
Mendengar ucapan Zia, Arga langsung berhambur memeluk Zia. "Terimakasih zi," ucap Arga. Arga yang tadinya sudah pasrah, bahwa Zia tidak bisa menerimanya, merasa senang saat Zia mengatakan akan menerimanya. Arga hanya bisa mencium pipi Zia, dan berkali-kali mengucapkan terimakasih.
Arga beralih pada bibir Zia, tapi seketika Zia memundurkan wajahnya. Ingatan Zia kembali pada foto Arga dan Jesica. "Bisakah kamu memberiku waktu untuk ini," ucap Zia.
Zia bukan tidak menerima Arga sepenuhnya. Tapi saat Arga menyentuhnya, rasanya dia membayangkan bagaimana Arga menyentuh Jesica.
Arga tahu bahwa mungkin Zia masih berat menerimanya. Tapi Arga yakin, semua akan baik-baik saja, dengan berjalannya waktu. "Baiklah."
Zia bersyukur, bahwa Arga menghargai keputusannya.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur." Zia mengajak Arga untuk mengakhir malam ini.
Zia dan Arga melangkah menuju kamar. Tapi langakah Arga terhenti saat dia melihat Zia meraih handle pintu kamar tamu. "Apa kamu akan tidur di kamar tamu lagi?"
"Aku.."
"Aku tidak akan menyentuhmu, jika kamu tidak mengizinkan." Arga tahu apa yang ada di pikiran Zia. Arga menatap lekat kedua bola mata Zia mencoba meyakinkannya
Melihat kedua bola mata Arga, rasanya Zia yakin bahwa Arga akan menghargai keputusannya. Zia mengekor di belakang Arga dan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Zia dan Arga membersihkan diri secara bergantian. Mereka merebahkan diri di tempat tidur. Mereka tidur di sisi tempat tidur, menyisakan kekosongan di tengah tempat tidur.
Posisinya Zia dan Arga yang saling membelakangi, membuat mereka tidak bisa saling menatap wajah masing-masing.
**
Hawa dingin menusuk masuk ke dalam tulang, membuat dua orang berebut menarik selimut mencari kehangatan. Arga mengerjap saat selimut yang menutupi tubuhnya tertarik oleh Zia, perlahan mengeser tubuhnya, agar selimut yang di tarik Zia bisa di gapainya. Tapi sayangnya selimut terlanjur melilit tubuh Zia.
Melihat dirinya tidak bisa menarik selimut yang di pakai Zia, Arga membuka matanya. Rasanya dia ingin sekali memeluk istrinya itu, mencari kehangatan dari tubuh kecil istrinya. Tapi dia mengingat janjinya, untuk tidak memeluk istrinya.
Akhirnya dia memilih untuk bangun, dan menuju dapur. Tenggorokannya yang kering, ingin sekali dia basahi dengan segelas air.
Sesampainnya di depan lemari pendingin, Arga membuka lemari pendingin, dan menuangkan air dalam botol, pada gelas yang dia ambil tadi. Sejenak mata Arga melihat beberapa bahan makanan di dalam lemari pendingin. Seketika terlintas ide untuk memasakan sarapan untuk Zia.
Arga mulai mengambil, beberapa bahan. Dia akhirnya memilih membuat nasi goreng, untuk menu sarapan pagi ini. Dirinya yang dulu tinggal sendiri di luar negeri, membuat Arga sudah sangat ahli dalam memasak.
Zia mengerjap saat aroma masakan, mengelitik hidungnya. Zia membuka selimut yang melilit di tubuhnya, menurunkan kakinya dari tempat tidur, dan melangkah menuju tempat dimana aroma itu diciptakan.
Saat dia memasuki area dapur, dia melihat Arga yang sedang di depan kompor. Zia menarik senyum di ujung bibirnya, saat melihat pria yang di cintainya itu sedang sibuk memasak. Rasanya adalah hal langka, saat Arga mau memasak di dapur. Dia mengingat, bahwa Arga memasak di waktu Zia sakit. Dan setelah itu dia tidak melihat Arga memasak lagi. Dia malah memberi saran untuk mengajari dirinya saja, dari pada harus dia yang memasak.
Dari kejauhan Zia memperhatikan dengan lekat tubuh Arga yang bergerak saat memasak. Ingin rasanya Zia memeluknya, tapi entah kenapa, rasanya masih terlalu berat untuk melakukan hal itu.
"Kamu sudah bangun,'' ucap Arga saat membalikkan tubuhnya.
Zia yang masih diam terpesona akan Arga, tersentak saat Arga mengajukan pertanyaan. "Iya.''
__ADS_1
Arga meletakkan masakannya di atas piring, dan membawanya ke meja makan setelahnya. "Ayo makan.'' Arga menarik kursi di meja makan untuk Zia, dan beralih menarik kursi, untuk dirinya sendiri.
Zia melangkah menuju meja makan, dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang sudah di siapkan Arga. "Kamu memasak?" Tanya Zia ragu-ragu.
"Apa kamu tadi tidak melihatku tadi,'' jawab Arga dingin.
Dalam hati Zia merasa senang dengan sikap dingin Arga, baginya inilah Arga yang sebenarnya. Dia akan bersikap dingin, dalam keseharian, dan berubah romantis saat berdua dengannya.
"Kenapa tersenyum?''
Zia yang menarik senyum di ujung bibirnya, saat memikirkan Arga, langsung menampilkan wajah datarnya, saat Arga bertanya. "Tidak, siapa yang senyum,'' elaknya.
"Cepat makanlah, aku akan mengantarmu ke butik hari ini.'' Arga memasukan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Apa Dave tidak menjemputku?"
Arga yang mendapat pertanyaan Zia langsung tersedak, bisa-bisanya Zia menanyakan pria lain, saat dirinya sudah mengatakan bahwa dirinya akan mengantarkannya. "Apa kamu mau Dave yang mengantarmu?" Tanya Arga dengan nada sarkastis.
Zia yang sadar bahwa Arga sedang menyindirnya hanya mencebikkan bibirnya.
Melihat Zia rasanya Arga ingin sekali membenamkan bibirnya, pada bibir Zia. "Sepertinya, dia memang mengujiku,'' gumam Arga.
"Kamu bilang apa?'' Zia yang merasa mendengar Arga bergumam pun bertanya.
"Tidak, cepat habiskan makanmu, dan aku kan mengantarmu. Karena suamimu ini akan mengantar istrinya ke butik.'' Arga memasang senyum terpaksa saat menahan gejolak di hatinya.
Kening Arga langsung berkerut dalam, saat mendengar ucapan Zia. "Untuk apa ke rumah sakit?''
"Hari ini jadwal terakhir ayah cek up,'' jelas Zia. "Lagi pula aku ingin tahu keadaan ayah, pasca kejadian beberapa hari lalu,'' ucap Zia dengan lirih.
Arga terkesiap mendengar ucapan Zia, memang benar ayah mertuanya ada penyakit jantung, dan pasca kejadian di rumah ayah mertuanya itu pasti saat berpengaruh. ''Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.'' Arga juga ingin tahu bagaimana keadaan ayah mertuanya.
"Kemarin ayah sudah mengatakan bahwa Adrian akan mengantarnya. Jadi kita bisa bertemu disana.''
''Adrian juga ada?" Arga menatap kaget saat mendengar nama Adrian di sebut.
"Iya.''
Arga hanya berdesis kesal mendengar ucapan Zia. Rasanya di tidak bisa membiarkan Zia bertemu dengan Zia.
**
Setelah Arga dan Zia bersiap. Arga melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, belum nampak ayah Adhi datang. Arga dan Zia pun menunggu di ruang tunggu.
Saat menunggu Arga dan Zia mendengar suara memanggil nama Zia. Dan saat menoleh mereka berdua mendapati seorang wanita berjas dokter menghamipir Zia.
__ADS_1
"Zia kan?" Tanyanya memastikan kembali.
"Dokter Elisa." Zia mengingat bahwa, wanita cantik di hadapannya adalah dokter kandungan yang bersama dengan David.
"Iya, aku pikir kamu lupa." Elisa tertawa kecil saat Zia mengenali dirinya.
"Bagaimana aku bisa lupa wanita cantik seperti dirimu."
Pipi Elisa seketika merona, mendengar ucapan Zia.
"Apa kamu ingin menemui dokter David?"
"Untuk apa dia menemui David," ucap Arga ketus saat mendengar nama David di sebut.
Zia yang ingin menjawab ucapan Elisa, terhenti saat Arga sudah menjawab pertanyaan Elisa. Tapi jawaban Arga yang ketus, membuat dirinya merasa tidak enak dengan Elisa. "Ar, " panggil Zia menatap tajam pada Arga. Dan seperti biasa Arga tidak perduli dengan teguran dari Zia.
"Maafkan suamiku dokter Elisa." Zia yang merasa tidak enak dengan sikap Arga meminta maaf pada Elisa.
"Suami?" Elis membulatkan matanya mendengar ucapan Zia. "Apa kamu sudah menikah?"
"Iya, aku sudah menikah." Zia tersenyum manis pada Elisa.
"Aku pikir kamu kekasih David." Elisa tanpa sadar melolosakan ucapan itu pada Zia.
Arga yang menahan kesalnya mengepalkan tanganya. Rasanya dia tidak terima saat ada yang bilang bahwa Zia adalah kekasih David.
Zia menyadari bahwa kata-kata yang di ucapkan Elisa akan membuat Arga marah. Zia pun menautkan jemaringa pada jemari Arga, mencob menenangkan dengan genggaman hangat tangannya. "Aku sudah menikah, dan ini adalah suamiku, pria yang paling aku sayang," ucap Zia seraya mentap penuh cinta pada Arga.
Emosi Arga seketika mereda saat Zia menautkan jemarinya. Di tambah ucapan Zia di sertai tatapan penuh cinta dari Zia, membuat Arga luluh seketika.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengatakan hal itu." Elisa menyadari ucapannya menyinggung suami Zia.
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu aku pergi dulu, karena aku ada jadwal pagi ini." Elisa pun pergi meninggalkan Zia dan Arga.
Saat Zia dan Arga melihat Elisa pergi. Dari arah pintu masuk, terlihat ayah Adhi masuk bersama dengan Adrian.
Ayah Adhi yang melihat Arga dan Zia saling bergandengan, merasa sangat senang. Dia merasa tenang melihat putri dan menantunya tidak bertengkar, karena peristiwa di rumah tempo hari.
"Zi," panggil Adhi.
"Ayah." Zia langsung melepas tautan jemarinya dan melangkah menghampiri ayahnya. Zia langsung menyalami ayahnya dan bergantian Arga mengikuti di belakanganya.
"Kalian sudah lama?"
__ADS_1
"Belum yah." Zia mengandeng lengan ayahnya, dan menuntun ayahnya menuju ruang David.
Sedangkan Arga berjalan bersama dengan Adrian. Tatapan tajam di berikan Arga pada Adrian.