Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Kecuali kamu menyakitiku


__ADS_3

Setelah menyelesaikan mengemasi barang-barangnya Arga mengantar Zia, ke rumah Ayah Adhi.


"Apa London sangat indah ar?"


Arga yang sedang fokus mengemudi pun menoleh pada Zia, yang bertanya. "Aku akan mengajakmu suatu saat nanti, dan akan ku tunjukkan indahnya London," ucap Arga tersenyum.


Kedua bola mata Zia berbinar. "Benarkah ar?" Tanyanya memastikan, dan Arga mengangguk.


Sepanjang jalan ke rumah Ayah Adhi, Zia bertanya seperti apa London. Arga melihat Zia begitu bersemangat mendengarkan ceritanya. Dalam hatinya, dia berjanji akan benar-benar mengajak Zia kesana.


Sesampainya di rumah Ayah Adhi, Arga melihat mobil terparkir di depan rumah Ayah Adhi. "Mobil siapa itu?" Tanya Arga pada Zia.


Zia yang mendengar pertanyaan Arga, langsung melihat ke depan, dimana mobil itu terparkir. Zia mengingat-ingat siapa pemilik mobil itu. "Sepertinya mobil Adrian. " Zia menjawab ragu-ragu. Zia tidak terlalu yakin, karena dia memang melihat mobil Adrian pada malam hari, waktu datang ke undangan makan malam Lidia.


Seketika Arga geram saat nama Adrian di sebut. Dia langsung menarik lembut lengan Zia, menatap dalam dua bola mata Zia. "Jangan pernah dekat-dekat dengan Ardrian. Jangan dekat-dekat dengan David. Dan jangan dekat-dekat dengan pria mana pun." Arga memberi peringatan keras pada Zia. Rasanya dia benar-benar takut meninggalkan Zia. Arga tahu betul begitu banyak laki-laki yang menyukai Zia.


Zia yang di tarik lengannya, sempat kaget. Tapi saat mendengar ucapan Arga, Zia tahu apa alasan Arga. "Apa kamu tidak percaya ar dengan ku." Wajah Zia nampak kecewa mendengar ucapan Arga.


Arga menghela nafasnya. Tanpa dia sadari, kata-katanya membuat dirinya terlihat tidak percaya pada Zia. "Bukan aku tidak percaya. Tapi aku hanya takut saja, kamu akan tergoda dengan pria lain."


Zia melihat ketakutan di wajah Arga. " Tidak ada alasan untuk aku tergoda dengan pria lain," ucap Zia tersenyum. "Kecuali.." Zia berhenti sejenak.


"Kecuali apa?" Tanya Arga yang penasaran, karena Zia berhenti saat mengatakan sesuatu.


"Kecuali kamu menyakitiku."


Jantung Arga rasanya seolah di tusuk begitu dalam, mendengar ucapan Zia. Rasanya dadanya sesak, menyadari kalau yang di katakannya Zia adalah kenyatan. Arga tidak bisa membayangkan, Zia akan berpaling darinya, karena dirinya yang menyakitinya.


"Kerena kamu tidak menyakiti aku, jadi aku tidak akan pernah berpaling," ucap Zia tersenyum. Zia langsung mengecup bibir Arga yang berada tepat di hadapanya. Wajah Zia langsung memerah malu, dan bersembunyi di dada Arga. "Aku mencintaimu Ar, " ucapnya seraya memeluk Arga.

__ADS_1


Arga yang mendapat kecupan dari Zia, sedikit kaget. Dia tahu wanita di hadapannya ini, selalu malu memulai lebih dulu. Arga pun membalas pelukan Zia. "Aku juga sangat mencintaimu zi," ucap Arga seraya membelai rambut Zia lembut. "Aku hanya bisa berharap, kamu tidak akan pergi, karena aku menyakitimu zi," batin Arga.


"Ayo, aku akan antar kamu ke dalam, dan menitipkan mu pada ayah." Arga melepas pelukan Zia dan mengajak Zia masuk.


Zia mencebikan bibirnya. "Kamu pikir aku Kaisar yang harus di titipkan. Apa kamu lupa aku tinggal di apartemen sudah 6 tahun, dan itu sendiri, " ucap Zia kesal.


Arga tersenyum, melihat Zia mencebikan bibirnya. "Jangan menjadi mengemaskan seperti itu," ucap Arga seraya membenamkan bibirnya pada bibir Zia. Arga pun mencium lembut bibir Arga, dan Zia membalasnya.


Tapi baru beberapa detik ciuman itu berlangsung, kaca pintu mobil sebelah Zia di ketuk. Zia dan Arga langsung melepas ciuman mereka. Mereka berdua langsung menoleh pada kaca mobil yang di ketuk, dan mendapati Adrian disana.


"Sial, menganggu saja," umpat Arga kesal.


"Ar..." Panggil Zia dan menatap tajam Arga, saat mendengar Arga mengumpat. Sebenarnya Zia sangat malu, saat ada orang melihatnya berciuman di dalam mobil. Tapi dirinya yang terbawa oleh aksi Arga, tak bisa menolak kenikmatan yang di berikan Arga.


Arga langsung menurunkan kaca mobil. Dia menatap tajam pada Ardrian. "Kenapa?" Tanyanya ketus.


"Kalian di tunggu Pak Adhi," jawab Adrian. Adrian benar-benar merutuki dirinya sendiri. Dirinya yang di minta atasannya untuk memanggil Zia dan Arga, mendapati mereka sedang berciuman di dalam mobil. Dan rasanya dia benar-benar kesal, melihat wanita yang di sukainya di cium oleh pria lain, walaupun dia adalah suaminya. Akhirnya dia memutuskan mengetuk kaca mobil, untuk menghentikan adegan itu.


"Ar, apa Adrian tadi melihat?" Tanya Zia yang merasa tidak enak.


"Biarkan saja dia melihat. Biar di tahu, milik siapa Zia Archana itu," ucap Arga acuh dah seraya membuka pintu mobil.


"Selalu saja seenakanya," batin Zia. Dalam hati Zia, hanya bisa memaklumi bagaimana suaminya, yang suka seenakanya itu saat berucap. Tapi itu lah yang di sukai Zia dari Arga.


Akhirnya mereka berdua keluar, dan masuk ke dalam rumah Ayah Adhi. Saat di dalam ruang keluarga, Arga dan Zia melihat Ayah Adhi dan Adrian duduk di sofa. Adrian yang selesai mengetuk dan memberitahu Zia dan Arga, memilih langsung pergi.


Zia dan Arga pun menyalami Ayah Adhi. Zia yang melihat Adrian tepat di samping ayahnya, masih malu menatap Adrian.


"Adrian akan mengantarmu ke Bandara," ucap Ayah Adhi.

__ADS_1


Arga mentap tajam pada Adrian. "Arga naik taxy saja yah," ucap Arga beralih pada Ayah Adhi.


"Ayah sedang tidak bertanya ar, tapi memerintah," ketus Adhi.


Arga yang mendapat ucapan ketus mertuanya, tidak dapat di mengelak lagi. Arga benar-benar tidak berkutik saat mertuanya sudah tahu seburuk apa dirinya. "Iya yah."


Akhirnya Arga berpamitan pada Ayah Adhi dan Zia. Tidak banyak yang di ucpakan Arga pada mertuanya, dia lebih memilih cepat beralih pada Zia.


"Jaga dirimu." Arga mengecup kening Zia.


"Iya," ucap Zia di ikuti dengan anggukkan.


Arga langsung melangkahkan kakinya ke mobil, setelah berpamitan. Dan di ikuti Adrian di belakannya. Adrian langsung melajukan mobilnya menuju Bandara.


"Aku tidak menyangka, kamu bisa mengencani adik tiri Zia," ucap Adrian saat perjalanan mengantar Arga.


Arga mendengar Adrian mengatakan hubungannya dengan Jesica, langsung menoleh dan mentap tajam.


"Jangan mentap tajam seperti itu. Aku sudah tahu semua. Pak Adhi sendiri yang memintaku menyelidiki semua." Adrian dengan tenangnya mengatakan itu pada Arga.


Arga mengerutkan dahinya, sedikit kaget mendengar ucapan Adrian. Tapi dia sadar, Adrian adalah asisten mertuanya, jadi wajar saja dia meminta untuk menyelidiki. Tapi yang mertuanya tidak tahu, Adrian menaruh hati pada Zia.


"Aku kasihan dengan Zia, menikah dengan pria seperti dirimu," cibir Adrian pada Arga.


"Kasihan?" tanya Arga menautkan kedua alisnya. "Lalu apa kamu akan jadi pahlawan yang akan menolongnya begitu? " Tanya Arga seraya mencibir balik pada Adrian.


"Mungkin bisa jadi begitu. Saat dia terluka oleh mu, aku akan datang sebagai pahlawan." Adrian dengan tegasnya mengatakan hal itu pada Arga.


Arga yang mendengar ucapan Adrian hanya tersenyum. "Cobalah jika kamu bisa. Tapi aku pastikan itu tidak akan terjadi. Aku tahu tadirku dan Zia tidak akan di pisahkan," ucap Arga seraya membuka pintu, karena mereka sudah sampai di bandara. "Terimakasih sudah mengantar," ucap Arga sebelum menutup pintu.

__ADS_1


Arga yang keluar dari mobil merasa geram pada Adrian. Rasanya dia benar-benar tidak tenang dengan meninggalkan Zia di rumah mertuanya. Apalagi Adrian akan sering kesana. Arga pun menghubungi seseorang.


Setelah selesai menghubungi seseorang, Arga pun langsung menarik kopernya, melangkahkan kakinya masuk ke Bandara.


__ADS_2