Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Aku merindukan mu


__ADS_3

Zia mengerjap saat suara dering ponsel berbunyi. Dia meraba nakas mengambil ponselnya. Dengan masih mengantuk Zia mengusap layar ponselnya mengangkat sambungan telepon. "Halo." Suara Zia serak khas bagun tidur menjawab sambungan telepon.


"Halo." Suara bass terdengar dari sambungan telepon


Mata Zia langsung terbuka sempurna saat mendengar suara bass pria dari sambungan telepon. "Ar," panggil Zia memanggil siapa orang yang di sambungan telepon.


"Apa." Arga menjawab dengan ketus.


Zia yang medengar ucapan ketus Arga merasa bingung, kenapa Arga bersikap seperti itu. " Ar, kenapa kamu menjawabku seperti itu?" Zia yang bingung akhirnya bertanya.


"Kenapa kemarin kamu tidak menjawab telepon dari aku?" Arga begitu kesal mengingat saat dia menghubungi.


"Kemarin ada ayah dan bunda kemarin ar. Jadi aku sibuk menemani mereka. Dan aku baru tahu kalau kamu menghubungi saat malam. Aku mencoba kembali menghubungimu tapi kamu tidak membalas." Zia menceritakan apa yang sebenarnya kemarin.


"Ayah dan bunda kesana?" Tanya Arga kaget saat mendengar hal itu.


"Iya."


"Ya sudah, aku terima alasanmu. Tapi aku tetap masih kesal."


"Kenapa kamu kesal. Harusnya aku yang kesal. Seharian aku menunggumu menghubungi, tapi sampai malam kamu baru menghubungi. Apa sebegitu sibuknya sampai kamu melupakan aku." Zia tidak kalah kesal pada Arga.


Arga yang mendengar ucapan Zia tidak menjawab, dan malah mematikan sambungan telepon. Zia yang melihat sambungan telepon mati, melihat layar ponselnya. "Kenapa di matikan?"


Tapi baru saja Zia bergumam, ponsel Zia berdering kembali, dan yang masuk adalah sambungan vidio. Zia langsung mengusap layar ponselnya. "Kenapa kamu menganti menjadi vidio call ?" Tanya Zia sedikit menutupi wajahnya di balik selimut.


"Aku mau melihat wajahmu saat merajuk."


"Siapa yang merajuk," elak Zia.


"Untuk apa kamu menutupi wajahmu. Buka! " Perintah Arga.


"Aku baru bangun tidur ar, wajahku pasti jelek." Zia yang tidak mau Arga melihat wajah jeleknya menutupi dengan selimut.


"Aku sudah sering melihat mu bangun tidur. Jadi aku sudah sering melihat wajah jelekmu," ucap Arga. " Buka!" Perintahnya dengan tegas pada Zia.


Zia yang mendengar perintah Arga langsung menurunkan selimutnya.


"Memang wajahmu jelek," ledek Arga pada Zia.


Zia yang mencebikkan bibirnya saat mendengar Arga meledekanya.


Arga langsung tergelak saat melihat Zia mencebikkan bibirnya. "Aku rasanya ingin pulang, dan langsung mencium mu jika kamu mencebikkan bibir seperti itu."


Zia langsung tersenyum. "Aku merindukanmu ar."


"Aku juga merindukkan mu," ucap Arga tersenyum juga. "Apa Dave menjemput mu kemarin?" Arga yang teringat dengan Dave mencoba menanyakannya.


"Iya, dia menjemput ku di pagi hari dan sore hari dia mengantar ku," ucap Zia. "Tapi kenapa kamu harus merepotkannya ar?"

__ADS_1


"Dia menjalankan tugas sebagai asistenku, jadi dia tidak akan merasa di repotkan. Lagian aku tidak mau kamu di jemput atau di antar pria lain. Apalagi Adrian itu." Arga berkata dengan ketus pada Zia.


"Iya."


"Ya sudah sekarang tidurlah. Aku akan melanjutkan perkerjaan," ucap Arga ingin mengakhiri sambungan telepon. "Jaga diri baik-baik. Jangan pulang atau pergi sendiri tanpa Dave. Dan jangan dekat-dekat pria lain."


Zia manatap sinis pada Arga. "Iya." Zia memilih mengiyakan saja permintaan Arga, dari pada akan menjadi perdebatan yang tidak akan di menangkan oleh dirinya juga.


"Da...ar." Zia melampaikan tangan, mengakhiri sambungan telepon.


"Tunggu, berikan aku kecupan sedikit," ucap Arga menunda mengakhiri sambungan telepon.


Muach..


Malu-malu Zia mengecup dari sambungan vidio call.


Arga tersenyum mendapati ciuman jauh dari Zia. "Da zi," ucap Arga, dan mematikan sambungan telepon.


Setelah Arga mematikan sambungan telepon. Zia melanjutkan tidurnya, karena jam masih menunjukan pukul dua. Rasanya Zia lega sekali, saat sudah bisa mendengar suara Arga.


**


Saat pagi hari seperti biasa Zia menyiapkan sarapan untuk ayahnya dan Kaisar. Setelah sarapan bersama dengan ayahnya dan Kaisar, Zia bersiap mengantar ayahnya ke rumah sakit, untuk mengecek kondisi jantung ayahnya.


Tadi pagi Zia juga sudah menghubungi Dave, untuk tidak menjemputnya. Karena dia ingin mengantar ayahnya terlebih dahulu. Zia akhirnya memilih mengantar ayahnya dengan mengendarai mobilnya sendiri.


Setelah cukup lama menunggu, perawat memanggil nama ayah Zia untuk masuk. Zia pun membantu ayahnya untuk masuk ke dalam.


"Pagi Pak Adhi, pagi zi," sapa David saat mereka masuk ke dalam ruangan David.


"Pagi dokter David." Zia dan ayahnya membalas sapaan David.


David langsung memeriksa keadaan Ayah Adhi. Dan Zia menunggu di kursi di depan meja praktek David.


Setelah David memeriksa ayah Zia. Dia kembali ke mejanya. "Keadaan Pak Adhi sudah lebih baik. Hanya tinggal menjaga saja. Hindari pikiran terlalu berat." David memberikan saran pada ayah Zia.


"Terimakasih dok," ucap Adhi pada David.


Setelah David meresepkan beberapa obat, Zia dan ayahnya pun keluar dari ruang praktek David.


Zia langsung menyerahkan resep obat di apotek di rumah sakit dan menunggu obat di siapkan.


"Zia ke toilet dulu ya yah." Zia yang ingin ke toilet meminta izin pada ayahnya. Ayah Adhi pun mengangguk mengizinkan Zia.


Zia melangkah mencari toilet. Dia mengedarkan pandangan mencari pentunjuk toilet berada. Setelah mendapat arah kemana toliet, Zia mengikuti dan masuk ke dalam toilet, setelah menemukan toilet.


Setelah selesai Zia keluar dari toilet dan melangkah kembali menghampiri ayahnya. Tapi langkah Zia terhenti saat dia melihat Jesica di rumah sakit yang sama.


Saat melihat Jesica, Zia berpikir untuk menanyakan kabar Tante Lidia pada Jesica. Akhirnya Zia memilih untuk mengikuti Jesica dari belakang.

__ADS_1


Tapi langkahnya terhenti saat Jesica masuk ke dalam ruang prakter dokter kandungan. Zia mengerutkan dahinya, heran untuk apa Jesica masuk ke dalam ruang prakter dokter kandungan. Tapi Zia tidak mau berburuk sangka, karena dia tahu, tidak semua orang datang ke dokter kandungan untuk konsultasi kandungan.


Karena penasaran Zia ikut menunggu Jesica keluar dari ruang praktek dokter. Sampai saat Jesica keluar, Zia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Jesica.


Tapi langkahnya terhenti lagi saat perawat keluar dari ruangan dokter dan mengatakan ada resep untuk mengurangi mual saat kehamilan yang tertinggal. Seketika mata Zia membulat sempurna, saat mendengar ucapan perawat.


Bukan karena apa Zia kaget. Karena setahu Zia, Jesica belum menikah. Zia masih membeku mencerna apa yang di dengarnya. Sampai saat ada yang menepuk bahunya.


"Zi." Panggil sesorang seraya menepuk bahu Zia.


Zia langsung menoleh saat ada yang menepuk bahunya. Dan mendapati David lah yang menepuk bahunya.


"David, kamu mengagetkanku." Zia yang sedang fokus pada Jesica memang merasa kaget.


"Kamu kenapa melamun seperti itu." David yang tidak sengaja lewat, melihat Zia sedang melamun. Akhirnya dia memilih untuk menghampiri.


"Aku.." Zia sedikit bingung bagaimana menjelaskan. Tapi sejenak dia ingat kalau David adalah dokter di rumah sakit ini. Jadi dia bisa mendapatkan informasi untuk dirinya. "David, bisakah aku meminta tolong?" Tanya Zia ragu-ragu.


David sedikit kaget saat Zia meminta tolong padanya. "Apa?"


"Aku tadi melihat Jesica berkunjung ke dokter kandungan. Bisakah aku dapat informasi untuk apa dia kesana?" Zia yang tidak mau berburuk sangka memilih memastikan terlebih dahulu.


David yang mendengar ucapan Zia membulatkan matanya, di benar-benar kaget mendengar Jesica ke dokter kandungan. Tapi yang lebih membuatnya kaget adalah saat Zia memintanya mencari informasi. "Tidak semua data pasien bisa di lihat sembarangan zi," David lebih memilih mengelak permintaan Zia, dengan alasan yang masuk akal.


"Aku tahu, tapi mungkin kamu kenal dokter kandunganya, dan bisa menanyakannya. Aku mohon." Zia menatap David penuh harap. Dia benar-benar berharap David mau membantunya.


"Untuk apa jika kamu tahu zi?" David masih tidak habis pikir dengan Zia yang begitu ingin tahunya kenapa Jesica ke dokter kandungan.


"Kamu tahu bukan, ayah baru saja sembuh. Aku hanya berjaga-jaga kemungkinan terburuk. Agar ayah tidak terkena serangan jantung lagi." Zia menjelaskan pada David alasan sebenarnya.


David menimbang-nimbang permintaan Zia. Kalau niat Zia untuk ayahnya. Mungkin David bisa memahami. "Baiklah." Akhirnya David mengiyakan permintaan Zia.


"Terimakasih." Zia tersenyum manis pada David saat mengucap terimakasih.


Melihat senyum Zia, rasanya David menyesali kenyataan bahwa Zia sudah menikah. David merasa kenapa sulit sekali menerima kenyataan ini.


Akhirnya setelah permintaannya di setujui oleh David. Zia langsung berpamit dengan David, karena ayahnya sudah menunggu.


Zia langsung kembali ke apotek rumah sakit menyusul ayahnya.


"Kamu kemana saja?" Tanya Ayah Adhi yang menunggu cukup lama Zia yang ke toilet.


"Maaf yah, perut Zia tadi sakit," ucap Zia berbohong. Dia tidak mau ayahnya tahu kenapa dia tadi lama ke toilet.


"Ya sudah ayo pulang."


Ayah Adhi pun mengajak pulang Zia. Dan Zia mengangguk dan mengandeng lengan sang ayah menuju parkiran mobil rumah sakit.


Zia langsung melajukan mobilnya menuju rumah ayahnya, sesaat setelah Zia dan ayahnya masuk.

__ADS_1


__ADS_2