Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
21) Kedua Orang Tua Kodee Datang


__ADS_3

Terdengar seperti lawakan memang. Seumur hidupnya Kodee tak pernah berpikir untuk merebut istri Leonidas. Tetapi, karena ini adalah dunia novel maka tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisa saja alur novel kembali seperti semula begitu Lucy kembali ke dunia nyata.


"Apa kau benar-benar ingin pergi dari sini?" tanya Kodee tanpa sadar menyuarakan kegelisahannya.


Lalu tanpa berpikir dua kali Lucy langsung mengangguk. "Tentu saja. Aku harus kembali pada keluarga dan temanku. Jika aku terjebak di sini selamanya pasti mereka akan sedih. Sekarang pun aku terkadang merindukan mereka!"


"Memang apa yang kau rindukan?" Kodee bertanya.


"Hm, apa ya? Mungkin sikap hangat mereka. Contohnya ibuku, dia terkadang mencuci bajuku karena aku sering malas-malasan. Bahkan ibu juga sampai membantuku memotong kuku. Sungguh aku anak durhaka, bukan?"


"Tepat sekali. Kau memang ahli neraka. Pertama kau memuja iblis dan kedua kau telah merepotkan ibumu. Sudah jelas masa siksaanmu akan panjang." Kodee menjelaskan.


"Hei, tolong berkaca! Padahal kau juga sudah membunuh orang dan itu merupakan dosa yang paling besar. Kau pikir mereka yang mati bisa hidup lagi seperti dalam permainan apa ...?" ujarnya Lucy.


Kodee tak menjawab lagi sebab perkataan Lucy benar adanya. Di sisi lain, ia juga mendengar suara ketukan pintu sehingga terpaksa mengakhiri pembicaraan. Seharusnya hari ini tak ada tamu lagi. Namun, kehebohan yang diciptakan Arvi pasti sudah sampai ke telinga keluarga Hades.


"Tamu itu pasti keluargaku," ujar Kodee membuat tubuh Lucy tegang.


Kode berkata, "Santai saja. Kita memang belum membuat rencana, tapi aku yakin kau bisa berakting dengan baik. Cukup ikuti alur dariku dan masalah akan selesai. Paham?"


Setelah mendapat anggukan dari Lucy maka Kodee pun bangkit dari sofa, beranjak menuju pintu masuk dan membukanya. Ketika melihat orang tua angkatnya datang ia pun menyunggingkan senyum lebar. Setelah itu mereka saling berpelukan sebagai upaya menjaga image keluarga harmonis.


"Ayah dengar dari Arvi jika kau sudah menikah," celetuk Bernard Hades, ayah angkat Kodee.

__ADS_1


Lalu wanita di sampingnya, Meghan Hades, segera menyahut. "Sepertinya Kodee sudah besar hingga melupakan kita. Bahkan untuk masalah pernikahan saja dia tidak memberi tahu keluarganya."


"Maafkan aku, Ayah, Ibu. Pernikahan ini tak pernah ada dalam rencanaku. Karena tiba-tiba maka aku tak sempat memberi tahu," tutur Kodee berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang.


Sementara itu, Lucy yang masih duduk di ruang televisi kesulitan untuk mengendalikan gemetar pada kakinya. Ketika menengok ke belakang ia mengetahui jika pembicaraan antara Kodee dan dua orang tadi telah berakhir. Sekarang mereka terlihat berjalan ke arahnya dengan ekspresi datar.


Memang benar saat ini Lucy tengah ditimpa kegugupan yang amat besar. Akan tetapi, ia masih sanggup memutar akal jika menyangkut keselamatan dirinya. Karena itulah ia segera mengalihkan wajah ke arah lain, lalu mencolok mulutnya hingga merasa mual.


Jadi, saat orang tua Kodee tiba gadis itu langsung memuntahkan isi perutnya. Terima kasih banyak untuk tong sampah yang membuat Kodee tak perlu muntah ke sembarang tempat. Ia bersyukur karena Kodee pernah menyimpan tong sampah di ruang televisi.


"Oh, astaga, Sayangku ...!" seru Kodee refleks bersandiwara saat melihat Lucy muntah.


Dengan ekspresi khawatir yang tampak nyata ia menghampiri gadis itu, kemudian membimbingnya agar kembali duduk. Suara Kodee terdengar lembut ketika bertanya pada Lucy, "Apa kau begini gara-gara efek dari kandunganmu?"


Sedangkan di sisi lain Bernard dan Meghan saling bertukar pandangan curiga. Namun, pada akhirnya mereka memutuskan untuk duduk lalu mengambil kesimpulan setelah mengamati situasinya terlebih dahulu. Bisa saja gadis yang merupakan istri Kodee memang benar-benar hamil.


"Oh iya, aku belum sempat memperkenalkanmu pada keluargaku." Kodee segera mengubah arah tatapan untuk kedua orang tuanya. "Mereka adalah ayah dan ibuku."


"Astaga, maaf karena tidak bisa menyambut kalian dengan baik!" seru Lucy menutup mulutnya yang sedikit terbuka.


Bernard menggeleng pelan dan segera berkata, "Tidak masalah. Lagi pula, ini salah kami karena datang tiba-tiba. Biar aku perkenalkan diri lebih dulu. Aku adalah Bernard Hades, ayah Lucy."


"Bernard Bear, ahihi?" celetuk Lucy tanpa sadar. "Maaf?"

__ADS_1


Ketika merasa kakinya diinjak kode, Lucy pun langsung tersadar. Ia segera tersenyum lalu menjawab, "Bukan apa-apa. Maaf tadi saya hanya melantur saja. Ah iya, nama saya Lucy, istrinya Kodee."


"Meghan Hades, itu nama ibu mertuamu," ujar Meghan tanpa ekspresi atau nada bicara, keduanya sama-sama datar dan menciptakan suasana tak nyaman.


Lalu setelah itu terjadi percakapan yang menguras waktu selama hampir setengah jam. Bernard dan Meghan baru angkat kaki dengan alasan ada kesibukan lain. Entah benar atau tidak, tapi yang penting sekarang dua orang itu telah pergi, hingga suasana dalam ruangan pun kembali normal.


"Kenapa kau menginjak kakiku tadi?!" protes Lucy setelah memastikan tamunya benar-benar pergi.


Kodee hanya mengangkat bahu tak peduli dan melengos begitu saja. Sesaat kemudian ia kembali ke ruang televisi sambil membawa keranjang cucian. "Lucy, tolong buka pakaianmu!" pintanya.


Mendengar itu remot pun terlepas dari genggaman tangan Lucy. Wajahnya sedikit memerah, antara malu dan marah, karena Kodee memasang tampang acuh tak acuh saat berkata seperti tadi. Entah apa motif pria itu. Tetapi, yang pasti ia tak akan melepas pakaiannya.


"Dasar tak jelas! Permintaanmu itu aneh jadi aku tidak akan menurutinya," sergah Lucy lalu mengambil remot yang barusan terjatuh.


Sedangkan Kodee tampaknya menyerah untuk mengambil pakaian dari tubuh Lucy. Ia menyimpan keranjang cucian dan duduk di sebelah gadis itu. "Aku hanya ingin mencuci pakaianmu, untuk menggantikan peran ibumu di sini. Dengan begitu kau tak akan merasa kesepian."


Ternyata begitu. Lucy yakin Kodee masih memikirkan ucapannya beberapa waktu lalu. Terlihat manis memang. Kapan lagi ada pria yang sepeduli ini? Namun, karena itu adalah Kodee maka dirinya sedikit waspada. Jujur saja ia masih takut dikejar-kejar dengan gila seperti Yuka dalam novel.


Walaupun demikian, mana mungkin Lucy tega pada seseorang yang telah menawarkannya bantuan. Jadi, ia pun berujar, "Aku bisa mencuci bajuku tanpa dibantu olehmu. Tapi, kau bisa membantuku memotong kuku seperti yang ibuku lakukan. Bagaimana?"


Kodee mengangguk sepakat dan pergi begitu saja. Kemudian ia kembali dengan sebuah gunting kuku. Tanpa bicara sepatah kata pun pria itu fokus memotong kuku tangan Lucy, berharap ujung besi yang tajam tidak membelah hal lain seperti kulit tangan istrinya.


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2