Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Sandiwara Lusy Yang Kikuk


__ADS_3

"B-begitu ternyata ...," balas Lucy tidak menemukan kalimat bagus untuk merespons Kodee.


Lebih tepatnya, otak gadis itu berhenti berfungsi saat disuguhi tatapan tajam Kodee. Ini adalah tatapan yang sama yang diberikan saat mereka pertama kali bertemu. Waktu itu Kodee benar-benar membunuhnya meski ia telah berkata jujur.


Kejadian tersebut memang tak berhasil merenggut nyawa Lucy, sebab dirinya bisa berubah menjadi Kelinci. Namun, tetap saja hari pertama bertemu dengan Kodee masuk ke dalam kenangan buruk. Ia masih tak dapat melupakan bagaimana rasa ngeri yang menyelimutinya hari itu.


"Kalau aku datang tepat waktu maka Raibeart tidak akan melihat perubahanmu. Sayang sekali karena dia sudah melihatnya," gumam Kodee melempar batu ke sembarang arah.


Sedangkan Lucy yang menyesali keputusannya hanya bisa berdiri tanpa melakukan apa-apa. Usai terdiam lama ia pun berkata, "M-maaf karena telah lari darimu, hehe. Jadi, a-apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Aku telah memutuskan sesuatu. Mulai sekarang kau adalah seorang mata-mata kelas kakap."


Lucy mengerjap bingung. "Maaf? Apa maksudmu dengan mata-mata?"


"Kau akan menjadi mata-mata yang diperkejakan untuk membunuh Raibeart. Anggap saja kalau perubahan anehmu sebagai kemajuan dari teknologi," papar Kodee seraya memindahkan Raibeart yang pingsan ke punggungnya.


Sambil berjalan ke dalam rumah ia lanjut menjelaskan, "Aku akan menghancurkan bukti rekaman CCTV lalu mengikat Raibeart dan diriku sendiri. Setelah itu, kau harus berakting sebagai mata-mata ketika Raibeart sadar. Kau juga harus berkata jika yang memukulnya sampai pingsan adalah rekanmu."


"Apa harus begitu? Sepertinya akan lebih bagus jika aku langsung melarikan diri," tolak Lucy berusaha merayu.


"Kalau begitu aku bisa dicurigai karena beberapa pelayan melihatku masuk ke sini."


"Jadi, aku tak bisa menolak?" Lucy bertanya.


Kodee tidak menjawab dan terus berjalan sambil memperhatikan sekitar. Untuk sekarang dirinya tak boleh ketahuan sedang menggendong Raibeart. Dan sepertinya ia tengah beruntung karena bisa sampai di gudang tanpa berpapasan dengan pelayan.


"Rencana utama adalah kau mengikatku dan Raibeart di sini. Kemudian kau berimprovisasi seolah telah mencuri informasi rahasia milik keluarga Mihails. Setelah itu kau harus melompat dari gudang karena kebetulan sekali gudangnya berada di lantai satu," jelas Kodee tak lagi menutup mulutnya.

__ADS_1


Lantas pria itu memberikan tali yang telah diambil dari gudang dan berkata dengan serius, "Ikat Raibeart menggunakan tali ini sementara aku akan menghapus data CCTV. Kalau rencananya berhasil maka aku berubah pikiran dan bisa membiarkanmu tetap hidup."


"Kau sungguh percaya diri, Kodee. Apa kau tidak takut jika aku kabur di saat kau pergi?" tanya Lucy menyunggingkan senyum menantang.


"Terserah padamu. Aku masih bisa membunuh semua pelayan di sini jika ingin menghilangkan bukti. Di sisi lain aku juga masih bisa membayar seseorang untuk melacak keberadaanmu. Jadi, yang dirugikan di sini hanyalah dirimu, Lucy."


Suara Kodee yang dingin membuat tenggorokan Lucy terasa kering sampai-sampai ia harus menelan ludah beberapa kali. Untungnya pria itu segera pergi sehingga atmosfer dalam ruangan kembali normal.


"Dasar ....!"


Lucy tak jadi mencaci maki Kodee karena sadar sedang dalam situasi gawat. Sambil menggigit kuku, ia berjalan mondar-mandir dan berpikir harus mengambil keputusan seperti apa. Kesempatan untuk kabur terbentang luas sekarang, tapi perasaannya masih bimbang.


Kalaupun berhasil kabur tak ada jaminan jika hidupnya akan aman. Peluang menjadi pengemis sangat besar daripada kesempatan untuk hidup nyaman. Lucy yang di dunia asalnya merupakan anak orang kaya mustahil bisa bertahan hidup dengan sedikit uang.


Setidaknya Lucy diberi makan dan tempat tinggal ketika hidup bersama Kodee. Walaupun tak mendapat kemewahan, tapi dua hal itu lebih dari cukup untuk bertahan hidup di dunia asing. Kini penyesalannya tentang melarikan diri bertambah dua kali lipat.


Namun, tak ada waktu untuk merenungi kesalahan di masa lalu. Pada akhirnya Lucy menatap tali yang diberikan Kodee kemudian beranjak mendekati Raibeart. Ia pun meminta maaf dalam hati ketika mengikat pria yang pingsan itu.


"Nghhh ..., siapa kau?"


Suara serak tersebut membuyarkan fokus Lucy yang hampir selesai dengan tali di tubuh Raibeart. Lantas ia mendongak dan mendapati pria itu telah terbangun. Tiba-tiba saja otaknya menjadi eror karena diserang kepanikan yang luar biasa.


"Tolong jangan bicara lagi, Raibeart!" pinta Lucy setengah depresi.


"Kenapa?" Raibeart yang masih setengah sadar langsung menyahut.


"Itu karena suara serakmu sangat se*ksi. Maksudku, aku adalah seorang mata-mata!"

__ADS_1


Karena masih pusing maka Raibeart tak bisa menangkap sepenuhnya ucapan Lucy. Tetapi, ia yakin baru saja mendengar kata mata-mata. Lantas pria itu memasang wajah waspada tepat setelah beranggapan bahwa musuh berhasil meringkusnya.


Sementara Raibeart masih berusaha mencerna keadaan, Lucy segera berdiri dan memulai sandiwaranya.


"Sebut saja aku 'Kelinci si Mata-mata'. Alasanku datang ke sini adalah untuk mengambil informasi tentang keluarga Mihails. Dan aku berhasil mendapat informasi tersebut, hahaha!"


Lucy berniat untuk tertawa seperti Light si tokoh antagonis dalam anime Death Note, tapi yang didengar Raibeart adalah tawa kikuk. Hal tersebut membuat keduanya terdiam dalam kecanggungan.


"Ekhem! Intinya aku sudah berhasil mencuri informasi tentang keluargamu. Dan omong-omong, yang membuatmu pingsan adalah rekan kerjaku," ulang Lucy berdeham untuk menetralkan rasa malu dalam benaknya.


Tepat setelah itu terdengar teriakan dari pintu masuk. Saat menoleh ke sana Lucy malah mendapati peluru memelesat ke arahnya. Manusia normal pun pasti akan terkejut jika dihadapkan pada posisi ini, apalagi ada teriakan yang disusul dengan suara tembakan.


Lucy masih sama seperti manusia normal. Hanya saja, ia akan berubah menjadi Kelinci ketika jantungnya berdetak kencang seolah disengat listrik. Saat ini pun begitu. Dirinya langsung menjadi seekor Kelinci karena tembakan dari Kodee.


"Eh, kenapa dia malah berubah jadi Kelinci?!" pekik Kodee pura-pura syok, padahal tak terkejut dengan perubahan tersebut.


Pria itu memang sudah berencana untuk menembak Lucy jika rencana utama gagal. Tadinya ia ingin berakting seolah tertangkap oleh mata-mata juga. Namun, ternyata Raibeart malah bangun lebih awal sehingga dirinya terpaksa menjalankan rencana B.


Raibeart menjadi satu-satunya orang yang mengerutkan dahi di ruangan itu. Kepalanya masih terasa sakit dan berdenyut, sehingga kesulitan untuk mencerna situasi di hadapannya. Samar-samar ia bisa menangkap ucapan Kodee tentang manusia yang berubah menjadi Kelinci.


"Apa gadis tadi benar-benar berubah menjadi hewan?" tanya Raibeart hendak memijat kepalanya yang pusing.


Seketika pria itu sadar bahwa tubuhnya masih dalam keadaan terikat. Dengan penuh kekesalan ia mendelik pada Kodee dan berseru, "Cepat lepaskan aku dan tangkap Kelinci sialan itu!"


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2