
Kodee yang terlalu fokus pada rencana tidak menyadari tentang keadaan Raibeart. Langsung saja ia menurunkan pistolnya agar bisa membuka tali pada tubuh pria itu. Lucy yang lemah tentu saja tidak bisa mengikat Raibeart dengan sangat ketat.
Hanya saja, demi mengulur waktu, Kodee sengaja berakting seolah ikatan tali tersebut mempunyai pola yang rumit. Selama sepuluh menit ke depan ia akan pura-pura membuka tali di tubuh Raibeart, sementara Lucy yang dalam wujud Kelinci melarikan diri dari sana.
"Apa yang kau lakukan, sih? Cepat buka talinya atau kita akan kehilangan Kelinci itu!" hardik Raibeart menyadari bahwa Kelinci yang diduga sebagai mata-mata telah kabur dari ruangan.
Di sisi lain Kodee juga menyadari hal tersebut dan segera mengakhiri sandiwaranya. Ia segera melepaskan tali yang mengikat tubuh Raibeart dan mengambil kembali pistolnya. Kini pria itu harus menerka berapa lama waktu yang dibutuhkan Lucy intuk mencapai pintu keluar.
"Tadi itu ikatannya kencang sekali. Aku yakin dia adalah mata-mata hebat sampai bisa mengikatmu seperti tadi," ujar Kodee masih dalam kepura-puraan.
Sedangkan Raibeart yang tampaknya tidak berminat membahas tali segera berlari keluar, untuk mengejar Kodee tentunya. Namun, ia tak dapat menemukan seekor Kelinci berkeliaran di mana pun, bahkan meski telah mengecek seluruh kolong kursi dan meja.
Tak hanya itu, Raibeart juga telah mengerahkan semua pelayan di rumahnya untuk mencari Lucy. Hasilnya tentu saja tidak memuaskan karena sekarang raut wajah pria itu jauh dari kata baik.
"Argh, dasar tidak berguna!"
Raibeart berteriak kesetanan sambil menendang meja di ruang tamu, sementara mulutnya memaki entah pada siapa. Apakah makian itu ditunjukkan terhadap kerja pelayan yang tidak becus, atau pada dirinya yang sama-sama tak bisa menangkap Lucy?
Tidak ada yang tahu jawaban pastinya. Namun, yang jelas dari semua itu adalah Raibeart jarang sekali mengamuk, sampai-sampai semua pelayan tidak berani beranjak dari tempat mereka.
Di antara deretan pelayan yang berdiri kaku itu ada Kodee juga. Agar tidak menimbulkan kecurigaan ia harus tetap bersama Raibeart, padahal keinginannya adalah cepat-cepat pergi meninggalkan sang teman.
Memang benar hubungan antara Kodee dan Raibeart sangat kental, tapi karena itu juga mereka jadi mengenal satu sama lain. Orang lain pasti menganggap Raibeart sebagai pria baik, mengingat riwayat hidupnya yang bersih dari kejahatan.
Di luar Raibeart Mihails dikenal sebagai karyawan kantor biasa dan memiliki kepribadian baik. Orang-orang itu pasti tak mengira jika pria yang mereka kenal mempunyai rumah dengan luas yang hampir menyaingi museum terbesar di Ertik.
Mereka juga pasti akan pingsan dalam keterkejutan, seandainya tahu Raibeart yang selalu tersenyum itu sering meminta Kodee untuk melenyapkan nyawa seseorang.
__ADS_1
"Kau boleh pulang, Kodee. Sepertinya kita tak bisa menangkap hamster itu hari ini."
Kodee tersentak dari lamunan karena namanya dipanggil. Ketika mendongak yang ia lihat adalah punggung Raibeart, temannya itu pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Pencarian Lucy pun berakhir tanpa hasil memuaskan.
Itu menguntungkan bagi Kodee. Ia langsung pergi dari kediaman Raibeart dengan ekspresi lega. Setidaknya, untuk sekarang, Lucy masih aman dari ancaman. Kini yang harus ia lakukan adalah membawa pergi gadis itu ke tempat terpencil.
Namun, sebelum rencana tersebut dilakukan Kodee harus memutar otak untuk mencari keberadaan Lucy. Jujur saja ia kehilangan ide tentang ke mana gadis itu pergi dalam wujud Kelinci.
"Kalau aku jadi Kelinci, ke mana aku akan pergi?" gumam Kodee sembari memasuki mobilnya. Sedetik kemudian ia memukul stir sambil menggertakkan gigi. "Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan itu di saat aku saja bukan Kelinci?"
Kodee baru saja ingin memaki bersamaan dengan rasa geli di kakinya. Lantas ia menunduk dan menemukan bahwa Kelinci yang dicarinya ada di bawah sana. Hewan kecil itu kembali menyeruduknya karena sadar mereka tak bisa berkomunikasi dengan normal.
"Ah, sepertinya Raibeart melewati pemeriksaan mobilku. Pasti ia tidak berpikir jika si Kelinci mata-mata ada di sisi yang sama dengan Kodee Yinkey," celetuk Kodee menahan mulutnya agar tidak tertawa.
Kemudian ia memindahkan Lucy ke kursi di sampingnya dan tancap gas dari rumah Raibeart. Tak terjadi percakapan selama perjalanan karena Lucy masih dalam wujud hamster. Mustahil bagi Kodee untuk mengubah gadis itu sekarang juga, mengingat ada banyak orang di jalanan.
Dan tempat aman yang Kodee maksud adalah kolong jembatan. Sebelum pergi ke sana ia terlebih dulu melempar Lucy dari atas jembatan, sehingga gadis itu mendarat di tanah sebagai manusia. Dari sini sudah jelas jika perubahan Lucy memang berhubungan dengan detak jantung.
Hal tersebut sangatlah menyebalkan. Lucy harus waspada terhadap sesuatu yang membuat jantungnya syok. Akan tetapi, ia bersyukur karena setelah berubah dirinya tidak tela*njang seperti saat bertemu Kodee pertama kali. Mungkin itu hanya terjadi sekali saja dan selanjutnya tak pernah begitu lagi.
"Apa kau tidak bisa lembut sedikit padaku?!" protes Lucy yang tak terima dirinya dilempar tanpa persetujuan.
Namun, sama seperti biasanya Kodee selalu menunjukkan raut wajah datar, tak merasa bersalah sedikit pun atas perilakunya. Pria itu malah menyalakan rokok dan menyesapnya alih-alih minta maaf pada Lucy.
"Kita harus menyelesaikan masalah Raibeart hari ini juga," tandas Kodee mulai memperlihatkan ekspresi lain di wajahnya, yaitu keseriusan.
Lucy pun menjawab sambil menghalau asap rokok dengan tangannya, "Aku pikir masalah Raibeart telah selesai hari ini. Dia kehilangan jejakku, kan? Aku kabur ke mobilmu sambil menghindari tangkapan CCTV."
__ADS_1
"Apa di novel yang kau baca tidak ada penjelasan detail tentang Raibeart? Padahal aku pikir dia juga salah satu tokoh penting karena kekuasaannya."
"Tepat sekali. Dia memang akan menjadi tokoh penting dalam novel."
Mendengar itu, Kodee otomatis mengangkat sebelah alisnya. "Kalau begitu maka kau tahu tentang Raibeart, kan? Dia bukan orang yang akan menjadi tokoh baik dan dicintai semua pembaca."
"Ah, aku baru ingat sekarang."
Mulut Lucy sedikit terbuka ketika mengingat tokoh bernama Raibeart Mihails dalam novel. Suami terakhir Yuka itu adalah karakter paling kontroversial selain Kodee karena adanya plot twist di akhir cerita.
Sebelum diangkat menjadi novel, Yukata Nari adalah cerita di salah satu aplikasi membaca dan mendapat banyak penggemar. Itu karena di waktu tersebut belum banyak penulis yang mengangkat tema reverse harem di mana wanita memiliki banyak pria.
Hampir semua suami Yuka memperoleh pujian dari pembaca karena karakter mereka yang seperti malaikat. Bahkan Leonidas pun meraup banyak cinta meski dia seorang mafia. Leonidas bisa populer karena sangat romantis, terlepas dari pekerjaan haramnya.
Dan Raibeart menjadi satu-satunya suami Yuka yang dihujat. Sejak awal kemunculannya tak ada kontroversi apa pun. Namun, tak disangka ternyata Raibeart menipu para pembaca dengan tingkah (sok) polosnya.
"Menurut yang aku ingat, Raibeart pura-pura menjadi gelandangan dan dipungut oleh Yuka. Eh, ternyata dia adalah anak dari keluarga kaya yang menjadi dalang dari hancurnya bisnis Leonidas," tutur Lucy sedikit menggebu-gebu.
Kodee yang tak tahu detail tentang alur novel sedikit terkejut. "Bagaimana bisa Raibeart berurusan dengan saudaraku? Dia memang gila kekuasaan, ya."
"Benar sekali. Di novel juga diceritakan bahwa dia mengendalikan orang-orang penting dalam dunia bisnis. Aku pikir di Ertik ada satu perusahaan besar dan ternyata pemimpinnya hanya bayangan saja, alias kepemimpinan sebenarnya ada di tangan Raibeart."
"Lalu kenapa dia mendekati Yuka setelah menghancurkan bisnis Leonidas?"
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1