Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
10) Kode Mengetahui Rahasia Lucy


__ADS_3

"Apa di Ertik tidak ada minimal usia pernikahan? Misalnya di Indonesia, usia minimal perempuan untuk menikah adalah 19 tahun."


Jalanan yang tadinya jadi fokus utama Kode kini menghilang dari pandangan. Sambil tetap menyetir pria itu melirik sejenak pada Lucy, kemudian mengernyit heran ketika bertanya, "Apa itu Indonesia? Tak ada nama daerah Indonesia di sini."


"Ah, iya juga!" seru Lucy menepuk jidatnya karena baru menyadari sesuatu. "Begini, anggap saja Indonesia itu dunia lain, itu tempatku berasal."


Kode kembali memusatkan perhatian dan tak menanggapi ucapan barusan. Untuk sekarang ia akan menganggap Indonesia sebagai tempat tinggal Lucy, sebab dirinya yakin tak ada nama daerah seperti itu di Ertik. Meski penasaran ia tidak akan bertanya seperti apa Indonesia.


Ada hal penting lain dibanding pertanyaan kurang berguna tersebut, yaitu masalah pernikahan. Usai terdiam beberapa saat Kode pun berkata, "Sama seperti tempat asalmu, di Ertik juga ada minimal usia pernikahan. Bedanya di sini perempuan dan pria harus berumur 25 tahun untuk bisa menikah."


Fakta tersebut menciptakan tanda tanya dalam benak Lucy. Dirinya diseret terburu-buru oleh Kode karena harus segera mengurus pernikahan, padahal pria itu sudah tahu bahwa umurnya masih 18 tahun. Dengan kata lain mereka tak bisa menikah jika menurut pada peraturan Ertik.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan," celetuk Kode menyadari bila gadis di sampingnya tengah kebingungan. "Karena kita belum memenuhi syarat maka pernikahan tidak bisa dilaksanakan. Tapi, ada satu pengecualian untuk peraturan tersebut."


"Entah kenapa perasaanku tidak enak, seperti akan terjadi kesialan yang amat besar." Perkataan itu diakhiri oleh Lucy dengan usapan di tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.


"Kita bisa menikah tanpa terikat peraturan jika kau hamil. Jadi, kau harus pura-pura hamil sehingga kita bisa menikah." lanjutnya Kode.


"Ternyata firasatku memang benar." ujarnya Lucy.


Embusan napas Lucy yang kasar dan terdengar depresi membuat sudut bibir Kode berkedut. Kini ia menahan tawanya karena ingin menjaga wibawa di hadapan gadis itu. Sejak awal bertemu dirinya telah memutuskan untuk bersikap tanpa ampun supaya Lucy segan terhadapnya.


Ini pertama kalinya Kode tidak bisa membunuh seseorang. Jujur saja ia agak waspada mengingat Lucy bukan manusia sembarangan. Mungkin masih banyak hal aneh dari gadis tersebut, seperti bisa berteleportasi lalu menghilang dari sisinya.


Kemungkinan buruk itu tidak boleh terjadi sebelum adanya keuntungan. Selain menikmati ketika membunuh targetnya, juga sangat tergila-gila pada uang. Pria itu tak akan melepaskan Lucy sampai memperoleh banyak uang dari pemerintah. Apa pun yang terjadi dirinya harus menambah populasi perempuan di Ertik.


"Heh, kau mendengarkanku tidak, sih?" sewot Lucy mengguncang tubuh Kode karena dari tadi pria itu melamun sambil menyetir. Ia pun melanjutkan, "Aku bilang kita tak perlu menikah. Tinggal belikan saja aku tempat tinggal, lalu kau bisa mengunjungiku kapan pun untuk membahas tentang masalah iblis."

__ADS_1


Kode yang tersentak dari lamunannya segera memelankan laju kendaraan. Ia menyingkirkan tangan Lucy dari tubuhnya, sementara tangan lainnya tetap memegang kemudi mobil. "Itu adalah usulan yang sangat berisiko. Bisa saja kau kabur setelah diberi tempat tinggal. Aku tak ingin kerepotan lagi."


"Bagaimana jika kita tinggal di hutan seperti kemarin-kemarin? Tanpa harus menikah tentunya. Pasti orang-orang tidak akan tahu jika kita tinggal di tempat terpencil." usulan Lucy.


Kode berkata, "Rumahku yang itu sudah tidak boleh ditinggali lagi. Aku meninggalkan jejak di sana dan tak mau ambil risiko. Yah, tidak masalah jika kau bersedia diinterogasi polisi kemudian masuk penjara. Waktu itu kau membantuku dalam melenyapkan bukti pembunuhan, kan?"


Sepertinya kembali ke rumah dulu bukan ide bagus. Lucy tak ingin terlibat dengan polisi karena kejahatan yang dilakukan Kode dan Leonidas. Kan tidak lucu jika ia sampai dipenjara padahal dirinya terpaksa membantu. Namun, ketimbang masuk penjara gadis itu lebih tidak ingin tinggal bersama Kode.


Lucy yang belum menyerah pun kembali membujuk Kode. "Menikah di usia muda juga berisiko, apalagi aku masih labil. Pasti ke depannya akan terjadi masalah. Ditambah menikah tidak selalu bahagia. Bisa ada orang ketiga, ujian ekonomi, dan nyinyiran tetangga."


"Kenapa kau serius sekali? Tenanglah, Lucy. Ini hanya pernikahan bohongan saja. Kita tak akan dipusingkan oleh masalah yang kau sebut tadi," sahut Kode memutar bola mata jengkel.


"Tapi, tetap saja kita menikah! Bayangkan jika kau tak bisa membunuh lagi dan berhenti menafkahiku. Apa yang harus aku lakukan?" Lucy tak gentar merayu pria itu agar membatalkan rencana pernikahan mereka.


Kode menjawab, "Walaupun kekurangan perempuan, tapi di Ertik masih banyak laki-laki. Total populasi manusia di sini mencapai jutaan. Dengan kata lain aku tak mungkin kehilangan pekerjaan. Salah satu dari jutaan manusia itu pasti berengsek sampai seseorang menyuruhku untuk membunuh mereka."


Kode nyaris menabrak kendaraan di sampingnya karena hilang kendali akibat terkejut. Ia menggertakkan gigi sebal dan mendelik tajam pada Lucy sebagai peringatan. "Tolong jangan tiba-tiba berteriak seperti tadi. Aku terkejut," katanya berusaha sabar.


"Untuk yang tadi aku minta maaf," cicit Lucy mendadak hilang keberanian hanya karena dipelototi. "Jadi, bagaimana dengan ucapanku tadi? Pasti akan ada masalah jika kita berbohong dari awal."


"Seperti yang sudah kubilang, ini hanya pernikahan pura-pura. Kita bisa bercerai setelah kau berhasil memanggil iblis itu. Tentunya si iblis harus bisa mengubah Kelinci yang telah kusiapkan menjadi perempuan."


"Apa akibatnya jika aku gagal?" Lucy bertanya.


Dengan wajah tanpa ekspresi Kode membalas, "Jawabannya sudah jelas. Aku akan menyiksamu selamanya jika ada kegagalan. Karena itu tolong kerja samanya supaya tak ada yang dirugikan di antara kita."


Ingin sekali Lucy mencabik-cabik wajah tampan Kode dengan kuku panjangnya, membuat pria itu tak lagi percaya diri karena menderita luka berat. Sayangnya hal tersebut hanya terjadi dalam bayangannya. Ia terlampau takut untuk melakukan kekerasan fisik pada Kode.

__ADS_1


Padahal tangan Lucy sudah tak tahan ingin melayangkan- setidaknya sebuah pukulan. Perkataan Kode sungguh memancing emosi. Berani sekali pria itu membahas kerugian di saat dirinya sudah dirugikan. Dipikir sebanyak apa pun sudah jelas jika ia tak mendapat keuntungan. Yang Lucy dapat dengan berada di sekitar Kode hanyalah kemalangan.


"Hei, santai sedikit. Wajahmu itu menunjukkan semua isi hatimu," tegur Kode yang menatap sekilas wajah Lucy.


Kemudian ia segera menambahkan, "Aku tahu kau pasti merasa dirugikan sekarang. Itu hanya prasangka burukmu saja karena kau menyimpulkan sendiri. Meski bekerja sebagai pembunuh bayaran, tapi aku tidak mungkin merugikan orang yang bekerja sama denganku."


"Syukurlah kalau begitu. Jadi, apa keuntungan yang aku dapat dari kerja sama ini?" selidik Lucy belum percaya sepenuhnya. Bagaimanapun juga ia baru mengenal Kode sekarang dan pria itu bisa saja berbohong.


Kode berkata, "Ada sesuatu yang ingin aku katakan sebelum melanjutkan pembicaraan ini. Biar kutebak, pasti Ertik adalah latar dari cerita yang kau baca. Apa aku benar?"


Saking terkejutnya Lucy sampai tersedak ludahnya sendiri. Dengan mata terbelalak ia bertanya, "K-Kenapa kau bisa tahu tentang itu?"


"Itu hanya tebakan ku saja," ucapan Kode lalu tertawa pelan. "Ternyata memang benar Ertik latar dalam cerita ya. Jadi, aku dan orang lain adalah tokoh di sebuah novel? Atau film, kurasa?" kode mengulas senyum miring.


"Bagaimana bisa kau mempunyai tebakan seperti itu? Aku tidak akan menjelaskan apa pun karena kau mencurigakan!" Lucy sedikit cemas.


"Aku bisa tahu dari sikap anehmu. Ketika datang ke rumah Leonidas dan Sean kau bersikap seolah telah mengenal mereka, padahal normalnya orang akan canggung. Lalu aku ingat jika kau mengaku berasal dari dunia lain. Setelah itu aku pun membuat tebakan, bahwa kau adalah pembaca dari sebuah novel atau apa pun itu yang berisi tentang kisah di Ertik."


Lucy memaki dalam hati. Tetapi, harusnya ia tak heran dengan pemikiran luar biasa Kode. Sejak awal pria itu memang sudah menunjukkan jika dirinya sangat pintar dengan bekerja sebagai pembunuh bayaran. Orang bodoh tak mungkin mendapat profesi tersebut, bayangkan bagaimana jadinya bila seorang pembunuh membuang mayat ke kantor polisi.


"Karena tebakanku benar tolong jelaskan dengan detail." Tiba-tiba saja Kode menyugar rambutnya disertai ekspresi angkuh lalu melanjutkan, "Aku adalah pria tampan dan keren. Sudah pasti aku ini seorang tokoh utamanya, kan?"


Untuk pertama kalinya Lucy merasa kasihan pada Kode. Ia tak tega bila harus mengatakan yang sebenarnya. Sangat tidak disangka ternyata pria itu cukup Narsis di Dunia lain ini. Kode pasti malu setengah mati setelah tahu bahwa dirinya merupakan tokoh Antagonis dengan akhir tragis.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2