Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Kakanda


__ADS_3

Gadis itu mengguncang bahu Kodee sambil bertanya dengan panik, "Kenapa kau memukulnya?!"


"Karena kau menyuruhku untuk melakukan itu," jawab Kodee enteng.


"Dasar otak udang! Tadi itu aku hanya bercanda. Bagaimana bisa kau benar-benar memukul Triton?"


"Jawabannya tetap sama. Itu karena kau yang menyuruhku."


Lucy mengepalkan tangannya yang gemas ingin menjambak rambut Kodee. Bisa-bisanya pria itu menghajar Triton hanya karena ia memintanya. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau baru saja memukul seorang dokter!"


"Dengar baik-baik, aku akan membawa tubuh Triton lalu menguburnya di tempat sepi," jawab Kodee dengan suara pelan.


Sementara itu, Triton yang masih dalam kesadaran penuh langsung menendang lutut sang teman. "Aku masih hidup, tahu! Bagaimana bisa kau berkata akan menguburku?" protesnya tak terima.


Namun, dengan santainya Kodee membalas, "Aku memang berniat untuk menguburmu hidup-hidup."


"Dasar teman durhaka! Apa sekarang kau akan mengkhianatiku demi manusia jadi-jadian ini?"


"Lucy bukan manusia jadi-jadian." Kodee menjawab.


"Tapi, dia bisa berubah jadi Kelinci!"


Tak ada respons untuk kata-kata tersebut sehingga Triton sadar jika dirinya telah bertindak terlalu jauh. Apalagi sekarang Lucy dan Kodee sama-sama melempar tatapan tajam. Walaupun mereka bergeming seperti patung, tapi tindakan tersebut sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan sang dokter.


"Aku minta maaf karena telah berkata kasar," sesal Triton seraya mengeluarkan secarik kertas dari saku jas dan memberikannya pada Lucy. "Ini adalah resep untuk suamimu. Kau bisa membeli obatnya di apotek."


Awalnya Lucy bingung kenapa Triton tak memberikan resep tersebut pada Kodee. Namun, ia langsung paham setelah menemukan kartu nama di dalamnya. Secara tak langsung dokter itu memberi tahu bahwa mereka dapat membicarakan tentang kesepakatan lewat telepon.


"Kartu namamu ikut terbawa," ujar Kodee yang langsung merebut kartu nama dari tangan Lucy dan menyodorkannya pada Triton. Namun, ia menjadi kesal karena temannya malah diam saja. "Kenapa kau tak mau mengambilnya? Apa kau merencanakan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak. Aku tak punya rencana apa pun," sanggah Triton yang terpaksa menerima kartu namanya agar tak menimbulkan kecurigaan.


Sang dokter hanya bisa menghela napas kecewa saat melihat Kodee menarik Lucy pergi. Tetapi, kekecewaan tersebut segera lenyap saat melihat Lucy menengok padanya dan mengatakan sesuatu lewat gerakan mulut.


Triton sangat yakin jika Lucy berkata telah mengingat nomor teleponnya. Meskipun terlihat mustahil, tapi ia harus percaya karena orang lain tak mungkin bercanda di situasi seperti ini. Sekarang yang perlu ia lakukan adalah menunggu Lucy menghubunginya.


******


Apotek adalah tempat pertama yang didatangi Lucy dan Kodee setelah angkat kaki dari klinik. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menebus resep dari Triton, sebab hanya ada sedikit orang di sana. Ketika semua selesai mereka langsung kembali masuk ke mobil yang dikendarai oleh orang suruhan Leonidas.


Di dalam mobil tak terjadi percakapan khusus karena baik Lucy atau Kodee sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saat ini pikiran Lucy dipenuhi dengan berbagai rencana yang bisa dilakukan jika Kodee mengusirnya. Bagaimanapun, waktu untuk memanggil sang iblis sudah dekat dan ia tak bisa menunda lagi.


Lucy yakin Kodee akan terus mendesak hal tersebut mengingat pria itu bersedia memungutnya untuk satu tujuan. Andai kata Lucy gagal mewujudkan tujuan tersebut maka bisa saja Kodee menendangnya tanpa ragu. Kendati demikian, sebetulnya ia masih dihantui oleh perkataan Triton tentang Kodee yang cemburu.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Ya, kau benar," sahut Kodee terlihat ogah-ogahan ketika menjawab pertanyaan tersebut.


Lucy menanggapi dengan berkata, "Ini bukan pertama kalinya kita tinggal di kota baru. Sebelumnya kita juga pernah pindah, tapi tak bertahan lama karena ada masalah. Meski begitu aku masih merasa gugup."


"Yang membuat masalah itu adalah dirimu, Lucy. Jika kau bersikap baik maka kita tak perlu pindah ke kota lain."


Lucy pura-pura batuk dan tak lagi menatap Kodee yang melotot marah padanya. Dalam hati ia mengumpat karena kehilangan kata-kata untuk membantah pria itu. Walaupun agak kesal, tapi Lucy mengakui bahwa dirinya telah membuat kesalahan besar setelah kabur dari Kodee.


"I-itu kan hanya masa lalu. Lagi pula masalahnya sudah beres sekarang," ujar Lucy berusaha memperbaiki suasana.


Akan tetapi, Kodee malah mendengus dan menunjukkan secara terang-terangan jika dirinya tidak sudi melupakan masa lalu. Ia pikir Lucy hanya tahu cara meminta maaf dan kelabakan sendiri ketika harus menghadapi masalah yang diperbuatnya.


Bahkan saking kesalnya Kodee sampai menyimpan prasangka buruk tentang Lucy yang akan membuat masalah baru di masa depan. Memang benar prasangka bukanlah suatu kebenaran. Namun, siapa pun bisa mempunyai prasangka seperti demikian jika melihat rekam jejak Lucy yang buruk.

__ADS_1


"Aku tak mau membantu lagi seandainya kau membuat masalah baru. Camkan itu, Lucy," ancam Kodee membuat gadis di sampingnya menunduk untuk menyembunyikan ekspresi keberatan.


Setelah itu terjadi keheningan yang memancing emosi Kodee. Tanpa permisi ia memegang dagu Lucy dan memaksa gadis itu agar menengok ke arahnya. "Mana jawabanmu? Apa ini berarti kau berniat membuat masalah lagi?"


"Iya, iya, aku berjanji tak akan merepotkanmu lagi!" sungut Lucy seraya menyingkirkan tangan Kodee dan mengelap dagunya menggunakan kerah baju.


Seketika Kodee merasa bahwa dirinya sangat kotor setelah melihat tindakan Lucy. Apesnya ia tak bisa marah-marah karena ada orang lain di dalam mobil. Pria itu harus menghindari kecurigaan untuk saat ini.


Oleh karenanya, Kodee segera merangkul pundak Lucy dan berkata sambil tersenyum lebar, "Sayangku, maaf karena aku sudah memarahimu tadi. Aku hanya takut kalau kau terlibat masalah yang bisa menyulitkan dirimu sendiri."


"Apa kau sudah tidak waras? Kenapa kau tiba-tiba memelukku? Lepaskan aku, pria mesum!" umpat Lucy berusaha untuk lepas dari rangkulan Kodee, tapi pria itu malah menjepit lehernya.


Kodee berbisik pelan di telinga Lucy. "Dengar, kita harus bersandiwara sekarang, karena ada orang suruhan kakakku."


Bisikan Kodee berhasil membuat Lucy berhenti memberontak. Dalam sekejap gadis itu menyadari apa yang sedang terjadi dan mulai mengimbangi akting lawan bicaranya. Kini tak ada lagi kerutan jengkel di kening Lucy saat membalas pelukan Kodee.


"Aku mengerti kekhawatiran mu, Kakanda. Terima kasih banyak karena sudah peduli padaku," ujar Lucy tak jadi menyebut dirinya sebagai 'Adinda' karena keburu jijik.


Kodee yang mendengar kata asing sontak mengernyit heran dan bertanya, "Sayangku, Cintaku, apa itu Kakanda?"


"Anggap saja panggilan sayang dariku untukmu, hohoho."


"Itu adalah panggilan yang manis. Aku merasa akan menangis saking terharunya...."


Sementara dua orang itu mengoceh tentang panggilan sayang, sang sopir malah bermuram durja karena muak mendengar ocehan tersebut. Sayangnya, ia tak bisa melakukan apa pun karena harus fokus pada tujuan.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2