
"Sesuatu yang tak penting?" Triton langsung menyela dengan heboh. Lantas ia melempar tatapannya pada Lucy dan tertawa sarkastis. "Aku tahu rahasiamu. Kau bisa berubah menjadi Kelinci, kan?"
Lucy tak pernah menduga pertanyaan semacam itu akan terlontar dari mulut Triton. Awalnya ia berasumsi jika sang dokter mempunyai beberapa masalah kecil bersama Kodee, masalah yang ia kira tak berhubungan dengannya.
Hingga kemudian asumsi tersebut terpatahkan setelah Triton mengungkapkan hal mencengangkan. Lucy tentu saja didera kepanikan sebab rahasianya diketahui orang lain. Namun, perasaannya berangsur-angsur tenang karena Kodee terlihat tak mencemaskan hal tersebut.
"Ucapanmu memang benar, Dokter. Aku bisa berubah menjadi Kelinci," ungkap Lucy, menyilangkan kedua tangannya di dada lalu melangkah mendekati Triton.
Setelah merasa cukup dekat, gadis itu pun berhenti dan mendongakkan kepalanya. Dengan senyum mengejek ia bertanya, "Apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui ini? Kau pikir orang-orang akan percaya hanya karena kau seorang dokter?"
"Mereka akan percaya jika aku membuktikannya," jawab Triton sedikit waspada karena respons lawan bicaranya sangat di luar dugaan.
"Nah, itu dia masalahmu, Dokter. Kau tak punya bukti apa pun tentang perubahanku. Kau juga tak bisa membuktikannya karena tak tahu apa pun tentangku. Jadi, hentikan saja pembicaraan tak berguna ini."
"Kau terlalu sombong, Nona. Aku punya banyak koneksi dan bisa meminta mereka untuk mendapatkan rekaman kecelakaan. Singkatnya, aku bisa mendapatkan rekaman yang memuat rahasiamu."
Lucy memutar bola matanya kemudian berujar, "Meskipun kau mendapatkannya bukan berarti kau sudah menang. Jika rekamannya tersebar ke publik maka orang-orang akan menganggap itu adalah editan."
Setelah itu tak ada balasan dari Triton karena ia melabrak Kodee dan Lucy tanpa persiapan. Harusnya ia menginterogasi mereka setelah mengumpulkan bukti yang tidak bisa disangkal. Mengungkapkan semuanya secara tiba-tiba seperti sekarang merupakan kesalahan besar.
Karena Triton bukan tipe orang yang selalu ingin menang sendiri, maka ia memutuskan untuk mengakui kekalahannya. "Baiklah, aku akan berhenti menanyai kalian. Maaf jika sikapku terlalu berlebihan."
Kodee menghela napas lega terhadap pengakuan tersebut, merasa senang karena tak perlu membuang waktu serta tenaga untuk memojokkan Triton. Segera ia menoleh pada Lucy dan tersenyum sebagai tanda terima kasih.
Sedangkan Lucy yang merasa tersanjung langsung mengedipkan sebelah matanya. Meski demikian, sebetulnya ia ingin mencengkeram kerah kemeja Kodee seraya mengomentari betapa bodohnya pria itu. Ia yakin Triton akan tenang jika Kodee tak menanggapi dengan emosi.
"Jadi, ke mana kalian akan pergi?" Triton tiba-tiba bertanya karena dua orang di depannya malah bertatapan, alih-alih menanggapi ucapannya. "Aku bisa mengantar jika tujuan kalian searah dengan klinikku."
"Kami ingin bertemu Leonidas dan arahnya tidak sama dengan klinikmu," jawab Kodee cepat.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa kalian akan pergi sekarang?"
"Jika kau mengizinkan."
Triton berpikir sejenak karena masih ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada Lucy. Sayangnya ia telah menyatakan akan menyerah dan tak berhak untuk melakukan itu. Pada akhirnya sang dokter tak punya opsi yang lebih baik selain mengizinkan Kodee pergi.
"Hati-hati di jalan," ucap Triton sebelum kembali ke mobilnya yang terparkir di luar jembatan.
Tadi pria itu mengikuti taksi Kodee sambil menjaga jarak karena takut ketahuan, sehingga mobilnya terpaksa dihentikan pada jarak yang tak bisa dijangkau oleh mata Kodee. Aksinya tersebut berhasil sebab sang teman terkejut dengan kehadirannya.
Lamunan Triton seketika lebur begitu sadar dirinya telah sampai ke tujuan. Ia yang masih merasa janggal memilih untuk melihat Kodee dan Lucy dari kejauhan. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran buruk tentang Lucy melintas dalam benaknya.
'Bagaimana jika ternyata gadis itu berniat buruk pada Kodee?'
Di pihak lain, tak terjadi sesuatu yang dicemaskan oleh Triton. Malahan Lucy dan Kodee mengobrol dengan tenang sambil menunggu orang suruhan Leonidas menjemput mereka. Kini dua orang itu sedang mempertimbangkan tentang apa yang harus dilakukan pada Triton.
"Kita harus membunuhnya."
"Baiklah," sahut Kodee manggut-manggut. "Kalau begitu kita mulai rencananya dengan menyebut Triton sebagai tersangka."
"Hah? Mengapa kita harus menyebutnya sebagai tersangka?"
"Karena dia adalah tersangka atas kasus mencari perhatian terhadap istri orang lain."
Jawaban tak masuk akal tersebut membuat Lucy gemas sehingga ia langsung menjambak rambut Kodee. Karena merasa kasihan dengan teriakan kesakitan pria itu, maka ia pun melepas jambakannya. "Kali ini kita sedang dilanda masalah serius dan kau dilarang bercanda!"
"Apa maksudmu dengan bercanda? Aku juga serius," sahut Kodee sembari menyisir rambutnya yang acak-acakan menggunakan tangan.
Saat itulah Lucy menyadari bahwa punggung tangan Kodee terluka. Tampaknya luka tersebut masih baru dilihat dari darahnya yang belum mengering. Langsung saja Lucy teringat pada kejadian di mana Kodee menolongnya untuk menghindari tabrakan mobil.
__ADS_1
"Kau terluka karena jatuh ke trotoar, ya?" tanya Lucy yang tanpa izin memegang tangan Kodee. "Sepertinya Triton belum pergi jauh. Cepat telepon dia dan suruh datang ke sini."
"Mengapa aku harus meneleponnya?" Kodee menyahut sambil menarik tangannya dari genggaman Lucy.
"Itu karena Triton adalah seorang dokter dan bisa mengobati lukamu!"
"Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil yang akan membaik dalam beberapa hari."
"Kau bisa infeksi jika lukanya tak segera dibersihkan."
Kodee yang hendak memprotes langsung terdiam ketika mendapati ekspresi khawatir Lucy. Awalnya ia ingin menolak karena muak jika harus bertemu Triton lagi. Namun, entah mengapa pikirannya malah berubah setelah melihat kesempatan untuk mempermainkan Lucy.
"Aku rasa kau benar," ucap Kodee sembari memandangi luka di tangannya dan mengaduh kesakitan. "Aw, sepertinya lukaku bertambah parah! Tadi rasanya tidak sesakit ini."
Raut wajah Kodee terlalu meyakinkan untuk dianggap sebagai sebuah kebohongan. Oleh karena itu, Lucy bertambah panik karena tak tahu harus melakukan apa. "Cepat hubungi Triton dan minta dia menjemputmu!" serunya.
"T-tidak bisa! Tanganku terasa sangat sakit sampai aku tak bisa menggerakkannya."
"Ugh, sepertinya kau terluka cukup parah! Apa ada kerikil yang masuk ke lukamu? Kalau benar begitu maka perlu penanganan khusus."
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya memang ada sesuatu di lukaku. Sekarang aku malah jadi teringat cerita Collin. Dia juga pernah terluka seperti ini dan mengabaikannya. Tapi, lama kelamaan luka itu bertambah parah sehingga tangannya harus diamputasi."
Lucy terbelalak kaget dan membekap mulutnya setelah mendengar cerita tersebut. Namun, sesaat kemudian ia menyipitkan mata karena merasa curiga dengan ucapan Kodee. "Tunggu sebentar. Siapa itu Collin? Aku yakin namanya tak ada dalam novel."
"Emmm..., Collin adalah anak dari guru di sekolahku dulu yang juga merupakan teman dari temanku. Dia tak menarik untuk dijadikan tokoh dalam novel karena selalu rebahan. Itulah alasan kenapa namanya tidak disebutkan," jelas Kodee berharap Lucy akan percaya meskipun tahu kebohongannya sudah terbongkar.
Sedangkan Lucy yang kesal karena dipermainkan memilih diam dan menggeledah tubuh Kodee. Setelah mendapatkan ponsel pria itu, ia pun segera menghubungi Triton untuk menjelaskan bahwa Kodee membutuhkan pertolongan.
...****************...
__ADS_1
...To Be Continue...