
Gadis itu berdeham dengan canggung. "Aku sudah cukup umur untuk melihat hal seperti itu. Bagaimana jika aku sarapan dengan roti sobek?"
"Sayangnya hanya ada roti panggang di sini."
"Bukankah kau punya roti sobek di perutmu? Izinkan aku mencuci mata di pagi yang cerah ini."
"Ini namanya pelecehan! Pe. Le. Ce. Han!" Kodee tersenyum mengejek saat meniru perkataan Lucy beberapa waktu lalu.
Namun, gadis itu tak peduli dan malah bergerak untuk menyentuh tubuh Kodee. Ia langsung menggeram kesal saat tangannya ditahan. "Ugh, kenapa kau kejam sekali? Biarkan aku melihatnya sekali ini saja!"
"Itu bukan sesuatu yang bisa aku tunjukkan dengan mudah pada orang asing," ujar Kodee sambil menjauhkan tangannya dari wajah Lucy.
"Apa maksudmu dengan orang asing?" Lucy mendecih sebal. "Aku kan istrimu. Jadi, kau bisa menunjukkannya padaku!"
"Tapi, kau hanya istri pura-pura."
"Kalau tahu begini lebih baik aku kabur dan menikahi pria lain. Huhuhu, mengapa aku selalu sial sejak masuk ke dunia ini? Dasar iblis tak tahu diri! Setidaknya dia harus membuatku menjadi istri pria hot seperti Leonidas, atau pria imut seperti Arvi. Kenapa aku malah berakhir bersama Kodee yang tak punya hati?"
Tiba-tiba saja Kodee kehilangan selera makannya karena mendengar ocehan Lucy. Padahal ia berharap akan melewatkan sarapan kali ini dengan tenang. Namun, tampaknya Lucy tak ingin memberikan ketenangan padanya.
"Bisakah kau hentikan omong kosongmu itu?" tanya Kodee merasa dirinya akan naik pitam jika Lucy terus mengoceh.
Sayangnya, gadis itu malah melanjutkan celotehannya. "Apa kau kesal karena aku mengatakan sebuah fakta? Kau pasti tahu bahwa aku bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik jika tak bersamamu."
"Ah, menyebalkan sekali. Kau terlalu banyak bicara." Kodee mengusap wajahnya sambil membuang napas kasar. "Kalau kau berpikir begitu maka pergi saja dan cari pria yang kau bicarakan," pungkasnya sebelum pergi meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Lucy yang sadar suasana berubah buruk akibat ucapannya hanya bisa menunduk. Ia tak bermaksud untuk mengacaukan sarapan kali ini. Kata-kata tadi keluar dari mulutnya karena Kodee menyinggung tentang dirinya yang merupakan istri pura-pura.
"Cih, apa-apaan sikapnya itu? Padahal dia yang lebih dulu membuat masalah," gerutu Lucy sambil memakan roti panggang.
Kemarahannya perlahan lenyap saat menyadari bahwa Kodee menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan makanan di meja makan. Harusnya pagi ini mereka melewatkan sarapan dengan damai. Namun, ia malah membicarakan omong kosong.
Tepat ketika Lucy berencana untuk meminta maaf, ia melihat Kodee beranjak menuju pintu keluar. Tanpa menunggu lama ia segera mengejar pria itu. "Kau sudah mengganti bajumu, ya?" tanyanya basa-basi.
"Aku rasa aku tak perlu menjawabnya karena kau punya mata." Kodee menjawab dengan acuh tak acuh dan akan keluar dari rumah jika Lucy tak menahannya. Ia menarik napas panjang lalu berbalik untuk menghadap gadis itu. "Apa yang kau inginkan? Menghancurkan suasana lagi seperti tadi?"
"Jangan berpikir negatif. Aku menghampirimu karena ingin minta maaf. Harusnya aku tak mengatakan itu padamu. Bagaimanapun juga, kau sudah berbaik hati dengan mengizinkanku tinggal di sini," jelas Lucy sungguh-sungguh.
Kodee memandangi Lucy dalam waktu lama sebelum ia mengulurkan tangannya. "Apa kau mau jalan-jalan bersamaku?"
"Tentu saja! Aku akan mandi dalam lima menit dan kembali padamu. Tapi, bagaimana dengan semua masakanmu? Apa kita akan membiarkannya begitu saja?"
Lucy mengangguk setuju dan buru-buru berlari ke kamar mandi. Namun, ia harus kembali lagi pada Kodee karena teringat sesuatu. "Jangan lupa sarapan! Kau meninggalkan meja makan sebelum menghabiskan makananmu," tandasnya yang langsung pergi setelah mengatakan itu.
Sedangkan Kodee hanya menanggapi dengan senyuman karena menurutnya tindakan Lucy sangat tidak berguna. Ia akan sarapan bahkan jika gadis itu lupa mengingatkannya. Kendati demikian, ia tak dapat menyangkal bahwa kebahagiaan kecil telah meletup dalam hatinya.
"Huh, apa yang baru saja aku pikirkan? Kebahagiaan cih?" gumam Kodee menampar wajahnya agar berhenti memikirkan hal tersebut. Namun, pikiran itu terus berkeliaran di otaknya sampai ia tak dapat menyangkal lagi.
******
Kota Morten yang menjadi tempat tinggal Lucy dan Kodee sekarang tak mempunyai banyak destinasi wisata. Itulah alasan mengapa orang-orang di Ertik cenderung menghindari kota ini sebagai tempat tinggal. Satu-satunya hal indah yang dapat dinikmati penduduk kota Morten hanyalah danau di sana.
__ADS_1
Lucy baru saja pindah dan tak sempat beradaptasi dengan kota tersebut. Namun, ia langsung jatuh hati saat menginjakkan kakinya di sekitar danau. Sebelumnya ia tak pernah mengunjungi tempat semacam ini, sehingga semangatnya langsung muncul dengan menggebu-gebu.
"Kita bisa menyewa perahu motor jika kau mau," ujar Kodee yang memperhatikan gerak-gerik Lucy sejak tadi.
Setelah selesai sarapan, mereka langsung pergi ke Danau Anelli, salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di kota Morten. Kodee mendapat informasi tentang danau tersebut dari tetangganya saat membagikan makanan. Mungkin ia harus berterima kasih pada mereka karena Lucy terlihat senang begitu tiba di danau.
"Apa kau sedang melamun?" Kodee bertanya sambil mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Lucy. Ia sedikit kesal karena gadis itu malah memperhatikan hal lain.
Sedangkan Lucy yang terhanyut dalam lamunannya segera mengerjap, berusaha menyesuaikan dirinya dengan kenyataan. Ia terlihat ragu ketika menjawab, "Aku tak pernah naik perahu motor sebelumnya dan takut terjadi hal buruk. Tapi, aku juga ingin naik itu. Bagaimana menurutmu?"
"Jika kau ingin naik perahu motor maka aku akan pergi untuk menyewanya. Kau tak perlu khawatir karena kita dibolehkan memakai pelampung. Lagi pula, aku pandai berenang dan bisa menolongmu jika terjadi sesuatu," jelas Kodee berusaha terdengar meyakinkan.
Selain demi menyenangkan hati Lucy, alasan pria itu sengaja datang ke danau adalah karena ingin menaiki sebuah perahu motor. Baru sekarang Kodee menyadari bahwa dirinya butuh waktu untuk menyegarkan pikiran. Selama beberapa bulan terakhir ia banyak menghabiskan waktu di rumah.
Andaikan Kodee tak bertemu Lucy maka mustahil baginya pergi jalan-jalan seperti sekarang. Ia juga memilih berhenti sejenak dari pekerjaannya setelah bertemu gadis itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia akan pergi ke danau untuk bersenang-senang, bukan untuk menenggelamkan mayat seseorang.
"Aku berjanji akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu," ujar Kodee seraya mengulurkan tangannya pada Lucy yang masih terlihat ragu. "Kau bisa menikmati pemandangan dengan cara berbeda jika menaiki perahu motor."
Lucy mengembuskan napas kemudian menerima uluran tangan Kodee. "Aku baru ingat bahwa aku tak sempat mengikuti judi sepak bola," katanya tiba-tiba.
"Kenapa kau harus mengingat hal seperti itu sekarang? Merusak suasana saja." Kodee nyaris tertawa karena ternyata Lucy masih mengingat tentang ucapannya saat mereka berkunjung ke kasino.
"Itu karena aku ingin membeli sesuatu jika aku menang."
"Memangnya apa yang ingin kau beli?"
__ADS_1
...****************...
...To Be Continue ...