Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Peran Pengganti Orang Tuanya


__ADS_3

Kodee yang telah menanti sejak tadi langsung mengangguk setuju. "Kau bisa menolak tantanganku jika dirasa sulit dan meminum satu gelas kola. Bukankah kita sudah membuat kesepakatan tentang ini?"


"Tadi aku hanya ingin memastikan saja. Kalau begitu, apa tantangan yang ingin kau berikan padaku?"


"Bawa semua koper di ruang tamu ke kamarmu."


Tantangan tersebut berhasil menyulut kegembiraan dalam benak Lucy sehingga ia tersenyum lebar. "Apa aku hanya perlu membawa koper-koper ini ke kamar?" tanyanya takut salah dengar.


"Iya, kau hanya perlu memindahkannya ke kamarmu. Kau bisa membereskannya nanti. Tapi, sebaiknya kau mengatur barang-barangmu secepat mungkin."


"Terima kasih banyak! Aku pikir kau akan memberiku tantangan yang sulit."


"Terima kasih banyak! Aku pikir kau akan memberiku tantangan yang sulit."


Kodee berdecih pelan sambil memutar bola matanya karena mendengar kata-kata yang menyinggung harga dirinya. Padahal beberapa waktu lalu ia sudah mengaku akan memberi tantangan mudah bagi Lucy. Namun, gadis itu malah tak percaya dan sempat berpikir negatif.


"Kita harus berhenti bermain karena ini sudah malam," ujar Kodee menghentikan Lucy yang sedang menarik koper. "Menurut ramalan cuaca malam ini akan turun hujan deras di kota Morten. Sebaiknya kita segera makan lalu pergi tidur."


"Tapi, aku masih ingin bermain!" Lucy menyahut setelah berbalik untuk memelototi Kodee.


"Kalau begitu mainlah sendiri."


"Apa? Dasar menyebalkan! Kau sengaja mengakhiri permainan ini karena takut mendapat tantangan, kan?"


Suara melengking Lucy memantul di seluruh ruangan dan menusuk gendang telinga Kodee. Biasanya pria itu akan balik berteriak jika seseorang tiba-tiba menaikkan suara padanya. Namun, untuk beberapa alasan kebiasaan tersebut harus dimusnahkan.


Kodee yang sebetulnya masih geram terhadap tindakan Lucy berusaha untuk menenangkan diri. Dengan pelan ia mengontrol pernapasannya lalu melirik ke arah jendela. Ia tak sempat menutup jendela menggunakan tirai karena sibuk membereskan rumah.


Lewat jendela tersebut Kodee bisa melihat jika rintik hujan sudah mulai turun. Ia juga merasakan udara perlahan-lahan berubah menjadi dingin. Tampaknya apa yang dijelaskan dalam ramalan cuaca akan benar-benar terjadi.


"Kita bisa bermain lain kali, Lucy. Jika salah satu dari kita sakit maka itu akan merepotkan," tandas Kodee tanpa mengalihkan perhatiannya dari jendela.

__ADS_1


Namun, Lucy yang belum mendapatkan keinginannya kembali memprotes keputusan pria itu. "Malam ini aku bisa memanggil iblis untuk mengajukan permintaanmu. Tapi, kau akan mengusirku jika permintaannya ditolak! Saat itu terjadi maka kita tak bisa bermain lagi."


"Ah, sekarang aku paham kenapa kau tiba-tiba mengajakku bermain truth or dare. Kau pasti ingin menyuruhku agar membiarkanmu tinggal di sini."


Seketika Lucy sadar bahwa mulutnya telah melewati batasan yang membuat kedoknya terbongkar. "I-itu memang benar. Aku tak tahu harus pergi ke mana jika kau mengusirku," ungkapnya pasrah.


Alih-alih menjawab, Kodee malah berdiri dan mendekati Lucy yang langsung beringsut mundur. Selama beberapa menit ia hanya bergeming sambil memandangi gadis di hadapannya. Lalu tanpa disangka-sangka, pria itu tertawa.


"Jadi, apa sekarang kau mengaku sedang membutuhkanku?" tanya Kodee setelah puas tertawa.


"Benar! Lebih tepatnya, aku membutuhkan uangmu." Lucy langsung menjawab sembari merapatkan kedua tangannya, berharap Kodee akan menaruh sedikit rasa iba.


"Apa keuntungan yang aku dapat jika menolongmu?"


"Entahlah, aku juga bingung. Di kehidupan nyata orang tuaku terlalu memanjakanku, sampai aku tak pandai memasak. Tapi, aku bisa memasak mi instan dan telur ceplok untukmu."


"Aku bisa sakit jika memakan itu tiap hari."


"Membantu dalam hal apa?" sahut Kodee yang sebenarnya cukup terkejut dengan fakta tersebut.


"Misalnya untuk mengumpulkan informasi tentang seseorang. Aku bisa bertanya pada hewan yang berkeliaran di sekitar mereka."


"Baiklah, permintaanmu disetujui. Hanya saja aku ingin mengetes kemampuanmu besok."


Lucy menjerit senang dan melepaskan koper yang digenggamnya untuk memeluk Kodee. "Terima kasih banyak! Aku akan melakukan yang terbaik, huhu," serunya pura-pura menangis terharu.


"Jika kau ingin berterima kasih maka menyingkirlah dari tubuhku." Kodee menyahut sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Lucy. Tetapi, gadis itu malah menguatkan pelukan di pinggangnya sampai ia sesak napas.


"Ini adalah pelukan terima kasih dariku. Kau harus bangga karena aku jarang memberikan pelukan ini pada orang lain."


"Aku tak tahu kau sedang memelukku atau mencoba untuk membunuhku."

__ADS_1


Sindiran tersebut segera menyadarkan Lucy yang masih diliputi antusiasme. Langsung saja ia membebaskan Kodee dari pelukan eratnya. Dengan wajah panik ia bertanya, "A-apa kau baik-baik saja? Maaf karena memelukmu terlalu kuat."


"Ya, aku baik-baik saja," balas Kodee menghela napas lega karena sepertinya Lucy tak mendengar detak jantungnya saat mereka bersentuhan.


"Baguslah kalau begitu. Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Kau masuk saja ke kamar karena aku akan memasak."


"Ya ampun, ternyata Kodee adalah pria berhati lembut! Kau sampai mau memasak untukku."


"Siapa yang bilang aku mau memasak untukmu? Aku hanya akan memasak untuk diriku sendiri."


Lucy tak jadi bersorak gembira karena Kodee menghancurkan imajinasinya. Meski demikian, ia harus menjaga sikap agar pria itu tidak kesal dan menolak permintaannya. Ia terpaksa mengulum senyum manis untuk menutupi perasaan kesal.


"Aku akan pergi tidur saja sekarang. Selamat malam, Kodee," ujar Lucy hendak mengambil kembali kopernya untuk dibawa ke kamar.


Namun, sebelum itu terjadi, Kodee terlebih dulu menahan tangan Lucy. "Saat bermain tadi kau bilang bahwa kau punya penyakit. Apa itu berhubungan dengan makanan? Jika iya, katakan apa masalahmu karena aku akan memasak untukmu juga," jelasnya.


"Kau tidak perlu memasak untukku. Sebenarnya aku punya penyakit mag, tapi sudah baikan berkat Dokter Triton. Aku akan memasak telur putih jadi kau bisa memasak makananmu sendiri."


"Sebaiknya kau membereskan barang-barangmu saja. Biarkan aku yang memasak untukmu. Lagi pula memasak telur putih bukan hal sulit. Kau bisa menungguku di ruang makan setelah selesai beres-beres."


Lucy hendak menolak bertepatan dengan perginya Kodee ke dapur. Sekarang ia hanya bisa memandangi pria itu dari kejauhan. Untuk beberapa saat dirinya tertegun begitu teringat pada kenangan di dunia nyata.


Sejak kecil Lucy tak punya banyak waktu bersama orang tuanya karena mereka sama-sama bekerja. Dengan demikian keluarganya jarang sekali memasak untuk satu sama lain atau makan bersama dalam satu meja. Dari pagi hingga malam ada pelayan khusus yang menyiapkan mereka makanan.


Namun, itu bukan berarti Lucy membenci orang tuanya. Ia mengerti bahwa ayah dan ibunya selalu mengusahakan yang terbaik di sela-sela kesibukan mereka. Gadis itu hanya merasa sensitif ketika melihat seseorang mengisi peran orang tuanya, seperti yang Kodee lakukan sekarang.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2