Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Curahan Hati Kodee


__ADS_3

Tujuan utama Lucy masuk ke novel Harem Yukata Nari adalah untuk mencuci mata alias menikmati semua tokoh berwajah tampan dalam novel. Namun, tujuan tersebut sudah hancur sejak sang iblis menjadikannya seekor anak Kelinci kecil.


Lucy tak punya harapan lagi untuk menjadi Yuka yang bisa menikmati para pria hot. Bahkan sekarang gadis itu benar-benar kehilangan tujuan akibat pertemuan mengejutkan dengan Raibeart.


Satu-satunya yang harus Lucy lakukan hanyalah bergantung pada Kodee sampai menemukan pencerahan. Ia sangat yakin jika Raibeart adalah tipe karakter sinting yang sanggup melakukan hal nekat seperti membunuh seseorang.


Keyakinan tersebut tentu saja bukan berasal dari asumsi semata. Lucy pikir Raibeart cukup berbahaya karena Kodee yang taraf kesintingannya lebih tinggi saja menjadi ketar-ketir, hingga memutuskan untuk membawanya ke tempat jauh.


"Heh, apa kau tidak bisa membunuh Raibeart? Bukankah masalah kita akan selesai jika dia mati?" Lucy tiba-tiba bertanya pada Kodee yang sejak tadi diabaikannya.


"Bukannya tidak berani," jawab Kodee melirik sebentar ke arah Lucy sebelum melanjutkan, "waktu itu aku tak membunuh Raibeart karena kau juga ada di sana. Memangnya kau mau menyaksikan pembunuhan secara langsung?"


"Kenapa psikopat sepertimu harus mempertimbangkan hal tersebut?"


"Aku bukan psikopat, Lucy." Ketus Kodee tak terima.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menggantikan pertanyaannya. Jadi, kenapa pembunuh bayaran sepertimu mempunyai pertimbangan yang aneh?"


Kodee tak menjawab pertanyaan tersebut dan malah menghela napas panjang. Selama beberapa menit pria itu hanya mengendalikan stir mobil dengan pandangan yang tertuju pada jalanan.


Walaupun terlihat fokus menyetir, tapi Lucy tahu jika pikiran Kodee terdistraksi oleh sesuatu. Ia yang tak punya asumsi apa pun hanya bisa diam sambil memikirkan topik pembicaraan baru.


"Apa kasino milik Leonidas masih jauh?" tanya Lucy berusaha mengubah suasana.


Sayangnya Kodee yang fokus memikirkan hal lain tak mendengar pertanyaan barusan. Pria itu masih bersikap seperti beberapa waktu lalu, menutup mulut rapat-rapat dan hanya mementingkan stir mobil.


"Sebenarnya aku...," kata Kodee mendadak bicara setelah terdiam selama sepuluh menit. Namun, pria itu terlihat kesulitan mengeluarkan suara seolah mempunyai sariawan di seluruh mulutnya.


Melihat gelagat aneh tersebut, Lucy pun membuang jauh perasaan dongkol yang datang karena mendapatkan pengabaian beberapa saat lalu. Kini ia menjadi penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Kodee.

__ADS_1


"Kenapa tak dilanjutkan? Aku pikir kita harus berteman sampai tiba waktu di mana kau mengusirku," ujar Lucy sedikit menyindir.


Akan tetapi, Kodee yang biasanya menanggapi hal semacam itu tak menunjukkan reaksi tersinggung. Sepertinya ia mempunyai sesuatu yang lebih menjengkelkan daripada sindiran tersebut.


Lalu pada akhirnya Kodee melanjutkan penjelasannya yang tertunda. "Aku tidak tahu apakah ini disebutkan dalam novel, tapi aku sangat benci jika harus berhubungan dengan orang lain. Selain membuang waktu aku juga ingin menghindari hal buruk."


"Jadi, intinya adalah...?" Lucy merespons dengan ekspresi bingung.


"Dengarkan baik-baik karena aku tak akan mengulanginya. Aku yakin kau sudah tahu mengenai keluarga Leonidas yang juga keluargaku. Singkatnya mereka tidak waras sejak menyuruh kami membunuh orang-orang."


"Aku memang sudah tahu tentang itu." Lucy menjawab.


"Karena kau sudah tahu maka kau bisa memahaminya dengan mudah. Sebenarnya aku mulai tertarik untuk membunuh setelah melihat saudaraku menghabisi seseorang. Di sisi lain lingkunganku juga mendukung hal tersebut sehingga lama-lama aku mulai terbiasa."


Pembicaraan tentang keluarga Leonidas tak bisa diterima dengan mulus oleh telinga Lucy. Ternyata mendengar secara langsung terasa berbeda dibanding membacanya lewat novel. Sekarang bulu kuduknya berdiri saat memikirkan apa yang terjadi pada Kodee.


Sementara itu, Kodee yang telanjur menceritakan masa lalunya harus menghadapi berbagai pertimbangan. Ia ingin menghentikan pembicaraan aneh ini, tapi entah kenapa sesuatu yang berat seolah keluar dari benaknya saat bicara pada Lucy.


"Kalau itu masalahnya maka aku akan mempersingkat ceritaku," ujar Kodee yang telah mengambil keputusan. "Memang benar aku adalah pembunuh bayaran, tapi aku tak ingin membunuh korbanku di depan orang lain. Aku tidak mau bertanggung jawab jika kehidupan mereka terganggu."


"Jadi, itu alasan mengapa kau malas berteman dengan banyak orang?" tebak Lucy mulai rileks mengenai pembicaraan saat ini.


"Benar sekali. Jika aku mempunyai banyak teman maka salah satu dari mereka mungkin memergokiku sedang membunuh manusia, haha. Bukankah pemikiranku aneh? Aku memikirkan perasaan orang lain, tapi tak peduli pada orang yang akan aku bunuh." Kodee tertawa pelan dan mengulas senyum, yang Lucy rasakan ada Misteri di balik ekspresi itu.


Lucy menanggapi, "Aku rasa kau tak peduli karena berpikir mereka akan segera mati, sedangkan yang menonton aksimu masih bisa hidup dengan rasa trauma."


Kodee yang merasa aneh dengan kata-kata tersebut lantas menoleh pada Lucy, ternyata gadis itu juga sedang menatapnya. Hanya saja mereka tak bertatapan dalam waktu lama karena dirinya masih harus mengendalikan laju mobil.


"Itu saja cerita dariku. Kau boleh melupakannya karena itu tak penting," pungkas Kodee sedikit gelisah dengan respons Lucy.

__ADS_1


Bagaimana jika gadis itu menganggapnya aneh? Pasti hubungan mereka akan renggang seandainya hal tersebut menjadi kenyataan. Namun, mengapa ia harus repot-repot mencemaskan hubungan mereka yang sejak awal sudah aneh?


Sementara Kodee sibuk dengan segala pertanyaan dalam otaknya, Lucy malah prihatin karena menyadari bahwa pria itu membutuhkan psikolog. Ia yang dari awal tidak ambil pusing terhadap kejiwaan Kodee justru diserang kegundahan sekarang.


Lucy beranggapan jika perilaku Kodee yang menyimpang dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Tanpa harus dipikirkan lebih dalam pun semua orang akan mempunyai pikiran sepertinya. Meskipun demikian, ia dan semua orang belum tentu bisa menerima atau memaafkan perbuatan Kodee.


"Apakah kau ingin berhenti membunuh?" tanya Lucy tak mampu menahan rasa penasarannya.


Sedangkan Kodee yang pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu dari orang lain langsung tertawa. "Yah, aku selalu mempunyai keinginan seperti itu. Hanya saja tubuhku memberikan reaksi yang berbeda. Tanganku bisa gemetaran jika tak membunuh dalam waktu lama."


"Ah, begitu ternyata." ujarnya Lucy lalu menelan salivanya.


Kodee melanjutkan ucapannya, "Kadang-kadang aku juga muntah karena terlalu gelisah. Ujungnya aku harus menemui Raibeart atau Leonidas agar mendapat misi pembunuhan. Setidaknya mereka hanya menyuruhku menghabisi orang-orang berengsek, sehingga perasaan bersalahku sedikit berkurang."


"Aku tak tahu harus berkata apa, tapi kau bisa datang pada psikolog jika mau." Lucy agak ragu mengucapkan kata-kata nya.


"Apa kau merasa kasihan padaku?" Kodee berkata dengan pandangan yang masih ke arah jalanan.


Pertanyaan tersebut membuat Lucy menggeleng kuat. "Tidak. Daripada kasihan sebenarnya aku sedih dengan kisah hidupmu."


Kodee hanya mengucapkan terima kasih terhadap kepedulian Lucy dan memberi tahu gadis itu bahwa mereka akan segera sampai. Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarainya berhasil tiba di toko alat pancing alias kasino milik Leonidas.


Setelah meminta bantuan pada sang kakak maka Kodee bisa langsung membawa Lucy dari kota ini. Ia sudah memutuskan untuk tidak membunuh Raibeart karena mengingat seberapa dekatnya hubungan mereka.


Lagi pula Kodee tahu bahwa Lucy akan kembali ke dunia asalnya dan perlahan dilupakan oleh semua orang. Ketika itu terjadi ia harus memperbaiki hubungannya dengan Raibeart lalu menjalani aktivitas seperti biasa, seperti di saat Lucy belum datang ke Dunia mereka.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2