
Tak ada lagi sisa kesabaran dalam benak Kodee usai mendengar kabar jika Lucy menghilang. Namun, di sisi lain ia tahu jika marah pada Arvi hanya akan membuang waktu. Pria itu ingat mereka bisa berteman karena hubungan antar dua keluarga.
Kodee pun ingat bagaimana perkembangan Arvi dari dulu sampai sekarang. Walaupun pintar dalam berakting, tapi temannya itu butuh waktu lama ketika mengolah suatu informasi dan sering salah paham. Singkatnya Arvi bukan orang yang bisa diajak bekerja sama tentang masalah Lucy.
"Kelinci itu adalah bagian dari sulapku dan dia sangat penting. Lalu aku melakukan kesalahan sampai dia menghilang. Karena itu tolong bantu aku mencarinya," pinta Kodee berdusta.
Sedangkan Arvi yang merasa bersalah langsung mengangguk dan bergerak untuk mencari Kelinci milik Kodee. Akan tetapi, saat berbalik Arvi merasa jika seseorang melempar sesuatu ke kepalanya, sesuatu yang begitu besar hingga sanggup merenggut kesadaran seseorang.
Ternyata sesuatu itu adalah meja di ruang tamu. Kodee yang berada di belakang memukulkan meja tersebut tepat ke tengkuk Arvi. Ini terpaksa dilakukan karena ia tidak ingin direpotkan oleh pertanyaan temannya mengenai Lucy.
"Satu masalah telah selesai," ujar Kodee seraya memindahkan tubuh Arvi ke atas sofa.
Kemudian pria itu menyusuri penjuru rumah untuk menemukan Lucy. Nyaris saja ia membanting barang-barang di sana jika tak ingat belum mengecek satu ruangan. Tanpa menunggu lama Kodee segera masuk ke kamar Lucy, menyingkap selimut dan tidak menemukan apa-apa di sana.
"Sial. Ke mana dia pergi?"
Nada bicara Kodee terdengar resah karena kamar tersebut satu-satunya tempat yang belum dia periksa. Mungkin saja Lucy kabur dari rumah untuk menghindari Arvi. Dugaan itu membuatnya berencana menyisir ke seluruh perumahan.
Namun, baru melangkah sebentar perhatian Kodee tersedot oleh suara benda jatuh. Lantas ia menoleh ke belakang dan mengambil buku yang terjatuh entah dari mana. Pria itu mendongak untuk menemukan bahwa ada seekor Kelinci di atas lemari.
"Lucy ...?" panggil Kodee tak yakin.
Sedetik kemudian Kelinci tersebut melompat dari lemari dan mendarat tepat di atas wajahnya Kodee. Kini ia bisa menebak jika Kelinci kecil itu memang Lucy. Lagi pula dirinya pindah ke perumahan tanpa membawa peliharaan satu pun.
Kodee lebih dulu melempar buku yang tadi dipegangnya ke sembarang arah, lalu ia menarik Kelinci dari wajahnya dan mengembuskan napas lega. Ternyata memang benar Lucy. Dirinya sangat yakin karena ingat betul bagaimana wujud Lucy dalam bentuk anak Kelinci putih kecil.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah jadi Kelinci?" tanya Kodee meletakkan Lucy di atas meja rias. Ia berpikir sejenak dan kembali bertanya, "Apa kau dibunuh oleh Arvi? Bisa saja dia berbohong padaku tentang tidak membunuhmu."
Sedangkan di sisi lain Lucy hanya bisa mencicit dalam wujudnya saat ini. Mustahil Kodee mengerti apa yang dikatakan seekor Kelinci. Beberapa waktu lalu mereka sama-sama manusia, tapi sekarang mereka adalah spesies berbeda.
__ADS_1
Komunikasi di antara keduanya tak akan berjalan lancar. Oleh karena itu, Kodee pergi ke kamarnya untuk mengambil sebuah pistol. Sebelum menarik pelatuknya ia berkata, "Maafkan aku, Lucy. Aku harus membunuhmu agar kau kembali normal."
Begitu pelatuk ditarik maka Lucy yang masih dalam wujud Kelinci pun mati. Namun, sama seperti kemarin-kemarin, gadis itu kembali menjadi manusia setelah dibunuh. Sungguh mengherankan. Jika kematian adalah pemicunya lalu kenapa ia berubah tanpa alasan?
"Lucy," panggil Kodee membuat gadis di hadapannya menoleh. "Sepertinya aku harus meminta maaf lagi padamu.".
Sebelum bertanya tentang maksud dari perkataan tersebut, Lucy mendapati sesuatu mendarat di bibirnya. Dan sesuatu itu adalah bibirnya Kodee. Karena terlalu mendadak tentu saja Lucy syok hingga jantungnya berdetak tak keruan.
Kecupan tersebut hanya dilakukan kodee sebentar, karena setelahnya ia langsung segera menarik dirinya. Lalu sesuai dengan perkiraannya, Lucy berubah menjadi Kelinci akibat kecupan tadi. Dengan begini kesimpulan baru pun dibuat.
"Aku rasa yang membuatmu berubah bukanlah kematian, tapi detak jantungmu," ujar Kodee sembari menembak Lucy yang tadi berubah jadi Kelinci. "Dan sekarang kau menjadi manusia lagi karena kaget dibunuh olehku."
Setelah kembali ke wujud manusia, Lucy langsung mengguncang bahu Kodee dan menjerit tak terima. "Jika benar begitu kenapa kau harus menciumku segala?"
"Waktu itu kau berubah jadi Kelinci karena kaget. Saat diteror oleh pembunuh maka jantung seseorang akan berdetak kencang akibat rasa takut. Dan puncaknya adalah saat orang tersebut benar-benar dibunuh, jantung mereka pasti hampir meledak. Itulah yang terjadi padamu dulu!"
"A-ada apa?" tanya Lucy gelagapan karena tangannya tiba-tiba ditahan.
"Jika benar alasanmu berubah adalah karena detak jantung ..., lalu kenapa kau bisa berubah saat ada Arvi? Apa dia mengejutkanmu atau dia ingin membunuhmu atau dia mengancammu atau dia --?" Kodee menaikkan sebelah alisnya, penasaran.
"Arvi tidak mengejutkanku." Lucy memalingkan wajahnya yang memerah.
"Jadi?" tanyanya Kodee.
Lucy terdiam karena bingung lalu menjawab dengan semangat. "Oh, aku paham! Tokoh paling tampan di novel adalah Leonidas, tapi kebanyakan pembaca lebih menyukai Arvi. Itu karena dia sangat imut."
"Aku tak paham selera mereka. Imut? ... Orang lamban seperti Arvi?" sahut Kodee membebaskan tangan Lucy dari genggamannya.
"Yah, Arvi itu kan seorang aktor terkenal. Saat bertemu idolamu pasti jantungmu juga akan berdebar karena senang. Inilah yang terjadi padaku. Mungkin aku mengalami serangan jantung karena ketampanan Arvi?"
__ADS_1
"Lalu kenapa jantungmu tidak berdebar kencang saat bertemu Leonidas dan Sean? Aku pikir mereka berdua lebih tampan dari Arvi."
"Itu karena meski tampan, mereka juga menyeramkan. Jadi, jantungku paling berdebar sedikit saja. Di dalam novel suami Isabell yang paling tenang dan waras adalah Arvi. Saat bertemu dengannya jarak di antara kami begitu dekat, sampai jantungku terasa ingin meledak seperti balon hijau!"
Walaupun belum tentu benar, tapi untuk saat ini Kodee meyakini alasan Lucy berubah adalah karena detak jantung. Ia harus membuat kondisi aman supaya gadis itu tidak terkejut. Pasti ada batasan yang tak boleh dilewati oleh jantungnya Lucy.
Hanya saja Kodee tak bisa fokus memikirkan rencana ke depannya. Raut wajah Lucy yang penuh semangat ketika menceritakan Arvi entah kenapa terlihat mengganggu Kodee. Lantas ia menoleh pada cermin di meja rias untuk memastikan bahwa penampilannya tidaklah buruk dan tidaklah kalah tampam di bandingkan semua calon Istri Yukata.
"Hei, apa aku tampan?" tanya Kodee tiba-tiba.
Lucy yang tadinya ingin menjelaskan 1001 alasan kenapa Arvi itu harus diidolakan langsung terdiam. Tanpa ragu-ragu ia menjawab, "Ya, kau tampan. Kenapa bertanya seperti tadi?"
"Jika aku tampan, lalu kenapa kau tidak mengidolakanku juga?" pertanyaan polos Kodee dengan ekspresi dingin.
"Untuk apa aku menjadi penggemar dari seorang pembunuh bayaran?" Celetuk Lucy per-peran.
"Ah, benar juga." Lanjutnya Kodee berekspresi datar.
Dalam hati Lucy mengomel karena pria di depannya bertingkah aneh. Lebih baik ia keluar dari kamar untuk menghindari Kodee. Namun, alangkah terkejut dirinya saat melihat Arvi terbaring tak sadarkan diri di atas sofa.
"Apa yang terjadi pada Arvi-ku sayang?!" jerit Lucy menangis sesenggukan di atas tubuh Arvi sambil mengambil kesempatan dalam keleluasaan untung merebah dada Arvi dari atas sampai bagian bawah.
Sedangkan Kodee yang baru keluar langsung memutar bola mata jengkel. Ia tak menjawab dan memilih pergi ke kamarnya untuk menaruh pistol. Ketika menatap senjata tersebut sebuah pemikiran gila melintas di benaknya.
Kodee mencengkeram erat gagang pistol sambil bergumam, "Apakah aku boleh membunuh Arvi?"
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1