
Perbandingan antara ga*y dan pria normal di Ertik sangatlah tak seimbang. Yang Kode tahu saat ini lebih banyak pria normal yang tidak berminat untuk menyimpang. Oleh karena itu, tak heran jika sekarang ia mendapat permintaan dari orang asing perihal berbagi istri. Hal ini juga pernah dialami oleh Leonidas, mengingat fisik Yuka sangat menarik perhatian.
Karena sering terjadi maka permintaan berbagi istri tak dipandang aneh lagi. Begitu pula dengan Zeno. Ia pikir wajar saja jika tetangga barunya meminta Lucy untuk dijadikan istri. Sambil tersenyum kecil pria itu pun berkata, "Tentu saja. Ayo berbagi istri, tapi saya ingin mengajukan syarat untuk hal tersebut."
"Ah, baiklah! Kalau begitu kita bicara formal saja," sahut pria berambut pirang yang kemudian memperkenalkan diri. "Panggil saja aku Andreas. Dan orang di sampingku adalah Samuel."
Orang yang diperkenalkan sebagai Samuel langsung mengulas senyum manis. Ia mengulurkan tangan pada Kode dan bertanya, "Apa syarat darimu?"
"Mudah saja. Kalian harus merahasiakan ini dari orang lain. Jika orang sampai tahu mungkin mereka juga akan meminta hal sama padaku. Perlu kalian ingat jika aku tidak ingin berbagi istri dengan banyak orang. Aku rasa kalian berdua saja sudah cukup," papar Kode menyambut uluran tangan Samuel.
"Hanya itu saja?" Andreas menimpali dengan antusias.
"Ada satu lagi." Zeno melepas acara jabat tangannya dan tanpa melunturkan senyum ia melanjutkan, "Aku ingin kita bicara bertiga saja di suatu tempat. Itu pun jika kalian setuju."
Tanpa berpikir dua kali Andreas dan Samuel langsung menyahut, "Kami setuju. Kapan dan di mana kita akan bertemu?"
"Sekarang saja. Aku tidak suka membuang waktu. Kalian tahu hutan sebelum perumahan? Mari bertemu di sana. Aku akan masuk dulu dan memberi tahu Lucy. Setelah itu aku akan menyusul kalian. Jadi, pergilah duluan."
Kode melambaikan tangan untuk melepas kepergian Andreas dan Samuel dari rumah barunya. Sedetik kemudian senyum ramah yang ditunjukkannya luntur, seketika Kode kembali memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasanya lalu beranjak masuk ke rumah.
__ADS_1
Baru beberapa langkah dan Kode sudah menemukan orang yang dicarinya. Ia segera menghampiri Lucy untuk bertanya, "Hei, apa kau ingin membuat harem?"
"Bicara apa kau tiba-tiba?" balas Lucy yang tengah mengeluarkan pakaiannya dari koper.
Kode berkata lagi, "Tadi ada dua pria datang dan memintaku untuk berbagi istri. Karena itulah aku bertanya seperti tadi."
Lucy menanggapi, "Daripada membuat harem aku lebih ingin makan! Kita hanya membawa makanan ringan saja ke sini. Aku ingin makan nasi agar bisa bertahan hidup sampai bertemu pria-pria hot."
Tiba-tiba saja muncul sebuah ide dalam pikiran Kode karena mendengar kata makanan. Kemarin ia telah membeli sekardus mi instan untuk dimakan oleh Lucy. Namun, setelah mendengar ucapan gadis itu dirinya jadi mempunyai rencana lain. Sepertinya membeli makanan tidak akan terlalu menguras dompet.
"Kau tidak masalah jika aku tinggal sendiri, kan?" tanya Kode seraya mengeluarkan dompet dari saku celananya. "Uangku cukup untuk membeli stok makanan. Katakan padaku apa saja yang ingin kau beli."
Perhatian Lucy pun tak lagi tertuju pada pakaiannya berkat tawaran menggiurkan Kode. Segera saja ia menengok agar pria itu bisa melihat binar senang di matanya. Tanpa ragu-ragu ia menjawab, "Tolong beli beras dan daging. Ah, jangan lupa bumbunya. Aku pikir sayur juga dibutuhkan. Pokoknya empat sehat lima sempurna tanpa lewat!"
Lucy berkata, "Jika tak keberatan tolong beli camilan yang manis dan pembalut. Aku rasa sebentar lagi aku akan men*struasi."
Kode membalas, "Oke. Kalau begitu aku pergi sekarang. Jangan coba-coba untuk kabur karena kita sudah sepakat."
Lucy memandangi punggung Kode sambil mengerjap tak percaya. Tentu saja ia kaget karena pria itu setuju untuk membelikannya pembalut tanpa protes sedikit pun. Padahal ia saja yang seorang perempuan kadang malu membeli barang tersebut. Sepertinya Kode memang tidak peduli terhadap tanggapan sekitar seperti deskripsi dalam novel.
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain Kode mengendarai mobilnya bukan dengan maksud baik. Membeli kebutuhan Lucy hanya alibinya saja. Alasan sebenarnya pria itu keluar adalah untuk membunuh. Tak usah bertele-tele. Dirinya memang berniat menghabisi Andreas dan Samuel karena mereka sangat menyebalkan.
"Berbagi istri katanya?" gumam Kode mengulas senyum miring sembari menginjak pedal gas ketika sadar jalanan sedang sepi. "Lucy itu hanya istri pura-pura saja. Dengan kata lain aku tak punya istri untuk dibagi. Karena itu biarkan aku membagi kematian pada mereka berdua."
Kode tak langsung menghabisi orang yang dianggapnya hama. Alih-alih pergi ke hutan, ia malah membawa mobil menuju toko sembako. Dengan penuh perhatian pria itu memarkirkan kendaraannya dan masuk ke sana. Namun, niat tujuan sebenarnya datang ke sana bukanlah untuk berbelanja, melainkan hanya untuk meninggalkan bukti jika seolah-olah dirinya pernah datang ke toko tersebut.
"Maaf, saya ada urusan lain dan tidak bisa berlama-lama di sini. Bisakah Anda menyiapkan beras, telur, dan daging ayam? Samakan saja semuanya tiga kilogram. Lalu tambahkan juga sayuran dengan semua bumbunya. Berapa saja asal cukup untuk satu bulan," tutur Kode begitu masuk ke dalam toko.
Pekerja di sana langsung mengerutkan dahi jengkel dan berkata, "Datang saja ke sini kalau urusan Anda telah selesai."
"Saya sibuk. Jadi, saya tinggalkan uangnya di sini dan akan kembali nanti. Tolong berikan saya kemudahan. Kalau Anda bersedia silakan ambil saja sisa uangnya."
Usai mengatakan itu Kode mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet. Nominal uang tersebut lebih besar dari total belanjaannya tadi. Lalu sesuai perkiraan, aura suram yang tadi mengitari si pekerja langsung hilang ketika melihat uang. Dengan begitu Kode bisa pergi dari sana tanpa perlu membujuk lebih lama.
Pria itu keluar dari pintu lainnya dan tidak menaiki mobil. Terlalu berisiko karena nomor plat bisa dilacak jika polisi mencurigainya. Barusan ia sengaja mencari toko sembako kecil yang tidak mempunyai CCTV untuk menghindari hal buruk. Namun, usaha itu akan percuma seandainya ia pergi ke hutan dengan mobil.
Ada banyak CCTV di kota ini. Bisa saja salah satu dari kamera tersebut menangkap momen ketika Kode mengendarai mobil ke hutan. Oleh karena itu, ia memilih untuk meminta bantuan pada seorang teman. Sebut saja Arthur karena temannya itu tidak mempunyai nama, tepatnya tak membeberkan identitas ke publik.
"Tumben sekali kau menghubungiku. Apa ini misi pembunuhan yang darurat?" tanya Arthur yang sudah tiba dengan mobilnya.
__ADS_1
...****************...
...To Be Continue...