Jodoh Cinta Lama

Jodoh Cinta Lama
Apa ini?


__ADS_3

Sesuai apa yang di katakan Arga, bahwa mereka akan tinggal di rumah ayah Adhi. Malam ini Arga dan Zia mengemasi barang-barang mereka.


"Tidak perlu membawa baju terlalu banyak, nanti kita bisa pulang saja untuk mengambil baju lagi kalau kurang," ucap Arga yang melihat Zia memasukkan baju di koper.


Zia yang sedang bersimpuh di lantai mengemasi pakaiannya, menengadah melihat ke arah Arga. Zia berpikir, benar apa yang di katakan oleh Arga, bahwa dirinya tidak perlu membawa barang terlalu banyak. Akhirnya dia mengeluarkan beberapa pakaiannya dari koper, dan memasukkannya kembali ke lemari.


Setelah selesai Zia menyusul Arga yang duduk bersandar pada headboard tempat tidur. "Apa kamu tidak apa-apa tinggal di rumah ayah?" Zia tahu bahwa jarak rumah ayahnya cukup jauh ke kantor Arga.


Arga yang sedang memainkan ponselnya menoleh pada Zia. "Demi dirimu aku tidak keberatan."


Walapun Arga mengucapkannya dengan datar, Zia merasa senang saat Arga mengatakan hal itu pada Zia. "Terimakasih, ar," ucap Zia pada Arga.


"Hanya terimakasih," sindir Arga pada Zia.


"Lalu apa?"


Arga memiringkan tubuhnya, memandang kedua bola mata Zia. Rasanya Arga benar-benar merindukan kehangatan tubuh Zia. Tapi seketika dia menepis pikirannya. Janjinya pada Zia tidak mau dia ingkari. "Tidak," ucap Arga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan langsung menarik selimut. Dia menahan gejolak dalam dirinya, dan memilih memejamkan matanya.


Senyum Zia tertarik di ujung bibirnya. Dia tahu, Arga sedang menahan dirinya untuk tidak menyentuhnya. Zia menundukkan tubuhnya, dan mencium Arga tepat di pipi Arga. "Terimakasih, ar," ucap Zia sesaat setelah mencium pipi Arga.


Mendapat kecupan dari Zia membuat Arga membuka matanya kembali. Seperti remaja baru mendapatkan sebuah ciuman, hati Arga merasa sangat senang.


Zia yang malu karena mencium Arga, langsung menarik selimut dan menutupi wajahnya yang memerah. Zia memilih membelakangi Arga, karena tidak berani melihat wajah Arga.


Senyum Arga tertarik di ujung bibirnya, saat melihat aksi Zia yang menciumnya. Ada perasaan ingin meminta lebih pada Zia, tapi Arga tak mau Zia merasa tidak nyaman. Pikir Arga mungkin kali ini adalah awal baik saat Zia memberikan ciuman untuknya.


Perlahan Arga memejamkan kembali matanya, menyusul Zia yang sudah nampak tertidur.


**

__ADS_1


Pagi ini saat Zia bagun tidur, dia sudah tidak menemukan Arga di sebelahnya. Zia menyibak selimutnya dan mencari Arga keluar kamar. Saat Zia keluar kamar, dia mencium aroma masakan dari dapur. Zia pikir, pasti Arga memasak lagi pagi ini.


Zia melangkah mendekat ke arah dapur. Tapi tiba-tiba indera penciuman Zia, mencium aroma yang membuatnya tiba-tiba mual. "Ar, apa yang kamu masak?" tanya Zia seraya menutup hidung dan mulutnya.


Zia yang mendengar ucapan Zia, menoleh. "Aku masak nasi goreng lagi, zi."


"Tapi kenapa bau sekali."


"Bau?" kening Arga berkerut dalam saat mendengar ucapan Zia.


Zia yang sudah tidak tahan pun, meninggalkan Arga dan berlalu ke kamar mandi. Dia langsung memuntahkan isi perutnya ke dalam wastafel.


Arga yang melihat Zia muntah pun, mengejar Zia ke kamar mandi. "Zi, kamu kenapa?" tanya Arga. Arga langsung membantu memijat tengkuk Zia.


Rasanya perut Zia begitu mual, entah kenapa tiba-tiba saja itu terasa. "Kamu masak nasi goreng pakai api sih, Ar?" Zia yang baru saja membasuh mulutnya menegakkan badannya.


Arga mengingat-ingat bahan apa yang dia campurkan tadi. "Aku hanya menambahkan udang saja."


"Aku akan ambilkan minum." Arga keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mengambil air minum untuk Zia.


Zia yang berbaring, memikirkan apa yang membuat dirinya mual. Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, bukan tidak tahu apa yang mungkin akan terjadi.


Seketika Zia teringat alat test kehamilan yang di berikan mertuanya. Zia langsung mengambil alat test kehamilan, di dalam nakas dan kembali ke kamar mandi.


Sesampainya di dalam kamar mandi, Zia membuka alat test kehamilan, dan memakainya sesuai petunjuk pengunaan yang tertera di kemasan.


Arga yang baru saja mengambil minum, melihat Zia tidak ada di tempat tidur. Mata Arga memindai, dan melihat kamar mandi yang tertutup pun menduga, bahwa Zia sedang di dalam kamar mandi. Arga melangkah dan mengetuk kamar mandi. "Zi, apa kamu muntah lagi?" panggil Arga seraya bertanya.


Cukup lama Arga menunggu di depan pintu kamar mandi, tapi dia tidak mendengar suara muntah dari Zia. Rasa panik, langsung menghampiri Arga. "Zi, apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


Zia yang berada di kamar mandi, masih menunggu alat test kehamilan itu berkerja. Kedua bola mata Zia membulat, saat tahu garis dua yang menunjukan bahwa dirinya hamil. Cukup lama Zia terpaku pada test kehamilan, sampai suara Arga terdengar dari balik pintu. Akhirnya Zia memilih untuk keluar dari kamar mandi.


"Zi, kamu tidak apa-apa?" tanya Arga saat pintu kamar mandi terbuka.


Zia menggeleng saat mendapat pertanyaan dari Arga. "Aku baik-baik saja."


"Lalu apa yang kamu lakukan di dalam?"


Zia tidak menjawab, tapi memberikan sesuatu pada Arga.


"Apa ini?" tanya Arga seraya menerima benda yang di berikan Zia.


Kening Arga langsung berkerut dalam, saat melihat benda pipih di pegangnya. Arga melihat dengan seksama benda itu. "Dua garis artinya kamu hamil?" tanya Arga memastikan pada Zia.


Zia pun mengangguk. Zia merasa masih sangat kaget melihat bahwa dirinya hamil.


"Kamu hamil, zi?" tanyanya lagi dan langsung memeluk Zia. Arga langsung menangkup wajah Zia dan mencium Zia bertubi-tubi. Rasanya Arga senang sekali mendengar bahwa Zia sedang hamil.


Zia yang melihat Arga menciuminya, seolah lupa dengan kemarahannya, lupa dengan waktu yang di mintanya pada Arga.


"Apa kamu tidak senang?" tanya Arga yang melihat Zia hanya diam saja.


"Aku hanya masih tidak percaya, Ar." Zia menatap Arga, dan tiba-tiba langsung memeluk Arga. "Kita akan punya anak, Ar." tanya Zia pada Arga di sertai tangisan.


"Iya zi, kita akan jadi ayah dan bunda." Arga membelai punggung Zia, dan mendaratkan ciuman di bahu Zia.


"Kita akan periksa ke rumah sakit, setelah ini," ucap Arga seraya melepas pelukan pada Zia.


Zia hanya mengangguk, menuruti ucapan Arga.

__ADS_1


Mata Arga langsung tertuju pada perut rata Zia. Rasanya dia tidak menyangka, bahwa di dalam sana ada anaknya dan Zia.


__ADS_2