
"Lalu kenapa dia mendekati Yuka setelah menghancurkan bisnis Leonidas?"
"Itu karena rencana Raibeart digagalkan oleh Sean yang membantu Leonidas. Dia pun mendekati Yuka agar bisa mendapat informasi secara langsung."
"Menarik sekali. Pasti dia dihujat oleh banyak pembaca."
Lucy mengangguk setuju kemudian segera mengoreksi, "Hanya saja di akhir cerita Raibeart jatuh cinta pada Yuka dan mengakui kesalahannya. Sehingga mereka pun berdamai."
"Aku tidak heran lagi karena kebanyakan plot novel memang begitu. Tapi, aku yakin pembaca tak akan memaafkan Raibeart dengan mudah," tebak Kodee malah antusias sendiri tentang alur cerita Harem Yukata Nari.
"Sayangnya meski Raibeart pernah dihujat para pembaca tetap memaafkannya."
"Eh, kenapa?" Kodee bertanya penasaran.
Lucy menjawab dengan polosnya, "Karena Raibeart sangat tampan, kaya raya, dan anunya besar."
Untuk sesaat Kodee kehilangan akalnya. Lalu dengan mata memicing ia bertanya, "Kalau begitu apa aku si tokoh antagonis juga dimaafkan?"
"Tidak. Walaupun kau tampan, tapi kau itu hanya pembunuh bayaran yang tidak sekaya suami Yuka. Mungkin anumu juga kalah besar," jawab Lucy enteng sekenaknya.
"Itu tidak masuk akal! Mau aku tunjukkan anuku?" kodee berkata tanpa ekspresi.
Lucy mengalihkan pembicaraan sambil memalingkan pandangannya yang malu-malu, "Aku pikir kita bersembunyi di kolong jembatan ini bukan untuk membahas tentang alur novel."
Kodee tak jadi membuka ritsleting celananya karena ucapan atau mungkin sindiran tersebut. Pria itu menyesap rokok dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Sekarang ia tengah berpikir harus melakukan apa terhadap masalah Raibeart.
Setelah terdiam beberapa saat, iapun berkata, "Ayo pergi ke kota lain dan membuat identitas baru di sana. Raibeart tak akan melepaskanmu dengan mudah jika kau tetap berkeliaran di kota ini."
"Aku pikir ini sangat lucu. Padahal kau terlihat akan menghabisiku ketika tahu aku kabur, tapi sekarang kau malah berniat melindungiku dari Raibeart," ejek Lucy tertawa pelan.
"Sepertinya kau masih percaya diri, ya. Apa kau tahu jika aku bisa membeli mesin penggiling daging yang besar?"
__ADS_1
Lucy menelan ludah gugup karena tatapan tajam Kodee. Dengan suara bergetar ia menjawab, "A-aku tidak tahu. Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan mesin itu?"
"Coba tebak apa yang bisa aku lakukan dengan mesin itu?" balas Kodee membuang puntung rokok ke tanah lalu menginjaknya. Suara pria itu dipenuhi oleh ancaman ketika berkata, "Aku bisa memasukkan Kelinci ke mesin itu, Lucy."
"Oh, kau berniat membuat sosis dari daging Kelinci?"
"Bukan! ... Apa harus aku perjelas maksudnya? Jika kau kabur lagi maka aku akan memasukkan tubuh Kelincimu ke sana. Pasti kau akan berubah menjadi manusia setelah terkejut. Tapi, sayangnya kau tidak bisa melarikan diri karena sisa tubuhmu keburu digiling oleh mesin dan akan terulang terus menerus."
Ancaman tersebut berhasil membuat Lucy terdiam, bahkan untuk sekadar bernapas pun terasa sulit. Ia tak ingin berakhir tragis di mesin penggiling daging. Oleh karena itu, dirinya segera mengikuti Kodee yang telah berjalan duluan menghampiri mobil.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Lucy berusaha mencairkan suasana tegang.
Tanpa menengok pada lawan bicaranya Kodee menjawab, "Ke toko alat pancing."
"Hah, untuk apa?"
"Benar juga, aku lupa kau tidak tahu tentang hal ini. Leonidas mempunyai kasino di ibu kota dan kita harus mendatanginya untuk meminta bantuan."
"Toko alat pancing itu hanya samaran saja. Yang ada di dalam sana sebenarnya adalah kasino, tempat untuk berjudi. Itu salah satu bisnis Leonidas dan biasanya dia melakukan pemeriksaan di sana hari ini."
Penjelasan itu sudah cukup untuk membungkam mulut Lucy. Ia tak berani bertanya lagi karena sepertinya Kodee sedang dalam suasana hati yang buruk.
******
Di kehidupan aslinya Lucy adalah anak baik-baik yang akan langsung ditelepon sang ibu jika bermain hingga larut malam. Itulah alasan mengapa ia tak pernah mendatangi tempat semacam kasino atau klub malam, sebab orang tuanya terlalu protektif.
Lucy yang penasaran dengan tempat-tempat semacam itu menjadi antusias mengenai ucapan Kodee. Setidaknya ia harus berjudi di dunia ini sebelum kembali ke dunia aslinya. Gadis itu pikir dirinya tak akan bisa berjudi di dunia nyata karena tekanan orang tuanya.
"Apa kau bisa meminjamkanku uang?" tanya Lucy menghancurkan keheningan yang sudah terjadi sejak lama.
Sedangkan Kodee tak langsung menjawab pertanyaan tersebut karena merasa curiga. Ia melirik sejenak wajah Lucy kemudian melakukan interogasi, "Kenapa kau meminta uang? Apa kau berniat kabur lagi dan butuh uang untuk membayar biaya transportasi?"
__ADS_1
"Memangnya aku berani kabur lagi setelah tertangkap seperti ini?" Lucy menyahut sambil mendengus sebal dan memutar bola matanya.
"Lalu kau akan menggunakan uangnya untuk apa?" kodee bertanya.
Lucy menjawab, "Untuk berjudi, lah. Memangnya kau tak mau melakukan itu?"
Kodee hanya mengangkat bahu sebagai jawaban hingga membuat Lucy menggeram kesal. Datang ke kasino tanpa berjudi itu sungguh sangat disayangkan. Terlebih Lucy yakin kesempatan seperti ini tak mungkin datang dua kali.
Itu sudah jelas bahwa Kodee akan membawa Lucy ke tempat jauh setelah bertemu Leonidas. Mereka harus menjaga jarak dari Raibeart sampai waktu yang tak ditentukan. Singkatnya, Lucy bisa mati bosan jika menghabiskan waktu bersama Kodee saja.
"Aku mohon berikan aku uang," pinta Lucy sekali lagi dengan suara yang dibuat lebih menyedihkan. "Orang tuaku di dunia nyata sangat protektif. Mereka tak pernah mengizinkanku datang ke kasino."
"Sungguh? ... Mereka tak mengizinkanmu datang ke kasino, tapi mengizinkanmu memuja iblis?" sahut Kodee mendengus geli.
"Kau pikir aku akan memuja iblis secara terang-terangan di depan orang tuaku apa? Tentu saja aku memujanya tanpa sepengetahuan mereka lah!"
"Aku benar-benar tak mengerti pola pikirmu, Lucy. Itu sangat lucu karena kau berani memuja iblis, tapi tak berani datang ke kasino."
Lucy yang tersinggung tidak bisa meluapkan emosinya karena ucapan Kodee terdengar seperti lautan fakta. Sekarang ia tengah merenungi sikapnya di masa lalu dengan wajah muram.
Di pihak lain, Kodee mengabaikan percakapan tentang berjudi karena memikirkan tentang alasan mengapa Lucy kabur darinya. Tak bisa dipungkiri jika ia masih jengkel dengan masalah tersebut.
Selama ini Kodee menolak untuk bersosialisasi karena berpikir itu kegiatan yang membuang waktu. Dirinya hanya akan membuka mulut ketika membahas pekerjaan atau hal menguntungkan.
Dengan kata lain Kodee menganggap Lucy sebagai rekan bisnis karena gadis itu bisa memberikan keuntungan baginya. Hanya saja baru kali ini ia mendapat rekan bisnis yang sangat merepotkan.
"Aku sudah mengkhianati Raibeart demi dirimu, Lucy," ucapan Kodee membuat gadis di sampingnya melongo. "Karena itu tolong jangan banyak tingkah. Tak selamanya aku akan memaklumi kelakuanmu."
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1