
Kesombongan yang tadi terpahat rapi di wajah Kode perlahan-lahan pudar begitu melihat ekspresi Lucy yang sepertinya seolah-olah membantah tebakannya. Tangan satunya Kode kembali memegang kemudi mobil dan tak lagi digunakan untuk menyugar rambutnya. Ia berdeham pelan guna menghilangkan kecanggungan yang sudah mencekiknya sejak tadi.
"A-aku hanya bercanda," tampik Zeno tertekan oleh tatapan kasihan Elea. "Jadi, tolong singkirkan ekspresi menjijikkan itu dari wajahmu. Biar aku koreksi, pasti aku bukan tokoh utamanya, iya kan?"
Lucy langsung mengiyakan pertanyaan tersebut dengan anggukan. Kini ia berhenti melempar tatapan kasihan pada Kode, karena sepertinya pria itu tak terlalu suka. Sambil menerawang jauh ke alur novel Lucy pun berkata, "Benar sekali. Kau bukanlah tokoh utama. Yang jadi sorotan di sini adalah Leonidas dan Yuka."
"Kenapa pasangan alay itu malah menjadi tokoh utamanya?" Kode mendengkus tak suka dan tanpa sadar mengemudikan mobil dalam kecepatan penuh.
"Heh, sompret! Kalau ingin mati jangan mengajak-ngajak. Aku masih belum bertemu pria tampan lainnya," jerit Lucy memejamkan mata, tak kuasa melihat jalanan yang tampak kabur karena Kode mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Kemudian setelah itu terdengar bunyi klakson juga makian dari pengendara lain yang berhasil mendesak Kode untuk memelankan laju mobil. Tadi perasaannya agak tersinggung setelah tahu jika Leonidas dan Yuka merupakan tokoh utama dalam cerita. Ia pikir dirinya lebih keren dibanding dua orang itu.
Cerita tentang seorang pembunuh bayaran pasti cukup menarik perhatian. Itu adalah pekerjaan yang tak lazim di kalangan masyarakat. Walaupun mafia juga tak kalah mendebarkan untuk diceritakan, tapi menurut pria itu pekerjaannya jauh lebih menantang.
Leonidas masih bisa kabur dari pemerintah setelah mengorbankan orang-orang di bawahnya, bahkan terkadang beberapa pejabat menjalin koneksi bersama pria itu. Sungguh berbeda dengan Kode yang harus bekerja sendiri dan memutar otak agar tidak tertangkap.
"Novel yang aku baca bergenre romantis. Karena itu, wajar saja jika tokoh utamanya adalah Leonidas dan Yuka. Tidak mungkin seorang pembunuh bayaran yang sinting, jomblo, tinggal di hutan dijadikan tokoh utama pria dalam novel romansa," papar Lucy yang entah kenapa merasa terhubung dengan pikiran Kode.
Kerutan halus di kening pria itu pun berangsur-angsur pudar berkat penjelasan tersebut. Ia kembali tersenyum angkuh saat berujar, "Huh, orang keren sepertiku cocoknya memang jadi tokoh utama dalam novel aksi, bukan novel romansa yang lebay heng."
Lucy memasang ekspresi 'terserah kau saja' karena malas menanggapi kesombongan barusan. Dalam novel Kode hanya muncul sesekali saja agar alur cerita tidak membosankan. Akibatnya para pembaca tidak tahu pasti seperti apa sifat pria itu, yang mereka tahu Kode adalah seorang pembunuh sinting.
Dan salah satu dari pembaca itu adalah Lucy. Seingatnya sang penulis hanya menjelaskan kelakuan buruk Kode saja, tanpa membeberkan sifat baik yang mungkin bisa melunakkan hati pembaca. Tak disangka ternyata pria itu cukup menyenangkan untuk diajak bicara, pikir Lucy.
Apalagi beberapa waktu lalu Lucy melihat rona malu di wajah Kode. Itu terlihat lucu mengingat Kode Yinkey dijuluki Anjing Gila karena senang membunuh. Mungkin jika sisi lain ini ditunjukkan dalam novel beberapa pembaca akan menyukainya. Sungguh disayangkan sebab Kode diingat sebagai pengganggu oleh para pembaca.
"Setelah dipikir lagi kau itu sangat aneh, ya," celetuk Lucy berhenti memikirkan tentang sosok Kode dalam novel. "Apa kau tidak kaget sekarang? Jika aku jadi kau pasti aku akan syok."
"Kaget untuk apa?" Alis Kode terangkat sebelah ketika bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja kaget karena tahu kau hanya karakter dalam novel. Aku akan memberi tahumu sekarang. Pasang telingamu baik-baik, kau adalah seorang tokoh antagonis dengan akhir mengenaskan."
"Wow, itu keren! Selama ini aku selalu membayangkan jadi tokoh antagonis di suatu novel." Tutur Kode sedikit terkekeh.
Lucy tak habis pikir dengan sikap santai Kode. Pria itu masih bisa mengendarai mobil biarpun diserang fakta mengejutkan. Orang lain pasti syok jika dihadapkan pada situasi sekarang.
"Kau memang benar-benar aneh. Apa kau sungguh tidak terkejut?" tanya Lucy lagi.
"Yah, awalnya aku memang kaget, tapi aku mencoba untuk tenang. Lagi pula tak akan ada yang berubah jika aku kaget," ungkap Kode menoleh sebentar pada Lucy untuk menunjukkan senyum manisnya.
Senyum tersebut seperti serangan tak terduga dari seorang pengkhianat. Lucy tidak siap bila harus menerima pesona Kode. Namun, ia yang pada dasarnya menyukai pria tampan langsung terpikat walau hanya beberapa saat. Sekarang gadis itu memberi label antagonis hot sugar pada Kode Yinkey.
Sementara Lucy masih terpesona, Kode kembali mengajak bicara. "Kalau membahas tentang perkara aneh maka kau juga aneh. Bukannya kau punya keluarga, teman, atau orang tersayang di dunia asalmu? Kenapa kau malah santai-santai saja setelah pindah ke dunia ini?"
"Oh, itu ...." Lucy mengusap air liur di sudut bibirnya sebelum melanjutkan. "Aku memang punya keluarga dan teman di sana, tapi aku bisa santai karena satu hal. Boleh aku cerita tentang masa laluku yang kelam?"
"Yukata Nari adalah judul novel yang berkisah tentang kisah cinta Yuka. Aku membaca novel itu tiga tahun lalu, saat awal-awal masuk SMA. Lalu entah sejak kapan aku mulai terobsesi kepingin sekali untuk masuk ke novel itu. Kewarasanku terputus karena aku mulai memuja iblis agar bisa mewujudkan obsesi tersebut."
Kode berkata, "Maaf menyela, tampaknya kau memang tak punya otak sampai menjadi orang sesat. Oh, maafkan aku sekali lagi, padahal aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau terobsesi untuk masuk ke novelnya?"
Lucy menjawab, "Itu karena Yuka akan menikah dengan lima pria yang hot jelet*ot. Aku ingin menjadi Yuka agar bisa menikmati pria-pria itu."
Kode spontan menghentikan mobilnya dan mendelik pada Lucy yang terlihat membayangkan hal tak senonoh dan pipi yang memerah.
"Kenapa kau malah memberiku spoiler?!" protes kode
"Oh, kau tidak ingin tahu tentang jalan ceritanya, ya?" sahut Lucy tersadar dari bayangan tentang otot perut Leonidas dan Sean.
"Sepertinya kau sudah tahu jawabanku. Tidak seru jika aku mengetahui akhir dari novelnya." Kode membalas dan menjalankan kembali mobilnya. Untung saja di sekitar sini tak ada polisi hingga ia hanya mendapat makian dari pengendara lain, tidak sampai ditilang.
__ADS_1
Lucy kembali berkata, "Baiklah, aku paham. Kalau begitu aku akan kembali bercerita. Saat pertama kali memberi sesajen aku mengucapkan permintaanku lalu si iblis pun muncul. Dia berkata akan membuatku masuk ke novel selama tiga bulan. Katanya ada perbedaan waktu di dunia nyata dengan di sini, sehingga aku tak perlu takut."
"Memang seberapa jauh perbandingan antara duniaku dan duniamu?" tanya Kode.
"Tiga bulan di sini sama dengan tiga jam di duniaku. Jadi, keluarga dan temanku juga tidak akan cemas. Mereka pasti berpikir aku hanya bermain saja." Tutur Lucy.
"Ah, begitu ternyata. Lalu kenapa si iblis hanya memberimu waktu tiga bulan?" Kode bertanya.
Lucy mengangkat bahu tanda tak tahu dan berkata, "Aku juga bingung. Dan lagi permintaanku bisa terkabul setelah memuja si iblis selama tiga tahun. Mungkin dia memang suka angka tiga."
"Anggap saja demikian," ucapan Kode tak ingin membahas lebih lanjut tentang masa lalu sesat Lucy. "Jadi, kau akan kembali ke dunia asalmu setelah tiga bulan?" lanjutnya bertanya.
"Yah, aku harap begitu. Sebenarnya sebelum berada di sini si iblis mengacaukan permintaanku. Padahal aku ingin memasuki karakter Yuka, tapi dia malah mengubahku jadi Kelinci. Aku harap dia akan mengembalikanku ke dunia nyata," ujarnya Lucy menghela napas berat.
Jika si iblis sampai melanggar ucapannya sendiri maka gadis itu bisa mencari cara lain. Ia akan terus melakukan ritual pemanggilan sampai iblis tersebut jengkel dan mengembalikannya ke dunia nyata. Lucy yakin cara ini pasti berhasil karena iblis yang dipujanya tak suka jika direcoki.
"Kita anggap saja kau akan kembali ke dunia nyata tiga bulan lagi. Sampai itu tiba bekerja samalah denganku," tawar Kode sungguh-sungguh.
Lucy yang berpikir tak mendapat keuntungan langsung menolak. "Tidak mau! Untuk apa bekerja sama jika aku dirugikan?"
"Dengarkan dulu sampai selesai. Kau bilang ingin menikmati pria-pria hot di Ertik, kan? Aku akan membantumu mendekati mereka jika kau setuju. Bagaimana?" Kode bertanya.
Mendengar itu hidung Lucy seketika mekar seperti bunga di musim semi, "Harusnya kau bilang dari tadi. Aku setuju bekerja sama denganmu, hihihihi!" Luci cengengesan.
Ketika Lucy mengulurkan tangannya, Kode langsung menerima dengan senang hati. Mereka berjabat tangan sebagai tanda sepakat atas kerja sama barusan. Selama sisa perjalanan dua orang itu kompak membahas rencana pernikahan pura-pura yang akan dilaksanakan besok.
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1