
Setelah makan malam semalam, Zia langsung masuk ke dalam kamar.
"Apa aku terlalu lelah, hingga semalam aku langsung tertidur pulas," gumam Zia saat membuka matanya perlahan.
Zia menyibak selimutnya, dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Zia langsung menuju meja rias. Zia memoles sedikit wajahnya dengan make up tipis, agar terlihat lebih segar.
Saat di rasa semua selesai, Zia keluar dari kamarnya. Dia melangkah menuruni anak tangga dan menuju meja makan. Dari kejauhan, Zia melihat di ruang tamu sudah ada Lidia dan Ayahnya.
"Pagi zi," sapa Lidia.
Zia mengerjapkan matanya saat mendengar sapaan lembut dari Lidia. Zia merasa sedikit heran saat mendengar sapaan dari Lidia. "Pagi Tante." Zia pun membalas sapaan dari Lidia.
"Duduk dan makanlah sarapan mu," ucap Lidia seraya meletakkan makan di meja makan.
Zia hanya mengangguk, dan menarik kursi di meja makan. Saat baru saja duduk terdengar suara teriakan dari Kaisar, dan membuat dirinya menoleh.
"Mama," panggil Kaisar saat melihat mamanya ada di rumah. Kaisar langsung berlari menghampiri mamanya, dan memeluknya. "Kai, kangen ma," ucapnya terbata.
"Mama juga kangen," ucap Lidia seraya membungkuk sedikit agar bisa memeluk anaknya.
Zia yang melihat pemandangannya di hadapannya, membuatnya terharu. Zia merasa keputusannya untuk meminta ayahnya mengizinkan Lidia untuk kembali, adalah keputusan benar.
"Kak Jesica mana ma?" Tanya Kaisar pada Lidia.
Lidia baru menyadari bahwa Jesica belum juga turun, setelah mendengar pertanyaan dari Kaisar. Lidia sedikit heran, karena sudah cukup siang, tapi Jesica belum ke meja makan. "Mungkin kakakmu masih mandi," ucap Lidia. "Setelah ini mama akan panggil kakakmu."
"Biar Zia saja yang panggil Tante," potong Zia yang melihat Kaisar sedang bermanja-manja dengan mamanya.
"Baiklah, kamu saja yang panggil, aku akan menemani Kaisar makan dulu."
Zia berdiri, dan mendorong kursinya ke belakang dan melangkah menuju kamar Jesica. Saat sampai di depan kamar Jesica, Zia mengetuk pintu kamar Jesica. Tapi cukup lama dia mengetuk. Tidak ada jawaban dari Jesica.
Akhirnya Zia mencoba memegang handle pintu, dan di ternyata tidak terkunci. "Jesica," panggil Zia seraya mendorong pintu. Saat masuk Zia tidak melihat Jesica di tempat tidur. Akhirnya Zia beralih ke kamar mandi. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, berniat mengetuk pintu kamar mandi.
Tapi langkahnya terhenti, saat dia melihat sebuah kertas tergeletak di nakas dekat tempat tidur. Akhirnya Zia melangkahkan kakinya, menghampiri kertas itu berada.
Zia membungkukkan tubuhnya, agar bisa menjangkau kertas itu. Tapi seketika kedua bola mata Zia membulat. "Positif," gumam Zia saat melihat hasil pemeriksaan Jesica yang menyatakan bahwa dia hamil.
Tapi saat Zia sedang sibuk dengan pikirannya. Pintu kamar mandi terbuka. Dan Jesica keluar dari kamar mandi. Zia yang melihat Jesica keluar dari kamar mandi, langsung meletakkan kertas itu di tempat semula.
"Zia," ucap Jesica saat melihat Zia berada di kamarnya. " Ada apa kamu masuk ke kamar ku?" Tanya Jesica sedikit tidak suka.
"Aku di minta Tante Lidia memanggil kamu untuk sarapan. Karena saat aku panggil, tidak ada sautan. Aku langsung masuk ke dalam kamar mu," jelas Zia. "Maaf aku sudah tanpa izin mu, masuk ke dalam kamarmu." Zia yang merasa tidak enak pun meminta maaf.
"Aku akan segera turun, jadi kamu bisa keluar lebih dulu," ucap Jesica ketus.
Zia yang mendengar ucapan Jesica pun langsung memilih keluar dari kamar Jesica. Zia menuruni anak tangga dan menuju meja makan.
"Kenapa dia seenaknya masuk ke kamar ku," kesal Jesica yang melihat Zia sudah keluar dari kamarnya. "Andai saja dia tidak di jodohkan dan menikah dengan Arga, mungkin aku akan lebih mudah membuat Arga kembali padaku," ucap Jesica yang begitu kesal dengan Zia.
Jesica pun melangkah menuju meja rias. Tapi langkahnya terhenti saat melihat kertas hasil pemeriksaan dirinya tergeletak di atas nakas. "Bagaimana aku seceroboh ini," ucapnya seraya mengambil kertas. "Kalau mama tahu, apa jadinya nanti." Jesica hanya bergidik ngeri saat membayangkan mamanya tahu. Dia pun menyimpan kertas hasil pemeriksaan kehamilannya di dalam nakas. Dan langsung keluar menuju meja makan.
Zia yang sudah kembali dari kamar Jesica sudah kemabali duduk di meja makan. Dan selang beberapa saat Jesica sudah turun dari kamarnya.
Mereka semua akhirnya makan bersama di meja makan. Zia merasa agak cangung saat harus makan bersama, karena ini untuk pertama kalinya setelah dia memutuskan meninggalkan rumah ayahnya.
Tapi demi ayahnya. Kali ini Zia menurunkan egonya, yang sudah mengatakan tidak akan kembali ke rumah ayahnya.
"Apa ayah benar sudah akan berkerja hari ini?" Tanya Zia yang memastikan kembali ayahnya, yang sudah siap untuk berangkat ke kantor.
"Ayah merasa lebih baik zi, lagi pula ada Adrian di kantor. Jadi ayah akan baik-baik saja."
"Lagi pula nanti ada Jesica yang akan menjaga ayahmu zi. Jadi kamu tidak perlu khawatir," potong Lidia.
Jesica yang mendengar ucapan mamanya, menautkan kedua alisnya. "Aku?" Batin Jesica.
"Maksud Tante Jesica akan berkerja di kantor ayah?" Tanya Zia memastikan.
"Iya."
"Syukurlah jika Jesica akan berkerja di kantor ayah, aku tidak perlu khawatir lagi," ucap Zia yang merasa sangat senang.
__ADS_1
"Apa dia pikir aku perawat yang menjaga Papa Adhi," batin Jesica kesal mendengar ucapan Zia. "Aku juga heran kenapa mama tidak menanyakan terlebih dahulu kepada aku, untuk berkerja di kantor Papa Adhi." Jesica hanya bisa membantin kekesalannya dalam hati.
"Tapi mungkin aku baru bisa ke kantor Papa, besok. Karena hari ini aku masih harus menyelesaikan urusan ku," ucap Jesica. " Apa Papa tidak keberatanan?"
"Iya." Adhi hanya bisa menjawab singkat ucapan Jesica.
Setelah selesai makan, akhirnya Adhi berangkat berkerja dengan Adrian. Sedangkan Zia berangkat bersama Dave.
**
Sejak keluar dari kamar Jesica, sampai sarapan pagi bersama, Zia memikirkan hasil kehamilan milik Jesica. Sampai saat Dave menjemput dan mengantarnya Zia tetap diam dengan pikirannya.
"Kamu kenapa zi, dari tadi diam saja?" Tanya Dave saat melihat Zia yang tampak berbeda pagi ini.
Zia mengerjap saat mendengar pertanyaan dari Dave. " Tidak, aku hanya sedang malas saja.
"Katakan saja jika kamu ada masalah, jadi aku bisa membantu mu," ucap Dave. Dave merasa Zia sedang memikirkan sedang memikirkan sesuatu.
"Terimakasih Dave, tapi aku baik-baik saja."
Dave hanya bisa mengangguk. Dirinya tidak bisa memaksa Zia untuk mengatakan padanya, apa yang terjadi pada Zia.
Setelah sampai di butik, Zia langsung melanjutkan perkerjaanya. Tapi sampai menjelang makan siang, Zia benar-benar merasa tidak tenang, karena memikirkan tentang kehamilan Jesica.
Saat sedang memikirkan Jesica, Zia teringat dengan David. Zia ingat betul bahwa David, mengatakan bahwa Jesica tidak hamil. Tapi hasil menyatakan bahwa Jesica hamil. Lalu untuk apa David berbohong. Rasanya Zia harus benar-benar ingin tahu kebenarannya.
Zia langsung mengambil ponselnya. Dia langsung menekan nomer David, untuk menghubunginya. Cukup lama Zia menunggu David menganggkat teleponnya. Sampai saat suara sapaan dari David terdengar oleh Zia.
"Apa kamu sedang di rumah sakit vid?" Tanya Zia.
"Aku sedang menuju restoran pelangi, zi. Ada apa kamu menghubungi aku?"
"Baiklah, aku akan kesana untuk menemuimu," ucap Zia.
Tapi belum sempat David membalas lagi ucapan Zia. Zia sudah mematikan sambungan telepon.
Zia langsung memesan taxy sesaat setelah mematikan sambungan telepon. Zia mengambil tasnya, dan keluar dari ruangannya menuju ke bawah.
"Aku sedang ada urusan. Aku titip butik sebentar ya, " ucap Zia seraya melangkah keluar butik.
**
David yang melihat Zia mematikan sambungan telepon hanya bisa mengeleng. Dia benar-benar heran untuk apa Zia ingin menemui dirinya. Akhirnya David meletakkan ponselnya, dan kembali fokus menuju restoran tempat dimana dia sudah membuat janji dengan Elisa.
Saat sudah sampai di restoran, David langsung keluar dari mobilnya. Dia melangkah masuk ke dalam restoran, dan mengedarkan pandangan mencari Elisa. Saat kedua bola mata David menemukan sosok Elisa, dia melangkah menghampiri Elisa.
"Apa kamu sudah lama?" Tanya David seraya menarik kursi.
"Belum," ucap Elisa tersenyum.
Akhirnya David dan Elisa, memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Apa kamu tidak ada jadwal praktek setelah ini?" Tanya Elisa pada David.
"Tidak, hari ini aku hanya praktek di pagi hari. Jadi jadwal ku kosong siang ini," jelas David.
"Apa kamu mau menemaniku menonton? Ketebetulan ada film terbaru di bioskop." Tanya Elisa. Elisa yang merasa ini adalah moment yang pas, untuk lebih dekat dengan David, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
"Baiklah."
Elisa merasa senang saat mendapat jawaban dari David, yang mau menerima ajakanya.
Setelah makanan mereka datang, mereka berdua memulai makan, seraya menyelipkan beberapa perbincangan tentang perkerjaan mereka.
Saat David dan Elisa sedang asik menikmati acara makan. Mereka berdua di kagetkan dengan suara wanita yang baru saja datang, dan menghampiri mereka.
"Hai David," sapa Zia yang baru saja datang di restoran.
"Hai zi," sapa David tersenyum.
"Apa aku menganggu?" Tanya Zia ragu-ragu. Zia benar-benar merasa tidak enak, saat melihat David ternyata sedang makan siang dengan seorang wanita.
__ADS_1
"Tidak, ayo duduklah." David pun langsung menarikkan kursi di sampingnya untuk Zia.
Zia yang melihat David menarik kursi untuk dirinya, langsung mendudukkan dirinya di atas tempat duduk, tepat di samping David.
Elisa yang melihat David menarikkan kursi, untuk wanita yang baru saja datang merasa heran. Senyum mengembang juga terlihat dari wajah David, saat melihat wanita yang di hadapannya itu. Ada terselip rasa sakit, saat melihat pemandangan itu di hati Elisa.
"Zi, kenalkan ini temanku, namanya Elisa." David pun mengenalkan Zia pada Elisa.
"Hai Elisa, aku Zia," ucap Zia seraya mengulurkan tanganya pada Elisa.
"Elisa." Elisa menerima uluran tangannya, dan menyebutkan namanya.
Zia tersenyum saat melihat Elisa. Zia merasa lega, saat melihat David sudah bisa membuka hatinya.
Elisa yang melihat senyum manis dari Zia, merasa terpesona. Dia tidak menyangka, wanita di hadapannya begitu cantik. Dalam hatinya hanya bisa berkata, pantas saja David begitu senang saat bertemu dengannya.
"Ada apa kamu mencari ku?" Tanya David pada Zia.
"Aku ingin menanyakan perihal kehamilan Jesica," Zia memulai menjelaskannya pada David. " Kamu mengatakan bahwa Jesica tidak hamil. Tapi aku melihat hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa dia hamil, apa kamu sedang membohongi ku?" Raut wajah Zia berubah kecewa saat mengatakannya.
Elisa yang mendengar ucapan Zia merasa heran. Dirinya yang sudah mengatakan pada David, bahwa pasiennya yang bernama Jesica positif hamil merasa aneh saat mendengar, jika David berbohong pada Zia.
Mendengar pertanyaan dari Zia, membuat David benar-benar tidak bisa mengatakan apa-apa. David merasa sangat bersalah karena membohongi Zia.
"Apa sebenarnya kamu tidak menanyakan pada dokter kandungan yang menangangi Jesica?" Tanya Zia sedikit kesal.
"David sudah menanyakannya pada ku," ucap Elisa saat mendengar pertanyaan yang di ajukan Zia pada David.
Zia langsung menatap Elisa, saat ternyata dokter kandungan Jesica, adalah wanita di hadapannya. "Jadi kamu yang menangani adikku?" Tanya Zia memastikan.
"Aku memang yang menangani adik mu. Dan aku juga yang tidak memberikan informasi mengenai pasien ku, karena itu adalah rahasia pasien. Jadi jika dokter David berbohong mungkin dia memiliki alasan sendiri." Elisa yang melihat Zia memojokkan David pun, mencoba membela David.
"Apa itu benar?" Tanya Zia menatap David.
"Maafkan aku zi, aku tidak bermaksud membohongimu. Tapi itu memang rahasia pasien yang harus di jaga. Dan aku berbohong padamu, agar kamu tidak terlalu memikirkan masalah Jesica." David menatap Zia penuh harap. Di berharap Zia mengerti penjelasannya, dan memaafkannya.
Zia tidak bisa menyalahkan David yang tidak bisa mendapatkan infomasi. Tapi memilih membohonginya, masih terasa berat di terimanya.
"Maafkan aku zi," ucap David mengenggam tangan Zia.
Zia yang melihat David mengenggam tangannya, langsung menarik tangannya lembut. "Iya aku memaafkanmu." Zia tidak punya pilihan, saat David berusaha meyakinkannya.
Mendapatkan maaf dari Zia, membuat David merasa lega. Dia tidak mau sampai Zia membencinya, karena telah membohonginya.
Elisa yang melihat pemandangan di hadapannya, merasakan sesak di dadanya. Elisa melihat jelas, bagaimana David meyakinkan Zia dengan penuh harap. Dia bisa menyimpulkan, bahwa David memiliki rasa pada Zia.
"Aku juga minta maaf sudah menganggu makan siang kalian. Kalau begitu aku akan kembali ke butik." Zia akhirnya memilih berpamitan, setelah mendapat informasi dari David.
"Kamu kemari naik apa zi?" Tanya David.
"Tadi aku naik taxy."
"Biarkan aku mengantarmu ke butik," ucap David pada Zia.
Elisa tersentak saat mendengar David akan mengantar Zia, padahal dia sudah menerima ajakannya untuk pergi menonton.
David langsung beralih pada Elisa. "Maaf kan aku Elisa. Aku akan menemanimu menonton lain waktu saja."
"David, kamu tidak perlu mengantarku jika kamu memiliki janji dengan Elisa." Zia yang merasa tidak enak pun menolak tawaran David.
"Tidak apa zi, kebetulan aku baru ingat jika aku ada janji," jawab Elisa seraya menahan sesaknya.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi," ucap Zia berlalu meninggalkan Elisa.
David yang masih di belakang, menatap Elisa. "Terimakasih Elisa," ucap David tersenyum pada Elisa.
"Sama-sama."
"Sampai jumpa Elisa," ucap David seraya berlalu meninggalkan Elisa.
"Ternyata kamu sudah memiliki wanita yang menempati hati dokter David." Elisa hanya bisa menahan sakitnya di dalam hatinya, melihat pria yang di cintainya, mencintai wanita lain.
__ADS_1