Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Diam-diam Menemui Triton


__ADS_3

Lucy merasa dejavu ketika menemukan dirinya terbaring di atas ranjang yang empuk setelah membuka mata. Ia sadar pernah tertidur sewaktu dalam perjalanan pindah ke kota Morten. Sepertinya kali ini ia tanpa sengaja terlelap di perahu motor karena embusan angin di sekitar danau membawa rasa kantuk padanya.


Hal pertama yang harus Lucy lakukan tentu saja berterima kasih pada Kodee. Pria itu pasti telah berusaha membangunkannya, tapi gagal karena ia akan berada dalam simulasi mati ketika tidur nyenyak. Dan masalahnya sekarang ia tak dapat menemukan Kodee di mana pun.


"Ke mana dia pergi? Tidak mungkin dia terselip di bawah kursi atau meja," gumam Lucy usai memeriksa halaman belakang rumah, tempat terakhir yang ia telusuri untuk mencari keberadaan Kodee.


Sayangnya, pria itu tak ada di rumah. Lucy hendak bertanya pada tetangga andaikan matanya tak menangkap secarik kertas di kulkas. Ia buru-buru mengambil kertas tersebut dan membaca isinya dengan teliti, takut melewati hal penting yang Kodee tulis.


(Maaf karena tak sempat membangunkanmu. Aku harus pergi karena ada urusan mendadak, sepertinya aku akan kembali nanti malam. Jika kau lapar maka hangatkan saja sayur yang aku masak. Tapi, jangan menghangatkan apa pun dengan microwave jika kau tak tahu caranya. Kau bisa menyalakan kompor, kan?)


Lucy memutar bola matanya saat membaca kalimat terakhir. "Untuk apa dia menuliskan pertanyaan di sini? Padahal dia kan tidak bisa mendengar jawabanku," cibirnya.


Setelah memahami isi pesan Kodee, gadis itu pun memilih memasak telur dadar karena lidahnya tak cocok jika harus memakan sayur. Di sela acara makan siangnya tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Hari ini Kodee mempunyai urusan dan akan kembali nanti malam.


Bukankah itu berarti dirinya bebas melakukan apa saja sebelum malam tiba? Lucy pikir hal yang harus dilakukannya adalah bertemu Triton. Namun, pertemuan tersebut tak akan terjadi jika mereka tak punya janji temu.


"Ugh, dasar Kodee sialan! Mengapa dia tak memberiku ponsel?" keluh Lucy melempar sendok yang dipakainya ke sembarang arah.


Kemudian gadis itu bergegas keluar rumah karena mendapat ide cemerlang. Ia berencana mendatangi tetangganya untuk meminjam ponsel. Hanya sekadar meminjam pasti akan diizinkan. Namun, Lucy tak menyangka harus merelakan telinganya karena meminjam ponsel tetangganya.


"Padahal suamimu terlihat banyak uang, tapi ternyata dia tak sanggup memberi istrinya ponsel. Huh, suami macam apa itu? Dengar, Nak, menikah itu bukan hanya tentang fisik. Suamimu memang tampan, tapi kalau miskin apa gunanya?"


Lucy menggerutu dalam hati karena omongan tetangganya membuat telinga panas. Sebetulnya ia ingin menjelaskan sejarah pernikahannya dengan Kodee, tapi akan terjadi masalah andai dirinya benar-benar melakukan itu. Jadi, hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah tersenyum manis.


"Terima kasih atas kritik dan sarannya, Bu," ucap Lucy seraya mengulurkan tangan untuk menerima ponsel dari tetangganya. Setelah mendapatkan benda itu, ia langsung tersenyum dengan ikhlas. "Saya ingin menelepon keluarga saya sebentar."

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Lucy segera mengetik nomor Triton di papan telepon dan menghubunginya. Walaupun tak terlalu pandai dalam pelajaran, tapi anehnya ia bisa mengingat deretan angka dengan cepat. Sekarang ia sedang menunggu jawaban dari Triton sambil menggigit jempol gelisah.


Panggilan pertama tak mendapat balasan dan membuat Lucy berpikir untuk mencobanya lain kali. Namun, keberuntungan langsung berpihak padanya karena Triton menjawab panggilan kedua darinya.


"Halo, siapa ini?"


Lucy menghela napas lega setelah mendengar suara Triton di seberang telepon. "Selamat Anda mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kuis berhadiah! Anda bisa mendapat uang jika berhasil menjawab pertanyaan dari saya."


"Sepertinya ini telepon iseng. Saya akan menutup teleponnya."


"Tunggu sebentar!" seru Lucy, terpaksa menghentikan candaannya. "Ini aku, Lucy. Apa kau tak mengingat suaraku?"


"Hah? Lucy?" Terdengar nada bingung sekaligus terkejut dari si penelepon.


"Maaf karena tak bisa mengenali suaramu. Di sini suaramu terdengar aneh. Sepertinya kau berada di kawasan yang susah sinyal, ya. Itu membuat suaramu jadi aneh."


Tebakan Triton sangat tepat sasaran sehingga Lucy langsung mengangguk, padahal sang dokter tak dapat melihat aksinya. "Kau sungguh hebat! Setelah pergi dari klinikmu, aku dan Kodee langsung pindah ke kota Morten. Ini adalah kota kecil dan sepertinya sinyal di sini kurang bagus."


"Sebaiknya kau segera mengatakan apa tujuanmu meneleponku. Apa kau ingin menemuiku untuk membahas kesepakatan?"


"Benar sekali. Aku ingin menemuimu, tapi aku tak bisa pergi karena tak punya uang. Maukah kau memberiku tumpangan?"


"Ah, ini berarti Kodee tak mengizinkanmu menemuiku, ya? Kalau itu benar maka aku tak mau bertemu denganmu."


Lucy ingin sekali memaki Triton karena pria itu mempersulit rencananya. Namun, ia dengan cepat mengendalikan emosinya dan membujuk sekali lagi, "Sebenarnya Kodee sudah mengizinkanku. Hanya saja dia tak sempat mengantarku karena ada urusan penting."

__ADS_1


"Ucapanmu sangat meragukan." Triton segera berkata, menolak untuk dibodohi oleh Lucy.


"Ugh, dasar dokter sialan!" Lucy cepat-cepat mengoreksi ucapannya karena mendapat pelototan dari tetangganya. "Maksudku, kau adalah dokter yang sangat murah hati. Karena itu tolong bantu aku sekali saja."


"Tetap tidak bisa."


"Dengar, Kodee memang benar-benar pergi dan akan kembali nanti malam. Kita bisa bertemu asalkan aku pulang ke rumah sebelum malam tiba."


Tak ada jawaban dari Triton. Dokter itu terdiam selama beberapa saat sebelum mengambil sebuah keputusan. "Baiklah, mari bertemu hari ini. Kirimkan alamatmu lewat pesan. Aku akan mengirim taksi online untuk menjemputmu."


"Terima kasih banyak! Aku sudah mengirim alamatnya ke nomormu. Sampai jumpa nanti, Dokter!" pungkas Lucy segera mengakhiri panggilan karena tetangganya sudah terlihat kesal.


Lalu sebelum tetangganya kembali mengoceh, gadis itu terlebih dulu berterima kasih dan berlari masuk ke rumah. Kali ini rencananya berjalan mulus karena taksi yang dipesan Triton benar-benar tiba di depan rumahnya. Ia yang telah bersiap-siap langsung masuk ke taksi tersebut.


Ternyata membutuhkan waktu dua jam bagi Lucy untuk sampai ke tempat pertemuan. Itu berarti durasi pertemuannya dengan Triton tak boleh lebih dari dua jam. Jika mereka mengobrol terlalu lama maka dirinya akan pulang ke rumah saat malam tiba.


Di sisi lain, Triton yang sudah menunggu di mobil segera keluar untuk menyapa saat melihat kedatangan Lucy. "Bagaimana kabarmu, Nona?"


Sayangnya, gadis itu terlihat panik karena takut pulang terlambat. Ia tak menjawab pertanyaan barusan dan malah menyeret Triton agar kembali masuk ke mobil. "Jangan berbasa-basi karena rumahku jauh dari kafe ini. Kita langsung bahas hal penting saja, ya?" pintanya.


"Aku mengerti, tapi aku sudah memesan minuman untuk kita berdua. Ayo bicara sambil minum itu karena sepertinya kau haus," sahut Triton menyadari bahwa Lucy kehilangan sebagian tenaganya meski hanya menaiki taksi.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2