
Setelah dari restoran David mengantar Zia menuju butiknya.
"Apa dokter Elisa tadi kekasihmu?" Tanya Zia sesaat setelah masuk ke dalam mobil David.
"Bukan, kami hanya berteman."
"Tapi dia terlihat cantik," ucap Zia. "Aku rasa cocok dengan dirimu yang tampan."
David yang mendengar ucapan Zia, merasa senang, saat Zia memuji dirinya. "Apa aku tampan?" Tanya David memastikan.
"Semua pria tampan, termasuk dirimu." Zia yang menyadari bahwa kata-katanya, mengandung pujian mencoba mengelak.
Ekor mata David melirik sedikit pada Zia, saat dia fokus mengemudi. Senyum di ujung bibirnya pun tertarik. Walaupun Zia mengelak, tapi baginya pujian itu sudah cukup memberinya kebahagiaan.
"Aku tidak melihat Arga waktu kamu ke rumah sakit?" Tanya David saat dia teringat dengan Arga.
"Arga sedang ke luar negeri."
"Ke London?"Tanya David menoleh sebentar sebelum kembali pada kemudinya.
"Iya."
"Untuk apa dia ke London?"
"Ada perkerjaan," jawab Zia. Dan David mengangguk mengerti.
"Zi, boleh aku bertanya?" David yang masih fokus pada kemudinya, bertanya pada Zia.
"Apa?" Zia menoleh pada David. Zia begitu penasaran pada pertanyaan David.
"Andai Arga menyakitimu, apa kamu akan tetap bertahan dengannya?" Dengan ragu-ragu David menanyakan hal itu pada Zia.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu, karena aku tidak bisa membayangkan itu semua terjadi."
David yang memahami situasi yang terjadi selama ini, paham bahwa Zia belum merasakan terluka karena Arga. "Zi, andai Arga melukaimu, ingatlah bahwa aku selalu ada untuk mu."
Zia yang mendengar ucapan David merasa aneh. Dia juga tidak bisa membaca raut wajah David saat berucap, karena David yang fokus mengemudi membuat wajahnya menatap ke arah jalanan. "Dan aku pastikan dia tidak akan menyakiti diriku."
"Aku harap begitu zi," batin David.
Sesampainya di butik. Zia turun dan berterimakasih pada David. Zia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik, untuk melanjutkan perkerjaanya.
**
Lidia yang baru saja pulang menjemput Kaisar, tidak menemukan Jesica di lantai bawah. Akhirnya dia mencari Jesica ke kamarnya.
Saat sampai di depan pintu kamar. Lidia memegang handle pintu, dan mendorong pintu kamar Jesica. Lidia mengedarkan pandangan di dalam kamar, mencari Jesica. Tapi sayangnya, dia tidak menemukan putrinya.
Sampai saat dia mendengar suara dari kamar mandi. Lidia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia menempelkan telinganya, mendengarkan apa yang terjadi di dalam.
Matanya membulat sempurna saat dia mendengar suara Jesica yang sedang muntah. Rasanya tadi pagi Lidia masih melihat Jesica baik-baik saja. Akhirnya Lidia mencoba mengetuk pintu kamar mandi. "Jes," panggilnya seraya mengetuk pintu.
Jesica membuka pintunya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. "Mama," ucap Jesica kaget saat mamanya lah yang mengetuk pintu.
__ADS_1
Lidia melihat mulut Jesica yang basah, seperti dia telah mengusap mulutnya untuk menghilangkan sesuatu. "Kamu kenapa?" Tanya Lidia.
"Emm...Aku..aku.." Jesica yang gugup bingung menjawab pertanyaan mamanya. "Aku sakit ma." Akhirnya Jesica memberikan alasan pada mamanya.
"Jangan kamu pikir mama bodoh jes. Mama dengar kamu muntah-muntah."
"Iya ma. aku muntah, karena asam lambung ku naik." Jesica mencoba memberikan alasan lagi pada mamanya.
"Baiklah kalau begitu kita ke dokter." Lidia menarik lembut tangan Jesica, membawa anaknya melangkah keluar dari kamar.
"Nggak perlu ma."Jesica yang panik pun mencoba mengelak ajakkan mamanya.
Melihat Jesica yang berhenti, Lidia memutar tubuhnya menatap Jesica. "Kenapa kamu tidak mau periksa ke dokter?" Tanyanya dengan tajam pada Jesica.
"Nanti aku bisa minum obat ma." Jantung Jesica semakin berdegup, dengan kencang saat harus memilih berbohong pada mamanya.
Lidia tahu betul anaknya sedang berbohong padanya. Insting seorang ibu tidak pernah salah batinnya. Lidia melangkahkan kakinya membuka tas Jesica.
"Mama cari apa?" Tanya Jesica yang melihat mamanya membuka tasnya.
Lidia yang mendapat pertanyaan dari Jesica, tidak menjawab sama sekali pertanyaan itu. Lidia melangkah beralih pada meja rias, dia membuka setiap laci yang berada di meja rias.
"Ma, mama cari apa sih?" Jesica yang tidak tahu maksud mamanya pun, tidak henti-hentinya bertanya.
Saat sedang fokus pada meja rias. Lidia melihat nakas yang terletak di samping tempat tidur. Lidia melangkah menuju nakas, untuk mencari sesuatu yang ada di pikirannya.
Jesica yang melihat mamanya melangkah menuju nakas, langsung berusaha mengejar mamanya. Dalam hatinya, dia benar-benar takut mamanya menemukan hasil pemerikasaan kehamilan miliknya. " Mama cari apa sih, dari tadi muter-muter terus?" Tanya Jesica memotong langkah mamanya.
"Minggir kamu," ucap Lidia pada Jesica.
Lidia yang melihat Jesica menghalanginya, yakin bahwa ada sesuatu yang di rahasiakan Jesica. "Mama bisa cari sendiri." Lidia mengeser lembut tubuh Jesica, dan melanjutkan langkahnya menuju nakas.
Jesica yang melihat mamanya sampai di nakas, dimana dia menyimpan hasil tes kehamilannya, hanya bisa pasrah. Rasanya dia tidak bisa menghalangi lagi.
Saat sampai di depan nakas. Lidia menarik laci paling atas. Dahinya berkerut saat melihat kertas terlipat di dalam nakas. Rasa penasarannya yang begitu melingkupi hatinya, membuat tanganya tergerak mengambilnya.
Lidia langsung membuka lipatan kertas tersebut. Dia membaca seksama tulisan yang tertera di kertas itu. Kedua bola matanya pun membulat sempurna saat melihat tulisan di dalam kertas adalah hasil tes kehamilan dari rumah sakit.
Di dalam kertas itu, Lidia membaca tertera nama Jesica. Dan hasil tes menyatakan bahwa Jesica hamil. Lidia langsung membalikkan tubuhnya menatap Jesica. "Apa ini?" Tanyanya dengan suara sudah meninggi.
Jesica hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dia mengingat bagaimana awal dia memutuskan untuk ke dokter.
Jesica mengerjap saat merasakan gejolak di perutnya. Rasa tidak nyamannya, membuatnya membuka matanya. Dia memejamkan matanya merasakan, apa yang terjadi padanya. Sampai saat dia merasakan perutnya begitu mual, dan rasa muntahnya sudah naik ke tenggorokan
Jesica langsung menyibak selimutnya, dan menuju kamar mandi. Dia langsung menuju wastafel yang berada di kamar mandi, membungkukan tubuhnya dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.
Setelah di rasanya, semua isi perutnya sudah keluar, Jesica pun keluar dari kamar mandi. Dengan lemas dia melangkah menuju tempat tidur. Sesampainya di tempat tidur, Jesica mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur. Tangannya pun langsung meraih kalender meja, yang terdapat di atas nakas.
Dia menghitung tanggal yang tertera dalam kalender. "Dua minggu," gumamnya saat dia menyadari bahwa dia terlambat datang bulan dua minggu. Air matanya seketika menetes. "Bagiamana ini." Jesica yang panik pun bingung harus bagaimana menghadapi kehamilannya ini. Dirinya yang berstatus belum menikah, pasti akan menjadi masalah saat dia hamil. Jesica juga tidak bisa membayangkan, jika mamanya tahu bahwa dirinya hamil.
Jesica langsung meletakkan kalender meja di atas nakas kembali. Dia berlalu ke kamar mandi kembali, dan bersiap untuk pergi ke dokter.
Setelah bersiap, Jesica langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit. Sebenarnya bisa saja dia memakai alat test kehamilan. Tapi dirinya, tidak mau terlalu lama memastikan kehamilan yang di duganya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Jesica langsung mendaftarkan diri. Setelah mendapatkan antrian Jesica menunggu di depan ruangan dokter kandungan. Hatinya benar-benar berdebar-debar saat menunggu antrian. Dia melihat ke sisi kanan dan kiri tempat duduknya. Sepanjang yang dia lihat, hanyalah ibu-ibu dengan perut membuncit, yang bersama-sama dengan dirinya menunggu antrian.
Saat namanya di sebut. Jesica mengikuti suster untuk masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan dokter dirinya melihat wanita cantik yang memakai jas putih khas dokter.
"Selamat pagi Nyonya?"
Jesica tersentak saat dokter memanggilnya dengan Nyonya. Rasanya tidak salah mungkin panggilan itu saat yang memeriksakan kandungan adalah seorang istri. Tapi dirinya belum menikah, dan itu membuatnya sedikit sesak di dadanya. "Selamat pagi juga dok." Jesica pun langsung duduk di depan meja dokter.
"Tanggal berapa anda terakhir datang bulan?" Pertanyaan pertama yang di berikan dokter pada Jesica, setelah melihat Jesica sudah duudk.
"Tanggal 2 dok."
Dokter yang mendengar ucapan Jesica langsung menghitung di kalender khusus miliknya. "Sepertinya anda sedang hamil 6 minggu," ucapnya. "Tapi untuk lebih jelasnya kita bisa memastikan lewat tes darah."
Akhirnya perawat mengambil sampel darah milik Jesica, dan membawa ke laboratorium di rumah sakit. Dokter pun meminta Jesica menunggu.
Saat menunggu rasanya hati Jesica begitu berdegup kencang. Keringat dingin membasahi telapak tangannya, menandakan kegugupannya. Saat Jesica dengan pikirannya, perawat memanggil namanya kembali.
Jesica pun melangkah masuk ke dalam ruangan dokter, dan langsung duduk di depan dokter. Jesica melihat dokter membaca hasil tes darah milik dirinya.
"Selamat Nyonya Jesica, anda hamil," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
Jesica benar- benar tidak bisa berkata apa-apa. Dia mengangguk menerima uluran tangan dokter.
Setelah dokter meresepkan obat, Jesica langsung pulang. Tapi saat dia baru saja keluar dari ruang dokter, perawat mengejarnya dan memberikan dia resep obat mual yang tertinggal.
"Apa benar kamu hamil?" Tanya Lidia membuyarkan ingatan Jesica.
"Ma, Jesica bisa jelaskan." Jesica yang takut pun mencoba memohon.
"Menjelaskan apa, jelas-jelas disini tertera jika kamu hamil." Lidia berkata seraya menunjuk kertas yang ada di tangannya
Jesica benar-benar tidak bisa mengelak lagi saat mamanya bertanya. Hasil tes kehamilan yang di bawa mamanya, sudah menjelaskan semuanya
"Apa ini anak Arga?" Tanya Lidia pada Jesica.
Jesica langsung membulatkan matanya. Dirinya terkesiap saat mendapat pertanyaan itu dari mamanya.
"Kalau ini anak Arga, berarti kita akan lebih mudah membuat dia kembali padamu." Lidia berbinar saat mendapati anaknya hamil.
"Ma.."
Belum selesai Jesica melanjutkan ucapnya Lidia langsung memotong ucapan Jesica. " Kamu tenang saja, mama akan buat Arga kembali pada mu," ucapnya pada Jesica.
Jesica yang melihat mamanya, tidak bisa berkata-kata apa. Di hanya bisa berkata hatinya.
"Tapi mama perlu bukti lain, untuk menguatkan semua." Lidia yang berpikir kehamilan Jesica belum kuat pun berpikir mencari bukti kuat
Sejenak Jesica mengingat foto dirinya dan Arga. "Jesica ada ma," ucapnya pada mamanya. Jesica melangkah menuju nakas, dan membuka laci paling bawa. Tangannya langsung meraih foto-foto yang dia simpan disana.
Setelah dia mengambil foto-foto itu. Dia berdiri dan menghampiri mamanya lagi. " Ini." Jesica menyerahkan foto dirinya dan Arga di kamar hotel.
Mata Lidia langsung berbinar, saat melihat foto Jesica dan Arga. Senyum mengembang sempurna di wajahnya. "Ternyata kamu pintar juga. Mama tidak menyesal mengirim mu jauh-jauh ke London," ucapnya memuji Jesica.
__ADS_1
Jesica hanya tersenyum mendapati pujian mamanya.
"Kita tinggal menyusun rencana untuk membuat Arga kembali padamu," ucap Lidia menatap Jesica.