
"Ya, aku paham walaupun tak pernah memainkannya dengan orang lain. Botolnya akan diputar dan jika ujungnya mengarah padaku, maka aku harus memilih truth atau dare."
"Benar sekali. Kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur jika memilih truth. Lalu kau juga harus menuruti tantangan dariku jika memilih dare."
"Aku mengerti, Lucy. Karena itu kau tak perlu menjelaskannya lagi."
Lucy yang masih menyimpan keraguan malah menyodorkan jari kelingkingnya. Dengan tatapan serius ia berujar, "Kau harus berjanji dulu padaku. Ini adalah perjanjian hidup dan mati. Asal kau tahu, aku bisa membuat perjanjian seperti itu karena aku adalah seorang pemuja iblis."
"Kenapa kita sampai harus membuat perjanjian konyol hanya untuk sebuah permainan?" protes Kodee mengangkat bahu tanda tak peduli.
"Jika kita tak membuat janji maka kau bisa saja berbohong atau menolak tantanganku."
"Lucu sekali. Padahal seharusnya aku yang mengajukan perjanjian karena kau tidak bisa dipercaya. Kau pernah kabur dariku, Lucy!"
"Tak usah membahas masa lalu. Jadi, apa kau mau membuat janji denganku?" Lucy bertanya.
Kodee memandangi Lucy yang keras kepala dengan geram. Namun, pada akhirnya ia setuju dan mereka pun saling menautkan jari kelingking untuk membuat janji. "Apa kau sudah puas?" tanya pria itu.
"Ya, aku sudah puas. Karena itu mari mulai permainannya sekarang," ujar Lucy sembari memutar botol di atas meja.
Sayangnya putaran tersebut harus berhenti karena digagalkan oleh Kodee. Ketika melihat Lucy hendak menyemburkan api kemarahan, pria itu segera berujar, "Permainan ini akan membosankan jika tak ada hukuman."
"Lalu, hukuman apa yang kau inginkan? ... Hukuman cambuk?" Lucy bertanya heran.
Kodee menjawab, "Karena aku tidak suka BDSM, maka hukumannya bukan itu. Salah satu dari kita harus meminum satu gelas soda jika gagal dalam permainan."
Lucy mengerutkan dahi setelah mendengar hukuman yang menurutnya terlalu mudah. "Kalau begitu maka salah satu dari kita akan lebih memilih untuk menjalani hukuman, daripada menyanggupi truth atau dare yang diberikan."
Kode menimpali, "Dengarkan dulu karena aku belum selesai bicara. Hukuman itu hanya berlaku jika dare yang diberikan lawan terlalu berbahaya. Memangnya kau mau ditantang untuk meloncat ke jurang?"
"Aku mau jika di bawah jurangnya ada pria-pria hot yang akan menangkapku dengan otot perut mereka." Lucy mengigit bibir bawahnya setelah mengatakan itu.
__ADS_1
Sementara hal itu membuat Kodee memijat batang hidungnya dengan frustrasi. Meski demikian, ia berusaha mengabaikan respon ngawur tersebut dan mulai memutar botol yang sempat dihentikannya. Setelah berputar lama, ujung botol tersebut pun berhenti dan mengarah pada Lucy.
"Jadi, kau pilih truth atau dare?" tanya Kodee tersenyum lebar karena suasana hatinya tiba-tiba membaik.
Sedangkan Lucy yang merasakan aura jahat dari pria di depannya sontak menjawab, "Truth! Aku pilih truth!"
Kode langsung melontarkan pertanyaan nya, "Apa yang kau bicarakan dengan Triton saat aku berganti baju di klinik?"
Lucy menjawab, "Aku tak akan menjelaskannya secara detail karena pertanyaanmu kurang lengkap. Waktu itu kami hanya berbasa-basi saja. Triton menawariku kopi, tapi aku menolaknya karena punya penyakit."
"Penyakit? Memangnya kau sakit apa?" Kodee bertanya penasaran.
Lucy tak menjawab dan malah memutar kembali botol di atas meja. Sambil menyeringai licik, ia menjawab, "Jika kau ingin bertanya lagi maka kau harus menunggu giliranmu."
*****
Kodee harus menelan kekesalan karena dalam putaran kedua ujung botol malah mengarah padanya. Padahal ia sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi di klinik selama dirinya berganti pakaian. Sialnya, pria itu tak bisa memaksa Lucy berkata jujur saat permainan masih berlanjut.
"Aku pilih truth," ujar Kodee yang enggan menerima tantangan karena lawannya pun belum memilih opsi tersebut.
Lalu dari semua pertanyaan yang ada di otaknya, Lucy malah bertanya, "Kenapa matahari bisa tenggelam?"
"Karena siklus bumi yang terus berputar. Matahari bisa tenggelam di barat karena bumi berputar ke arah timur," jawab Kodee mengernyit heran, tak tahu kenapa Lucy mengajukan pertanyaan yang menurutnya sangat mudah.
"Jawabanmu salah!"
"Eh, apanya yang salah? Aku pikir jawabannya benar."
"Matahari bisa tenggelam karena tidak bisa berenang, haha!" Lucy menyahut sambil tertawa keras dan memukul-mukul meja.
Sedangkan Kodee yang menganggap lelucon itu tidak lucu hanya bisa menunjukkan ekspresi datar. Ia harus tetap mempertahankan sikap elegan agar Lucy sadar bahwa mereka ada dalam level berbeda. Menurut pandangannya, gadis itu mempunyai selera humor yang rendah.
__ADS_1
Akan tetapi, semakin lama Kodee mendengar tawa Lucy, semakin bertambah pula keinginannya untuk ikut tertawa. Bahkan sudut bibirnya sudah berkedut karena tak kuasa jika harus berdiam diri. Pada akhirnya pria itu pun ikut tertawa, walaupun sangat pelan dan sebentar.
"Ekhem, sebaiknya kita mulai lagi permainannya," ucap Kodee yang langsung batuk untuk menghentikan suara tawanya. Dalam hitungan detik ia bisa mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
Sayangnya Lucy telah merekam semua kejadian tadi dalam pikirannya, sehingga raut wajah Kodee tak akan memberi efek apa pun. "Aku lihat kau tertawa tadi. Kau menganggap leluconku lucu, kan?" tanyanya seraya menaik turunkan alis.
"Itu tidak benar. Kau harus datang pada Triton untuk memeriksa matamu. Sepertinya kau salah lihat atau berkhayal karena ingin diakui."
"Ayolah, mengaku saja! Kau tertawa karena leluconku, kan?"
"Aku tertawa dalam khayalanmu, Lucy."
Jawaban tersebut membuat Lucy merengut sebal. Tak ingin larut dalam emosi yang bisa merusak keadaan, ia pun beralih pada botol di atas meja dan memutarnya tanpa menunggu persetujuan dari Kodee. Namun, setelah berhenti berputar, ujung botol malah tak mengarah pada siapa pun.
"Biar aku saja yang memutar botolnya," usul Kodee saat menyadari bahwa suasana hati Lucy makin bertambah buruk.
Karena tidak mendapat balasan, pria itu pun memutuskan untuk memutar botolnya. Beberapa saat kemudian botol berhenti berputar dan ujungnya mengarah pada Lucy. Hal tersebut semestinya membuat Kodee senang, tapi ia malah takut jika gadis di depannya akan semakin jengkel.
Padahal di sisi lain Lucy sudah berhasil meredakan amarahnya karena merasa terdesak. Bagaimanapun juga, dirinya harus memilih tantangan agar lawannya juga tertarik untuk mengambil opsi tersebut. Namun, ia khawatir terhadap tantangan yang akan diberikan Zeno.
Mungkin saja pria itu berubah pikiran dan tak menantangnya untuk membereskan koper. Jika kemungkinan tersebut menjadi kenyataan maka Lucy terpaksa melakukan tantangan lain, tantangan yang diprediksi memiliki kesulitan tingkat tinggi.
"Aku ingin memilih dare," ungkap Lucy pada akhirnya. "Tapi, kalau tantanganmu sulit maka aku akan menolaknya."
Kodee yang telah menanti sejak tadi langsung mengangguk setuju. "Kau bisa menolak tantanganku jika dirasa sulit dan meminum satu gelas kola. Bukankah kita sudah membuat kesepakatan tentang ini?"
...****************...
...To Be Continue...
*BDSM adalah singkatan dari bondage, dominance, sadism, dan masochism. Contoh praktik: mengikat tangan, memukul ringan, dan mengikuti perintah.
__ADS_1
Ga maksud bahas hal dewasa karena chapter ini masih aman. Sekalian kasih tau aja biar yg belum tau ga ditipu org lain. Kalo ada yg ajak BDSM harus mikir banyak, jgn mau diajak sama yg ga berpengalaman plissss.
Soalnya saya udah sering BDSM (Bangun Dengan Semangat Mencintaimu) 🤗💖