Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Sebaiknya kamu mencari tahu


__ADS_3

Setelah penyatuan mereka yang terjadi cukup lama, Arga mulai memejamkan matanya, rasa kantuknya sudah tak tertahan lagi. Sebenarnya dia merasa lelah hari ini, tapi melihat Zia, seolah semua lelahnya sirna.


"Ar," panggil Zia yang belum mengantuk, dan sedang bermain-main di dada polos Arga, mengambar pola-pola abstrak disana.


"Emm," Arga yang begitu sangat mengantuk, membuatnya malas menjawab.


"Apa kamu memiliki kekasih waktu di London?" Zia yang mengingat ucapan Jesica beberapa hari yang lalu, mengenai masa lalu Arga di London, membuatnya mengajukan pertanyaan pada Arga. Dia ingin tahu dulu Arga seperti apa.


Cukup lama Zia menunggu Arga menjawab, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut Arga.


Zia menengadah, melihat wajah Arga untuk mengetahui, kenapa dia tidak menjawab pertanyaannya. Dan benar saja, Arga sudah tidur, saat Zia bertanya padanya, "Ternyata dia tidur." gumamnya mencebikan bibirnya.


Ada rasa kesal di hati Zia saat melihat Arga yang tidur, saat dia ingin sekali bertanya. Akhirnya Zia memilih, untuk menyusul Arga untuk tidur juga.


**


"Berjanjilah kamu akan sarapan di kantor," ucap Zia pada Arga saat sampai di parkiran mobil.


Zia yang meminta Arga berangkat pagi ke rumah sakit, harus merelakan tidak sarapan terlebih dahulu di apartemen. Zia yang merasa tidak enak dengan Adrian, membuatnya cepat-cepat ke rumah sakit.


"Iya, dan kamu juga sempatkan sarapan, saat menjaga ayah nanti," seru Arga tak kalah mengingatkan Zia, dan Zia pun membalas senyuman.


Zia mencium pipi Arga, dan langsung berbalik untuk membuka pintu mobil. Zia pun keluar dari mobil Arga, dan melambaikan tangannya pada Arga yang sedang melajukan mobilnya.


Zia berjalan menuju ruang rawat ayahnya, dan membuka pintu sesampainya disana.


"Pagi," sapa Zia seraya membuka pintu.


Saat Zia masuk, dia melihat ayahnya baru saja selesai sarapan, dan hendak minum obat.


"Pagi zi," ucap ayah Zia tersenyum pada putrinya.


Zia melangkahkan kakinya menghampiri ayahnya yang sedang berbaring.


"Hari ini Pak Adhi sudah boleh pulang zi." Adrian yang duduk di sofa, memberi tahu Zia perihal informasi yang di perolehnya dari dokter.


Mendengar suara Adrian, membuat Zia menoleh. Dan Zia mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan Adrian.


"Apa tante Lidia akan kemari menjemput ayah," ragu-ragu Zia memberanikan diri bertanya pada ayahnya.

__ADS_1


"Sepertinya tidak, dia masih menjaga ibunya."


Zia bersyukur, bahwa nanti dia tidak akan bertemu dengan Lidia, saat ayahnya sudah boleh pulang.


Setelah minum obat Adhi memejamkan mata dan beristirahat. Zia masih menemani Adhi, hingga sang ayah tertidur pulas.


"Mau mencari sarapan bersama ku zi, aku rasa pak Adhi sudah tertidur pulas," Adrian yang hendak mencari sarapan, mencoba mengajak Zia, setelah melihat Adhi.


Zia menimbang-nimbang ajakkan Adrian. Dia ingat betul pesan Arga yang memintanya menjauhi Adrian, tapi rasanya dia tidak enak menolak, lagi pula Zia juga merasa lapar.


"Baiklah," Zia akhirnya memutuskan untuk ikut bersama Adrian, Zia pikir Arga tidak akan tahu, karena dia sedang berada di kantor.


Mereka berdua menuju restoran dekat rumah sakit. Sesampainya disana, Zia memesan coklat dan cake, sedangkan Adrian memesan secangkir espresso coffe.


"Apa kamu sudah lama menikah dengan Arga zi?" Adrian membuka pembicaraan dengan berbasa-basi menanyakan pada Zia, walaupun sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.


"Belum."


"Aku dengar kalian di jodohkan," tanya Adrian lagi.


"Iya," sebenarnya Zia selalu malas saat di tanya tentang pernikahan perjodohannya. Orang selalu mengira tak ada cinta di dalam pernikahan itu, dan Zia tidak suka.


"Apa kamu mengenal Arga sebelumnya?" Adrian yang di minta untuk mencari informasi oleh Adhi, tentang hubungan Arga dan Jesica, merasa sangat kasihan dengan Zia, yang tidak tahu kelakuan suaminya.


"Setelah SMA?"


Zia menatap pada Adrian, "Maksud mu?" Zia meminta Adrian memperjelas pertanyaannya.


"Maksudku setelah SMA, apa kamu mengenalnya dekat?" Adrian memperjelas pertanyaannya.


Zia menautkan alisnya bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Adrian. Tapi sejenak Zia mengingat pertanyaan seperti ini pernah di ajukan oleh Jesica juga. Zia hanya berfikir, kenapa semua orang bertanya tentang kehidupan Arga setelah lulus SMA, dan sebelum menikah dengannya.


"Tidak, karena Arga kuliah di London,"


"Sebaiknya kamu mencari tahu lebih banyak tentang suamimu zi," ucap Adrian tanpa sadar.


"Memangnya apa yang harus di cari tahu," ucap Zia acuh, dan mulai tidak suka dengan ucapan Adrian.


"Ya mungkin saja, dulu dia tidak baik,"

__ADS_1


Mata Zia menajam menatap Adrian. " Jangan mengajariku untuk tahu siapa suamiku sebelum dia bertemu dengan ku, dan jangan merasa lebih tahu baik buruk suami, " hardik Zia dengan suara sudah meninggi. Zia yang merasa tidak suka dengan pertanyaan Adrian, yang berujung pernyataan bahwa Arga tidak baik, meluapkan emosinya.


"Jangan melebihi batas mu Adrian," ucap Zia mendorong kursi yang di duduki seraya berdiri, "Aku permisi."


Adrian yang melihat Zia pergi, menyesali kenapa dia mengatakan hal itu lebih dulu. Dia sadar, bahwa Zia masih belum tahu bahwa Arga ada hubungan dengan Jesica. Jadi pantas saja dia akan membela suaminya.


**


Zia yang kesal dengan Adrian memutuskan untuk pergi, meninggalkan Adrian.


"Kenapa semua orang bertanya tentang bagaiman Arga saat di London," grutu Zia sepanjang jalan ke arah ruang rawat ayahnya.


"Dia mengatakan Arga tidak baik, dia pikir siapa dia, kenapa dia seolah lebih tahu hidup Arga," Zia tidak berhenti mengrutu sepanjang jalan.


Langkahnya begitu cepat di iringi hentakkan yang keras, karena dia benar-benar meluapkan kekesalannya.


Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, dan grutuannya juga berhenti, saat dia menabrak tubuh kekar, di depannya. Zia yang tidak fokus membuatnya menabrak, orang di depannya.


"Aduh," Zia terpental ke lantai, karena tubuhnya kalah kuat, dari tubuh kekar orang yang di tabraknya.


"Zia."


Zia yang mendengar pria itu memanggil namanya, menengadah, "David."


"Kamu tidak apa-apa?" tanya David seraya mengulurkan tanganya, untuk membantu Zia bangun


"Tidak," ucap Zia seraya menerima uluran tangan David.


"Kamu kenapa jalan terburu-buru seperti itu?"


"Tidak apa-apa," jawab Zia masih menekuk wajahnya, sedikit mencebikan bibirnya. Rasa kesalnya belum hilang, tapi malah bertambah saat ada orang yang menanyainya.


David yang melihat wajah Zia terlihat kesal, merasa sangat lucu. David begitu senang melihat Zia yang kesal, dengan mencebikan bibirnya dan menekuk wajahnya.


"Lihatlah wajahmu, terlihat jelek sekali saat sedang kesal, "David mencoba meledek Zia.


Zia langsung menajamkan pandangannya, "Siapa yang kesal." elaknya.


"Kenapa sebenarnya zi," suara David melembut, menanyakan kenapa wanita di depannya ini.

__ADS_1


Emosi Zia sedikit mereda saat mendengar suara David yang lembut. "Tidak apa-apa," jawab Zia mengelak.


"Apa kamu tahu bagaimana kehidupan Arga di London?" pertanyaan itu terlintas saat dia mengingat David, adalah teman dekat Arga. Dan pasti dia tahu semua tentang Arga.


__ADS_2