
"Itu adalah panggilan yang manis. Aku merasa akan menangis saking terharunya...."
Sementara dua orang itu mengoceh tentang panggilan sayang, sang sopir malah bermuram durja karena muak mendengar ocehan tersebut. Sayangnya, ia tak bisa melakukan apa pun karena harus fokus pada tujuan.
Beberapa waktu lalu, sebelum Lucy dan Kodee keluar dari klinik, orang yang diperintahkan Leonidas untuk menjemput mereka ternyata telah dibunuh. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Jack, orang yang saat ini sedang mengendarai mobil.
Raibeart mengutus orang itu untuk mengikuti jejak Kodee bagaimanapun caranya. Ia tidak peduli bahkan jika cara tersebut harus melibatkan nyawa seseorang. Yang paling penting baginya adalah menemukan Kodee dan menghajar sang teman karena berani berbohong.
Sejak awal Raibeart memang sudah menaruh curiga mengenai kemunculan Kodee di rumahnya. Hanya saja ia memilih untuk menutupi kecurigaan itu dengan membiarkan Kodee pergi. Dirinya baru menyusun rencana setelah kepergian sang teman.
Namun, Kodee bukanlah lawan yang remeh jika Raibeart sampai harus membuat rencana terlebih dulu. Sepanjang hidupnya Kodee telah berlari dari pihak berwajib yang kerap menyelidikinya dengan cara menyamar. Karena itulah ia menjadi lebih sensitif terhadap gerak-gerik orang lain.
"Sayangku, apa kau lelah? Aku rasa sebaiknya kau tidur karena perjalanan ke kota Morten cukup lama," ujar Kodee seraya melepas pelukannya.
Lucy yang bingung karena topik pembicaraan tiba-tiba berubah tak langsung menyetujui permintaan Kodee. "Aku masih ingin mengobrol denganmu, Kakanda. Jadi, jangan menyuruhku untuk tidur," balasnya berusaha tak terdengar kesal.
"Jika itu maumu maka kau harus bicara sendiri, sebab aku akan pergi tidur."
"Kakanda juga akan tidur?"
"Ya, sudah aku bilang perjalanan kita kali ini bisa memakan waktu lama."
Nada bicara Kodee terdengar meyakinkan sehingga pertahanan Lucy mulai goyah, padahal ia harus tetap terjaga supaya bisa memantau situasi. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi ketika ia menutup mata.
Anehnya, firasat buruk perlahan-lahan lenyap dari pikiran Lucy. Ia tak dapat menyangkal tentang seberapa kaku otot tubuhnya saat ini. Jelas sekali gadis itu mengalami pegal-pegal karena tak sempat beristirahat sejak kabur dari Raibeart.
Aksi kabur tersebut sangat menguras tenaga dan Kodee yang memiliki stamina kuat tampak tak memperhatikan hal tersebut. Lucy pikir pria itu baru menyadarinya sekarang karena menyuruhnya untuk beristirahat.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tidur asalkan Kakanda tidak ikut tidur," ujar Lucy yang langsung menyimpan telunjuknya di bibir Kodee agar pria itu tak bisa protes. "Jangan menyela ucapanku karena aku belum selesai. Aku bukan orang jahat sampai melarang Kakanda beristirahat."
Kodee mengangkat sebelah alisnya sambil menyingkirkan tangan Lucy. "Jadi, apa rencanamu, Sayang?" tanyanya.
"Aku akan tidur selama satu jam dan Kakanda harus membangunkanku. Setelah itu, Kakanda bisa tidur dan aku gantian menjaga Kakanda. Aku rasa ini pertukaran yang sepadan."
"Sepertinya aku tak punya pilihan lain karena Sayangku terlihat akan memaksa jika aku menolak."
"Benar sekali. Karena itu, aku akan tidur sekarang. Tolong bangunkan aku satu jam lagi."
Kodee tak jadi menanggapi ucapan Lucy karena gadis itu sudah memejamkan mata. Ia yang segan untuk mengganggu pun memilih diam. Selama beberapa menit dirinya hanya bermain ponsel seraya memperhatikan gerak-gerik Lucy.
Butuh waktu setengah jam bagi Kodee untuk memastikan bahwa gadis di sampingnya memang benar-benar terlelap. Ia tak ingin Lucy sampai bangun dan melihat aksinya. Setelah merasa yakin, ia pun mengeluarkan pistol yang telah disembunyikannya di pinggang.
"Aku akan langsung menembakmu jika kau berteriak atau sengaja menabrakkan mobilnya. Tapi, jika kau bersikap tenang maka aku bisa membiarkanmu tetap hidup," ancam Kodee seraya mengokang pistol untuk memastikan bahwa pelurunya siap ditembakkan.
"Dengar, aku mengeluarkan pistol ini bukan untuk mendapat simpati darimu. Jika kau masih melantur maka aku akan menarik pelatuknya."
"Santai sedikit, Bung! Aku--"
"Tolong pelankan suaramu. Aku akan menembak kepalamu jika istriku sampai terbangun."
Ancaman yang terus bertambah semakin menekan perasaan Jack. Setelah menetralkan detak jantungnya, ia pun berkata dengan pelan, "Aku bukan bawahan yang rela mati demi majikannya. Jadi, aku harus melakukan apa agar kau tak membunuhku?"
"Itu sederhana. Kau hanya perlu keluar dari mobil ini dan menyampaikan pesanku pada Raibeart," jawab Kodee yang masih menodongkan pistolnya.
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Ya, hanya itu. Kau harus mengatakan pada Raibeart untuk berhenti menjadi pengecut dan datang sendiri padaku. Apa kau bisa menyampaikannya?"
"Tentu saja. Aku akan menyampaikan pesanmu dengan baik. Nah, kapan aku harus keluar dari mobil ini?"
Kodee segera menurunkan senjatanya, kemudian melirik ke luar untuk menemukan bahwa mobil yang ditumpanginya masih berada di jalan raya. Begitu mendapat ide bagus, ia langsung menjawab, "Kita bisa berhenti di POM bensin. Saat itu kau boleh pergi."
"Sejujurnya aku masih ragu dengan ucapanmu. Raibeart telah memperingatiku sebelum aku menjalankan tugas darinya. Kau tahu apa yang dia katakan? Dia bilang kau adalah pria sinting dan aku akan bertemu malaikat maut jika ketahuan olehmu," sahut Jack mengakhiri ucapannya dengan tawa pelan.
"Kata-kata Raibeart tidaklah salah. Kau memang akan mati dan pergi ke neraka jika istriku tak ada di sini. Jadi, kau harus berterima kasih padanya andai kita bertemu lagi."
"Apa gadis itu benar-benar istrimu? Sepertinya Raibeart belum mengetahui fakta tersebut."
Kodee melirik sebentar ke arah Lucy sebelum membalas, "Kalau begitu tolong beri tahu pada Raibeart bahwa Lucy adalah istriku. Jika dia ingin menangkapnya maka dia harus menghadapiku terlebih dulu."
"Itu agak lucu. Bukankah sekarang kau sedang melarikan diri dari bosku? Mengapa kau begitu percaya diri dan berani menantangnya?"
"Ah, kau salah paham tentang sesuatu. Alasan utamaku pindah ke kota lain bukan karena takut pada Raibeart, tapi karena di tempat tinggalku sebelumnya banyak pria berengsek. Aku pikir mereka akan berusaha cari perhatian pada istriku."
"Apa aku harus menyampaikan itu juga pada Raibeart?"
"Kau banyak tanya. Sampaikan saja semua yang aku katakan padanya."
Perkataan tersebut menjadi akhir dari pembicaraan antara Kodee dan orang suruhan Raibeart. Walaupun tak membuat kesepakatan, tapi anehnya mereka dapat memahami satu sama lain sehingga memutuskan untuk diam.
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1
...Oh iya, mungkin ada yg bingung kok si Kodee bisa nyembunyiin pistol di pinggang sambil duduk. Itu bisa kok, tergantung ukuran pistolnya. Asal pake sarung dan sabuk yg bagus buat nahan posisi pistolnya....