
Zia yang sudah menyelesaikan perkerjaan, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia sedikit memicingkan mata, kenapa Nia belum masuk ke dalam ruangannya untuk memberitahu dirinya bahwa Dave sudah datang. "Apa Dave belum datang," batin Zia.
Akhirnya Zia memutuskan untuk keluar ruangannya, dan menunggu Dave di lantai bawah. Tapi langkahnya terhenti di tengah-tengah anak tangga yang dia lalui. Dari kejauhan dia melihat Dave sedang berbincang dengan Nia. Terlihat Nia yang tertawa manis mendengar ucapan Dave.
"Pantas dia tidak memanggilku," gumam Zia tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Zia melanjutkan langkahnya menuju ruang tunggu di mana ada Dave dan Nia.
"Zi," ucap Nia kaget saat Zia sudah turun dari ruangannya. "Tadi aku mau memberitahu kalau Dave sudah datang, tapi.."
"Tapi aku melarang, agar kamu tidak terburu-buru menyelesaikan perkerjaan mu." Dave langsung memotong ucapan Nia saat hendak menjelaskan pada Zia.
Zia hanya tersenyum penuh arti. Dirinya tahu bahwa Dave sedang berusaha mendekati Nia.
"Ayo zi, aku akan mengantarmu pulang." Dave pun mengakhiri obrolan mereka.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan terlebih dahulu." Zia yang terpikir ide itu pun, akhirnya memilih untuk mengajak mereka berdua untuk jalan-jalan. Lagi pula dirinya sedang sangat malas untuk segera pulang, dan bertemu dengan Arga.
Dave dan Nia mentap sejenak ke arah Zia. Mereka berdua menimbang tawaran dari Zia.
"Kalau aku tidak keberatan," ucap Dave.
Mendengar jawaban dari Dave, menatap ke arah Nia. "Kamu?" Tanya Zia.
Karena melihat Dave sudah menyetujui tawaran Zia, Nia tidak punya pilihan. "Baiklah."
Akhirnya setelah mereka bertiga memutuskan untuk jalan-jalan, mereka bertiga menaiki mobil Dave menuju mall terdekat.
Sesampainnya mereka di dalam mall, mereka bertiga memutuskan untuk nonton film di bioskop. Dan akan menyambung jalan-jalan, setelah selesai menonton.
Setelah sampai di bioskop, mereka bertiga memilih untuk menonton film horor, yang baru saja tayang. Sebenarnya Zia malas sekali untuk nonton film horor, karena dia selalu terbayang adegan-adegan hantu yang berada di film saat tidur. Tapi saat melihat Dave dan Nia sangat antusias, Zia tidak punya pilihan untuk ikut menonton.
Saat pintu teater di buka, mereka bertiga berjalan menuju ke dalam. Dave pun menyerahkan tiket pada petugas. "Berapa orang?" Tanya petugas bioskop.
"Empat," jawab Dave.
"Bukannya kita bertiga Dave?" Zia yang merasa heran dengan jawaban Dave pun bertanya.
Tapi belum sempat Dave menjawab, terdengar suara seseorang. "Maaf aku terlambat," ucap seseorang yang baru saja datang.
__ADS_1
Zia, Nia, dan Dave menoleh saat mendengar suara seseorang. Dan mendapati Arga, yang dengan nafas tersengal menghampiri mereka. Terlihat jelas dari nafas Arga yang tidak beraturan, bahwa dia baru saja berlari-lari menuju bioskop ini.
Dalam hati Zia benar-benar merasakan sangat kesal, saat Dave tidak memberitahu bahwa Arga juga ikut menonton film bersama mereka. Zia hanya menatap malas pada Arga, dan mengalihkan pandanganya ke arah lain setelahnya.
"Ayo masuk." Dave membuyarkan keterkejutan Zia, atas kedatangan Arga.
Tanpa berlama-lama Zia melangkah mengekor di belakang Dave, dan meninggalkan Arga yang berjalan tepat di belakangnya. Sesampainya di dalam, Dave memberitahu tempat duduk Zia dan Arga.
"Kenapa terpisah?" Tanya Zia, saat melihat kursi miliknya, berjauhan dengan kursi milik Dave dan Nia.
"Tadi hanya tersisa ini zi," ucap Dave.
Zia mengedarkan pandangan, dan mendapati memang kursi penonton penuh, karena ini adalah pemutaran perdana film yang ditontonnya. Akhirnya Zia tidak punya pilihan lain, selain duduk di tempat yang Dave sudah beritahu.
Indera penciuman Zia, yang merasa mencium wangi parfum Arga dari dekat, menoleh ke belakang. Dan benar dugaannya, bahwa Arga berada tepat di belakangnya. Rasa kesalnya seketika meliputi hatinya. Tapi dia tidak punya pilihan lain, selain melanjutkan langkahnya mencari nomer kursi miliknya.
Setelah mendapati kursinya, Zia langsung mendudukkan tubuhnya. Dan tepat setelah Zia duduk, Arga pun duduk di sampingnya. Saat duduk, Zia mendengar nafas Arga yang masih tidak beraturan, menandakan betapa lelahnya Arga setelah berlari. Tanpa mengatakan apa-apa, Zia memberikan minum yang di belinya tadi sebelum masuk teater.
Mendapat minuman dari Zia, Arga menarik senyum di ujung bibirnya. Rasanya tidak salah dirinya, pergi menyusul Zia, kalau yang di dapatnya perhatian dari Zia. Dirinya yang tadi sudah hampir sampai di apartemen, mendapat kabar dari Dave, jika Zia mengajak Dave dan Nia untuk jalan-jalan.
"Terimakasih," ucap Arga seraya menerima minuman dari Zia. Tenggorokannya yang kering akibat berlari, langsung terasa lega saat air melewati batang tenggorokannya.
Saat film di mulai, ketegangan sangat terasa, karena film menampilkan adegan hantu. Zia yang ketakutan pun, langsung menyembunyikan wajahnya ke arah samping, dimana Arga duduk. "Apa hantunya masih ada?" Tanya Zia lirih.
Arga yang melihat Zia ketakutan, tertawa dalam hati. Seperti dugaanya Zia akan ketakutan, dan bersembunyi. Rasanya dia tidak salah meminta Dave untuk memilih film horor. "Belum," jawabnya pada Zia.
Saat suara hantu terdengar oleh Zia, tanpa sadar membuat dia bersembunyi di bahu Arga, seraya menutup telinganya. Arga yang melihat Zia ketakutan membantu Zia menutup telinganya, agar Zia tidak mendengar suara yang menakutkan baginya.
Beberapa kali Zia mengintip film yang ditontonnya, tapi beberapa kali juga dia menyembunyikan wajahnya di bahu Arga. Arga pun tidak menyianyiakan kesempatan untuk menenangkan Zia. Tubuh Zia yang dekat dengan tubuhnya, sedikit mengobati kerinduannya. Rasanya dia ingin sekali memeluk Zia. Tapi dirinya sadar, itu akan membuat Zia tidak nyaman di tempat umum.
Sampai film selesai, Zia benar-benar tidak menikmati film yang ditontonnya. Dalam hatinya, dia merutuki kesalahannya menerima ide Dave dan Nia untuk menonton film horor. Dirinya berharap nanti malam, dirinya akan bisa tidur tanpa bayang-bayang hantu dalam film yang dia lihat.
Saat film selesai, Zia juga baru menyadari bahwa dirinya dari tadi berdekatan dengan Arga. Zia pun buru-buru menegakkan kembali tubuhnya, dan memasang mode diam pada Arga. Dirinya yang masih kesal belum bisa bersikap biasa pada Arga.
Arga yang melihat sikap Zia tahu, bahwa wanita di sampingnya itu masih kesal dengannya.
Setelah mereka Zia, Arga, Dave dan Nia selesai menonton, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Sepanjang makan, Nia dan Dave menceritakan film yang mereka tonton. Sesekali Arga pun menimpali komentar tentang film yang baru saja mereka tonton.
__ADS_1
Mendengar Arga, Dave dan Nia bercerita, Zia hanya bisa diam. Rasanya dia tidak mengerti yang di ceritakan oleh mereka bertiga. Bagaiamana dirinya bisa mengerti, jika dirinya bersembunyi terus, sepanjang film.
Setelah mereka selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. Karena waktu sudah menunjukan pukul 10.
"Zi, kamu pulang dengan Arga ya. Karena aku akan mengantar Nia," ucap Dave pada Zia.
Rasanya Zia benar-benar malas harus pulang dengan Arga. Tapi dirinya tidak mungkin dirinya menolak. "Baiklah."
Setelah mereka berempat berjalan menuju parkiran, mereka berpisah saat menuju mobil masing-masing. Zia yang pulang dengan Arga memilih mengekor di belakang Arga.
"Sampai kapan kamu akan marah denganku?" Tanya Arga memecah keheningan di dalam mobil.
Zia menghela nafasnya, menelisik lebih dalam hatinya. Sebenarnya rasa marahnya sudah tidak ada, sejak Jesica mengatakan kejadian itu adalah kesalahannya. Tapi rasa kecewa dan kesalnya belum hilang seluruhnya.
"Dengan diamnya dirimu aku merasa sangat tersiksa. Jangan hukum terlalu lama zi."
'
"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan ar. Aku terlampau kecewa padamu. Dan melihat foto dirimu dengan wanita lain, membuat hatiku sakit."
"Zi, aku tahu aku salah di masa lalu, tapi apa kamu tidak mau membuatku lebih baik di masa depan. Jika kamu selalu menyalahkan masa lalu ku, bagaimana aku bisa bangkit dan memperbaiki masa depanku."
Zia hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Dia membenarkan semua ucapan Arga, tapi mulutnya seolah terkunci, tidak bisa menjawab.
Arga yang melihat Zia diam, hanya bisa pasrah. Dirinya benar-benar tidak bisa memaksa Zia untuk menerima dirinya. "Jika kamu masih mau menerimaku, terimalah aku dengan masa lalu ku. Tapi jika kamu tidak bisa menerimaku, aku tidak bisa memaksamu untuk menerima." Arga yang baru saja sampai di parkiran apartemen, membuka seatbelt nya, dan keluar dari mobil.
Zia yang mendengar ucapan Arga tersentak. Dia hanya berpikir egois kah dirinya yang tidak menerima Arga dengan masa lalunya.Jika dirinya saja bisa memaafkan Jesica, dan menerima apa yang di lakukan Jesica, kenapa dia sulit untuk memaafkan Arga. Padahal dirinya tahu, sebesar apa cinta Arga padanya.
Melihat Arga sudah turun dari mobil, Zia juga ikut turun. Dengan melangkah mengekor Arga, menuju apartemennya.
"Ar," panggil Zia saat baru saja mereka memasuki apartemen.
Arga yang baru saja meletakkan kunci mobil di laci, menoleh saat Zia memangilnya. Arga menatap kedua bola mata coklat yang bak kacang kenari milik Zia, dan Zia pun menatap lekat suaminya. Sejenak kedua mata mereka beradu dan saling mengunci. Pandangan yang penuh cinta, dan kerinduan terlihat jelas dari Zia dan Arga.
"Aku menerima dirimu dengan semua masa lalu mu. Dan aku ingin menghapus semua cerita masa lalu mu dan mengantikan dengan masa depan kita." Air mata yang sudah tak tertahan mengalir di pipi Zia. Dirinya yang begitu mencintai Arga, tidak bisa memilih untuk meninggalkan Arga.
Mendengar ucapan Zia, Arga langsung berhambur memeluk Zia. "Terimakasih zi," ucap Arga. Arga yang tadinya sudah pasrah, karena Zia tidak bisa menerimanya, merasa senang saat Zia mengatakan akan menerimanya. Arga hanya bisa mencium pipi Zia dan berkali-kali mengucapkan terimakasih.
__ADS_1