
David yang mendengar pertanyaan dari Zia, tentang bagaimana Arga di London, langsung teringat foto yang di lihatnya, waktu Arga bertengkar dengan saudara tiri Zia.
"Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya David curiga, David takut Zia sudah tahu semuanya.
"Aku hanya kesal saja, beberapa kali ada orang bertanya bagaimana kehidupan Arga sebelum menikah denganku," kesal Zia, meluapkan pada David. "Mereka bertanya seolah meledekku, karena aku tidak tahu apa-apa," lanjutnya.
"Jadi dia belum tahu."
"Mereka siapa zi?"
"Jesica dan Adrian," ucap Zia kesal, mengingat dua orang yang menanyainya.
David yang mendengar dua nama, menjadi bingung. Untuk Jesica, David bisa menerima, kalau dia menanyakan itu pada Zia. Karena dia tahu Jesica ada niat lain mengatakan hal itu. Tapi untuk Adrian, David tidak tahu siapa dia.
"Siapa Adrian?"
"Adrian asisten ayahku."
David baru mengerti bahwa Adrian yang di maskud adalah asisten ayah Zia, yang di temuinya tadi pagi di ruangan ayah Zia, sewaktu dia memeriksa ayah Zia.
"Kalau Adrian asisten ayah Zia, apa jangan-jangan ayah Zia sudah tahu."
"Vid, apa kamu tahu," tanya Zia yang membuyarkan lamunan David.
"Aku tidak tahu zi, karena kami jarang bertemu, karena Arga jarang sekali pulang ke Indonesia," David memilih tidak mengatakan apa pun, karena dia merasa tidak berhak.
Zia menghela nafasnya, dia pikir akan dapat jawaban dari David. Tapi ternyata David sama dengannya, juga yang tidak tahu apa-apa.
"Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri pada Arga," David yang melihat wajah kecewa Zia, karena dirinya tidak tahu, mencoba menenangkannya.
"Iya aku akan tanyakan sendiri padanya,"
"Sudah jangan kesal lagi," ucap David pada Zia, "Kamu sudah tahu ayahmu, bisa pulang hari ini bukan?" David memastikan pada Zia, karena tadi pagi dia hanya bertemu dengan ayahnya dan Adrian.
__ADS_1
"Iya."
**
Setelah bertemu dengan David, Zia kembali ke ruang rawat ayahnya. Saat masuk ke dalam ruang rawat ayahnya, dia melihat ayahnya sudah bangun.
"Ayah sudah bangun, maaf tadi Zia keluar sebentar," ucapnya seraya berjalan mendekat pada ayahnya.
"Tidak apa-apa," Adhi tersenyum menatap putrinya.
Sejenak Adhi teringat dengan pertemuan di restoran. Rasanya dia tidak tega melihat putrinya, mendapat perlakuan seperti itu. Dia masih memikirkan, apa yang di katakan Jesica, kalau Arga akan menikahinya. Tapi dia juga tak menampik, saat mendengar pembelaan Arga kalau yang di katakan Jesica tidak benar. Semua ini seolah misteri yang harus di pecahkan akarnya.
"Kenapa ayah memandangku seperti itu?," Zia yang dari tadi melihat ayahnya memandangnya, merasa ayahnya sedang memikirkan sesuatu.
Adhi hanya tersenyum, "Ayah hanya memikirkan, apa anak ayah bahagia dengan pernikahannya?" Adhi membelai lembut pipi Zia.
Zia sedikit bingung dengan pertanyaan ayahnya, "Kenapa ayah berkata seperti itu."
"Ayah hanya merasa bersalah karena memaksa mu menerima perjodohan, dan jika kamu tidak bahagia, ayah akan lebih merasa bersalah," Adhi menahan sesak di dadanya saat mengatakan hal ini pada Zia. Benar adanya, sedikit ada penyesalan di dalam hatinya, saat dia mengetahui Arga tak sebaik yang dia pikir. Dan jika putrinya tidak bahagia, dirinya sendiri lah adalah orang yang paling bersalah, karena memaksa Zia menerima perjodohan ini.
Adhi yang mendengar ucapan menautkan kedua alisnya.
Zia yang mengerti ayahnya sedikit terkejut, mencoba meyakinkan, "Iya yah, kami dulu teman sekolah, dan kami dulu pernah saling mencintai, walaupun tidak ada di antara kami yang mengungkapkanya. Dan saat ayah menjodohkan kami, aku yakin Tuhan sengaja menjadikan itu sebagai penyatuan cinta kami."
"Aku bahagia yah, amat sangat bahagia. Bagiku Arga adalah jodohku yang di kirim Tuhan dengan tangan ayah," Zia mencium tangan ayahnya, menyalurkan rasa bahagianya karena ayahnya telah menikahkannya dengan Arga, orang yang pernah di cintainya dulu.
Rasa sesak di hati Adhi bertambah berlipat-lipat, saat melihat Zia begitu mencintai Arga. Adhi hanya berfikir, akan sesakit apa saat Zia mengetahui masa lalu Arga, yang menjalin hubungan dengan saudara tirinya.
Di saat yang bersamaan, David yang mengejar Zia, untuk mengatakan bahwa Zia bisa mengurus kepulangan ayahnya, di buat kaget dengan apa yang di dengarnya.
David yang tadinya mau mengetuk pintu, melihat pintu belum tertutup sempurna, mungkin karena saat Zia masuk tidak menutupnya dengan benar. Niat David terhenti saat mendengar ucapan, betapa Zia amat sangat mencintai Arga. Dirinya begitu tidak rela, Arga mendapat cinta yang begitu besar dari Zia, sedangkan Arga membalasnya dengan luka.
David mengingat foto yang di lihatnya waktu itu, dan itu menunjukan, betapa buruknya Arga. "Aku tidak akan membiarkan kamu melukai Zia, ar"
__ADS_1
Akhirnya David mengetuk pintu ruang rawat Adhi. Dan membuat Zia berhenti berbicara dengan ayahnya. David langsung memberi tahu Zia untuk mengurus semuanya.
Zia pun pamit untuk mengurus kepulangan ayahnya, dan meninggalkan David dengan ayahnya.
"Saya seperti pernah melihat dokter," ucap Adhi tiba-tiba, saat dia mengingat sesuatu yang ada di pikirannya dari kemarin.
David yang mendengar bahwa Adhi pernah melihatnya, merasa senang karena Adhi mengingatnya. "Saya teman Zia waktu SMA om, yang pernah mengatar Zia pulang karena sakit," jelas David.
Adhi mengingat, dan menemukan sedikit ingatan bahwa dulu dia pernah ke rumah Zia, saat mengantar Zia yang terjatuh. "Ya saya baru ingat," ucapnya pada David, "Dulu kamu menolong Zia, sekarang kamu menolong banyak orang ya," Adhi sedikit tersenyum bangga dengan pria muda di depannya itu.
"Mungkin terinspirasi dari menolong Zia om," tanpa sadar ucapan itu keluar dari mulut David.
Adhi yang mendengar ucapan David, dan sorot mata David, tahu bahwa pria muda di hadapannya itu memiliki rasa pada putrinya.
David yang tidak sengaja mengatakan tentang Zia langsung tersadar, "Saya pamit dulu," David langsung memilih menghindar dari Adhi, dan memilih langsung keluar.
Adhi yang melihat kegugupan David hanya tersenyum.
David merutuki dirinya sendiri yang dengan bodoh telihat menyukai Zia di hadapan ayah Zia.
**
Arga yang di beri tahu oleh Zia, kalau ayahnya sudah boleh pulang pun, langsung menuju rumah sakit. Dia tidak ingin Zia kerepotan pulang tanpa dirinya, atau sampai di antar oleh Adrian.
Saat dia tiba di rumah sakit, dia melihat David yang baru saja keluar dari ruangan ayah Zia.
"Hai ar."
"Hai, loe dari dalam?" tanya Arga.
"Iya, memeriksa ayah Zia,"
Arga yang mendengar ucapan David mengangguk mengerti, "Kalau begitu gue masuk dulu," Arga langsung berjalan masuk ke dalam ruangan mertuanya.
__ADS_1
"Tadi Zia bertanya tentang masa lalu loe sama gue," satu kalimat yang keluar dari mulut David, saat Arga hendak masuk ke dalam ruang rawat ayah Zia.
Seketika Arga berhenti saat mendengar ucapan dari David.