Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
12) Rencana Pernikahan Palsu


__ADS_3

Sebetulnya Lucy tak pernah berharap mendapat pernikahan megah seperti yang dialami perempuan lain. Dari awal ia tahu apa konsekuensi dari mengaku hamil duluan. Namun, gadis itu tidak berpikir jika pernikahannya bersama Kode akan sangat datar. Mereka pergi untuk membuat surat pernikahan dan semuanya selesai di sana.


"Apa tidak ada pesta sederhana? Maksudku, setidaknya keluargamu harus tahu!" ujar Lucy akhirnya bicara setelah terdiam lama di dalam mobil.


Kode yang fokus menyetir langsung mendengus geli. "Pesta? Aku rasa kita tidak perlu merayakan pernikahan palsu ini. Dan lagi kita akan berpisah setelah tiga bulan. Aku tak ingin keluargaku tahu kemudian bertanya kenapa kita bercerai."


Penjelasan pria itu terdengar masuk akal sampai Lucy tak dapat memberi sanggahan. Ia pun menunduk untuk menatap tes pack yang dijadikan bukti jika dirinya hamil. Tentu saja itu palsu. Sebelum mendaftarkan pernikahan secara resmi, Kode sudah lebih dulu mendapat tes pack tersebut.


Lucy tak tahu dari mana pria itu mendapat alat tes kehamilan dengan hasil positif. Sebab, ia ditinggalkan sendirian di mobil sampai Kode kembali membawa test pack tersebut. Kini dirinya akan dibawa pindah ke sebuah kota agar jauh dari jangkauan orang yang dikenal Kode.


"Yah, aku setuju denganmu," kata Lucy enggan mengajukan protes lagi. "Aku kaget karena proses pernikahan di sini sangat cepat. Berbeda dengan di tempat asalku yang harus mengumpulkan dokumen identitas dan lainnya."


"Pantas saja tadi kau terheran-heran setelah kita resmi menikah." Kode tertawa sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. "Ertik itu negara yang cukup bebas tentang masalah pernikahan. Di sini kasus perceraian sangat sedikit. Mungkin efek dari kurangnya populasi perempuan."


"Omong-omong, aku jadi penasaran. Ini tak pernah disebutkan dalam novel. Jadi, aku ingin tahu apa di Ertik banyak ga*y? Secara populasi pria lebih banyak di sini."


"Le*sbian dan ga*y dilarang di Ertik, tapi sebenarnya banyak yang diam-diam menyimpang, haha." Kode terekekeh.


"Ah, ternyata itu dilarang, sama seperti di dunia asalku. Apa kau juga seorang g*ay?"


Itu adalah pertanyaan yang tak pernah Kode duga sehingga ia terkejut dan menghentikan mobil, agar bisa menengok pada Lucy dengan tatapan tajam. Kode berbicara disertai nada serius, "Aku bukan seorang ga*y. Jika kau ragu maka aku bisa membuktikannya."


"Mau apa kau?" sahut Lucy ketar-ketir karena Kode mencondongkan tubuh ke arahnya. Ia menelan ludah saat menyadari mereka ada di jalan sepi. Lalu dengan ekspresi tegas gadis itu berseru, "Gas saja, Kode. Ayo buktikan jika kau bukan seorang gay!"


"Tiba-tiba saja aku berubah jadi seorang g*ay saat melihat wajahmu," ucap Kode yang tanpa merasa bersalah kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


"Apa? Dasar sialan!" umpatan Lucy.


"Ya, ya, ya. Terserah kau saja." Kode tak mau berdebat.


Lucy mendengus sebal dan memalingkan wajah juteknya dari sosok Kode. Dengan wajah ditekuk gadis itu menatap keluar jendela, melihat pepohonan yang tampak bergerak. Beberapa menit kemudian pemandangan hijau tersebut digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit. Tampaknya ini adalah kota yang Kode katakan.


"Kita sudah sampai. Ayo keluar dan jangan buat masalah," ajakan Kode seraya membuka sabuk pengaman. Sebelum keluar dari mobil ia melirik kotak susu di atas dashboard dan berkata, "Jangan lupa bawa maskawin kita juga."


Kerutan jengkel muncul di dahi Lucy setelah mendengar kata maskawin. Lantas ia mengambil kotak susu yang dimaksud oleh Kode sebagai maskawin. Nyaris saja tangannya meremas kuat kotak susu rasa cokelat tersebut. Jujur yang paling membuatnya marah adalah hal ini. Bisa-bisanya Kode memberikan sekotak susu sebagai maskawin.


Dari sana sudah terlihat jelas bila pria itu memang tak menganggap serius pernikahan ini. Lucy yang juga tidak serius hanya bisa pasrah. Ia keluar dari mobil dengan niat membuang semua kemarahannya pada Kode. Biar saja sekarang ia mendapat maskawin sekotak susu. Nanti di saat menikah sungguhan dengan pria lain Lucy bertekad untuk mendapat setidaknya cincin berlian.


"Kenapa wajahmu kusut begitu? Jangan protes tentang maskawinnya. Hanya itu yang bisa aku berikan padamu," ujarnya Kode menyadari suasana hati Lucy bertambah buruk ketika ia menyinggung tentang kotak susu.


Lucy yang sudah berniat untuk berdamai segera mengukir senyum manis. "Aku hanya kelelahan. Terima kasih atas maskawin yang tidak berguna ini, maksudku, terima kasih banyak atas maskawinnya."


"Sebenarnya aku punya banyak uang, tapi aku tidak akan memberikan uang pada orang asing. Aku harap kau bersedia makan mi instan tiap hari," ujarnya Kode membuat senyuman Lucy luntur.


Gadis itu mengeram jengkel lalu melempar kotak susu di tangannya tepat ke wajah Kode. Tanpa memikirkan kesepakatan tadi malam ia berteriak, "Dasar suami durhaka! Kau berencana memberiku makan mi instan tiap hari? Pasti kau ingin aku menderita usus buntu, iya kan?"


Pada saat bersamaan, Kode mengabaikan teriakan barusan dan malah menangkap susu yang dilempar Lucy. Karena belum diminum sama sekali ia pun menusukkan sedotan ke kotak susu itu. Tanpa mengatakan apa-apa diminumnya susu cokelat tersebut sampai habis.


"Hei, itu kan maskawinku!" seru Lucy mengambil kotak susu dari tangan Kode dan meratapi nasib malangnya. "Bahkan maskawinku pun kau rampas. Kau benar-benar suami durhaka seperti di film azab."


"Film azab?" Kode mengulang sembari mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Lupakan. Kau tidak akan tahu tentang itu. Tunjukkan saja di mana rumah yang akan kita tempati." lucy bertanya.


Kode menjawab, "Nomor rumahnya adalah 666. Jaraknya hanya beberapa langkah dari sini. Kau ke sana saja duluan dan istirahat. Biar aku yang mengurus barang-barang."


Lucy sungguh pergi duluan seperti yang Kode perintahkan. Akhirnya pria itu ditinggal sendirian di gerbang masuk perumahan. Lantas ia pun melakukan tugasnya untuk membawa barang-barang pindahan. Sebelum pergi ke kota ini, ia dan Lucy telah membeli pakaian serta kebutuhan lainnya.


Ketika mengangkut barang bawaannya Kode langsung jadi pusat perhatian. Tentu saja begitu, sebab ia adalah penghuni baru. Beberapa dari mereka menyapa dengan ramah dan membantunya memindahkan barang. Setelah semua barang selesai dipindahkan ia pun mengucapkan terima kasih.


"Apa perempuan tadi adalah istrimu?" tanya salah satu pria yang membantu mengangkat barang-barang.


Tanpa menunggu lama Kode langsung mengangguk. "Benar. Dia adalah Lucy, istri saya. Kami baru menikah karena kecelakaan. Pasti kau tahu apa maksudnya."


"Yah, itu tak mengejutkan. Dari awal aku sudah menduganya sebab kalian terlihat masih muda sekali." Pria lainnya menyahut dengan senyum jenaka.


"Haha, begitulah," jawab Kode yang entah kenapa merasakan firasat buruk. Karena tak ingin berada di teras lebih lama ia pun bertanya, "Apa saya boleh masuk? Pasti Lucy sedang menunggu di dalam."


Kode pikir dua pria tadi akan langsung memberi izin. Namun, pemikiran tersebut salah besar karena tangannya malah dicekal oleh mereka. Ia pun mengernyit heran dengan situasi aneh ini. "Maaf, apa kalian perlu sesuatu?" tanyanya.


"Ya, kami perlu istrimu," balas dua pria itu serempak.


"Ah iya, kalian pasti ingin bertemu dan berkenalan dengannya. Tunggu sebentar di sini. Biar aku panggilkan Lucy."


Lagi-lagi Kode ditahan saat ingin masuk ke rumah. Sebelum ia angkat suara, dua pria tadi mendahuluinya dengan berkata, "Kami ingin berbagi istri denganmu. Itu adalah hal biasa di Ertik. Jadi, kau pasti akan setuju, kan?"


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2