Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Suami Zia


__ADS_3

"Nyonya Lidia sudah pulang zi, karena kaisar sendiri" ucap Adrian menjawab pertanyaan yang di tujukan oleh Zia untuk Adhi.


Zia hanya mengangguk mengerti penjelasan dari Adrian.


**


"Sekarang kita harus bagaimana ma?" tanya Jesica yang panik mendengar ucapan Adhi tadi.


"Mama belum bisa memikirkan harus apa" Lidia merasa takut kemarahan Adhi akan berakibat buruk padany.


Flasback.


Setelah Jesica dan Zia pergi ke luar untuk ke cafe. Lidia menunggu Adhi di ruang rawat sendiri.


Selang beberapa saat terdengar suara pintu di ketuk. Saat Lidia menoleh, ternyata Adrian lah yang baru saja datang. Adrian langsung menyapa Lidia, dan ikut menunggu Adhi.


"Apa pak Adhi belum sadar?" tanya Adrian pada Lidia.


"Belum"


"Apa perusahaan aman saat Adhi tidak ada?" Lidia tahu semua urusan perusahaan di tangani oleh Adrian, selama suaminya sakit.


"Semua aman nyonya"


Sesaat kemudian Jesica pun masuk ke dalam ruangan Adhi. Lidia melihat Jesica hanya sendiri, padahal tadi dia keluar bersama Zia.


"Mana Zia?" bisik Lidia.


"Dia, sedang bersama temannya" jelas Jesica, dan Lidia mengangguk mengerti penjelasan Jesica.


Saat mereka bertiga sedang menunggu Adhi, Adhi mengerjap membuka matanya. Adrian yang melihat Adhi tersadar, langsung memanggil dokter.


Dokter yang datang langsung memeriksa keadaan Adhi.


"Keadaan pak Adhi sudah lebih baik, tinggal pemulihan saja, jangan memikirkan sesuatu yang berat, dan berakibat pada jantung pak Adhi," jelas dokter.


Adhi yang mendengar penjelas dokter mengerti. Dokter pun meninggalkan ruang rawat, dan meminta Adhi beristirahat.

__ADS_1


Adhi menatap tajam pada Lidia dan Jesica. Rasanya dia benar-benar kesal pada dua wanita yang ada di depannya itu. Tapi dia mengingat pesan dokter untuk menjaga dirinya.


"Adrian siapakan apartemen untuk mereka, aku mau mereka tinggal disana selama pemulihan ku" Adhi memilih untuk tidak bertemu dengan dua wanita yang ada di hadapannya itu.


Adrian yang di minta menyiapkan pun, langsung menghubungi sesorang.


Lidia yang mendengar penuturan Adhi membulatkan mata, dia tidak menyangka Adhi akan menyuruhnya tinggal di apartemen. Lidia tahu, Adhi berusaha menghindarinya terlebih dahulu, agar dia cepat pulih.


Lidia memilih untuk diam, dan menerima. Dia akan menunggu Adhi sembuh, dan menuruti semua terlebih dahulu.


Jesica dan Lidia pun pergi meninggalkan Adhi di ruang rawat.


Flasback off.


"Kita turuti dulu untuk meninggalkan rumah itu, sekaligus menyusun rencana" ucap Lidia pada Jesica.


***


Zia masih terus berada di samping ayahnya, hingga Adhi tertidur. Saat ayahnya tertidur Zia berdiri menghampiri Adrian yang duduk di sofa, Zia pun ikut duduk di sofa bersama Adrian.


"Terimakasih sudah menunggu ayahku," ucap Zia menatap sejenak pada Adrian, dan beralih kembali pada sang ayah, yang tertidur di tempat tidur rumah sakit.


Saat mereka berdua sedang mengobrol terdengar ketukan pintu. Zia dan Adrian pun menoleh, dan mendapati Arga lah yang mengetuk pintu.


Sepulangnya dari kantor, Arga menuju rumah sakit untuk menjemput Zia. Saat dia sampai, dan mengetuk pintu seraya masuk ke dalam ruang rawat mertuanya. Saat dia masuk pemandangan pertama yang di lihatnya adalaah, Zia yang sedang mengobrol dengan seorang pria. Mata Arga langsung menajam, saat melihat istrinya sedang berbincang dengan seorang pria. Dia hanya berfikir, siapa pria yang sedang asik mengobrol dengan istrinya.


"Ar, kamu sudah pulang," panggil Zia yang membuyarkan pikirannya yang menerka-nerka siapa pria di samping Zia.


"Iya," jawab Arga seraya berjalan menghampiri Zia. Arga langsung mencium kepala Zia, seolah menunjukan pada pria di depannya kalau Zia adalah miliknya.


Zia yang sudah terbiasa dengan Arga, hanya menerima kecupan di kepalanya yang di berikan oleh Arga.


Keromantisan itu tergambar jelas di hadapan Adrian. Adrian hanya tersenyum kecut mendapati pemandangan itu.


"Ar, kenalkan ini Adrian asisten ayah" Zia menatap Arga, dan beralih pada Adrian, seraya mengenalkan mereka.


"Jadi ini asisten yang ikut makan malam waktu itu"

__ADS_1


"Adrian" Adrian mengulurkan tanganya, dan menyebut namanya.


Arga yang mendapat uluran tangan pun menerimanya, "Arga, suami Zia," Arga yang mengenalkan dirinya menekankan kata suami, agar Adrian tahu statusnya.


Adrian yang mendengar Arga menekankan kata suami, hanya tersenyum. Dia bisa menyimpulkan bahwa Arga merasa terganggu saat Zia dekat dengannya.


Zia yang mendengarkan Arga menekankan bahwa dia suami Zia, hanya bisa membulatkan matanya. Zia sudah hafal betul, sikap Arga yang tak mau Zia dekat dengan pria mana pun.


"Zi" panggil Adhi membuyarkan mereka bertiga yang sedang berkenalan.


Zia langsung menghampiri sang ayah, "Ayah mau sesuatu?" tanyanya lembut pada ayahnya.


"Ayah haus."


Zia yang mendengar ayahnya haus, langsung membantu ayahnya untuk minum.


"Ayah, sudah sadar," Arga yang melihat Adhi sadar langsung menghampiri Adhi.


Adhi menatap tajam pada Arga, dia menggingat betul apa yang terjadi sebelum dia di rumah sakit. Dia benar-benar tidak menyangka, Arga akan menyakiti anaknya seperti ini.


Sebenarnya Adhi merasa kecewa, tapi untuk saat ini dia memilih diam. Dia tidak mau melukai Zia.


Arga yang melihat Adhi menatapnya dengan tajam, tahu apa yang membuat Adhi menatap dengan kebencian padanya. Adhi yang sudah mengetahui hubungannya dengan Jesica pasti sangatlah kecewa padanya.


Adhi beralih menatap Zia.


"Bisakah kamu tinggal bersama ayah untuk sementara waktu zi?" Adhi membelai putrinya, meminta pada Zia.


Zia memikirkan bagaimana nanti saat di rumah ayahnya, ada Lidia dan Jesica disana. Zia benar-benar tidak bisa membayangkan tinggal bersama mereka. Tapi saat ayahnya memohon, Zia merasa tidak tega.


"Kebetulan orang tua Lidia sedang sakit, jadi bisakah kamu menjaga ayah. Ayah merasa kasihan dengan mertua ayah, jadi biarkan ayah yang mengalah" Adhi menjelaskan alasannya meminta Zia. Adhi tahu putrinya pasti memikirkan, bagaimana dia akan tinggal dengan Lidia untuk merawatnya.


Zia mendengar kalau Lidia dan Jesica tidak ada di rumah ayahnya merasa lega, dia akan lebih leluasa merawat sang ayah di rumah ayahnya nanti. Tapi dia juga harus bertanya terlebih dahulu pada Arga, karena Zia tidak bisa memutuskan sendiri semuanya.


"Apa kamu tidak keberatan kita tinggal di tempat ayah ar," Zia menatap Arga, meminta persetujuan atas permintaan ayahnya.


"Iya, aku tidak keberatan"

__ADS_1


Zia yang mendengar jawaban Arga sangat senang. Zia berfikir, dia bisa menjaga ayahnya, tanpa melupakan kewajibannya sebagai istri Arga.


Adhi pun yang mendengar Arga setuju, merasa sangat lega. Adhi berencana mengawasi Arga dan mencari tahu, sebelum memutuskan semua.


__ADS_2