Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Pulanglah


__ADS_3

Sedari tadi Zia memperhatikan Arga yang begitu nampak lelah, saat Arga tiba di rumah sakit, "Apa kamu lelah?" tanyanya memastikan.


"Iya." Arga melonggarkan ikatan dasi yang melingkar di lehernya, dan sedikit meregangkan ototnya. Tidak di pungkiri, harus bolak-balik ke rumah sakit, membuatnya sangat lelah, di tambah lagi perkerjaan di kantor begitu banyak.


Setelah pembicaraan dengan Adhi, mengenai Zia dan Arga yang akan tinggal di rumahnya. Arga dan Zia keluar, karena Adhi ingin berbicara dengan Adrian mengenai perkerjaan. Akhirnya mereka memilih duduk, di kursi tunggu yang tersedia di lorong rumah sakit


"Kalau begitu pulanglah, aku akan disini menunggu ayah," Zia menatap tidak tega pada Arga. Zia tahu tidur di rumah sakit dengan sofa kecil, dan harus berhimpitan dengannya, pasti membuat tubuh Arga sakit, dan tidak pulas saat tidur.


Arga menautkan kedua alisnya, merasa tidak suka saat Zia menyuruhnya untuk pulang, "Dan kamu disini dengan pria itu?" Arga menatap tajam pada dua bola mata Zia.


Kedua alis Zia pun sama halnya dengan Arga yang menaut, saat mendapati pertanyaan dari Arga. Zia tahu bahwa pria yang di maksud oleh Arga adalah Adrian. Dan tuduhan nya pada Zia, kalau dia akan di rumah sakit bersama Adrian, benar-benar di luar akal sehatnya. "Kenapa kamu mengatakan begitu," Zia melayangkan protesnya pada Arga.


"Kamu menyuruhku pulang, dan berarti itu akan membuatmu bisa berdua dengannya bukan?" Arga ingat betul, saat dia tiba di rumah sakit, dia melihat Adrian duduk di sofa bersama Zia. Dan bisa di pastikan, jika Zia sendiri di rumah sakit, Adrian akan ikut menemaninya.


Zia hanya mengeleng-geleng kan kepalanya, heran dengan pertanyaan aneh dari Arga. "Aku disini menjaga ayahku ar, bukan untuk berduaan dengan siapa pun!" serunya mengelak tuduhan Arga.


"Lalu kenapa kamu menyuruhku pulang?" suara Arga sudah naik satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.


Zia menghela nafasnya, menahan emosinya, mendengar Arga sudah menaikan satu oktaf suaranya. Zia tahu siapa lawan bicaranya, seorang Arga Pratama yang mudah marah, dan seenaknya saja saat bersikap. Dia tidak akan memikirkan tempat, dan waktu saat dia berucap.


"Aku hanya ingin kamu istirahat dengan nyaman," suara Zia sudah mulai merendah dan melembut. Dia tahu, melawan Arga dengan emosi, hanya akan membuang tenaganya. "Kalau kamu tidak mau pulang ya sudah, kita akan disini berbagi sofa sempit, dan tidur berhimpitan," ucapnya menarik senyum di kedua ujung bibirnya.


Arga menyadari emosinya yang meledak-ledak memang tidak tahu tempat. Tapi melihat wanita di depannya yang bisa menghadapinya, ada rasa hangat di hatinya, "Aku lebih memilih tidur berhimpitan, dari pada melihatmu berduaan dengan pria itu," ucapnya dengan nada angkuhnya.


Zia hanya bisa mengalah mendengar ucapanya Arga, yang mengatakan pria itu terus menerus. Zia tahu, pria yang di hadapannya ini sedang meluapkan rasa cemburunya, "Baiklah," akhirnya Zia mengalah.


Saat mereka asik berdebat, ternyata sedari tadi ada orang yang memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


Setelah Adhi selesai berbicara dengannya, Adrian keluar dari ruangan Adhi. Tapi matanya teralih pada sepasang suami istri yang sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Adrian melangkahkan kakinya menghampiri Arga dan Zia. Tapi langkahnya terhenti, saat mendengar perdebatan mereka, yang tenyata membahas tentang dirinya. Adrian tersenyum mendengar, ucapan Arga yang nampak cemburu dengannya.


Setelah mendengar perdebatan mulai terhenti, Adrian melanjutkan langkahnya menghampiri Zia dan Arga.


"Kalian belum pulang?," tanyanya berbasa-basi.


Zia yang melihat Adrian, menghampiri mereka sedikit kaget. Zia merasa takut, jika tadi Adrian mendengar pembicaraannya dengan Arga. "Belum," jawab Zia pada Adrian.


Arga yang mendengar Adrian bertanya pada mereka berdua, memutar bola mata malas. Arga memang menaruh curiga, kalau pria di hadapannya ini menyimpan rasa pada Zia.


Adrian yang melihat Arga tidak menjawab hanya tersenyum, "Bagaimana Zia betah bersama pria arogan ini," pikirnya bingung.


"Jika kamu ingin pulang, pulang lah, aku akan menunggu pak Adhi," Adrian yang mendengar pembicaraan antara Zia dan Arga, tahu Zia ingin menemani ayahnya, tapi tidak tega melihat Arga yang lelah.


"Tidak perlu, biar aku saja yang menjaga ayah," Zia yang merasa tidak enak dengan Adrian yang memintanya pulang, dan menggantikannya untuk menjaga ayahnya.


" Adrian berucap seraya melirik Arga, sedikit memancing emosi pria di hadapannya itu.


Arga yang mendengar ucapan Adrian merasa seolah sengaja mengatakannya. "Ayo zi, jangan sia-siakan, Adrian yang berbaik hati. Sebaiknya kita pulang dan beristirahat, dan menikmati waktu berdua," Arga tersenyum pada Adrian, seolah meledek pria itu.


Adrian yang mendengar ucapan Arga hanya tersenyum .Dia tahu Arga sengaja memamerkan kemesraan mereka berdua.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih," ucap Zia pada Adrian, dan Adrian pun mengangguk.


"Ayo kita akan berpamitan terlebih dahulu pada ayah," Zia menarik lembut lengan Arga, dan melangkahkan kakinya menuju ruang rawat ayahnya untuk berpamitan


Setelah mereka berpamitan dengan Adhi, akhirnya mereka memilih pulang.

__ADS_1


Tapi saat dalam perjalanan pulang Zia meminta Arga untuk berbelok ke restoran terdekat untuk makan terlebih dahulu. Arga pun menuruti permintaan Zia, dan berbelok saat menemukan restoran terdekat.


Setelah mereka selesai makan, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju apartemen Zia.


***


"Jauhi Adrian!" seru Arga pada Zia saat mereka sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Zia hanya memutar bola mata malas, mendengar Arga membahas Adrian lagi. Rasanya Zia malas sekali berdebat lagi, semalam ini dengan Arga. "Aku sudah bilang, tidak ada apa-apa antara aku dan Adrian," jelas Zia.


"Aku sedang tidak meminta penjelasan zi, tapi sedang memberi peringatan," Arga menatap tajam pada Zia.


"Terserah padamu," ucap Zia seraya membenamkan tubuhnya dalam selimut, dan tidur membelakangi Arga.


Arga yang melihat Zia membelakanginya, dan mengacuhkan ucapannya, langsung membalikkan tubuh Zia. Membawanya dalam kungkungannya, "Apa kamu mendengarkan ku?" Ucapnya menatap wajah Zia, yang tepat di bawahnya.


"Iya,"


"Iya apa?" tanya Arga menatap lekat pada bola mata Zia.


"Iya, untuk tidak mendekati Adrian" jawab Zia polos, karena memang itu pertanyaanya tadi.


"Jawab iya sekali lagi."


Zia yang mendengar Arga meminta menjawab iya lagi bingung, "Untuk apa lagi?"


"Untuk yang ini," Arga berucap seraya membenamkan bibirnya di bibir Zia, memberi ciuman lembut pada bibir Zia. Tanganya pun sudah meraba sesuatu di balik piyama Zia, menjangkau sesuatu yang berada di balik piyama Zia.

__ADS_1


"Sepertinya dia tidak butuh jawab iya" batin Zia yang sudah tahu kemana arah selanjutnya aksi Arga.


__ADS_2