
"Dasar tidak tahu diri! Padahal aku sudah berbaik hati dengan membiarkanmu hidup, tapi kau malah kabur dariku," hardik Kodee bersiap untuk menarik pelatuk pistol.
Namun, ia menghentikan aksinya karena mendapat ide yang lebih bagus. Langsung saja pria itu mendaratkan kakinya tepat ke tubuh si Kelinci, sehingga hewan tersebut mati karena injakan kuatnya. Beberapa menit telah berlalu dan tak ada tanda-tanda kemunculan Lucy.
Detik itu juga Kodee sadar telah mengambil Kelinci yang salah. Kemarahannya bertambah dua kali lipat dari beberapa waktu lalu. Ia pun menginjak-injak Kelinci di tanah sampai tak berbentuk lagi, kemudian menembakkan peluru ke sembarang arah dan membanting pistolnya dengan keras.
Sebelum datang ke rumah Raibeart untuk meminta Kelinci lagi, Kodee terlebih dulu menemui Triton yang ternyata pingsan dalam mobil. Ia mendatangi dokter itu setelah melihat rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa Lucy dibawa masuk ke mobil oleh Triton. Sayang sekali karena temannya menjadi korban kekerasan Lucy.
Kodee bisa mengetahui ke mana gadis itu pergi setelah mengecek rekaman CCTV di rumah sakit milik Triton. Sungguh beruntung karena ternyata Lucy yang berubah jadi Kelinci dibawa pulang oleh Raibeart Mihails, teman-bisnis-nya.
Lalu ada keuntungan lain sebab kejadian tersebut terekam di bagian belakang rumah sakit yang sepi, sehingga tak menimbulkan kecurigaan orang-orang. Kodee hanya perlu menghancurkan bukti rekaman. Terima kasih untuk Triton, sebab ia bisa bertindak sesuka hati untuk masalah CCTV berkat koneksi dengan temannya.
Kemudian setelah membereskan satu masalah besar, Kodee langsung bergegas menuju rumah Raibeart dengan alasan ingin meminta Kelinci, untuk elang peliharaannya karena ia tak sempat membeli pakan. Namun, pria itu malah menemukan bahwa Kelinci yang diambilnya bukanlah Lucy.
"Kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan. Lucy, tolong tunggu sebentar lagi karena malaikat mautmu masih dalam perjalanan," tandas Kodee sebelum masuk ke mobilnya dan memelesat ke rumah Raibeart.
Sedangkan Lucy yang belum mendapat giliran untuk diberikan pada elang langsung bergumam, "Pasti Kelinci yang dibawa Kodee sudah mati. Semoga dia tenang di alam neraka karena berani menghalangi jalanku!"
******
Tinggal tersisa dua ekor Kelinci lagi dalam kotak. Sepertinya Lucy akan menjadi Kelinci terakhir yang dikorbankan untuk sang elang, sebab Kelinci di sampingnya telah dilempar oleh Raibeart.
Untuk beberapa saat ia merinding ketakutan karena melihat bagaimana elang memakan semua Kelinci. Kini giliran dirinya yang akan dikoyak oleh paruh tajam tersebut. Hanya dengan membayangkannya saja membuat Lucy mual.
__ADS_1
"Ini makanan terakhirmu, Ferguso!" seru Raibeart memanggil nama elang peliharaannya, kemudian melempar Kelinci terakhir.
Lucy yang merupakan Kelinci tersebut memekik keras setelah dilempar ke tanah dengan leluasa. Ia bertambah panik ketika bayangan besar datang menghampirinya. Sudah jelas itu adalah bayangan seekor elang yang akan mengoyak tubuhnya dalam hitungan detik.
"Oh, Elang Tampan! Tolong jangan bunuh aku," jerit Lucy berharap burung besar tersebut mengerti ucapannya.
Harapan semu itu langsung terkabul karena si elang ternyata segera menyahut, "Tampan katamu? Aku ini elang betina, woy!"
Lucy mengerjap cepat, masih tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Namun, kesadaran buru-buru mengambil alih dirinya karena merasa ada kesempatan. Di kehidupan nyata ia disukai teman-teman sekelasnya berkat kepandaian dalam bersilat lidah.
Sekarang pun Lucy berpikir bisa merayu elang tersebut menggunakan kata-kata manis. Jadi, dengan mata yang penuh oleh kesedihan ia berujar, "A-aku adalah seorang, maksudnya, seekor Kelinci yang mempunyai banyak anak. Karena itu tolong lepaskan aku!"
"Yang kau katakan tadi adalah kebohongan klasik, jika kau belum tahu. Kau pikir aku akan tertipu dengan ucapan seperti itu? Lagi pula kehidupan seekor Kelinci tidaklah lama. Jadi, lebih baik kau mati saja hari ini," pungkas si elang yang ternyata tak mudah tergoda.
Bahkan orang-orang terdekatnya pun mengatakan jika pria itu lebih peduli pada hewan daripada manusia. Sepertinya inilah yang membuat hewan di rumah Raibeart menguarkan aura sombong. Lucy juga bisa merasakan tatapan mengejek dari seekor ular yang berada dalam kandang.
Selain ular itu, masih ada hewan lain di halaman rumah Raibeart yang cukup luas. Jika Lucy melirik ke kanan maka ia akan menemukan seekor berang-berang sedang menyantap ikan. Lalu saat menoleh ke kiri matanya bisa menangkap deretan kandang reptil seperti kura-kura, kadal, dan buaya.
Semua hewan tersebut kompak menatapnya dan bergumam dengan nada merendahkan, "Haha, lihat Kelinci itu! Kasihan sekali karena dia akan dimakan oleh Ferguso."
"Yang lebih kasihan itu kalian!" balas Lucy tak terima. "Kalian bahkan tak bisa bergerak dengan bebas karena ada dalam kandang, haha. Sungguh menyedihkan."
"Apa? Dasar Kelinci sialan! Ferguso, cepat bunuh Kelinci yang banyak bacot ini!" teriak si kadal dari kandangnya.
__ADS_1
Ferguso, si elang betina, tak menjawab lewat kata-kata, melainkan dengan tindakan. Burung tersebut segera membuka paruhnya agar bisa menjepit tubuh Lucy.
"Tolong jangan makan aku jika tak ingin mati! Ini bukan bualan seperti beberapa waktu lalu. Aku serius. Kau bisa mati kalau memakanku," jerit Lucy sungguh-sungguh.
Pasti jantungnya akan bereaksi terhadap kematian, sehingga ada kemungkinan dirinya berubah menjadi manusia ketika dimakan oleh elang. Bayangan tentang menjadi manusia dalam perut elang dan meledakkannya sungguh membuat jijik.
Hanya saja Lucy gagal dalam meyakinkan Ferguso. Elang itu malah melemparkannya ke atas sebelum disantap. Namun, alih-alih masuk ke mulut elang sebagai Kelinci, ia malah berubah menjadi manusia saat berada di udara karena jantungnya berdegup keras.
Kejadian tersebut begitu cepat sampai Lucy tak dapat melakukan apa pun selain menunggu dirinya jatuh. Jadi, ia pasrah saja ketika tubuh besarnya mendarat di atas Ferguso. Dalam hitungan detik burung itu berubah menjadi ayam geprek.
"Tidak, Ferguso-kuuuu!!!" pekik Raibeart yang baru saja menyaksikan kematian tragis elang peliharaannya.
Pria itu berlari ke halaman dan mengangkat Lucy dengan mata berkilat marah. Tanpa mengendurkan ekspresi galaknya ia bertanya, "Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba muncul di sini dan membunuh elangku?"
"Membunuh? Heh, dengar, ya! Aku ini bukan Kod---"
Lucy tak dapat melanjutkan ucapannya karena melihat sosok Kodee berdiri di belakang Raibeart. Kemudian ia memekik tertahan sebab Kodee memukul pria di hadapannya dengan begitu tenang.
"Awalnya aku ingin membunuhmu," ucap Kodee melirik batu di tangannya yang digunakan untuk memukul tengkuk Raibeart. "Tapi, kau malah membuat masalah di sini, sehingga aku tak bisa menghabisimu begitu saja."
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1