
Zia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sampai siang ini, Arga belum mengabarinya sama sekali. Zia mulai merasa gelisah, saat orang yang di cintainya itu tidak menghubunginya. "Seharusnya dia sudah sampai. Kenapa dia belum menghubungi ku?" Pikir Zia yang menerka-nerka setelah menghitung waktu penerbangan Arga dari Jakarta ke London.
Akhirnya Zia memutuskan untuk makan siang, untuk mengalihkan kegelisahannya karena Arga belum menghubungi.
Setelah memesan makanan lewat kurir makanan. Akhirnya Zia makanan di ruangannya di temani oleh Nia.
"Jadi kamu tinggal di rumah ayah kamu?" Tanya Nia memastikan cerita Zia.
"Iya, ayah yang meminta, karena istrinya sedang mengurus orang tuanya," ucap Zia pada Nia. Saat menceritakan orang tua Lidia, Zia teringat cerita Kaisar yang mengatakan kalau dia sudah tidak memiliki kakek nenek. "Aku akan tanyakan nanti, saat sampai di rumah." Zia hanya bisa mengatakan dalam hati niatnya itu.
"Sykur kalau ibu tiri kamu itu tidak ada. Paling tidak, kamu aman disana," ucap Nia. Nia yang selau menjadi tempat curhat Zia, tahu betul bagaimana ibu tiri Zia itu pada Zia. " Lalu kapan Arga kembali?"
"Aku belum tahu, kapan Arga pulang. Mungkin setelah perkerjaanya selesai." Zia sendiri tidak tahu sebanyak apa perkerjaan Arga. Dan Arha hanya mengatakan, akan segera kembali saat perkerjaan selesai.
Setelah makan siang selesai. Nia dan Zia kembali berkerja.
***
Seorang pria masuk ke dalam boutique Zia. Karyawan yang sedang bersiap-siap untuk menutup boutique langsung menyapa.
Nia yang baru saja melayani pelangan, melihat pria tampan masuk ke dalam boutique. Nia tahu betul siapa pria itu. "Dave," panggil Nia.
"Hai Nia," sapa Dave pada Nia. Mata Dave memperhatikan Nia yang cantik dengan dress selututnya. Warna kulitnya yang putih dan wajahnya yang cantik tidak jauh beda dengan Zia, batin Dave.
"Hai juga Dave, apa kamu mencari Zia?" Tanyanya memastikan. Zia yang tadi siang sudah menceritakan kalau Dave akan mengantar jemput selama Arga pergi ke London pun bisa menebak ke datangan Dave.
"Iya, aku ingin menjemputnya," jelas Dave pada Nia.
"Baiklah aku akan panggilkan." Nia pun pergi meninggalkan Dave di ruang tunggu, dan menemui Zia di ruangannya. Setelah memberitahu Zia. Nia kembali ke ruang tunggu.
__ADS_1
Zia yang di beritahu Nia, kalau Dave sudah datang pun, langsung merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang. Saat di lihatnya mejanya sudah rapi, Zia keluar dari ruangannya dan menuruni tangga menuju ruang tunggu. Saat sampai di ruang tunggu, dia sudah melihat Nia dan Dave sedang berbincang. "Maaf membuatmu menunggu Dave," ucap Zia seraya melangkahkan kakinya menghampiri Dave.
"Tidak apa-apa zi, ada Nia yang menemaniku menunggu mu," ucap Dave pada Zia, dan sedikit melirik Nia. Nia yang di lirik oleh Dave hanya tersenyum dan sedikit gugup.
Zia memicingkan matanya, sedikit curiga melihat sahabatnya itu berbincang dengan sahabat suaminya. Tapi seketika Zia menarik garis senyumnya. Dalam hatinya dia berpikir untuk menjodohkan Nia dengan Dave.
"Ayo aku akan mengantarmu," ucap Dave pada Zia. Dave pun beralih pada Nia. " Terimakasih sudah menemaniku menunggu." Dave berucap seraya memberikan sedikit senyumnya.
"Sama-sama Dave." Nia pun juga tersenyum menjawab ucapan terimakasih Dave.
Akhirnya Zia dan Dave pun melangkahkan kakinya meninggalkan boutique. Mereka berdua menuju mobil Dave. Dan Dave melajukannya sesaat setelah mereka berdua masuk.
"Apa Nia sudah punya kekasih zi?" Dave yang dari tadi berbincang dengan Nia, mulai tertarik dengan Nia.
Zia yang mendengar ucapan Dave, langsung menoleh pada Dave. Dia tersenyum, ternyata sebelum dirinya berusaha mendekatkan Nia dan Dave. Dave sendiri yang memanyakan tentang Nia pada dirinya. "Belum, dia belum memiliki kekasih."
Dave menarik garis senyumnya, saat mendengar kalau Nia tidak memiliki kekasih.
"Sepertinya." Dave berucap dengan masih fokus pada kemudinya.
"Aku akan merelakan sahabatku, jika kamu tidak main-main," ancam Zia pada Dave.
Dave langsung tergelak mendengar ancaman dari Zia. "Apa aku terlihat main-main?" Tanya Dave. " Aku juga ingin menjalin hubungan serius dan menikah seperti Arga zi, jadi aku rasa aku tidak akan main-main," lanjut Dave menjelaskan.
"Baguslah kalau bagitu." Senyum mengembang di wajah Zia. "Kamu bisa mengambil kesempatan mendekatinya, selama menjemputku bukan?"
"Apa kamu sedang memberiku ide?" Tanya Dave di sertai godaan pada Zia.
Zia langsung tertawa. "Mungkin."
__ADS_1
Dave yang melirik Zia sedikit, saat Zia tertawa baru menyadari kenapa Arga bisa sampai tergila-gila pada Zia. Zia memang terlihat sangat cantik. Tapi seketika dia membuang jauh pikirannya yang memuji Zia. Dalam hatinya berkata, kalau sampai Arga tahu dirinya memuji istrinya, akan celaka dirinya nanti.
"Baiklah, aku akan gunakan idemu."
Zia pun tersenyum, saat Dave menerima idenya.
"Dave, apa Arga menghubungimu?" Tanya Zia pada Dave, saat dia mengingat Arga. Seketika tawa dan senyum di wajah Zia sirna, dan berganti raut sedih. Zia yang dari tadi menunggu Arga menghubunginya, harus kecewa karena sampai sore ini Arga tidak menghubunginya.
"Tidak." Dave yang fokus pada Kemudinya, tidak melihat perubahan wajah Zia.
"Apa perkerjaan disana sangat banyak Dave?"
Dave yang mendapat pertanyaan tentang perkerjaan Arga disana sedikit tersentak. Dave tahu betul Arga kesana bukan untuk perkerjaan. Tapi dia harus berusaha tenang agar Zia tidak curiga. "Mungkin dia lelah zi, karena jet leg selama perjalanan." Dave memberikan alasan masuk akal pada Zia.
Zia mengangguk mengerti penjelasan Dave. Zia membenarkan apa yang di katakan Dave, kalau mungkin bisa saja Arga lelah.
"Tenanglah, dia akan menghubungi mu nanti. Dia tidak akan betah, tidak mendengar suara istrinya." Dave yang mengerti kegelisahan Zia mencoba menenangkan.
Pipi Zia sedikit merona, mendengar ucapan Dave. Jangankan Arga, dirinya juga tidak akan betah, tidak mendengar suara Arga.
Sampai di depan rumah Ayah Adhi, Dave langsung memarkirkan mobilnya. Tapi saat memarkirkan mobil, Zia dan Dave melihat mobil yang tidak asing bagi mereka.
"Kalau aku turun, bunda dan ayah akan bertanya kemana Arga. Dan aku pasti tidak bisa menjawabnya nanti. Lebih baik aku cepat pulang saja." Batin Dave yang melihat mobil orang tua Arga.
Dave langsung beralih ke Zia. "Zi, aku ada janji. Jadi aku harus segera kembali." Dave memberi alasan pada Zia, untuk menghindar bertemu dengan orang tua Arga.
"Sedang ada ayah dan bunda Dave, apa benar kamu tidak mau turun dan menyapa mereka?" Zia memastikan pada Dave, saat melihat mobil mertuanya.
"Aku bisa menemui mereka kapan saja zi."
__ADS_1
Zia pun mengerti, dan turun dari mobil Dave. Zia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.