Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Ini aku


__ADS_3

Berkali-kali manik mata coklat milik Zia, menatap layar ponselnya. Zia juga sudah menajamkan telinganya, untuk mendengar dering ponsel, atau tanda pesan di ponselnya. Tapi cukup lama dia menunggu, tidak ada satu pun pesan atau telepon masuk, di ponselnya.


Helaan nafas mengiringi fokusnya, yang tak lepas dari ponselnya. Rasanya rindu di hatinya begitu menyesakkan saat tidak ada kabar dari Arga.


Sampai saat dimana, Nia mengetuk pintu ruangannya, untuk memberitahu bahwa Dave sudah datang. Zia hanya bisa pasrah, dan memasukkan ponselnya, ke dalam tasnya, dan keluar dari ruangannya.


Zia menemui Dave yang dari tadi menunggunya. "Maaf membuatmu menunggu," ucap Zia.


"Tidak apa-apa zi. Ada Nia tadi yang menemaniku disini, jadi aku tidak bosan," ucapnya pada Zia.


Zia hanya tersenyum, ternyata ada kegiatan baru yang di lakukan Dave untuk menunggunya.


Dave langsung mengajak Zia pulang, dan mengantarkannya ke rumah ayahnya.


"Kamu kenapa zi?" Tanya Dave yang melihat Zia diam saja sejak masuk ke dalam mobil.


"Arga tidak menghubungi aku. Biasanya dia menghubungi aku di jam-jam segini," ucap Zia pada Dave.


"Kamu sudah mencoba menghubungi?" Tanya Dave.


"Disana sudah malam, dan aku akan takut menganggunya."


"Coba saja, siapa tahu dia menganggkat teleponnya."


Zia yang mendengar ucapan Dave, langsung mengambil ponselnya di dalam tasnya. Dia mencoba menghubungi Arga. Tapi tidak ada jawaban dari Arga. "Tidak di angkat," ucap Zia pada Dave. "Sepertinya dia tidur."


"Sejak tadi dia tidur belum bangun juga," gumam Dave.


"Kamu mengatakan apa?" Tanya Zia yang mendengar Dave bergumam.


"Tidak," elak Dave.


Zia memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali. Zia melihat keluar kaca mobil, memikirkan kenapa Arga tidak mengangkat telepon dari dirinya. Zia hanya memendam rasa kecewanya, saat Arga tidak menganggkat telepon dari dirinya.


Sesampainya di rumah Zia berterimakasih pada Dave, karena sudah mengantarnya. Zia melanjutkan langkahnya ke dalam rumah, dan menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Jesica dan Lidia, yang sedang menuruni anak tangga. Zia pun menyapa mereka, dengan memberi senyuman, untuk Lidia dan Jesica, dan melanjutkan langkahnya kembali ke ka kamar.


"Kamu harus jaga diri, dengan kehamilan kamu ini," ucap Lidia pada Jesica.


Jesica yang mendengar ucapan mamanya hanya mengangguk. Tapi ekor matanya melihat ke arah Zia. Karena dia ingin tahu, bagaimana reaksi Zia, mendengar ucapan mamanya.


Langkah Zia yang tetap dia lanjutkan saat berpapasan, mendengar apa yang di ucapkan oleh Lidia. Rasanya dia benar-benar heran. Bagaimana Lidia bisa setenang itu, saat melihat anaknya hamil di luar nikah. Tapi Zia tidak mau terlalu ikut campur terlalu dalam.


"Nanti kalau ayah bayi mu pulang dari London, kita langsung buat acara ya," ucap Lidia mengelus perut Jesica.


Mendengar kata London, membuat langkah Zia terhenti di tangga paling atas. Dalam batinnya sedikit terusik, saat mendengar bahwa ayah dari bayi yang di kandung Jesica, sedang berada di London. Sama seperti halnya Arga yang juga sedang pergi ke London.


Tapi dia berusaha untuk menepis semuanya. Mungkin hanya kebetulan semata orang yang menghamili Jesica sedang pergi ke London.


Zia pun melanjutkan langkahnya, menuju kamarnya. Perasaannya yang tidak keruan membuat dirinya membutuhkan waktu untuk sendiri.


Sedangkan Lidia menarik senyum tipis di bibirnya. Dia merasa senang saat bisa membuat dirinya, bisa membuat Zia merasa sedih.


Jesica yang melihat mamanya, hanya bisa menggeleng kepala. Rasanya obsesi mamanya untuk menjadikan Arga menantunya terlalu berlebihan. Tapi dirinya tidak bisa membantah sama sekali ucapan mamanya.


**


Setelah makan malam, Zia kembali ke kamarnya. Tubuhnya yang letih, di rebahkan nya di tempat tidur. Sesekali dia melihat layar ponselnya. Tapi tetap saja, tidak ada panggilan telepon sama sekali dari Arga.

__ADS_1


Dengan menarik selimutnya, menutupi tubuhnya, akhirnya Zia memejamkan matanya. Dia hanya berharap, besok Arga akan menghubungi dirinya.


**


Saat sedang menikmati tidurnya. Zia merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya. Zia merasakan dalam-dalam apa yang berada di pingangnya itu. Tapi belum selesai dia mendapatkan jawaban dari pikirannya. Dia merasakan tubuh seeseorang mendekap erat tubuh Zia.


Seketika Zia perlahan membuka matanya. Menundukan pandangan pada tangan kokoh yang melingkar di pingangganya. Matanya memicing, saat merasa mengenali tangan siapa yang melingkar. Tapi dia tidak yakin, bahwa itu adalah lengan orang yang berada di pikirannya.


Tapi sejenak indera penciuman Zia, mencium aroma parfum yang dia amat sangat kenal. Dan kali ini, dia tidak akan salah menebak. "Arga," gumam Zia seraya membalikkan tubuhnya.


Saat Zia berbalik, dia melihat wajah Arga di hadapanya. Dua bola mata mereka saling beradu pandangan, dan terkunci cukup lama. Hingga suara lirih lolos dari bibir Zia. "Ar," panggilnya lirih.


Arga yang melihat Zia yang begitu terkejut, hanya bisa menarik senyum di ujung bibirnya. Dia melihat dengan jelas dari kedua bola matanya Zia, yang memandangnya penuh kerinduan. "Iya ini aku," ucap Arga.


Zia yang masih belum menatap tidak percaya, bahwa yang di lihat di hadapanya adalah Arga. Dia tersadar saat Arga membenarkan, bahwa yang di lihat Zia tidak salah.


Zia langsung membenamkan tubuhnya di tubuh Arga, memberi pelukkan penuh kerinduan, yang beberapa hari ini begitu menyiksanya. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Zia. Dia hanya bisa mengungkapkan perasaanya, dengan pelukkan hangat yang dia berikan untuk Arga.


Arga yang melihat Zia memelukkanya, menyadari bahwa wanita yang ada di pelukkannya itu begitu merindukkannya. Dia mengingat bagaiaman tadi Dave menceritakkan tentang Zia yang begitu nampak merindukkannya.


Setelah selama enam belas jam Arga melakukan perjalanan London menuju Jakarta. Akhirnya, dia sampai pagi tadi di Bandara.


Dave yang sudah di hubungi oleh Arga kemarin, sudeh meunggu Arga di Bandara, untuk menjemputnya. Dari kejauhan Dave melihat, pria putih tinggi, yang mememakai kacamata melangkah menghampirinya. Dan Dave tahu pasti, siapa pria yang menarik koper dan menghampirinya.itu.


"Hai bro," sapa Dave pada Arga, saat Arga di hadapannya


"Hai," ucapnya menurunkan penganggan koper.


Dave pun langsung membuka bagasinya, dan Arga langsung memasukkan kopernya ke dalam mobil Dave. Setelah mereka berdua masuk, Dave melajukkan mobilnya.


"Kita ke kantor Ayah Adhi terlebih dahulu," ucap Arga.


Dave yang mendengar perintah Arga pun, langsung melajukan mobilnya menuju kantor ayah mertua Arga.


Sesampainya Arga di kantor ayah mertuanya. Dia meminta Dave menunggu, karena ada beberapa hal yang dia ingin bicarakan dengan ayah mertuanya.


Dave pun akhirnya menunggu Arga di ruang tunggu yang terdapat di loby kantor ayah Zia.


Setelah cukup lama membicarakan beberapa hal dengan ayah mertuanya. Arga menemui Dave kembali. Arga yang meminta Dave untuk menuju kantornya, karena dia ingin tidur sebentar di kantor.


Sesampainya Arga di kantornya, dia langsung menuju ruangannya. Dia masuk ke dalam ruangan yang tersembunyi di samping meja kerjanya. Dia yang begitu lelah setelah melakukan perjalanan, akhrinya memejamkan mata dalam sekejapan.


Tanpa dia sadari tenyata Arga tertidur hingga sore. Matanya mengerjap saat menyadari, bahwa tidurnya cukup lama. Arga yang bangun, melangkah menuju kamar mandi yang terdapat di ruangan itu, untuk membersihkan diri.


"Loe dah bangun?" Tanya Dave Daveyang baru saja berniat membangunkan Arga, melihat Arga baru saja keluar dari kamar yang tersedia di ruangannya.


"Iya baru aja," ucap Arga. "Loe dari mana?" Tanya Arga.


"Gue abis jemput istri loe lah," jawab Dave ketus.


Arga yang mendengar baru mengingat, bahwa dirinya sendiri yang meminta Dave untuk menjemput Zia. "Gimana Zia?"


"Waktu gue jemput dia tadi, dia kelihatan sedih karena loe nggak hubungi dia. Dia juga tadi hubungi loe, tapi loe nggak angkat," jelas Dave pada Arga.


"Oh ya," ucap Arga saat mendengar ucapan Dave. Dia langsung mengecek ponsel di sakunya. Dan ternyata benar yang di ucapkan Dave, jika Zia menghubunginya beberapa kali.


"Kayaknya dia rindu berat sama loe," goda Dave pada Arga.

__ADS_1


Arga yang mendengar hanya tersenyum. Jangankan Zia, dirinya saja juga begitu merindukkan istrinya itu. " Gue tidur tadi, jadi nggak denger ponsel gue bunyi." Arga tidak menjawab pertanyaan tentang Zia yang rindu, tapi menjawab pertanyaan Dave mengenai Zia yang tidak bisa menghubunginya.


"Iya tadi juga gue bilang gitu."


"Loe bilang gue tidur di kantor?" Tanya Arga menatap tajam pada Dave. " Gue sengaja mau buat kejutan sama dia, loe malah ngerusak," ucap Arga kesal.


Dave angsung tergelak saat mendengar ucapan Arga. Melihat wajah Arga yang kesal membuat dirinya tidak berhenti tertaw. "Santai bro. Zia sendiri yang bilang kalau di London dah malam, dan loe pasti udah tidur."


Arga yang mendengar ucapan Dave merasa lega. Setelah selesai bersiap, Arga mengajak Dave untuk makan malam terlebih dahulu di restoran.


"Gimana loe udah dapat apa yang loe cari di sana?" Tanya Dave pada Arga, di sela-sela makan.


"Udah."


"Cepat selesaiin urusan loe. Jangan berlama-lama. Nggak kelar-kelar konflik yang loe buat," sindir Arga.


"Loe pikir nyelesaiin masalah semudah itu. Ibarat orang perang, kalau gue nggak punya senjata. Yang ada gue mati bunuh diri itu namanya," jawab Arga kesal dengan Dave.


"Zia betah juga sama Arga yang emosian begitu," batin Dave yang melihat Arga yang mudah sekali marah. "Iya, gue kan cuma kasihan aja sama istri loe. di tinggal sendiri. Takut-takut entar di deketin cowok lain lagi."


"Makanya gue suruh loe buat jagain, biar nggak ada yang deketin. Kalau masih ada juga, loe orang yang pertama gue hajar," ucap Arga dengan nada mengancam.


Dave yang mendengar hanya acuh saja. Dirinya sudah hapal betul bagaimana Arga.


Mereka berdua melanjutkan makan, dengan berbincang terlebih dahulu. Dave menjelaskan beberpa perkerjaan yang di tinggalkan oleh Arga, selama beberapa hari ini.


Setelah makan malam, Dave mengantar Arga untuk ke rumah ayah mertuanya.


Arga pun berterimakasih pada Dave, dan turun dari mobil. Dirinya yang meninggalkan kopernya di kantor pun, masuk tidak membawa apa-apa.


Saat Arga sampai, dia melihat jam di pergelangan tanganya, yang menunjukkan jam dua belas malam. Dirinya yang mengobrol dengan Dave, membuatnya benar-benar lupa waktu.


Tadi saat di kantor ayah mertuanya. Arga sudah di beri kunci pintu utama dan kamar Zia. Jadi Arga tidak perlu membangunkan asisten rumah tangga, atau penghuni rumah ayah mertuanya.


Setelah membuka kunci pintu utama. Arga melangkah menuju kamar Zia. Dengan perlahan Arga membuka pintu kamar Zia. Dia tidak ingin sampai Zia bangun saat melihatnya, karena dia ingin memberi kejutan Zia. Arga ingin, saat Zia membuka mata besok pagi, wajahnya lah yang di lihatnya.


Setelah dia masuk dan menutup pintu perlahan-lahan. Dia mengendap-ngendap menuju tempat tidur. Sesampainnya di tempat tidur, mata Arga melihat tubuh Zia yang tertutup rapat oleh selimut.


Senyum terukir di wajah Arga, saat melihat wanita yang beberapa hari sudah dia tinggalkan. Perlahan Arga menyibak selimut yang di pakai oleh Zia, membenamkan tubuhnya ke dalam selimut menyusul Zia.


Niatnya untuk memberi kejutan besok pagi, seakan sirna, saat melihat tubuh wanita yang begitu dia cintai tertidur pulas, di hadapannya. Rasa rindu yang tak tertahan, membuat tangannya dengan sendirinya, mendekap erat tubuh Zia.


Perlahan Arga mengeratkan pelukkannya, membenamakan wajahnya di ceruk leher Zia. Mengirup wangi tubuh Zia yang sudah lama dia tidak sentuh. Tapi saat Arga sedang menikmati moment itu. Dia merasakan Zia yang berbalik dan menatapanya. Dan tatapan itu adalah tatapan kerinduan.


"Apa kamu merindukanku?" Tanya Arga setelah mengingat bagiamana dia bisa sampai di rumah ayah mertuanya.


"Iya," jawabnya lirih karena wajah Zia terbenam di dada Arga.


Arga langsung memundurkan tubuhnya, agar bisa menjangkau wajah Zia. " Aku juga merindukamu," ucap Arga seraya membenamkam bibirnya di bibir Zia.


Arga mencium lembut bibir Zia, memberikan ******* kecil di bibir wanita, yang begitu dia rindukan beberapa hari.


Zia yang mendapatkan ciuman dari Arga pun menikmati. Dia pun membalas ciuman, dengan penuh kerinduaan. Tanpa dia sadari erangan kecil terdengar, saat tangan Arga mulai bergrilya di balik bajuanya, menyentuh tempat yang dia sukai.


Arga yang mendengar suara Zia yang menikmati sentuhannya pun membuatnya bergelora. Dia langsung membalikkan tubuhnya, tepat di atas Zia.


Perlahan dia mulai menanggalkan pakaian yang di kenakan Zia, dan beralih pada pakaian yang di kenakannya sendiri. Setelah merasakan kehangatan tubuh polos Zia, Arga memulai penyatuan mereka. Melepas kerinduan yang sudah terpendam beberapa hari ini.

__ADS_1


__ADS_2