Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Percakapan Di Dalam Kasino


__ADS_3

Kode melanjutkan ucapannya, "Benar sekali. Sejak tadi Raibeart sedang mencari keberadaan Lucy untuk dibunuh. Kau pasti paham bagaimana gilanya orang itu."


Tak seperti beberapa waktu lalu, saat ini Leonidas dapat merasakan kejujuran dalam ucapan Kodee. Sepertinya sang adik benar-benar serius mengenai Lucy yang membunuh Ferguso, alias elang peliharaan Raibeart.


Hanya saja Leonidas sulit untuk percaya bahwa gadis kecil seperti Lucy bisa menghabisi seekor elang. Ia pikir tangan gadis itu terlalu lemah dan tak cocok sebagai sarana pembunuhan, tapi masih ada kemungkinan Lucy membunuh elang tersebut dengan pistol tanpa disengaja.


"Aku akan bertanya tentang detailnya nanti karena Raibeart pasti sudah bergerak. Sebelum dia datang ke sini aku harus memindahkan kalian ke tempat yang jauh," ungkap Leonidas membuat dua sejoli di depannya tersenyum lega.


Sedangkan di sisi lain, ternyata seseorang menguping pembicaraan mereka sejak awal. Orang tersebut adalah Winston, mata-mata yang ditugaskan orang tua Kodee untuk menyelidiki Lucy. Sebelumnya ia telah menempelkan penyadap suara di punggung gadis itu tanpa ketahuan.


Winston yang terkejut dengan ucapan terakhir Kodee segera mengingatnya baik-baik. "Tuan Bernard bilang jika dia tak bisa menemukan latar belakang Lucy. Aku yakin dia akan terkejut setelah tahu bahwa gadis itu membunuh seseorang yang disayangi Tuan Raibeart."


Sang mata-mata membuat spekulasi sendiri dan memutuskan kabur sebelum tertangkap. Padahal ia belum mengetahui fakta jika sebenarnya Ferguso adalah nama elang peliharaan Raibeart.


Pengetahuan Lucy yang terbatas membuatnya diam ketika Leonidas menyinggung nama-nama kota di Ertik. Ia hanya tahu bahwa Ertik adalah sebuah negara dengan populasi laki-laki yang lebih banyak dari perempuan.


Penulis tak mendeskripsikan secara rinci tentang kota di Ertik dan selalu terfokus pada hubungan tokoh utama. Jadi, wajar saja bila Lucy tak tahu di mana letak kota yang dibicarakan oleh Leonidas dan Kodee.


"Aku sarankan kalian untuk tinggal di Deorsa," ujar Leonidas setelah selesai berdiskusi dengan sang adik. "Itu memang kota kecil dan kalian akan kesulitan karena fasilitasnya tidak lengkap. Hanya saja Raibeart tak mungkin pergi ke sana."


Kodee terlihat mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, "Pernyataanmu memang benar. Deorsa adalah kota kecil yang jauh dan Raibeart tak bisa pergi jauh tanpa izin keluarganya."


"Kalau begitu apa lagi yang kau tunggu? Bersiaplah untuk pergi ke Deorsa, sedangkan aku akan mengurus tentang rumahmu dan Lucy."


"Sepertinya kita harus memikirkan ulang tentang Deorsa. Kau pasti tahu jika kota itu sangat terbelakang jika dibandingkan dengan kota lain. Bahkan pemerintah belum membangun infrastruktur telekomunikasi secara memadai. Itu artinya aku akan kesulitan mendapat sinyal!"


Sementara Kodee dan Leonidas mulai berdebat tentang masalah kota, Lucy malah menguap saking bosannya dengan pembicaraan ini. Dalam hati ia bertanya-tanya tentang kapan mereka akan memperoleh keputusan.


Menurut gadis itu harusnya Kodee berhenti mengoceh dan menyetujui saran dari Leonidas. Ia yakin tak akan terjadi kiamat atau bencana besar jika suaminya kesulitan mendapat sinyal. Terlebih mereka pergi ke Deorsa untuk menghindari Raibeart, bukan untuk berselancar di internet.

__ADS_1


"Sayangku, Cintaku," panggil Lucy seraya menepuk paha Kodee dengan mesra. Ia tersenyum paksa ketika bertanya, "Mengapa kita tidak menerima saran dari Kak Leonidas saja? Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat."


Kodee yang merinding dengan perlakuan Lucy hanya bisa menggerutu dalam hati. Walaupun kesal ia harus bersabar karena tak ingin menimbulkan masalah baru. Akan aneh jadinya jika pria itu mencaci-maki sang istri di depan Leonidas.


"Aku khawatir dengan kondisimu, Istriku. Sepertinya kau belum tahu bagaimana keadaan di Deorsa. Kau akan kesulitan mendapat sinyal dan sering terjadi pemadaman listrik di sana," ungkap Kodee ikut memaksakan bibirnya untuk membentuk senyum manis.


Sedangkan Lucy yang tak setuju dengan pendapat tersebut langsung menggeleng kuat. "Anggap saja kalau kita adalah manusia purba dan masalahnya akan selesai. Lagi pula kita bisa melakukan hal lain jika tak mendapat sinyal atau terjadi pemadaman listrik."


"Melakukan apa?" Kodee bertanya bingung


"Berburu dinosaurus...?" Lucy menjawab sekenaknya.


Kodee segera menggigit bibirnya yang hampir mengeluarkan kata kasar karena jengkel terhadap respons Lucy. Sejak awal ia sudah menduga bahwa gadis itu tak tahu apa pun dan akan bicara sembarangan.


Lama kelamaan stok kesabaran Kodee pasti terkuras jika situasi seperti ini terus terjadi. Oleh karena itu, tanpa berpikir dua kali ia merogoh dompet di saku celananya dan menyodorkannya pada Lucy. Bagaimanapun caranya sang istri harus menyingkir untuk sementara waktu.


"Sebelum datang ke sini kau bilang ingin bermain judi, kan?" tanya Kodee masih mempertahankan senyum di wajahnya.


"K-kau sungguh mengizinkanku bermain judi?" Lucy yang masih terkena serangan syok menunjukkan ekspresi ragu-ragu.


Kodee menanggapi dengan berkata, "Tentu saja. Silakan gunakan uangku semaumu."


"Itu sungguh mengejutkan, tapi aku akan menggunakan uangmu dengan baik." ujarnya Lucy mengulas senyum manis.


"Jadi, kapan kau akan keluar?" Kodee bertanya kembali.


Sindiran yang berkedok pertanyaan itu membuat Lucy kehilangan senyum lebarnya. Untung saja ia berhasil mengendalikan emosinya sehingga tidak jadi menghujat kelakuan Kodee.


"Aku akan pergi sekarang. Semoga pembicaraan kalian cepat selesai," tandas Lucy menggenggam erat dompet di tangannya lalu bergegas pergi dari ruangan.

__ADS_1


Tepat setelah kepergian gadis itu, Leonidas menatap adiknya dengan takjub. "Apa kau baru saja menyuruh istrimu yang hamil untuk berjudi?"


"Istriku bilang dia sedang mengidam dan ingin berjudi. Karena kami ada di sini maka aku biarkan saja dia melakukan keinginannya," dusta Kodee yang sebenarnya malu karena membiarkan Lucy berjudi.


"Wow, pasti keponakanku akan menjadi penjudi yang hebat!" leonidas mengulas senyum cengengesan


"Amin," timpalan kode.


Leonidas menahan tawanya ketika Kodee menyetujui ucapannya dengan tampang datar. Jika saja ada waktu maka ia akan membicarakan hal tersebut lebih lama lagi. Namun, sekarang mereka tak berada dalam situasi untuk bercanda.


"Apa kau tahu jika seseorang memasang penyadap suara di punggung Lucy?" tanya Leonidas serius.


"Ya, aku tahu itu." Kodee menjawab sambil melirik pintu yang sudah tertutup. Nada bicaranya terdengar mengejek saat berkata, "Sepertinya orang tua kita tak menganggap Lucy sebagai ancaman karena menyewa mata-mata murahan."


"Ternyata pemikiran kita sama, hahaha ... Apa yang akan kau lakukan pada mata-mata itu?" Leonidas bertanya.


"Karena dia tidak berbuat hal nekat maka aku akan membiarkannya tetap hidup." jawaban Kodee.


"Baiklah, mari berhenti membicarakan tentang mata-mata. Kau harus segera memutuskan akan pindah ke kota mana." Lanjutnya Leonidas.


Setelah itu pembicaraan berubah menjadi serius dan tak mempunyai celah untuk menyelipkan senda gurau. Kali ini Kodee tak boleh menyerah pada keputusan Leonidas. Bagaimanapun juga yang akan pindah adalah dirinya dan Lucy, bukan sang kakak.


Dengan tegas Kodee menolak setiap kali Leonidas mendesaknya untuk tinggal di Deorsa. Ia tak mau menghabiskan waktu di kota kecil yang membosankan, apalagi ke depannya pria itu harus tinggal bersama orang lain.


"Kalau Kakak masih keras kepala maka aku akan mengurus masalah ini sendirian," ucap Kodee yang telah menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan pikirannya.


Tak mau mengakui kekalahan, Leonidas pun menyilangkan kakinya dan menyahut, "Aku rasa yang keras kepala di sini adalah dirimu. Bukannya semua akan beres jika kau setuju dengan saranku?"


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2