
Setelah Lidia pergi. Zia melanjutkan perkerjaannya. Sampai jam menunjukkan hampir pukul lima sore. Zia langsung bersiap merapikan meja kerjanya, bersiap untuk pulang setelah melihat jam. Tapi saat dia bersiap, Zia mendengar suara ponselnya berdering. Zia langsung mengambil ponselnya di dalam tas.
Senyum di ujung bibir Zia langsung tertarik. Saat melihat siapa yang menghubunginya. Dia pun langsung mengusap layar ponselnya, menerima panggilan vidio dari Arga.
"Ar, " panggil Zia saat melihat wajah Arga dari sambungan vidio.
Senyum langsung mengembang di wajah Arga saat melihat wanita yang begitu dia rindukan. "Kamu sedang apa?" Tanyanya pada Zia.
"Aku sedang berkerja," ucap Zia. " Apa kamu sudah selesai berkerja?"
"Disini sudah jam sebelas malam zi, jadi jelas aku sudah selesai berkerja," ucap Arga ketus.
"Lalu apa yang kamu lakukan malam disana?, Apa kamu tidak pergi jalan-jalan?"
"Aku malas pergi jalan-jalan sendiri. Nanti saja jika kamu disini, kita akan jalan-jalan malam di London." Arga yang tadinya duduk di atas tempat tidur, langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi miring, dan meletakkan ponselnya di samping tempat tidur.
"Apa kamu tahu zi, aku benci sekali harus tidur sendiri," ucapnya sedikit kesal mengingat tempat tidur yang di isi hanya dirinya saja.
"Cepatlah pulang, dan aku akan menemanimu," ucap Zia malu-malu.
"Apa kamu sedang mengodaku?" Tanya Arga.
"Apa menurutmu aku mengoda?" Zia bertanya seakan menantang Arga.
Arga hanya bisa mendesis dari balik ponselnya, karena kesal mendengar pertanyaan Zia. Arga hanya berpikir sejak kapan Zia berani bertanya seperti itu padanya. "Rasanya aku ingin sekali cepat pulang dan membawamu dalam pelukanku."
"Cepatlah pulang, dan aku akan merentangkan tangan ku juga, untuk memelukmu," goda Zia pada Arga.
"Baiklah, jika aku pulang, aku tidak akan melepaskanmu sedikit pun," ancam Arga pada Zia.
Zia langsung tertawa mendengar ancaman Arga.
"Bagaimana keadaan Ayah Adhi zi?" Arga yang teringat akan mertuanya bertanya pada Zia.
"Tadi pagi aku mengantarkan untuk ke rumah sakit untuk cek kesehatan ayah. Dan David bilang keadaan ayah jauh lebih baik."
Arga menautkan kedua alis tegasnya. "Apa kamu bertemu dengan David?"
Zia yang mendapat pertanyaan dari Arga hanya mengerutkan dahinya. "Bukannya aku sudah bilang aku bertemu dokter untuk mengecek kondisi ayah. Dan kamu tahu bukan, bahwa dari awal David yang merawat ayah."
"Iya aku tahu, tapi kamu tidak mengobrol berdua saja kan?" Tanya Arga yang begitu takut.
"Aku bertemu dokter sebagai keluarga pasien, bagaiamana aku bisa berdua saja. Ada ayah dan para perawat ar." Zia mencebikkan bibirnya kesal dengan ucapan Arga.
"Ya maaf, aku hanya takut para pria itu mendekatimu saat aku tidak ada."
"Aku tahu ar, tapi cobalah percaya padaku. Jangan terus mencurigaiku seperti itu."
"Baikah," ucap Arga pasrah.
Saat Zia sedang berbincang dengan Arga di sambungan telepon. Zia mendengar pintu ruangannya di ketuk.
"Zi, Dave sudah menunggu mu," ucap Nia di balik pintu. Zia hanya menjawab dengan anggukan.
"Apa Dave sudah datang?" Tanya Arga memastikan dengan apa yang di dengar.
"Iya."
__ADS_1
"Baiklah, berhati-hatilah saat pulang. Jaga dirimu baik-baik," ucap Arga pada Zia.
"Da.., ar," ucap Zia seraya mengecup telapak tangannya, dan meniupkannya pada Arga.
Arga hanya tersenyum melihat aksi Zia, dan akhirnya dia ikut membalas dengan hal yang sama dengan yang Zia lakukan.
Setelah mematikkan sambungan telepon. Zia langsung turun ke lantai bawah, dan menemui Dave. Zia langsung keluar dari butik menuju mobil Dave bersama dengan Dave. Dave langsung melajukan mobilnya menuju rumah ayah Zia, sesaat setelah mereka masuk ke dalam mobil
Sesampainya di rumah ayahnya, Zia langsung turun dari mobil. Dan tidak lupa berterimakasih pada Dave, yang sudah mengantarnya.
Zia melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah. Saat Zia masuk, dia melihat Adrian sudah berada di sana.
"Baru pulang zi?" Tanya Adrian pada Zia.
"Iya," ucapnya pada Adrian. Zia langsung menghampiri ayahnya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Zia sedikit membungkukkan tubuhnya, dan mencium pungung tangan ayahnya. "Ayah tadi siang sudah minum obat?" Tanya Zia sesaat setelah memcium tangan sang ayah.
"Sudah," jawab Adhi pada Zia. "Duduklah ada yang ingin ayah bicarakan." Adhi menepuk sofa di sebelahnya.
Zia yang di minta duduk oleh ayahnya, langsung duduk di samping ayahnya.
"Ayah sudah pertimbangkan permintaan kamu, yang meminta Lidia kembali ke rumah ini. Dan ayah memanggil Adrian kemari, untuk menjemput Lidia dan Jesica kembali." Adhi mulai menjelaskan semuanya pada Zia.
Zia yang mendengarkan cerita ayahnya merasa lega. Tenyata sebelum dirinya meminta kepada ayahnya, ayahnya sudah berencana terlebih dahulu.
"Tapi ada yang ayah minta dari mu." Adhi menatap lekat pada kedua bola mata Zia.
"Apa yah?"
"Tinggallah disini selama Arga tidak ada. Ayah ingin menjagamu selama Arga tidak ada."
Akhirnya setelah Zia menyetujuinya. Adhi menyuruh Adrian untuk menjemput Lidia.
Adrian yang mendapat perintah Adhi pun langsung pergi menjemput Lidia dan Jesica. Dia melajukan mobilnya menuju apartemen Lidia.
"Selamat malam Nyonya," sapa Adrian saat melihat Lidia membuka pintu apartemennya.
"Malam," ucap Lidia. "Untuk apa kamu kemari?" Tanya Lidia yang curiga, kenapa Adrian malam-malam ke apartemennya.
"Saya di minta untuk menjemput anda, untuk kembali ke rumah Pak Adhi." Adrian menjelaskan kedatangannya pada Lidia.
Kedua bola mata Lidia langsung berbinar. "Benarkah?" Tanyanya memastikan kembali.
"Iya, Nyonya."
"Baiklah tunggulah sebentar."
Lidia langsung mempersilahkan Adrian untuk menunggu di ruang tamu. Lidia pun langsung mengetuk pintu kamar Jesica, dan memberitahu bahwa mereka akan kembali ke rumah Adhi.
Jesica yang mendengar ucapan mamanya, merasa lega. Ternyata di luar dugaannya, kalau dia akan kembali ke rumah ayah Adhi secepat ini.
Mereka berdua akhirnya bersiap, merapikan baju-baju mereka. Untung saja tidak banyak baju yang mereka keluarkan dari koper. Jadi mereka tidak terlalu lama untuk bersiap.
Setelah Lidia dan Jesica selesai, mereka menarik koper keluar, dan menuju parkiran dimana mobil Adrian di parkirkan.
Adrian langsung melajukan mobil menuju rumah atasannya. Jalan yang mecet di malam hari, membuat mereka sedikit lama di jalan. "Pak Adhi ingin menemui kalian terlebih dahulu. Jadi sesampainya di rumah, saya minta Nyonya Lidia dan Nona Jesica menemui Pak Adhi," ucap Adrian saat dalam perjalanan menuju rumah.
Dalam hati Lidia hanya bisa bertanya-tanya, untuk apa Adhi memanggil dirinya dan Jesica terlebih dahulu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Adrian yang mengantar pun hanya menurunkan Lidia dan Jesica, sebelum dia melajukan mobilnya.
Lidia dan Jesica menarik koper mereka ke dalam rumah, dan sudah di sambut oleh asisten rumah tangga.
"Bawa koper kami ke kamar," ucap Lidia memerintah asisten rumah tangga.
"Baik Nyonya."
Lidia dan Jesica langsung melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang kerja Adhi. Sesuai apa yang di katakan oleh Adrian tadi pada mereka.
"Untuk apa Papa Adhi memanggil kita ma?" Tanya Jesica, saat mereka berdua sedang menuju ke ruang kerja Adhi.
"Mama juga tidak tahu," ucap Lidia. " Ingat, nanti kita harus menuruti semua apa yang di katakan oleh Adhi. Jangan membantah atau menjawab." Lidia memberi peringatan keras pada Jesica.
Jesica hanya melirik tajam pada mamanya. Pikirnya sejak kapan dirinya membantah, bukannya dirinya selau menurut. "Iya," jawab Jesica malas.
Lidia mengetuk pintu ruang kerja Adhi. Setelah mendengar Adhi mempersilahkan untuk masuk, mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja Adhi.
Saat masuk ke dalam ruang kerja Adhi rasanya Lidia dan Jesica begitu takut.
"Duduk." Adhi memerintahkan mereka berdua untuk duduk di sofa, dimana Adhi juga duduk.
Lidia dan Jesica pun langsung duduk bersebelahan, dan berhadapan dengan Adhi. "Papa apa kabar?" Tanya Jesica takut-takut pada Adhi.
" Papa baik," ucap Adhi pada Jesica. "Aku mau menjelaskan, bahwa kalian sudah boleh tinggal di rumah ini lagi."
"Terimakasih pa," ucap Lidia yang sangat senang.
"Tapi ada syarat yang kalian harus penuhi."
Lidia dan Jesica membulatkan matanya saat mendengar, bahwa ada syarat saat harus kembali ke rumah ini.
"Syarat apa pa?" Jesica yang penasaran pun bertanya.
"Sementara waktu Zia akan tinggal disini. Dan saya tidak mau kalian menganggunya." Adhi menatap tajam pada kedua wanita yang di hadapannya. "Dan untuk kamu Jesica. Sekarang kamu sudah tahu bukan, kalau Arga adalah suami Zia. Jadi papa tidak mau kamu berhubungan lagi dengan Arga."
"Tapi pa.." Jesica yang masih ingin menyanggah langsung mendapat cubitan kecil dari Lidia. Dan Jesica tahu maksud dari mamanya itu. "Baik, Jesica tidak akan berhubungan dengan Arga."
"Dan kamu Lidia, aku sudah tahu bahwa kamu dengan sengaja mendekatkan Jesica dengan Arga. Selama ini aku sudah cukup diam dengan apa yang kamu lakukan, terhadap Zia. Tapi kali ini aku tidak bisa membiarkan kamu menyakiti Zia. Dan jika itu sampai terjadi, aku tidak segan-segan untuk menceraikanmu." Adhi yang sudah cukup bersabar, sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya terlalu lama.
Kedua bola mata Lidia membulat sempurna, dia tidak menyangka suaminya akan mengatakan hal itu. "Kalau kamu memintaku untuk tidak menyakiti Zia, aku akan melakukannya. Tapi perlu kamu ingat, aku memang berusaha mendekatkan Jesica dengan Arga. Tapi untuh kelanjutan hubungan mereka. Mereka yang memutuskan sendiri, karena mereka saling mencintai." Jesica mencoba untuk membela diri dari tuduhan Adhi.
"Aku tidak perduli hubungan Arga dan Jesica dulu seperti apa. Tapi sekarang Arga adalah suami Zia. Jadi jangan harap kamu bisa memisahkan Arga dari Zia. Karena kalian akan berhadapan dengan aku terlebih dahulu."
Akhirnya Lidia memilih untuk tidak menjawab ucapan suaminya. Dia pikir urusannya akan panjang jika, dia melanjutkan dengan menjawab.
Setelah Adhi merasa sudah cukup mengatakan beberapa hal, akhirnya Adhi meminta mereka keluar dari ruang kerjanya.
Lidia dan Jesica pun keluar dari ruang kerja Adhi, setelah pembicaraan mereka selesai.
"Ma, apa mama akan berhenti menjauhkan Zia dan Arga?" Tanya Jesica yang merasa takut.
"Mama belum tahu, bagiamana cara agar bisa menjauhkan mereka berdua. Kita pikirkan nanti saja bagaimana caranya. Yang terpenting kita menuruti keinginan Adhi terlebih dahulu."
Jesica hanya bisa menuruti mamanya. Dan mengikuti semua rencana mamanya.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamar masing-masing menikmati kamar mereka yang begitu nyaman.
__ADS_1