
Sepanjang perjalanan ke apartemen Arga hanya diam tidak mengatakan sepatah kata pun pada Zia.
Zia yang mendapati Arga mendiaminya, merasa bingung. Zia benar-benar tidak tahu alasan Arga mendiaminya.
Zia keluar dari kamar mandi melihat Arga sedang memainkan ponselnya.
"Kenapa dari tadi dia diam saja"
Zia merangkak naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya tepat di samping Arga.
Zia memiringkan tubuhnya menghadap Arga, dan melihat Arga yang tak beralih sama sekali dari ponselnya.
"Ar" panggil Zia, tapi tak ada jawaban dari Arga.
Arga masih sibuk dengan ponselnya. Ingin rasanya Zia mengambil ponsel Arga, tapi Zia tahu Arga akan marah dengannya kalau dengan cara begitu.
"Ar, apa kamu marah denganku?" tanya Zia tapi tetap tak ada jawaban dari Arga.
Zia mengela nafasnya, sudah merasa emosi melingkupi dadanya.
"Ar, jangan diamkan aku seperti itu, aku tidak akan tahu salahku apa, jika kamu diam saja" Zia mulai kesal karena dari tadi Arga tak membuka mulutnya sama sekali.
Arga menoleh ke arah Zia, menatap Zia sejenak, dan beralih meletakan ponselnya di atas nakas
"Siapa pria itu?" ucap Arga setelah sedari tadi memilih diam.
"Ini alasannya mendiami aku"
"Dia asisten ayah ar, namanya Adrian" Zia menjelaskan seraya bangun dari tidurnya dan duduk berhadapan dengan Arga.
"Aku tidak butuh namanya" Arga berucap dengan nada ketus.
__ADS_1
"Bukannya dia tadi bertanya dia siapa?, dasar aneh!"
"Lalu kenapa dia juga makan malam disana?"
"Tante Lidia yang mengundangnya"
Arga menatap tajam pada Zia, "Untuk apa tante Lidia mengundangnya?" tanyanya sedikit curiga.
"Aku mana tahu, mungkin karena dia asisten ayah" jawab Zia, sebenarnya Zia benar-benar tidak tahu kenapa Lidia mengundang Adrian.
"Apa Lidia berniat menjodohkanmu dengan pria itu"
Zia langsung membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Arga.
"Kenapa kamu mengatakan begitu?"
"Kamu sendiri yang bilang tante Lidia tidak tahu kamu sudah menikah, bisa saja dia berniat menjodohkanmu kan?" Kesal Arga menebak kenapa ada pria asing yang ikut makan malam keluarga Zia.
Arga menyungingkan senyumnya saat mendapat jawaban kalau dia sudah punya dirinya.
"Aku hanya tidak suka kamu dekat-dekat dengan pria lain" ucapnya dengan membuang muka kearah lain, dia tidak mau Zia melihat wajah cemberutnya.
Zia tersenyum mendengar Arga cemburu, memang sudah biasa, Zia mendengar Arga mengatakan dia tidak suka, jika Zia dekat dengan pria lain juga sudah biasa, tapi kalimat itu selalu saja membuatnya melayang tinggi karena begitu di cintai Arga.
Zia memiringkan kepalanya melihat wajah Arga yang sedang marah.
"Kalau aku mengambar wajahmu itu, pasti akan terlihat bagus" goda Zia saat melihat wajah cemberut Arga.
Arga langsung menatap tajam pada Zia, "Jangan pernah mengambar dengan wajah yang seperti ini" ancamnya penuh penekanan.
"Kalau begitu tersenyumlah, jadi aku akan mengambarmu dengan wajah tersenyum"
__ADS_1
Arga langsung tersenyum saat mendengar ucapan Zia, "Kamu" panggil Arga seraya mendekat.
Arga langsung membenamkan bibirnya di bibir Zia.Tadinya dia hanya gemas karena Zia mengodanya, tapi lambat laun ciumannya berubah menuntun kepada yang lain. Arga mulai meraba tubuh Zia, dan Zia tahu kemana akhirnya.
Pergumulan terjadi setelah kemarahan Arga, bagi Arga semua hal ini adalah peredam emosi yang paling ampuh, menganti emosi dengan kebahagiaan bercampur kenikmatan.
Setelah pergumulan mereka, Arga memeluk tubuh Zia yang masih tanpa sehelai benang pun, tepat di atas dadanya. Tubuh polos mereka menempel dan hanya selimut yang menutupi tubuh polos Zia dan Arga.
"Jangan dekat-dekat dengan pria lain lagi!" Seru Arga memberi peringgatan pada Zia.
"Lagi?" tanyanya sedikit menengadah menatap wajah Arga.
"Iya, setelah Dion, lalu Byan yang masih tidak tahu siapa dia, lalu David, dan sekarang Adrian" jelas Arga pada Zia. Zia hanya diam saat Arga menyebut semua nama pria yang dekat dengannya, walau sebenarnya Zia bisa saja menyangkal beberapa nama, karena dari sekian nama tidak semua suka dengannya.
"Kenapa banyak sekali pria yang mendekatimu" gemas Arga seraya mengeratkan pelukan pada Zia.
"Ar, aku tidak tahu, dari semua nama yang kamu sebut tadi tidak semua mendekati, contohnya Dion, dia hanya temanku" elek Zia mencoba melepaskan pelukan Arga yang begitu erat.
"Tetap saja dia mendekatimu"
Zia tahu betul tidak akan menang berdebat dengan Arga. "Terserah padamu"
"Kamu dengar tidak, jangan dekat dengan pria lain!" serunya dengan memperingatkan Zia lagi.
"Iya" jawabnya singkat dan mengiyakan seraya mulai berhenti mendorong tubuhnya dari tubuh Arga.
"Lalu kamu?, kamu juga jangan dekat dengan wanita lain" Zia mengikuti Arga, memperingkatkan seperi yang Arga lakukan.
"Aku tidak dekat dengan siapa-siapa selain dirimu dan..." tiba-tiba Arga berhenti mengingat siapa wanita yang dekat dengannya
"Aku dan siapa?" tanya Zia
__ADS_1
"Kamu dan mama" bohong Arga pada Zia. Arga terpaksa berbohong agar Zia tak terluka, dengan apa yang terjadi dulu di masa lalunya.