
"Aku akan membencimu ar."
Jantung Arga serasa di tusuk dalam mendengar ucapan Zia. Dia tidak menyangka Zia akan menjawab seperti itu padanya.
"Tapi aku akan memaafkanmu, jika kamu memiliki alasan yang benar untuk semua kebohongan mu" Zia menengadah menatap lekat pada Arga yang lebih tinggi darinya.
"Alasan yang benar, kebohonganku tidak memiliki alasan yang benar" batin Arga yang merasa melakukan dengan mantan kekasihnya adalah hal yang tidak benar.
Arga memaksakan tersenyum mendapat jawaban Zia. Walapun dia tahu, dia tak akan pernah dapat maaf dari Zia, kalau tahu dia berbohong.
***
Setelah kembali ke apartemen untuk membersihkan diri. Zia dan Arga kembali ke rumah sakit. Zia yang bersikeras ke rumah sakit tidak dapat di cegah oleh Arga. Arga pun akhirnya mengantarkan Zia ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit sudah ada Jesica dan Lidia disana.
"Hai zi" sapa Jesica dengan senyum.
"Hai jes" sapa balik dari Zia.
Mata Jesica beralih pada Arga, pandangan penuh makna lain yang tersirat. "Hai ar" sapanya dengan senyuman
Arga yang disapa pun hanya acuh, dan tidak menjawab sapaan Jesica. Dia tahu wanita di hadapannya ini sengaja menyapanya, karena dia tahu, dari senyuman Jesica menyiratkan senyuman penuh kelicikan.
Zia yang melihat Jesica menyapa Arga, merasa tidak enak, saat Arga dengan acuhnya tidak menjawab.
"Ar, Jesica menyapamu" tegur Zia yang melihat Arga hanya diam saja.
"Hemm" ucapnya malas.
"Tidak apa-apa zi, mungkin Arga belum terbiasa, nanti lama-lama Arga akan terbiasa denganku" jawab Jesica.
Arga yang mendengar ucapan Jesica menajamkan pandangan pada Jesika. Dia benar-benar tidak suka jawaban Jesica. Kata terbiasa dari Jesica bermakna lain, itu yang di artikan Arga.
Zia yang melihat kecangungan di depannya pun akhirnya mencoba mencairkan.
"Ar, pergilah ke kantor, aku akan disini" ucapnya pada Arga.
Arga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan ternyata sudah menunjukkan cukup siang untuknya ke kantor.
"Baiklah aku akan ke kantor sebentar, nanti aku akan menjemputmu lagi" ucapnya seraya mencium kening Zia, Zia pun yang mendengar ucapan Arga hanya menangguk.
__ADS_1
"Memuakan sekali" batin Jesica melihat pemandangan romantis di depannya.
Akhirnya Arga melangkahkan kaki keluar ruangan, dan menuju ke parkiran mobil.
Tapi belum sempat dia sampai di parkiran mobil, seseorang memangil Arga, dan membuat langkahnya terhenti.
Jesica yang ikut keluar setelah Arga keluar, akhirnya mengejar Arga.
"Mau apa kamu" ucap Arga pada Jesica tajam.
"Jangan bersikap begitu dengan calon istrimu ar" Jesica mencoba mengoda Arga.
"Jaga ucapanmu" Arga begitu geram dengan mendengar ucapan Jesica.
"Apa kamu lupa aku punya foto ini" jawabnya dengan memamerkan foto di tangannya.
"Jangan mengacamku lagi" hadik Arga menatap penuh kebencian pada Jesica.
"Apa jadinya jika foto ini sampai di tangan Zia" ucapnya dengan senyum liciknya.
"Aku tidak akan membiarkannya" ucap Arga seraya merebut foto dari tangan Jesica.
Jesica yang menghindar saat Arga merebut fotonya pun, membuat foto-foto berhamburan di lantai.
Arga sedikit berjongkok mengutip satu per satu foto itu. Tapi saat selesai mengambil foto, dia melihat sepatu pantofel berhenti tepat di depan Arga. Arga yang berjongkok harus menegadah untuk melihat milik siapa sepatu itu.
"David" ucapnya saat tahu dia lah pemilik sepatu itu.
David yang tidak sengaja lewat, melihat Arga sedang berbincang dengan wanita. Awalnya dia tidak mau ikut campur karena berfikir itu mungkin kerabatnya. Tapi langkah David terhenti saat melihat Arga nampak bertengkar. David melihat Arga merebut sesuatu dari tangan wanita di hadapannya. David yang penasaranmu mencoba menghampirinya. Saat melangkahkan kakinya menghampiri Arga, langkahnya terhenti saat melihat foto berhamburan.
Arga bangkit, dan berdiri setelah mengutip foto-foto yang berhamburan. Arga langsung masukan ke kantung jasnya foto-foto yang dia bawa.
"Kamu lupa meninggalkan satu lagi untuk di masukkan ke dalam jas mu" ucap David menyerahkan satu foto pada Arga.
David yang tadi berhenti saat melihat foto berhamburan berhenti saat satu foto tepat di kakinya. Dia mangambil foto nya, dan mata David langsung membulat melihat isi dalam foto tersebut.
Arga yang melihat satu foto masih tersisa dan berada di tangan David, langsung mengambilnya dengan kasar dari tangn David.
David yang melihat Arga dengan kasar mengambilnya hanya tersenyum. Dia memilih berlalu meninggalkan Arga dan wanita itu sesaat setelah menyerahkan satu foto dari tangannya.
Arga yang melihat David pergi, langsung beralih pada Jesica. Arga berbalik dengan pandangan penuh menghujam. Rasanya dia benar-benar murka. Arga langsung menarik kasar Jesica.
__ADS_1
"Apa mau mu sebenarnya?, Uang?" tanya Arga pada Jesica dengan penuh amarah.
"Aku mau kamu menikahiku" ucapnya tak takut sedikit pun dengan Arga.
"Kamu tahu aku sudah menikah bukan, jadi berhentilah meminta hal itu" ancam Arga.
"Aku tidak akan pernah berhenti meminta hal ini" Jesica yang tak takut sedikit pun dengan Arga, menghempas tangan Arga yang sedari tadi mencengkramnya.
"Dan ku pastikan kamu tidak akan punya pilihan lain selain menikahiku" ucap Jesica penuh ancaman, dan berlalu meninggalkan Arga begitu saja.
Arga yang mendengar ancaman dari Jesica mengusap wajahnya kasar, jantungnya berdetak lebih kencang saat memikirkan bagaimana jika Zia tahu.
Arga memilih berjalan meninggalkan rumah sakit, saat mendapati dirinya sudah berdiri sendiri.
**
Jesica yang sudah selesai menemui Arga kembali ke ruang rawat ayah Zia. Saat dia masuk, Jesica melihat Zia duduk di samping ayahnya, dengan raut wajah yang begitu sedih melihat ayahnya yang masih berbaring belum sadarkan diri.
Jesica pun mendudukkan diri di sofa kamar rawat yang tersedia.
"Dari mana kamu" tanya Lidia berbisik, yang sedari tadi duduk di sofa.
"Dari bertemu lelaki itu"
"Apa dia sudah setuju?" tanya Lidia penuh maksud dengan kata setuju.
"Belum"
Lidia langsung menatap jesica tajam, "Berusahalah lebih lagi"
Jesica menoleh menatap balik mamanya dengan tatapan tajam juga, "Bisakah mama melihat aku sedang berusaha" kesal Jesica dengan sang mama yang selalu mengancam dan memerintah sesuka hatinya.
Lidia memilih diam tidak menjawab ucapan dari Anaknya, dia menahan emosinya agar Zia tak melihatnya bertengkah dengan Jesica.
Jesica yang pun beranjak dan menghampiri Zia.
"Mau minum kopi dengan ku" tawar Jesica pada Zia.
Zia yang mendengar ucapan Jesica menoleh pada Jesica. Sejenak dia beralih pada Lidia.
Lidia yang sadar Zia menatapnyanya langsung berucap, "Pergilah biar aku yang menjaga"
__ADS_1
Setelah mendapat jawaban dari Lidia, Zia mendorong kursinya mundur, dan berdiri melangkahkan kaki keluar dari ruang rawat, mengikuti Jesica yang sudah keluar lebih dulu dari ruang rawat ayahnya.