
Arga membuka perlahan matanya. Setelah semalam dia menghabiskan waktu, dengan pergumulan panjang bersama Zia. Dia merasa matahari begitu cepat menampakkan dirinya dan memberikan sinarnya. Hingga merasa, waktu bersama dengan Zia cepat sekali berlalu.
Di pandangnya Zia lekat, rasanya dia masih berat untuk meninggalkan wanita yang sekarang di hadapannya itu. "Pagi ," sapa Arga yang melihat Zia mengerjap.
"Kamu sudah bangun ar?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya."
"Jam berapa kamu nanti berangkat?" Zia yang mengingat Arga hari ini berangkat mencoba menanyakan lagi.
"Aku akan berangakat malam, dan aku akan ke kantor sebentar, mengurus semua perkerjaan disini terlebih dahulu." Arga menyadari kepergiannya secara tiba-tiba, pasti akan membuat perkerjaan berantakan.
"Kalau begitu biarkan aku pulang ke apartemen, untuk mengemasi pakaianmu."
"Baiklah, aku akan mengantarmu lebih dulu ke apartemen sebelum ke kantor."
Mereka berdua pun bangun dan bersiap. Setelah selesai mereka berdua keluar dari kamar, dan menuruni tangga menuju meja makan. Saat di meja makan sudah ada Ayah Adhi dan Kaisar.
"Pagi," sapa Zia seraya menarik kursi, dan duduk.
"Pagi kak," sapa Kaisar dengan ceria.
"Pagi zi," ucap Ayah Adhi pada Zia. Adhi pun beralih pada Arga, dia menatap tajam pada Arga, tanpa menyapa sama sekali.
Mereka pun makan bersama-sama. Sesakali Kaisar berceloteh menceritakan banyak hal dan mengisi kehampaan ruang makan. Anak usia 6 tahun itu begitu kritis, hingga membuat banyak sekali pertanyaan di lontarkan.
"Apa kamu jadi ke London hari ini?" Ayah Adhi membuka suaranya bertanya pada Arga.
"Jadi yah." Arga menjawab dengan menatap Ayah Adhi sebentar, dan kembali menunduk fokus pada makananya. Rasanya dia masih tidak berani berlama-lama menatap mertuanya itu. Keberaniannya seketika menguap, apa lagi mengingat bagaimana Ayah Adhi memintanya pergi kemarin.
"Yah, pagi ini Zia akan ke apartemen sebentar, untuk mengemasi barang-barang Arga," ucap Zia saat mendengar ayahnya, sedang bertanya tentang kepergian Arga.
"Pergilah." Adhi mentap lekat putrinya. Adhi bisa melihat guratan-guratan kesediahan di wajah Zia, begitu terpampang nyata. Adhi tahu, putrinya begitu sedih melepas suaminya pergi. Tapi Adhi merasa ini lah, cars untuk menyelamatkan putrinya.
Setelah Adhi selesai makan, Zia menemani ayahnya untuk ke kamar dan memberi obat. Meninggalkan Arga dan Kaisar di meja makan, karena mereka masih menikmati sarapan mereka.
__ADS_1
"Hai jagoan," panggil Arga pada Kaisar.
Kaisar yang merasa di meja makan hanya ada dirinya pun menengadah mentap Arga.
Arga yang melihat binar mata polos, dari kedua bola mata anak di depannya tersenyum. "Bisakah aku meminta tolong."
"Apa ?" Tanyanya acuh.
"Aku akan pergi, bisakah kamu menjaga kakakmu untuk ku?" Arga tau bahwa anak kecil di depannya itu begitu menyanyangi Zia, dan dia yakin bahwa kaisar akan menjaga Zia saat dia tidak ada.
"Aku akan menjaga Kak Zia," ucapnya seraya memasukan sereal dengan susu, makanan kesukaannya, ke dalam mulutnya.
Arga tersenyum pada Kaisar, "Oke, janji pria sejati," ucapnya mengulurkan tangannya dan membuat perjanjian.
Tangan kecil itu pun membalas uluran tangan Arga. "Oke."
"Kai..ayo cepat, nanti kamu terlambat." Teriak Zia saat melangkah ke meja makan. Zia langsung menghampiri Kaisar, dan mengantarkannya untuk ke mobil.
Kaisar dengan santainya mengambil tasnya, yang di letakkan di kursi samping tempatnya duduk, dan berlalu ke luar. Di luar dia sudah di tunggu oleh supir Ayah Adhi. Kaisar pun masuk ke dalam mobil. "Da Kak Zia." Dia melambaikan tangannya pada Zia.
Arga pun berdiri, dan melangkah bersama Zia menuju mobilnya, yang terparkir di depan rumah.
Sesampainya di apartemen, Arga mengantarkan Zia masuk ke dalam apartemen. "Aku akan ke kantor sebentar saja, setelah itu aku akan pulang." Arga mengecup kening Zia, dan Zia menangguk.
Arga pun berlalu keluar apartemen menuju ke kantornya.
**
"Loe gila mau pergi ke London?" Sergah Dave yang mendengar Arga akan ke London.
Sesampainya Arga di kantor, dia langsung memanggil Dave dan menceritakan semua. Dave adalah orang pertama yang dia ceritakan semuanya. Bagi Arga, hanya Dave yang bisa di mintai pertolongan saat ini.
"Ayah Adhi minta gue pergi." Arga yang berucap benar-benar pasrah.
"Iya gue tahu tapi... " Dave tidak melanjutkan ucapannya, dan melanjutkannya dengan menghembuskan nafas kasar. Dave benar-benar tidak tahu, kenapa temannya itu mengambil keputusan itu.
__ADS_1
"Loe alasan apa ke Zia?" Dave tahu pasti, Arga tidak akan mengatakan alasan sebenarnya, untuk apa kepergiannya pada Zia.
"Gue bilang, kalau gue ada kerjaan." Arga memijat keningnya. Rasanya dia pusing menghadapi semuanya.
"Gue nggak bisa bilang apa-apa ar, kalau emang itu dah keputusan loe. Gue bakal bantu kerjaan loe disini." Dave hanya bisa pasrah dengan keputusan Arga, dan membantu sebisanya.
"Gue juga nitip Zia ya, Dave." Arga menatap Dave penuh pengharapan.
Dave melihat Arga meminta dengan penuh harap, rasanya bukan seperti Arga yang dia kenal. "Gue nggak bisa janji ar, tapi gue bakal usahain buat jaga Zia." Dave tahu temannya ini sebenarnya berat meninggalkan Zia. "Loe kapan berangkat?"
"Nanti malam," ucapnya. "Jadi gue pulang dulu ya." Arga berdiri dan melangkah menuju pintu ruangannya.
Dave yang melihat Arga berdiri, juga ikut berdiri. "Semua akan baik-baik saja." Dave menepuk bahu Arga memberi semangat. Dave hanya bisa membatin, baru kali ini dia melihat Arga selemah itu.
**
Setelah dari kantor, Arga langsung melajukan mobilnya menuju ke apartemen. Dia membuka pintu apartemen, dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, dia melihat Zia yang sedang duduk bersimpuh, memasukkan beberapa baju ke dalam koper.
"Ar, kamu sudah pulang?" Tanyanya dengan mengembangkan senyum di wajahnya.
Arga yang melihat senyum Zia, hanya membatin dalam hatinya, apakah dia akan melihat senyum itu lagi.
"Ar.." panggil Zia yang melihat Arga diam dan melamun.
"Hah... Ya." Arga yang tersentak saat Zia memanggilnya.
Zia langsung berdiri, dan menghampiri Arga. "Kamu kenapa?"
Arga yang melihat Zia berdiri dan bertanya, langsung memeluk Zia. Arga benar-benar merasa selemah ini, saat di hadapkan dengan Zia.
Zia yang melihat Arga memeluknya sedikit kaget. Tapi dia tersadar, Zia berfikir mungkin Arga berat untuk pergi ke luar negeri. "Ar.." panggil Zia.
"Izinkan aku memelukmu." Satu kalimat yang lolos dari bibirnya.
__ADS_1
Zia pun hanya bisa membiarkan Arga memeluknya.