan Arga yang menyetir mobil.
Sesampainya di rumah, Zia membantu ayahnya turun dari mobil, dan menuntunnya memasuki rumah.
"Kak Zia, ayah," teriak Kaisar saat melihat Zia dan ayahnya datang.
Anak berusia enam tahun itu pun berlari menghampiri Zia dan ayahnya.
Adhi yang melihat putranya menghampirinya, merentangkan tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku rindu dengan ayah," ucapnya mengeratkan pelukan pada ayahnya.
"Ayah juga merindukanmu," ucap Adhi membelai punggung kaisar, "Apa kamu tidak nakal di rumah?" Adhi melepas pelukan, dan menatap lekat pada putranya.
__ADS_1
"Tidak ayah, aku jadi anak pintar," jawabnya dengan senyum mengembang.
"Pintar," Adhi mengusap rambut ayahnya lembut.
"Hai Kaisar," sapa Zia menatap dengan senyuman pada Kaisar.
"Kak Zia," Kaisar beralih memeluk Zia. Rasanya dia senang sekali melihat Zia berada di rumahnya.
"Apa kakak akan tinggal di sini?" tanyanya dengan semangat dan Zia mengangguk. Mendapati jawaban Zia, senyumnya semakin melebar, karena senang. Sejenak mata Kaisar beralih pada pria yang berada di samping Zia.
Arga yang melihat seorang anak menatapnya mencoba menyapanya, " Hai jagoan," sapanya pada Kaisar.
"Siapa kamu?" Kaisar tidak menjawab sapaan Arga, tapi malah bertanya.
"Aku suami kakakmu," jawab Arga dengan senyum.
Kaisar menantap tajam pada Arga, dan beralih pada Zia, "Dia suami kakak?" tanyanya dan Zia mengangguk.
"Selera kakak jelak sekali, lihat lah dia tidak lebih tampan dari aku," Kaisar melihat Arga dari atas sampai ke bawah.
Zia yang mendengar cibiran Kaisar menahan tawanya. Dia tahu adik kecilnya ini selalu tidak bisa melihat pria lain di samping Zia.
Arga yang mendengar ucapan anak kecil di depannya membulatkan matanya, bisa-bisanya anak kecil berumur enam tahun ini menghinanya. Di tambah melihat Zia yang tidak sama sekali membelanya membuatnya tambah kesal. "Dasar anak kecil."
"Kaisar tidak baik berkata seperti itu," tegur Adhi yang mendengar ucapan anaknya.
Kaisar hanya mencebikan bibir saat ayahnya menegurnya.
"Sudah, ayah mau istirhatat ke kamar," Adhi berjalan melangkah ke kamarnya, dan di bantu oleh Zia.
Arga yang melihat Zia mengantar ayahnya, duduk di ruang keluarga bersama dengan Kaisar. Arga memperhatikan, anak kecil itu melihat sinis padanya.
"Hai jagoan, kenapa melihat ku seperti itu?" tanyanya ingin tahu apa yang di pikir anak kecil itu tentang dirinya.
"Aku hanya melihat pria seperti apa yang menjaga kak Zia," ucapnya menatap tidak suka.
"Aku rasa dia orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak kecil," Arga benar-benar di buat heran bisa-bisanya anak sekecil itu mengatakan hal itu padanya.
"Memang pria seperti apa yang kamu inginkan untuk menjaga kakak mu?" Arga yang terpancing akhirnya memcoba mencari tahu keinginnya.
"Yang bisa menjaga kak Zia dari mama, dan tidak membuatnya menangis," Kaisar dengan polos menjawab.
__ADS_1
Arga mengerutkan keningnya mendengar ucapan Kaisar.