
Kini kedunya saling berhadapan duduk diatas sofa. Erina semakin tidak mengerti akan perasaanya sendiri. Hatinya senang tapi dia bingung apa yang harus dia katanya pada dimas mulutnya seakan terkunci rapat.
Dimas terus menatap gadis yang sudah ia nikahi selama hampir 4 bulan dan belum pernah dia sentuh sedikit pun.
" are you ok er..........." dimas meletakan kedua tanganya pada pipi erina.
Membelainya dengan lembut membuat erina samakin panas dingin dan semakin deg-degkan.
" Errr.........kenapa wajah mu jadi panas kamu masih sakit "
" Gak..........mas....." erina langsung memegang tangan dimas menyakinkan jika dirinya baik - baik saja.
" Er..........gak papa kan.........." dimas terus mendekatkan wajahnya kepada erina pelan - pelan dan semakin dekat semakin dekat.
Dan......dooooooorrrrrr........suar tv mengagetkan mereka sampai dimas melepaskan tanganya.
Keduanya jadi salah tingkah padahal kurang 1 inci saja dimas sudah bisa mendaratkan ciuman dibibir erina.
Mereka saling berpandangan keduanya tampak jadi salah tinggkah dan sama-sama tersipu malu. Dimas dengan sigap mengambil rimot dan segera mematikan tv. Batinya jengkel kenapa tv sudah membuat kisah romantis yang baru saja akan terjadi menjadi gagal.
" Hhmmmmmm mas erina masuk ke kamar dulu ya.........sudah malam "
" Iya......er.......masuk aja jangan lupa pake selimut yang tebal "
" iya selamat malam ya mas"
Erina masuk kedalam kamarnya sepertinya hari ini panas sekali kenapa muka ku tiba - tiba menjadi panas begini padahal cuacanya dingin. Apa yang akan terjadi tadi jika tidak.......hhhhmmmmmm.........sudahlah.
Erina berbaring di tempat tidurny tapi dia bukanya tidur malah memandang sembuah bantal yang semalam dipakai dimas. Erina membela bantal itu dan berandai - andai.
Andai dimas ada disini satu ranjang lagi denganya. Tapi erina terlalu malu untuk meminta dimas tidur dikamarnya lagi. Seandainya saja erina masih sakit apa dimas masih akan menemaninya tidur malam ini.
Sementara itu dimas juga merasakan hal yang sama seperti ada sesuatu yang kurang semalam rasanya begitu hangat dan nyaman. Andai saja dimas bisa kembali kekamar erina dan tidur disampingnya.
Dimas bisa memeluk erina dengan hangat. Apa sebaiknya dimas mengecek erina apa dia sudah tidur atau belum apa jangan - jangan erina demam lagi. Ah dimas sadar lah erina sudah baik - baik saja pasti sekarang sudah tidur nyenyak.
Sudah hampit 2 jam keduanya tidak bisa tidur dan sama - sama saling memikirkan. Tak ada yang berani memulai padahal tadi dimas sudah memulainya tapi harus gagal karena suara tv.
Keduanya pun lama - lama tertidur karena lupa.
Paginya erina berusaha bangun lebih pagi dari dimas bermaksud ingin membuatkan seangkir kopi atau teh tapi usahanya itu sia-sia saja.
Dimas sudah bangun lebih dulu bahkan sudah menyiapakan sarapan pagi roti dan jus segar dan juga telur mata sapi.
" pagi er......sarapan duduk........kamu mau pake selai susu atau mentega atau apa ? "
" hehehe.........erina aja mas yang bikin rotinya "
__ADS_1
" Gak papa kan sekalian "
" erina biasanya pake coklat aja mas "
" Ok coklat.......ya......"
" Mas dimas biasanya bangun jam berapa ? "
" Subuh........"
" Oh.......erina baru gak sholat mas jadi bangun siang "
" oh.......tapi selama ini juga pas aku berangkat ke kantor kamu masih dikamar "
" itu aku tidur lagi mas heheheh.........mas kuk pake sepatu kets dari mana emang "
" hhhmmmm........jadi aku setiap pagi selalu olah raga lari keliling komplek "
" kuk aku gak pernah liat ya mas "
" ya gak lah kamu masih dikamar "
Erina ter senyum dan merasa malu jika selama ini dia selalu bangun siang.
" Malem ini kita pergi yuk " ajak dimas
" jalan aja kita gak pernah kan jalan berdua anggep aja ini kencan pertama kita."
" ok mas........."
Malam harinya erina sudah berdandan rapi setelah puluhan kali memilih baju akhirnya dia putuskan memakai stelan celana dan coat panjang warna coklat karena memang cuaca sedang dingin. Erina memakai riasan natural tapi terlihat cantik dan segar tak lupa ia semprotkan parfum beraroma lili ke seluruh tubuhnya.
Dimas sudah menunggu erina diluar dia menggunakan celana jeans dengan kemeja hitam dipadukan dengan sweter. Pintu rumah pun terbuka dan erina keluar dengan begitu anggun dan cantik layaknya seorang model.
Dimas terpesona dengan penampilan erina malam ini matanya cukup lama tak berkidip. Ya Tuhan selama ini aku kesama saja yang tidak pernah memandang istri ku yang begitu cantik dan mempesona. Selama ini aku terlalu egois karena hanya memikirkan diri sendiri karena patah hati kehilangan kakaknya batin dimas.
Dimas membukan pintu mobil dan erinapun masuk kedalam. Sepanjang jalan erina dan dimas cukup sering berbicara tidak seperti biasanya kaku dan cuek kali ini mereka terkesan lebih hangat.
Sampai disebuah cafe di pinggir sungai. Dimas membukakan pintu untuk erina dan erinapun tak lupa mengucapkan terima kasih. Mereka berdua masuk dan menikmati makan malam yang cukup romantis.
" Wow.......ini keren sih mas pemandangnya tempatnya makananya juga enak banget, aku udah lama pengen kesini tapi belum sempat"
" Jadi aku gak salah pilih tempat dong erina..........."
" Gak..........makasih ya mas untuk awal yang baru dihubungan kita "
" Iya sama-sama..........aku harap kamu jangan cerita apa-apa dulu sama bella, aku juga gak akan cerita sama andre tunggu sampai kita benar-benar yakin baru kita cerita ke mereka "
__ADS_1
" Iya mas.....maaf ya karena selama ini aku banyak cerita ke bella tapi itu semua karena aku ......"
Dimas menutup bibir erina dengan jari nya agar erina tidak melanjutkan bicaranya.
" huuuuuussssssttttt.........setelah ini kita jalan-jalan yuk dipinggir sungai "
" Mau banget mas yuk"
Erina sangat bersemangat dengan ajakan dimas. Setelah selesai makan erina dan dimas berjalan-jalan di pinggir sungai, suasan yang cukup romantis dan kebetulan hari ini tidak begitu ramai.
" Er.......kalau aku sudah selesai kuliah sebenarnya aku masih ingin tinggal disini lebih lama lagi gimana menurut kamu"
" Aku sih memang sering pergi - pergi mas jauh dari rumah dari orang tau sudah biasa tapi kadang memang kangen tapi kalau mas dimas mau nya masih disini aku sih gak masalah lagian aku bisa merintis karir aku disini, dulu papa kan gak suka kalau aku jadi disainer"
" oh ya kenapa......"
" Karena bisnis keluarga, makanya dulu kak erlitalah yang bujuk papa dan kak erlita yang handle semua, dan setelah kakak gak ada aku mulai belajar pelan-pelan "
" Tapi sekarang papa kamu sepertinya gak ada masalah "
" Iya karena papa meminta janji aku mas "
" Janji apa itu "
" Kelak dengan siapapun papa akan menikahkan aku, aku gak boleh menolak makanya dari dulu aku gak pernah punya pacar"
" Termasuk setuju menikah dengan aku "
Erina dan dimas berhenti dan saling berpandangan.
" Hhhhmmmmm..............Yes............walau sebarnya tidak pernah terbayangkan jika aku menikahi jodoh yang disiapkan untuk kakak ku "
" Kamu tau er.........terkadang apa yang direncanakan manusia itu tidak sejalan dengan rencana ALLAH karena DIA yang paling tau apa yang terbaik untuk kita "
" Iya mas erina tau itu makanya erina perlu banyak belajar "
" Kita belajar sama-sama "
Dimas memegang kedua tangan erina yang dingin karena cuaca memang cukup dingin hari ini. Erina pun membalasnya dengan mengenggam tangan dimas.
Perlahan tapi pasti dimas mulai mendekat dan lebih dekat lagi dengan wajah erina. Erina terlihat kalem dan tidak ada penolakan sama sekali. Ditambah suasana yang romantis membuat dimas semakin bersemangat.
" is.........ok.....erina"
" Yes.......mas......." erina menjawab dengan lembut dan sangat pelan.
Dimas mendaratkan ciuman di kening erina cukup lama, dimas memandang mata erina membelai lembuat rambutnya dan pipinya. Dan akhirmya keduanya memejamkan mata dan bibir mereka sudah menyatu dengan begitu lembut dimas mencium bibir erina yang terasa sangat manis itu.
__ADS_1
Perlahan dimas menggerakan bibirnya erina pun membalasnya dengan hal yang sama. Keduanya terlena dengan tautan yang cukup lama. Ini adalah pertama kalinya mereka berciuman.