
"Jika pelakunya adalah mereka maka aku tak akan terkejut. Memang siapa lagi yang berani cari masalah denganmu?"
"Kau."
"Apa?"
Kodee menoleh pada Triton dan mencengkeram bahu sang dokter. Lalu ia berkata sambil tersenyum lebar, "Kau adalah salah satu orang yang berani cari masalah denganku, berengsek."
"A-aku tidak bermaksud cari masalah. Lucy yang lebih dulu menghubungiku jadi aku tak punya pilihan lain," sahut Triton gelagapan.
"Jadi, sekarang kau sedang menyalahkan istriku?"
"B-bukan itu maksudku!"
"Lalu apa? Bicaralah dengan jelas."
Triton mengutuk dalam hati karena bahunya seolah akan hancur sebentar lagi. Namun, ia tak boleh mengeluh karena Kodee akan semakin menghajarnya jika itu terjadi. Satu-satunya yang dapat ia lakukan hanyalah bersabar dan menerima semua perkataan Kodee.
Di pihak lain, Lucy sadar bahwa dirinya tak sedang berada di dunia nyata atau dunia novel. Sekarang ia terjebak di sebuah ruangan serba putih yang sangat aneh. Akal sehatnya nyaris hilang karena melihat warna putih dalam waktu lama.
Untungnya seseorang muncul dan membuat Lucy sedikit lega. Orang itu adalah iblis yang membuatnya terlempar ke dunia novel. Ia bertanya-tanya tentang alasan mengapa sang iblis membuatnya menetap di tempat semacam ini.
"Kau melihatku dengan tenang tanpa memikirkan apa yang sudah terjadi padamu," ucap iblis itu seraya memijat pelipisnya.
Lucy mendengkus geli kemudian berkacak pinggang. "Aku tahu jika aku keracunan. Itu sudah jelas, bukan? Jangan bersikap seolah aku telah melakukan kesalahan! Itu salahmu karena membuatku menjadi seekor Kelinci," gerutunya.
"Baiklah, aku mengaku kalau aku salah."
"Harusnya kau mengatakan itu saat aku memegang ponsel. Aku ingin sekali merekam ucapanmu!"
Sang iblis memutar bola matanya. "Bicara apa sih kau ini? Aku kan seorang iblis. Suaraku tak akan bisa terekam oleh benda bernama ponsel."
"Cih, padahal aku sangat mengharapkannya," tandas Lucy mencebik sebal.
__ADS_1
Sementara itu, sang iblis terlihat bimbang sehingga ia tak mengatakan apa pun selama beberapa menit. Kemudian ia memandangi Lucy dan bertanya, "Apa kau mau membatalkan kontrak denganku?"
"Hah? Barusan kau bilang apa?" sahut Lucy mengerjap tak percaya.
"Aku menawarkanmu untuk membatalkan kontrak kita."
"Sungguh aneh. Mengapa kau tiba-tiba baik padaku?"
Iblis itu mengangkat bahunya sambil menjawab, "Entahlah. Mungkin karena aku sedang dalam suasana hati baik sekarang. Ditambah aku mempunyai firasat buruk jika kau tetap berada di Ertik. Bukankah dunia itu sangat aneh?"
"Memang agak aneh, tapi kau akan terbiasa jika mencoba tinggal di sana."
"Aku tidak peduli. Jadi, apa kau mau membatalkan kontrak kita? Aku berjanji akan mengembalikanmu ke dunia nyata."
Jika penawaran itu datang sejak lama, maka sudah pasti Lucy akan menyetujuinya tanpa harus berpikir. Hanya saja situasi saat ini berbeda dengan dulu. Anehnya, ia tak dapat menjelaskan apa perbedaannya.
Dipikir sekeras apa pun Lucy tak dapat menemukan penjelasan masuk akal di otaknya. Namun, yang jelas saat ini adalah ia tidak berniat kembali ke dunia nyata sebelum kontrak berakhir. Entah mengapa raut wajah Kodee terus berputar di ingatannya.
Pada waktu bersamaan, sang iblis dapat membaca pikiran Lucy hanya dengan mengandalkan raut wajah. Semuanya sudah sangat jelas. Ini bukan pertama kalinya ia menyaksikan kebimbangan seperti itu. Ia pernah membuat beberapa orang pergi ke dunia lain.
Mereka yang memilih bersenang-senang di dunia romantis menjadi terlena. Perlahan, mereka kehilangan minat pada dunia nyata hanya karena satu orang di dunia khayalan. Menurutnya orang-orang itu sangat konyol. Jika ia adalah mereka, maka ia tak akan mau merelakan hidupnya hanya demi satu orang saja.
"Aku tidak sedang memaksamu," kata sang iblis menghancurkan lamunan Lucy. "Jika kau masih ingin bersenang-senang maka lakukan saja. Lagi pula, kau masih bisa memanggilku jika berubah pikiran."
Lucy terdiam sejenak sebelum pada akhirnya membalas, "Aku belum merasa puas. Sepertinya aku akan tetap tinggal di Ertik sampai kontrak berakhir."
Keputusan tersebut membuat sang iblis menyeringai senang. Sepertinya ia akan melihat kisah cinta yang baru entah untuk ke berapa kalinya. Meski demikian, ia tak pernah merasa bosan karena akhir dari sebuah kisah cinta tidak selalu menyenangkan.
"Jaga dirimu baik-baik, manusia. Aku sangat menantikan pertunjukan seperti apa yang akan kau perlihatkan," pungkas sang iblis sebelum mengembalikan jiwa Lucy.
Sedangkan Lucy yang telah mendapatkan kembali kesadarannya langsung terbangun. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa dirinya sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Lantas ia melirik ke arah jendela dan mengetahui jika hari sudah malam.
Lucy menelusuri seluruh ruangan dengan tatapannya dan berhenti saat melihat Kodee tertidur di atas kursi. Seketika ia tahu bahwa alasannya tak ingin membatalkan kontrak adalah karena pria itu. Sepertinya Lucy akan menghabiskan sisa kontraknya bersama Kodee.
__ADS_1
******
Yuka meluangkan waktunya untuk pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa Lucy keracunan. Alasan kedatangannya ke sana bukan semata hanya karena penasaran, tapi juga khawatir walaupun belum mengenal Lucy secara dalam.
"Apakah keluargamu benar-benar melakukan hal buruk pada istri Kodee?" tanya Yuka pada Leonidas yang juga pergi menjenguk.
Suaminya itu langsung menggeleng. "Aku pikir keluargaku tak punya alasan kuat untuk meracuni Lucy. Mereka hanya penasaran dam berhenti memperhatikannya setelah tahu dia bukan gadis berbahaya."
"Kalau begitu siapa pelakunya?" Yuka mengernyit heran. "Tapi, aku rasa pelakunya mempunyai konflik dengan Kodee di masa lalu. Dia kan seorang pembunuh bayaran. Mungkin saja identitasnya ketahuan dan seseorang ingin balas dendam."
Tepat ketika Leonidas ingin menjawab, tatapannya terpaku pada seorang gadis yang baru saja keluar dari ruangan. Ia dan Yuka telah duduk di dekat ruangan tersebut sembari menunggu Lucy sadar. Ternyata gadis itu telah pulih karena Leonidas melihatnya berjalan keluar.
"Bukankah itu Lucy? Mengapa dia keluar sendirian?" tanya Yuka yang juga menyadari hal tersebut.
Wanita itu bangkit dari kursinya dengan tergesa-gesa, meninggalkan Leonidas yang kesal karena merasa diabaikan. Yuka segera meraih tangan Lucy begitu ia tiba di tempat tujuan. "Aku penasaran ke mana kau akan pergi," katanya.
Di pihak lain, Lucy sedikit terkejut saat menyadari seseorang menyentuhnya. Jujur saja ia sedikit trauma setelah mengalami keracunan. Awalnya ia karena takut karena berpikir bahwa orang yang membuatnya keracunan datang untuk menyakitinya lagi.
Untungnya ketakutan Lucy tidak terbukti. Tepat ketika ia menengok ke belakang, sesosok wajah cantik mengisi pandangannya. Dalam hitungan detik ia langsung mengenali siapa wanita cantik tersebut.
"Yu-Yuka...? Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Lucy, tak mengira jika sang tokoh utama perempuan akan datang menjenguknya.
"Kodee memberi tahu suamiku bahwa kau masuk rumah sakit. Karena itu, aku datang bersamanya untuk menjemputmu." Yuka menjawab sambil menunjuk Leonidas yang tengah berjalan ke arahnya.
Kemudian ia menggenggam kedua tangan Lucy dan melanjutkan, "Aku harap kau baik-baik saja sekarang. Jika kau perlu bantuan maka jangan segan untuk mengatakannya padaku."
"Sebenarnya aku ingin menerima kebaikanmu, tapi aku tak ingin merepotkanmu lagi."
"Merepotkanku lagi? Apa yang sedang kau bicarakan? Aku minta maaf karena tak bisa memahami perkataanmu."
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1