
"Lucy, cepat pegang tanganku!" Seruan Sean.
Tanpa memberi jawaban Lucy langsung meraih uluran tangan Sean. Mereka pun saling menggenggam satu sama lain sambil berlari kencang, sementara di belakang Kode mengejar dengan terus menembakkan peluru pistolnya. Untungnya peluru tersebut selalu memeleset karena Sean akan kewalahan jika harus menembak sambil berlari di saat bersamaan.
"Kita akan pergi ke mana?" tanya Lucy sedikit terengah-engah.
Sean yang memimpin jalan segera menyahut, "Aku akan membawamu ke tempat aman, tempat di mana Kode tak bisa menemukanmu. Lalu kita bisa hidup bahagia selamanya di sana."
Mendengar itu Lucy tak dapat menahan air mata terharu yang telah membanjiri pipinya. Ia hendak melompat untuk memeluk Sean, namun ketika saat di rasa Kode telah berhasil menampar wajahnya Lucy, tamparan tersebut berhasil membuat Lucy sadar dari tidur serta mimpi indahnya yang berbunga-bunga. Sungguh cara bangun yang tidak menyenangkan.
"Cepat bangun dan mandi! Kita harus pergi dari sini," titah Kode, setelah selesai menampar pipi Lucy dengan tegahnya.
Tanpa meminta maaf dulu pria itu pergi dari kamar, dan menyisakan Lucy yang duduk di ranjang dengan wajah muram. Padahal sebentar lagi di alam mimpinya tadi ia hampir bisa memeluk tubuh kekar Sean. Namun, Kode malah datang dan merusak mimpi indah tersebut. Lebih apesnya lagi ia tak dapat protes karena takut dibunuh seperti kemarin-kemarin.
"Aku harus segera menghubungi iblis laknat itu. Dia pasti bisa membawaku pulang ke dunia asliku," gerutu Lucy memaksa kakinya untuk melangkah ke kamar mandi.
Setibanya di sana ia malah mengambil pisau cukur, alih-alih menyalakan keran guna membersihkan diri. Lalu tanpa aba-aba ditekannya pisau cukur tersebut ke kulit jempol, hingga menimbulkan luka kecil yang mengeluarkan darah. Dengan mengandalkan sedikit darahnya ia menggambar sebuah simbol di lantai.
Itu adalah simbol yang digunakan untuk memanggil iblis. Lucy harap ini akan berhasil karena dirinya tak tahan lagi jika harus berada di sekitar Kode. Ia memejamkan mata sembari mengucapkan mantra. Beberapa menit kemudian muncul bayangan hitam yang menyelimuti seluruh kamar mandi.
"Akhirnya kau muncul juga!" seruan Lucy girang saat mengetahui ritual tadi berhasil.
Sementara itu, si iblis yang muncul dalam wujud bayangan terdengar menghela napas jengkel dan berkata, "Aku ini sibuk sekali. Dalam waktu lima menit kau harus menjelaskan alasan kenapa aku dipanggil ke sini?"
"Memangnya iblis sepertimu sibuk apa, hah?!" Lucy bertanya kesal.
"Kepo sekali kau ini. Jika kau hanya ingin marah-marah maka aku akan pergi." Ujarnya sang Iblis.
Dalam hitungan detik ekspresi garang yang ditampilkan Lucy langsung hilang, digantikan oleh raut wajah ceria dengan senyuman manis. "Tuan Iblis yang baik hati, aku punya satu permintaan. Tolong buat aku kembali ke dunia nyata!" pintanya dengan rayuan seperti kucing dan kerlingan bola mata yang sok di imut-imutkan.
"Bagaimana, ya? Tapi aku ini bukan iblis yang baik hati," balas si iblis setengah mengejek.
"Kalau begitu ..., Tuan Iblis yang kurang ajar tolong kembalikan aku ke dunia nyata!" Yuri nampak kesal.
"Yang kurang ajar itu dirimu! ... Masa' kau mengatai orang yang akan membantumu?" Iblis mengeraskan nada bicaranya.
__ADS_1
Lucy menyalurkan semua kekesalannya dalam bentuk kepalan tangan. Setelah menarik napas panjang ia pun berkata, "Aku sudah tidak kuat lagi hidup di dunia ini. Jadi, tolong kembalikan aku ke dunia nyata. Tolong, ya? Aku mohon padamu!" Lucy nampak pura-pura menangis.
"Mungkin aku akan mengabulkannya jika kau minum air toilet." Ujarnya iblis mengejek.
"Kau memang betul-betul seorang iblis! Bagaimana bisa kau setega itu padaku?" Lucy mencak-mencak.
Si iblis mendengus geli ketika menimpali perkataan barusan. "Dari awal kan aku memang seorang iblis. Kau pikir aku ini malaikat yang baik hati dan akan mengabulkan permintaanmu, bodoh?"
"Oh, begitu? Jangan kau pikir aku ini manusia lemah. Pergi saja sana! Aku bisa mencari cara lain untuk kembali ke dunia asalku." sungut Lucy tak dapat mengendalikan emosinya lagi.
Sesaat setelah itu ia menyesal karena si iblis benar-benar pergi. Kini dirinya harus bertahan hidup bersama Kode sampai menemukan cara untuk kembali ke dunia nyata. Namun, Lucy pikir hidupnya pasti berakhir sebelum itu terwujud karena Kode akan berusaha menghabisinya.
Bahkan jika tidak mati pun Lucy yakin kesehatan mentalnya akan terganggu. Untuk sekarang ia tak ingin memikirkan kemungkinan buruk tersebut. Gadis itu bergegas mandi dan begitu selesai dirinya baru menyadari sesuatu. Ia tak punya pakaian ganti.
"Dasar pria sinting! Harusnya dia memberi baju baru jika menjadikanku sebagai objek eksperimen," hardik Lucy ketika memakai kembali jaket milik Kode.
Hidungnya amat tersiksa saat bau-bau aneh menguap dari jaket berwarna hitam itu. Meski demikian ia tak mungkin melepas jaketnya dan keluar tanpa busana. Jadi, dengan berat hati Lucy tetap mengenakan jaket tersebut lalu menemui Kode yang menunggu di luar kamar.
Pria itu mengernyit jijik ketika menutup hidungnya dan berkata, "Kau bau sekali! Apa kau yakin sudah mandi?"
"Oh iya, aku lupa memberimu pakaian ganti," kata Kode tidak merasa bersalah ketika menyodorkan kaos polos dan rok pendek pada Lucy. "Sekarang ganti jaketmu dengan ini. Jangan lama-lama, kita harus segera pergi."
Lucy menggertakkan giginya saat menerima setelan pakaian tersebut dan masuk ke kamar dengan cara membanting pintu. Masa bodoh jika Kode marah karena hal tersebut. Lagi pula ia yakin pria itu tak akan berani macam-macam, secara dirinya adalah objek eksperimen yang harus dijaga.
Biarpun tidak mempunyai bukti, tapi Lucy yakin ke depannya Kode akan lebih berhati-hati. Pria itu pasti tidak ingin kehilangan Kelinci percobaannya sebab belum memberi keuntungan. Ia harus segera kabur sebelum Kode menyadari bahwa dirinya tak berguna, alias tidak bisa membantu tentang masalah populasi perempuan di Ertik.
"Aku sudah selesai," ucap Lucy berjalan keluar kamar. Saat beradu pandangan dengan Kode ia pun bertanya, "Kita akan pergi ke mana sekarang? Apa ke rumahmu yang di hutan itu?"
"Tidak, kita akan mengurus acara pernikahan," jawab pria itu enteng.
"Sepertinya tahi telingaku sangat banyak sampai salah dengar. Mengurus acara pernikahan siapa itu? ... Mungkin maksudmu adalah mengurus acara pemakaman untukku iya kan?" Lucy nampak muram bersedih.
Kode menggeleng keras. "Kau tidak salah dengar, Lucy. Tadi aku memang bicara tentang masalah pernikahan. Kita harus menikah secepat mungkin."
"Umurku masih 18 tahun! Kau pedofil, ya aku ini anak di bawah umur tahu?" sembur Lucy merinding.
__ADS_1
"Bicara apa kau ini? Umurku masih 20 tahun. Aku rasa perbandingan umur kita tak terlalu jauh." timpalan Kode.
"Kalau begitu kau ingin menafkahiku dengan uang haram? Camkan ini baik-baik, aku tidak ingin hidup dari uang hasil membunuh orang lain!" Lucy berekspresi kesal.
Hal yang paling Kode benci adalah ketika seseorang menyinggung tentang profesinya sebagai pembunuh bayaran. Namun, ia tak jadi marah ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan Lucy. Alih-alih tersinggung pria itu malah tertawa keras sampai bahunya bergetar.
"Akhirnya kau jadi gila juga," celetuk Lucy tak paham arti dari tawa barusan.
Sedangkan Kode yang telah berhenti tertawa langsung berkata, "Padahal dulu kau menyinggung tentang iblis. Itu berarti kau bisa pindah ke dunia ini karena memuja iblis, kan?"
Lucy melengkungkan sudut bibirnya ke atas lalu berkata, "Aku senang karena kau percaya padaku. Sekarang kau tidak akan bertanya lagi kenapa aku berubah jadi Kelinci, kan? Dulu aku memang memuja iblis agar bisa datang ke dunia ini, tapi aku malah diubah jadi Kelinci! Aku tak menyangka iblis itu benar-benar jahat."
"Pekerjaan iblis kan memang menyesatkan manusia. Malah aneh jika dia bersikap baik padamu hemng." celetuk kode lalu berdecak.
Lucy tak bisa menyanggah sebab yang Kode katakan adalah kenyataan. Ia hendak mengakhiri pembicaraan ketika sadar dirinya sedang dalam situasi menguntungkan. Dengan mata berbinar gadis itu menatap Kode lalu bertanya, "Apa kau akan melepaskanku sekarang?"
"Kenapa aku harus melepaskanmu?" balas Kode balik bertanya.
Lucy menjawab, "Itu karena aku sudah tidak berguna! Maksudku, ... aku tak bisa menyelesaikan masalah populasi perempuan di Ertik kau menyadarinya kan."
"Siapa bilang kau tidak berguna?" Kode memgulas senyum.
"Eh, apa maksudmu?" Lucy bingung.
Kode kembali tersenyum miring ketika binar senang di mata Lucy lenyap. "Kau bisa membantuku dengan cara memanggil iblis ke dunia ini. Setelah berhasil kau harus memintanya untuk mengubah Kelinci menjadi perempuan. Bukankah itu mudah bagi seorang iblis?"
Lucy menautkan alis bingungnya fan berkata, "Lalu kenapa kita harus menikah?" tanya sambil menangis dalam hati begitu tahu tidak bisa kabur dari genggaman Kode.
"Itu karena peraturan di Ertik. Seorang perempuan tak bisa tinggal lebih dari seminggu dengan pria asing, kecuali mereka telah menikah. Kita akan bersama lebih dari seminggu sehingga harus mengurus pernikahan. Ada yang ingin ditanyakan lagi?"
Tak ada jawaban atau gelengan dari Lucy. Gadis itu hanya diam dengan wajah syok yang terpampang jelas. Ia bertanya-tanya, dari mana semua kemalangan ini berasal? Jika menyalahkan si iblis maka dirinya lah yang pertama kali bersalah. Andai tidak terobsesi masuk ke novel Harem Yukata Nari pasti tak ada kemalangan dalam hidupnya.
...****************...
...To Be Continue ...
__ADS_1