Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Lucy Minta kepada Kodee Agar di Belikan Sepeda


__ADS_3

Kode menjawab, "Dengarkan baik-baik, Kak. Alasanku meminta bantuan adalah karena kau mempunyai rumah yang tersebar di Ertik. Tapi, itu bukan berarti aku tak sanggup membeli rumah."


"Jadi, kau akan membeli rumah sendiri dan menunggu sampai prosesnya selesai? Kau tak perlu bantuanku lagi?" Leonidas mengerutkan keningnya.


Kodee berkata, "Sepertinya begitu. Aku akan membeli rumah di kota Morten."


Leonidas memutar bola mata jengkel melihat bagaimana usaha Kodee untuk menekannya. Ia yang merasa terpojok pun berhenti memaksa sang adik agar tinggal di Deorsa.


"Aku akan menyuruh seseorang untuk membawakan kunci rumah yang ada di Morten. Silakan gunakan rumahku bersama istrimu," pungkas Leonidas yang menyerah dengan pendapatnya.


Mendengar itu, Kodee pun tersenyum penuh kemenangan dan mengangguk setuju terhadap keputusan sang kakak. "Sekarang aku harus pergi menjemput Lucy sebelum dia menghabiskan semua uangku," katanya setengah bercanda.


Sedangkan Leonidas yang juga sepakat hampir mengizinkan Kodee pergi seandainya tak ingat harus mengatakan sesuatu. Ia berdeham sebentar kemudian berujar, "Asap rokok itu tak bagus untuk siapa pun termasuk istrimu. Memangnya kau mau dia sakit karena perbuatanmu?"


Perkataan tersebut tak mendapat tanggapan karena Kodee langsung beranjak keluar. Meskipun terlihat masa bodoh, tapi pada kenyataannya pria itu melempar semua rokok di saku celananya ke tong sampah.


"Kenapa kau membuang rokoknya?" Leonidas bertanya.


Kodee yang sedang memandangi isi tong sampah terkejut oleh pertanyaan tersebut. Segera ia menoleh ke belakang untuk menemukan bahwa Lucy tengah berjalan ke arahnya sambil memasang ekspresi penasaran.


"Aku membuangnya karena merasa bosan," kata Kodee melirik dompetnya yang ada di tangan Lucy. "Apa kau sudah selesai bersenang-senang?"


"Bersenang-senang apanya? Aku bahkan tak mengerti dengan permainan di sini!"


Lucy menjerit kesal pada Kodee sementara pandangannya menyapu ke seluruh penjuru kasino. Sejak tadi gadis itu hanya berkeliling untuk melihat bagaimana orang lain mempertontonkan kemampuan mereka.


Hingga pada akhirnya Lucy sadar bahwa dirinya tak memiliki kemampuan apa pun. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menonton dengan senyum kecut dan menyeringai kocak, ia berusaha mempelajari permainan meski ujungnya tetap sja tidak mengerti.


"Aku bersyukur kau tidak nekat bermain karena pelanggan di sini kebanyakan sudah berpengalaman. Mereka sulit untuk dikalahkan oleh amatir sepertimu," tutur Kodee sembari mengambil dompetnya.

__ADS_1


Pria itu hendak mengajak pergi tepat ketika Lucy menggerutu dengan wajah muram. Karena merasa kasihan ia pun berkata, "Sebenarnya ada satu judi yang bisa diikuti oleh pemula sepertimu."


"Oh, apa itu?" sahut Lucy tiba-tiba berubah semangat.


Kode berkata, "Kau hanya perlu menebak tim sepak bola mana yang akan menang. Kebetulan sekali nanti malam akan ada pertandingan sepak bola di kota ini. Itu adalah pertandingan yang bergengsi dan kasino pasti memanfaatkannya."


Lucy menanggapi, "Itu terdengar mudah sekaligus sulit. Aku jadi penasaran dan ingin menebak skornya. Bisakah kau memberiku uang agar aku bisa berpartisipasi?"


Kodee segera mengiyakan lalu memberi isyarat lewat tatapan mata agar Lucy mengikutinya. "Kita akan pindah ke kota lain besok pagi. Oleh karena itu, kita harus membeli beberapa kebutuhan penting sekarang."


"Apa kau bisa membelikanku sepeda?" pinta Lucy buru-buru menyesuaikan langkahnya agar bisa berdiri di samping Kodee.


"Kenapa aku harus membelikanmu benda semacam itu?" Kodee bertanya bingung.


Lucy menjawab, "Karena aku suka bersepeda. Setidaknya aku harus bersenang-senang sebelum kau mengusirku dengan kejam."


"Itu sungguh lucu karena kau berpikir aku akan mengusirmu." Kodee melengkungkan sudut bibirnya ke atas.


Lucy yang pesimis membuat Kodee harus pura-pura batuk untuk menggagalkan tawanya. Pria itu mempunyai gengsi tinggi dan tak ingin tertawa lepas jika lawan bicaranya belum dianggap sebagai orang terdekat.


"Aku akan membelikanmu sepeda jadi kau bisa bersenang-senang sebelum aku usir," pungkas Kodee mendatangkan kebahagiaan pada Lucy yang sedang waswas menunggu balasan.


******


"Apa kau senang sekarang?"


Pertanyaan itu keluar dari mulut Kodee tepat setelah membayar sepeda yang diinginkan Lucy. Sebetulnya tanpa bertanya pun ia tahu jawabannya karena gadis itu sudah tersenyum sejak memasuki toko sepeda.


Namun, Kodee tak puas dengan matanya sehingga harus memastikan sekali lagi lewat telinganya. Ia ingin mendengar bagaimana Lucy mengucapkan terima kasih dengan tulus.

__ADS_1


Sayangnya keinginan tersebut tidak terkabul, karena Lucy malah memelotinya sambil berseru, "Tentu saja aku senang! ... Apa matamu bermasalah dan tak bisa melihat kebahagiaan di wajahku? Mengapa kau mengajukan pertanyaan yang tak berguna?"


"Jadi, ini cara orang di duniamu mengucapkan kata terima kasih?" sindir Kodee seraya menarik Lucy keluar dari toko karena orang-orang mulai menaruh perhatian.


Sedangkan Lucy yang berjalan sambil menyeret sepeda bersamanya langsung memberontak. "Jangan menarikku terlalu cepat. Apa kau lupa kalau aku sedang membawa sepeda?" protesnya.


"Kalau begitu berikan sepedanya padaku."


Kodee berhenti melangkah dan menjulurkan tangan, berharap Lucy akan memberikan setang sepeda padanya. Hanya saja gadis itu terlihat ingin memancing emosinya dengan cara memegang setang sepeda erat-erat.


"Aku tak ingin mengulang ucapanku untuk ketiga kalinya. Karena itu cepat berikan sepedanya selagi aku masih meminta baik-baik padamu," ulang Kodee seraya menggerakkan tangannya agar Lucy lebih peka.


Namun, seperti beberapa waktu lalu, gadis itu tak menuruti permintaannya dan tetap mengibarkan bendera perang. Mau tak mau Kodee pun merampas paksa sepeda berwarna merah muda dari tangan Lucy. Untuk sesaat ia merasa besar kepala karena bisa merebut sepeda tanpa hambatan.


"Ini adalah tindakan pencurian," tuduh Lucy berusaha mengambil sepedanya walaupun gagal.


Di pihak lain, Kodee tak menanggapi tuduhan tersebut sebagai bentuk balas dendam karena Lucy sempat mengabaikannya. Ia segera melanjutkan langkahnya dan tersenyum mengejek saat menyadari lawannya mengakui kekalahan.


Sekarang Lucy telah berhenti merengut sebal atau mengatakan hal-hal aneh. Kodee yang hampir meledak akhirnya bisa mencicipi kedamaian walaupun tak berlangsung lama, sebab gadis itu menendang kakinya setelah mereka keluar dari toko sepeda.


"Cepat berikan sepedanya padaku, Tuan Pencuri," titah Lucy melipat tangan di dada saat Kodee membalikkan badan ke arahnya. Sebelum pria itu mengeluarkan kata-kata protes, ia segera menambahkan, "Aku ingin mengendarai sepedanya sekarang!"


Tak ingin memulai perdebatan yang menguras waktu dan tenaga, Kodee pun memilih untuk memberikan sepeda di tangannya pada Lucy. Lagi pula gadis itu memang berhak atas sepedanya sejak ia berkata akan membelikan kendaraan tersebut.


"Hati-hati jangan sampai kau menabrak atau tertabrak sesuatu," pesan Kodee menarik jok sepeda agar Lucy tak langsung pergi.


Tanpa diduga, gadis itu berhenti bertindak menyebalkan dan patuh secara sukerela tanpa harus dipaksa. "Tak usah khawatir! Kau pasti belum tahu tentang diriku yang pandai mengendarai sepeda," katanya percaya diri.


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2