Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
14) Membeli Pembalut


__ADS_3

Kode tak menjawab dan langsung menyelonong ke mobil Arthur. Tempat pertemuan mereka cukup jauh dari toko kelontong tadi, sehingga ia yakin tidak akan meninggalkan jejak. Karena mobil tak kunjung berjalan ia pun berseru, "Jangan banyak tanya. Antarkan saja aku ke hutan itu!"


"Padahal kita sudah lama tak bertemu, tapi kau malah kasar padaku," gerutu Arthur seraya melajukan mobil.


"Aku sedang tidak dalam suasana hati untuk bercanda. Oh iya, kau bawa pistolnya, kan?" kode bertanya.


Arthur menjawab, "Tentu saja. Ini senjata dengan peredam suara paling bagus yang aku miliki."


"Itu bagus." Kode berekspresi dingin.


Setelahnya tak ada lagi percakapan. Kode berpikir apa yang harus dilakukan pada Andreas dan Samuel, sedangkan Arthur yang tak punya pemikiran apa pun hanya bisa bersenandung kecil. Hingga tak terasa mereka sampai di tempat tujuan. Meski hari belum gelap, tapi hutan yang mereka datangi sangatlah sepi.


Lagi pula siapa yang ingin datang ke hutan untuk bersenang-senang? Hal bagus karena kebanyakan orang takut untuk datang ke hutan. Itu memberi keuntungan pada Kode yang saat ini telah masuk ke dalam hutan. Sebelum pergi ia sudah lebih dulu menyuruh Arthur untuk menunggu di mobil.


"Akhirnya kau datang juga!" Sahutan Andreas yang sudah tiba dari lama.


Alih-alih mendapatkan sapaan balik dari Kode, pria itu justru malah mendapat tembakan di kepalanya.


Kejadian yang berlalu secepat angin ini membuat Samuel terkesiap. Ia belum sempat mengeluarkan suara dan Kode telah menembak kepalanya juga. Pelaku dari kekacauan ini malah menyeringai lebar kemudian tertawa keras, hingga suaranya bergema di hutan.


"Tidakkah kau terlalu kejam? Setidaknya biarkan mereka mengucapkan kata-kata terakhir dulu," celetuk Arthur yang ternyata tidak menuruti seruan kode malahan mengikutinya dari belakang.


Kode pun memutar bola mata malas sembari melempar pistol ke tanah. Kemudian ia melepas sarung tangan yang sudah dipakai sejak tadi dan memberikannya pada Arthur sembari berkata, "Ayo tinggalkan tempat ini. Aku harus mengerjakan hal penting lain."


"Dan hal penting apa itu?" tanya Arthur penasaran.


Kode menjawab tanpa ekspresi, "Membeli pembalut."

__ADS_1


Walaupun telah bekerja sebagai pembunuh bayaran bersama Kode, tapi Arthur masih tak bisa menebak pola pikir temannya. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, "Apa kau sudah menjadi transgender sampai harus membeli pembalut?


Kode menjawab, "Itu tak akan terjadi, Arthur. Aku hanya telah menikah dan istriku minta dibelikan pembalut."


"Oh, syukurlah jika kau tidak menjadi transgender." Arthur yang semula tersenyum kini melotot dan mencengkeram pakaian Kode. "T-tadi kau bilang apa? Menikah?"


"Benar. Aku baru saja menikah hari ini," jawab Kode menghempas tangan Arthur dari pakaiannya.


Lalu, berbeda dengan yang tadi, sekarang perjalanan menuju supermarket dipenuhi oleh pertanyaan dari Arthur. Bohong jika ia berkata tidak syok dengan pengakuan sang teman. Dalam mimpi sekalipun dirinya tak pernah membayangkan jika Kode akan menikah.


Sayangnya sepanjang perjalanan Kode terus diam, enggan membeberkan fakta tentang pernikahannya. Begitu sampai di supermarket ia langsung membeli camilan serta pembalut. Kode itu ingin segera pulang kemudian beristirahat. Jadi, permintaan Lucy untuk membeli ini dan itu harus segera dilaksanakan.


Kode pikir setelah pulang ke rumah Lucy akan menyambutnya dengan tatapan terharu. Ia telah membeli banyak stok makanan yang cukup untuk satu bulan ke depan. Tetapi, saat sampai di rumah ternyata Lucy tidak menunjukkan tanda-tanda bahagia apalagi terharu. Respons tersebut segera menyulut emosi dalam benak Kode.


"Kenapa kau tidak berterima kasih padaku?" protes pria itu.


Kode berkata dengan ekspresi dinginz "Yah, itu karena aku bingung. Kau tidak bilang dengan spesifik, pegawai supermarket itu cerewet sekali banyak sekali pertanyaan yang membuat aku pusing. Jadi, aku beli saja semuanya agar kau tidak protes. Aku sudah memborong pembalut dengan berbagai ukuran, dari ukuran gadis Abg, jumbo sampai dengan untuk ukuran nenek-nenek, ada yang berdaya serap tinggi, tanpa sayap, dan satu lagi ada pembalut yang mempunyai pendingin, entah pendingin seperti apa yang di gunakan aku kurang tahu-- ...."


Lucy yang malu mendengar itu langsung menimpuk wajah Kode dengan pembalut yang telah dikeluarkannya dari kardus.


****


Malam hari adalah waktu yang tepat untuk tidur selamanya. Ralat, waktu yang tepat untuk tidur sampai pagi tiba. Lucy hendak tidur nyenyak malam ini karena baru sekarang dirinya terbebas. Kemarin-kemarin Kode selalu menerornya hingga gadis itu tak bisa menghirup udara dengan tenang.


Namun, sekarang mereka telah berdamai dan tidak ada ancaman yang berarti bagi Lucy. Awalnya suasana memang damai. Hingga kemudian terdengar ribut-ribut dari luar rumah, penghuni kompleks tampak berkumpul di jalanan seolah tengah protes tentang harga sembako yang naik.


"Ada apa ini? Kenapa mereka berisik sekali?" tanya Lucy baru keluar dari kamar mandi setelah mengganti pembalut.

__ADS_1


Kode mengangkat bahu tak tahu sambil menekan remot guna mematikan televisi. Setelah berhasil ia pun bangkit dari sofa kemudian mendekati jendela, menyingkap sedikit tirainya agar bisa mengintip ke luar sana. Samar-samar telinganya menangkap apa yang orang-orang itu bicarakan.


"Katanya ada orang yang pergi ke hutan dan menemukan mayat di sana. Ini pertama kalinya ada kejadian seperti itu di sekitar perumahan."


"Yang aku dengar katanya dua mayat itu masih baru. Setelah dikonfirmasi polisi ternyata identitas mereka adalah penghuni di perumahan kita."


"Oh, astaga! Aku juga mendengar informasi itu. Mereka adalah Andreas dan Samuel. Meski dua orang itu sering berhutang di warungku, tapi aku pikir mereka tak pantas menerima hal tersebut."


Ternyata mayat Andreas dan Samuel telah ditemukan. Itu bukan fakta mencengangkan sampai Kode harus ketar-ketir. Dengan tenang ia melepas ujung tirai dari tangannya, lalu ketika berbalik untuk kembali menonton televisi tubuhnya menabrak sesuatu, atau mungkin seseorang?


"Kalau ingin berbalik itu bilang dulu! Apa kau tidak tahu jika aku ada di belakangmu?" bentak Lucy yang menjadi korban tabrakan tadi. "Aku memaafkanmu kali ini karena dadamu menubruk wajahku dan itu terasa mantap."


"Oh, terima kasih untuk dadaku," ucap Kode seraya meremas dadanya.


Melihat itu Lucy pun spontan memukul tangan Kode. Dengan raut wajah jijik ia bertanya, "Apa yang kau lakukan?"


"Aku rasa pertanyaan itu sangat tak berbobot. Kau punya mata dan bisa melihat apa yang aku lakukan."


Jawaban dan ekspresi datar Kode membuat Lucy gemas. Ingin sekali ia menampar wajah tampan pria itu, tapi keinginan tersebut harus musnah saat teringat sesuatu. Langsung saja ia menahan Kode yang hendak pergi duduk. Mereka harus bicara tentang keributan di luar sana.


"Tadi aku dengar jika mereka membicarakan tentang pembunuhan," kata Lucy melirik Kode yang ternyata sudah menatapnya dari lama. "Aku tak ingin basa-basi. Jadi, apakah kau pelaku pembunuhan itu?"


"Kau pikir aku ini kurang kerjaan sampai melakukan hal tersebut? Padahal kau tahu kalau aku diam di rumah sepanjang hari. Aku hanya keluar untuk membeli makanan dan pembalutmu!" Kode menjawab dengan penuh emosi.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2